Tak Sengaja bertemu.

Setelah mengantarkan Anis kembali ke kediaman Wiratama, baik Ansenio dan juga Jasen kembali ke perusahaan.

Di perjalanan, Ansenio diam seperti sedang berpikir.

"Maaf tuan, apa ada sesuatu yang sedang menganggu pikiran anda??." sebagai asisten pribadi yang sudah cukup lama mengabdi pada Ansenio, tentunya Jasen dapat menangkap hal yang tidak beres ketika melihat tuannya itu tampak melamun.

Mendengar penuturan Jasen, Ansenio lantas mengalihkan perhatiannya pada Jasen yang kini tengah duduk di kursi kemudi.

"Coba kamu cari tahu rekaman CCTV di club itu semalam!!! saya curiga ada seseorang yang sengaja menjebak saya semalam." ucapan Ansenio semakin menambah kecurigaan Jasen, jika semalam ada orang yang dengan sengaja memasukkan obat p*rangs*ng ke dalam minuman tuannya itu.

"Baik tuan." jawab Jasen.

Setelahnya Ansenio kembali terdiam, bayangan bercak darah yang menodai seprei kamar hotel kembali mengisi pikirannya. Jujur sebagai seorang pria tentunya ia cukup terkesan menjadi pria pertama bagi Anis, apalagi itu merupakan kali pertamanya ia mendapatkan seorang gadis yang masih perawan. bahkan saat menikah dengan Ananda, Ansenio tak mendapatkan itu dari sang pujaan hati, namun karena rasa cintanya yang begitu besar pada Ananda, Ansenio memilih berbesar hati menerima kondisi Ananda yang sudah tak suci lagi di malam pertama mereka.

Tidak ingin terlalu larut terbawa suasana dengan memikirkan kejadian semalam bersama Anis, Ansenio lantas mengalihkan pikirannya akan kejadian semalam di club malam.

Ansenio yakin, jika kejadian semalam tidak ada sangkut pautnya dengan ketiga sahabatnya. ia percaya, baik Fajri, Mike, dan juga Hansel tidak akan mungkin sampai melakukan tindakan gila seperti itu padanya, pasti ada orang lain yang telah melakukan semua itu. Tapi siapa orangnya??? sepertinya pertanyaan itu akan menjadi tugas Jasen yang akan mencari tahu semuanya.

"Apa hari ini dia akan berangkat kerja??." tanpa di sadari Ansenio kini pikirannya kembali pada Anis, ia bahkan menanyakan sesuatu tentang Anis.

"Sepertinya begitu tuan, karena nona Danisha Putri termasuk tipe wanita yang sangat bertanggung jawab. Nona Danisha hampir tidak pernah mangkir dari tugasnya sebagai seorang dokter di rumah sakit." Jawab Jasen. Ia tahu jika tuannya itu tengah mempertanyakan Anis.

Ansenio mengangguk mendengar jawaban dari Jasen.

***

Di rumah sakit.

Untungnya Anis yang hari itu datang terlambat tidak sampai mendapat teguran dari Dirut rumah sakit.

Melihat telah begitu banyak pasien yang mengantri di depan poli spesialis kandungan membuat Anis merasa bersalah.

Anis Bergegas masuk ke ruangannya, lalu meminta pada seorang perawat yang bertugas mendampinginya untuk memulai panggilan pada pasien pertama.

Meskipun tubuhnya serasa mau remuk semua akibat perbuatan Ansenio semalam namun tidak sampai membuat Anis tak bersemangat memberikan pelayanan kepada pasiennya.

*

Jam istirahat siang, awalnya Anis memilih makan siang di kantin rumah sakit dan menolak dengan lembut ajakan suster Minta untuk makan siang di luar. Namun bukan suster Mita namanya jika terima begitu saja penolakan dari Anis. Dengan berbagai alasan yang di lontarkan suster Mita, pada akhirnya Anis pun menerima ajakannya.

Di perjalanan menuju restoran, Anis hanya bisa menghela napas berat ketika suster Mita memilih restoran yang jaraknya cukup jauh dari rumah sakit.

"Apa tidak sebaiknya kita cari makan siang di restoran terdekat saja untuk menghemat waktu!!." usul Anis namun sepertinya rayuan dari suster Mita kembali membuat Anis luluh dan menerima usulan wanita itu begitu saja.

Setibanya di restoran, Anis dan suster Mita berjalan mendekati salah satu meja yang masih kosong.

"Akhirnya tidak sia sia kita jauh jauh datang ke sini, dokter." tutur Suster Mita merasa senang sebab makanan yang ingin sekali ia nikmati masih tersedia, padahal biasanya sangat cepat sekali ludes karena begitu banyak sekali penikmatnya.

Anis yang tidak ingin neko-neko lantas meminta Suster Ita untuk menyamakan pesanannya dengan pesanan wanita itu. Sembari menunggu pesanan tiba, Anis memilih memainkannya ponselnya. Tak berselang lama, suara bariton milik seseorang yang begitu familiar di telinga Anis mengalihkan perhatiannya ke sumber suara.

"Selamat siang." sapaan dari seseorang yang suaranya sangat tak asing di telinga Anis membuatnya Sontak menoleh ke sumber suara.

"Tuan Armada." lirih Anis, ia tak menyangka bisa kembali bertemu dengan pria yang sampai saat ini masih bertahta di relung hatinya. Namun begitu, Anis yang kini merasa menjadi wanita paling jahat di dunia ini akibat sikapnya yang memutuskan hubungan mereka secara tiba tiba, merasa tak kuasa menjawab sapaan Armada. Senggolan di lengannya yang dilakukan oleh suster Mita seolah menyadarkan Anis dari lamunannya.

Suster Mita menatap ke arah Anis sebelum kemudian menunjuk ke arah Armada dengan Ekor matanya.

"Silahkan duduk, tuan Armada!! Kebetulan kami juga baru saja tiba, masih menunggu pesanan." tutur Suster Mita, mengambil alih mengobrol pada Armada, ketika Melihat Anis masih diam seperti orang bengong.

"Apa tidak masalah saya bergabung di sini bersama Kalian??." tanya Armada seraya melirik ke arah Anis.

"Tentu saja tidak masalah tuan Armada." jawab Suster Mita yang sampai saat ini masih menyangka jika Anis dan Armada masih berstatus sepasang kekasih.

"Silahkan duduk!!." Anis yang sejak tadi diam akhirnya mempersilahkan Armada untuk menempati kursi kosong di hadapannya.

Tak berselang lama, ponsel suster Mita berdering. Ia pun pamit Sebentar untuk menerima panggilan di ponselnya. Hingga kini hanya tinggal Armada dan Anis saja di meja tersebut.

"Bagaimana kabarmu???." setelah cukup lama keheningan tercipta di antara keduanya, Armada pun memecahkan keheningan dengan menanyakan perihal kabar dari pujaan hatinya itu.

"Seperti yang anda lihat." dari jawaban yang dilontarkan Anis, Armada dapat melihat jika pujaan hatinya itu sengaja menjaga jarak dengannya.

"Saya tidak akan memaksamu untuk kembali bersamaku jika memang itu yang kamu inginkan, tetapi setidaknya kita masih bisa berteman, bukan??." kalimat Armada semakin membuat Anis merasakan rasa bersalah yang begitu besar pada pria itu.

Anis masih saja diam, sehingga tanpa sadar Armada mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Anis yang terletak di atas meja.

Armada menggenggam kedua tangan Anis dalam diam, keduanya saling mendalami dari sorot mata masing-masing. Tanpa di ketahui oleh Anis, ada sepasang mata yang sejak tadi menatap tak suka melihat keduanya.

"Siapa pria itu??." pertanyaan dari Ansenio mengalihkan perhatian jasen. kini arah pandang Jasen mengikuti arah pandang Ansenio, untuk mengetahui siapa pria yang di maksud oleh tuannya itu.

"Pria itu bernama Armada, beliau merupakan asisten pribadi dari tuan Hantara putra Adipura Sanjaya. Salah satu pengusaha ternama di tanah air." jawab Jasen sesuai dengan pengetahuannya.

"Pria itu juga merupakan mantan kekasih dari nona Danisha putri." lanjut tutur Jasen.

"Sudah berapa lama mereka menjalin hubungan dan mengapa mereka sampai berpisah??.". Jasen cukup heran sekaligus bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan Ansenio.

"Untuk berapa lama saya kurang tahu dengan pasti tuan, tetapi yang jelas Nona Danisha putri terpaksa mengakhiri hubungan di antara mereka sehari sebelum nona Danisha menikah dengan anda, tuan." entah apa yang kini di rasakan Ansenio, yang jelas rahangnya tampak mengeras setelah mendengar cerita dari asisten pribadinya itu.

Tanpa aba aba Ansenio beranjak dari duduknya, rasa lapar yang tadi di rasakan Ansenio lenyap begitu saja.

Terpopuler

Comments

Hearty 💕

Hearty 💕

Tahukan kalau kamu salah

2024-11-16

0

wiemay

wiemay

cemburu menguras hati

2024-06-26

3

Tuty Tuty

Tuty Tuty

hmmmm terbakar juga dia pemula seruuuu nih

2024-03-21

1

lihat semua
Episodes
1 Sesuatu yang tidak diinginkan.
2 Kebencian Ansenio Wiratama.
3 Rencana Ansenio Wiratama.
4 Jangan melampiaskan pada keluargaku!!
5 Menikahlah denganku!!!.
6 Meninggalkan kekasih tercinta.
7 Ungkapan hati Anis.
8 Seakan meninggalkan Fitrah kejam.
9 Mulai merasakan penindasan.
10 Membawanya ke hotel.
11 Harga diri.
12 Tak Sengaja bertemu.
13 Kembali melakukannya.
14 Tak kembali ke kediaman Wiratama.
15 Seenak jidatnya.
16 Diary milik mendiang Ananda.
17 Tak tega melihat baby Naya.
18 Tidur di kamar yang sama.
19 Danisha Putri.
20 Pertemuan tak sengaja.
21 Cincin, simbol pernikahan.
22 Memberi penanganan pada baby Naya.
23 Tidur bersama baby Naya.
24 Aneh tapi nyata.
25 Ternyata dia telah menikah.
26 Tak ingin di sentuh.
27 Panggilan Mama.
28 Kompensasi dari Ansenio.
29 Pria baik ????
30 Pengakuan di hadapan Armada.
31 Tak paham dengan perasaan sendiri (Ansenio).
32 Dokter juga manusia.
33 Keteguhan hati seorang Danisha Putri.
34 Penawaran dari mantan mertua.
35 Ingin melakukannya di hotel (Alibi Anis.)
36 Terjebak Sandiwara sendiri.
37 Ternyata ketahuan.
38 Permintaan maaf Anis.
39 Sosok misterius.
40 Permintaan mama Dahlia.
41 Ungkapan hati Anis.
42 Mengajaknya bersama.
43 Meminta izin cuti.
44 Perjalanan kerja.
45 Tidak mungkin sampai jatuh hati padanya.
46 Restoran Favorit Ananda.
47 Penindasan??
48 Merasakan pusing tanpa sebab.
49 Mengandung.
50 Di Landa dilema.
51 Tanpa sadar menunjukkan sikap aneh.
52 Pengakuan di hadapan ibu.
53 kepergian Anis dan kemarahan Ansenio.
54 Kepergian Anis.
55 Merubah rencana.
56 Kedatangan di kampung halaman.
57 Saling merindu.
58 Membantu persalinan.
59 Kenyataan yang menyesakkan dada.
60 Tawaran dari pak kades.
61 Perasaan yang sama.
62 Pengakuan Anis di hadapan kedua orang tua Anis.
63 Seakan memberi pertanda.
64 Yakin akan perasaan sendiri.
65 Peresmian pabrik.
66 Merasakan mual dan pusing.
67 Menemukan dirimu.
68 Akhirnya bertemu.
69 Tinggal bersama.
70 Sakit perut.
71 keterkejutan suster Nana.
72 Calon mantu???
73 Sandiwara seorang Ansenio Wiratama.
74 Kepergok warga.
75 Panggilan baru.
76 Ungkapan hati sepasang kekasih halal.
77 Bisa masuk angin.
78 Kejadian buruk menimpa Anis.
79 Kehilangan sebagian ingatan.
80 Perasaan yang tak lagi sama.
81 Praduga Anis.
82 Ungkapan kebenaran.
83 Keputusan Anis.
84 Mengenang awal pernikahan.
85 Jatuh pingsan.
86 Membuat perhitungan pada Syela.
87 Permintaan maaf Syela.
88 Kesibukan sebagai orang tua.
89 ketahuan berdusta.
90 Vira Natasya.
91 Episode terakhir.
92 Promo Novel Pelampiasan Seorang CEO.
93 Promo Novel "Musuh Tapi Menikah."
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Sesuatu yang tidak diinginkan.
2
Kebencian Ansenio Wiratama.
3
Rencana Ansenio Wiratama.
4
Jangan melampiaskan pada keluargaku!!
5
Menikahlah denganku!!!.
6
Meninggalkan kekasih tercinta.
7
Ungkapan hati Anis.
8
Seakan meninggalkan Fitrah kejam.
9
Mulai merasakan penindasan.
10
Membawanya ke hotel.
11
Harga diri.
12
Tak Sengaja bertemu.
13
Kembali melakukannya.
14
Tak kembali ke kediaman Wiratama.
15
Seenak jidatnya.
16
Diary milik mendiang Ananda.
17
Tak tega melihat baby Naya.
18
Tidur di kamar yang sama.
19
Danisha Putri.
20
Pertemuan tak sengaja.
21
Cincin, simbol pernikahan.
22
Memberi penanganan pada baby Naya.
23
Tidur bersama baby Naya.
24
Aneh tapi nyata.
25
Ternyata dia telah menikah.
26
Tak ingin di sentuh.
27
Panggilan Mama.
28
Kompensasi dari Ansenio.
29
Pria baik ????
30
Pengakuan di hadapan Armada.
31
Tak paham dengan perasaan sendiri (Ansenio).
32
Dokter juga manusia.
33
Keteguhan hati seorang Danisha Putri.
34
Penawaran dari mantan mertua.
35
Ingin melakukannya di hotel (Alibi Anis.)
36
Terjebak Sandiwara sendiri.
37
Ternyata ketahuan.
38
Permintaan maaf Anis.
39
Sosok misterius.
40
Permintaan mama Dahlia.
41
Ungkapan hati Anis.
42
Mengajaknya bersama.
43
Meminta izin cuti.
44
Perjalanan kerja.
45
Tidak mungkin sampai jatuh hati padanya.
46
Restoran Favorit Ananda.
47
Penindasan??
48
Merasakan pusing tanpa sebab.
49
Mengandung.
50
Di Landa dilema.
51
Tanpa sadar menunjukkan sikap aneh.
52
Pengakuan di hadapan ibu.
53
kepergian Anis dan kemarahan Ansenio.
54
Kepergian Anis.
55
Merubah rencana.
56
Kedatangan di kampung halaman.
57
Saling merindu.
58
Membantu persalinan.
59
Kenyataan yang menyesakkan dada.
60
Tawaran dari pak kades.
61
Perasaan yang sama.
62
Pengakuan Anis di hadapan kedua orang tua Anis.
63
Seakan memberi pertanda.
64
Yakin akan perasaan sendiri.
65
Peresmian pabrik.
66
Merasakan mual dan pusing.
67
Menemukan dirimu.
68
Akhirnya bertemu.
69
Tinggal bersama.
70
Sakit perut.
71
keterkejutan suster Nana.
72
Calon mantu???
73
Sandiwara seorang Ansenio Wiratama.
74
Kepergok warga.
75
Panggilan baru.
76
Ungkapan hati sepasang kekasih halal.
77
Bisa masuk angin.
78
Kejadian buruk menimpa Anis.
79
Kehilangan sebagian ingatan.
80
Perasaan yang tak lagi sama.
81
Praduga Anis.
82
Ungkapan kebenaran.
83
Keputusan Anis.
84
Mengenang awal pernikahan.
85
Jatuh pingsan.
86
Membuat perhitungan pada Syela.
87
Permintaan maaf Syela.
88
Kesibukan sebagai orang tua.
89
ketahuan berdusta.
90
Vira Natasya.
91
Episode terakhir.
92
Promo Novel Pelampiasan Seorang CEO.
93
Promo Novel "Musuh Tapi Menikah."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!