Bab 18

"Yang malam mingguan tidak ingat anak," cibir Anggi begitu melihat Zoe dan Sean memasuki rumah setelah menghabiskan malam mingguan di luar.

"Hai Anggi," sapa Sean dengan tersenyum. Seolah sindiran Anggi tidak berarti apa-apa untuknya.

Anggi komat-kamit seperti dukun yang membaca mantra. Ia benar-benar merasa kesal karena niatnya untuk malam mingguan bersama Morgan harus gagal karena kakak dan iparnya justru membebaninya dengan mengasuh Naina malam ini. Sedangkan kedua orang tuanya tidak ada di rumah.

"Oh ya Nggi, di mana Naina?" tanya Zoe.

"Di kamar."

"Tidur?" tanya Zoe lagi.

"Mandi kembang! Ya tidurlah, masa iya anak itu ngepet di kamar." semprot Anggi.

Zonya mengulum senyum. Tampaknya, adiknya ini benar-benar berada diambang batas kesabaran yang setipis tissue. Namun kata-kata kasar Anggi tidak Zoe hiraukan. Ia justru melangkah ke kamar Anggi dan langsung membawa Naina kedalam gendongannya, lalu membawanya keluar.

"Sudah malam, Kakak sama Mas Sean pulang dulu ya," pamit Zoe.

"Hm."

"Assalamu'alaikum!"

"Wa'alaikum salam."

Zonya langsung melangkah keluar. Sedangkan Sean kembali melirik Anggi dan memanggil gadis itu mendekat. Demi menghormati iparnya itu, akhirnya Anggi 'pun bangkit dari sofa dan langsung mendekati sang ipar.

"Ada apa, Mas?" tanya Anggi malas.

"Besok malam Mas titip Nai lagi ya."

"What? No way aku juga butuh pendamping hidup. Lalu bagaimana aku akan mendapatkan pendamping hidup kalau aku saja tidak diizinkan mengenal dunia luar dan malah dibebankan dengan mengasuh anak ka—"

"Morgan yang akan ke sini." potong Sean.

"Mo-Morgan? Mas kenal dengan Morgan?" tanya Anggi tak percaya. Sebab, dirinya baru mengenal Morgan beberapa minggu yang lalu, lalu bagaimana Sean bisa mengenal Morgan, pikirnya.

"Dia sahabatku. Kau pasti tahu 'kan bagaimana peran sahabat untuk sahabatnya?" ucap Sean.

"Antar saja Naina ke mari besok malam. Aku siap mengasuhnya!" potong Anggi cepat, membuat senyum kemenangan terbit di sudut bibir Sean.

Setelah kepergian kakak, ipar serta keponakannya, Anggi memilih kembali ke kamar. Senandung-senandung kecil tidak hentinya Anggi gumamkan, seolah senandung kecil mewakili kebahagiaan hatinya saat ini.

"Sedikit waktu lagi, maka Anggi akan menunjukan kepiawaiannya dalam menaklukan seorang pria." monolog Anggi dengan tersenyum tipis.

*

Shoping dan jalan-jalan adalah sesuatu yang sangat Anggi sukai. Dan kini, ia tengah melakukan hal yang ia sukai tersebut. Berbelanja dari satu toko ke toko lain dan membeli berbagai dress, tas, dan perhiasan yang menarik tanpa memikirkan bandrolan harga. Sebagai dokter baru, mungkin hal yang mustahil jika Anggi bisa membeli barang-barang bermerk itu, tapi mengingat ia yang memang berasal dari keluarga yang juga cukup berpengaruh, maka semua itu menjadi suatu hal yang sangat wajar.

"Aku lelah, kita makan siang dulu ya." ajak Kia.

"Boleh, ayo."

Ketiga wanita itu langsung menuju restoran yang memang berada di mall tersebut. Mereka lantas duduk dan memesan makan sembari mengobrol ringan. Saat sedang asik makan, Anggi justru melihat Morgan yang juga tengah makan siang di resto yang sama bersama seorang wanita yang sayangnya duduk membelakanginya, hingga ia tidak bisa melihat rupa dari wanita tersebut.

"Mau kemana?" tanya Bela saat melihat Anggi bangkit dari duduknya.

"Kalian lihat?" Anggi menunjuk keberadaan Morgan dengan dagunya. "Gigolo sialan itu bersama seorang wanita."

"Bukan gigolo, Anggi. Ingat bahwa dia adalah pewaris keluarga Gloendra." peringat Bela.

"Ya ya ya dia anak orang kaya."

Terpopuler

Comments

Yulianti

Yulianti

g' tau mau komen apa
lajut Thor semangat Thor 💪💪💪

2024-02-05

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!