Menikahlah denganku!!!.

"Ternyata anda tipe wanita yang begitu sayang pada keluarga. saya tidak bisa membayangkan apa jadinya anda, jika saya sampai melakukan sesuatu pada salah satu anggota keluarga anda, Nona Danisha???." ucap Ansenio dengan tatapan tak terbaca.

Anis yang masih berlutut di hadapan Ansenio nampak mengepalkan kedua tangannya, geram dengan ancaman pria itu yang selalu saja melibatkan anggota keluarganya.

Seringai terbit di sudut bibir Ansenio tatkala melihat pergerakan Anis yang mengepalkan kedua tangannya.

"Ternyata nyali anda boleh juga, tapi saya rasa anda tidak akan menerima permintaan saya." tutur Ansenio penuh makna.

"Permintaan seperti apa yang anda inginkan?? Saya berjanji akan menuruti apapun permintaan anda, asalkan anda berhenti melibatkan anggota keluarga saya dalam hal ini!!." tegas Anis tanpa berpikir panjang, baginya biarlah ia yang menanggung semuanya asalkan kedua orang tua serta adiknya hidup dengan damai seperti sebelumnya.

"Jika anda ingin saya berhenti melibatkan anggota keluarga anda dalam hal ini, maka menikahlah dengan saya!!."

Deg.

Jantung Anis seperti berhenti berdetak mendengar permintaan Ansenio.

"Permintaan konyol apa yang sedang anda ucapkan,tuan?? Bukankah anda sangat membenciku lalu kenapa anda ingin menikah denganku???." satu pertanyaan yang wajar kini di lontarkan Anis.

"Anda mau tahu kenapa?? Yakin anda ingin tahu???. Baiklah, saya ingin menikah dengan anda karena saya ingin anda merasakan, bahkan kematian jauh lebih baik di banding harus menjalani kehidupan bersama dengan seorang pria yang kehilangan istrinya karena perbuatan anda." jawaban Ansenio sungguh menyesakan dada Anis. Ia hampir kehabisan kata kata untuk merespon ucapan Ansenio.

"Bagaimana, apa anda bersedia menerima permintaan saya, Nona Danisha??."

Dengan tatapan kosong Anis menjawab. "Saya bersedia." jawaban Anis membuat gelak tawa Ansenio Wiratama menggema memenuhi seisi ruangan.

"Bagus, jika anda bersedia maka besok Jasen akan datang menjemput anda, kita akan pergi ke KUA untuk melaksanakan ijab qobul."

Kedua bola mata Anis melebar sempurna ia tidak percaya Ansenio ingin menikahinya secepat itu. Namun begitu, Anis hanya bisa kembali mengiyakan permintaan Ansenio tanpa berani melontarkan kalimat protes.

Setelah merasa pembahasan mereka cukup, Anis pun pamit meninggalkan gedung perusahaan Wiratama Group.

Di perjalanan Anis terus menangis dalam diam, kini pikirannya di penuhi dengan bayangan wajah tampan Armada, pria yang baru menjalin kasih dengannya Selama dua bulan terakhir. Pria tampan yang mampu membuat Anis merasakan indahnya jatuh cinta untuk pertama kalinya.

Anis benar benar tidak pernah membayangkan usahanya meluluhkan pujaan hati akan berakhir sia sia, karena besok ia akan menikah dengan pria yang baru dikenalnya, seorang pria yang begitu membencinya.

Anis yang hari ini libur kerja lantas kembali ke rumah setelah meninggalkan gedung Wiratama Group. Setibanya di rumah, Anis berlalu begitu saja menuju kamarnya. Ia tidak ingin sampai ayah dan ibunya melihat wajahnya yang tampak sembab akibat habis menangis.

Namun sayangnya usaha Anis tidak berhasil karena ketika berjalan menapaki anak tangga ia berpapasan dengan ibunya di tangga.

"Dari mana saja kamu, nak??? Anis, mata kamu sembab, apa kamu habis menangis???" tanya ibunya dengan wajah yang berubah cemas.

Anis mengukir senyum di bibirnya. Sebuah senyum palsu terukir di bibir Anis agar tidak membuat ibunya berpikir yang tidak-tidak dan akan berakhir dengan kesedihan.

"Tidak kok Bu, tadi Anis nonton film di rumah teman dan alur ceritanya sangat menyentuh Sekali, makanya Anis jadi nangis." demi menjaga hati dan perasaan ibunya, Anis terpaksa berdusta.

"Oh begitu....ibu pikir kamu habis menangis, nak." akhirnya ibunya bisa bernapas lega setelah mendengar jawaban Anis.

"Maafkan Anis Bu, Anis terpaksa berdusta." dalam hati Anis merasa bersalah karena ia telah berdusta pada ibunya, namun setelahnya Anis menyadari jika setelah ini akan banyak dusta yang akan ia ucapkan pada keluarganya.

"Bu, boleh Anis bicara sebentar pada ibu???." pinta Anis.

"Tentu saja boleh, sayang." senyum yang terbit di wajah ibunya selalu membuat Anis merasa jauh lebih tenang bila melihatnya.

Kini ibunya mengajak Anis untuk duduk di sofa ruang tengah.

"Apa yang ingin kamu katakan pada ibu, Anis??." dengan nada yang terdengar begitu lembut ibunya bertanya pada Anis dan itu membuat Anis hampir mengeluarkan air mata.

"Berhubung rumah sakit kekurangan tenaga medis, dan jarak dari rumah ke rumah sakit cukup jauh, mulai besok Anis akan tinggal di mes yang telah di sediakan pihak rumah sakit, Bu." helaan napas ibunya terdengar berat ketika mendengarnya, namun mau bagaimana lagi, jika itu menyangkut pekerjaan ibunya pasti akan mengizinkan walaupun dengan berat hati.

"Jika memang harus seperti itu mau bagaimana lagi." jawab ibunya. "Nanti malam ibu akan menyampaikan tentang hal ini pada ayah kamu." lanjut ibunya dan Anis pun mengangguk setuju.

"Maafkan Anis Bu, karena Anis lagi lagi berdusta pada ibu. tidak mungkin Anis mengatakan jika besok Anis akan menikah dengan seseorang yang baru Anis kenal." tanpa sadar air mata Anis berlinang membasahi pipinya ketika ia merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya.

Dengan lembut ibunya mengusap lembut air mata di pipi Anis, wanita paru baya itu berpikir jika putrinya menangis karena hendak tinggal berpisah dengan mereka.

Cukup lama Anis bermanja-manja di pangkuan ibunya seolah ingin menambah energi Sebelum besok ia akan memulai kehidupan bersama Ansenio Wiratama. Kehidupan yang akan membawanya menikmati kehidupan layaknya di neraka, namun begitu Anis tetap berusaha tegar, baginya yang terpenting Ansenio tak lagi melibatkan keluarganya.

***

Di kamarnya, Anis mengirim sebuah pesan pada Armada, malam ini ia mengajak pria itu bertemu.

Setelah beberapa saat mengirim pesan singkat pada Armada, kini ponselnya bergetar pertanda notifikasi pesan baru saja masuk.

Anis segera membuka balasan pesan dari armada yang mengiyakan ajakannya untuk bertemu malam ini.

Anis mengajak Armada bertemu di sebuah taman yang tak terlalu jauh dari rumahnya.

Waktu terus berjalan, tepat pukul tujuh malam kini saatnya Anis menemui Armada yang beberapa saat yang lalu telah tiba di taman. dengan menggunakan sepeda motornya Anis menuju ke Taman.

Dari kejauhan, Anis sudah dapat melihat wajah tampan pria yang kini mengisi relung hatinya. Armada nampak duduk di bangku taman, kedatangan Anis mengalihkan pandangan Armada dari arah anak anak yang sedang bermain di taman.

Elusan lembut tangan kekar Armada pada puncak kepalanya menyambut kedatangan Anis, dan itu membuat hati Anis semakin nyeri rasanya.

"Tidak biasanya kamu mengajak bertemu di taman, biasanya juga kamu tidak akan keberatan jika saya bertamu ke rumahmu." tutur Armada yang dapat menangkap sikap tak biasanya dari Anis.

Bukannya menjawab pertanyaan Armada, Anis justru melontarkan permintaan yang membuat Armada semakin menyadari sikap tak biasa dari kekasihnya itu.

"Bolehkah saya memeluk anda??."

Bukannya menjawab ucapan Anis, Armada justru langsung membawa tubuh Anis ke dalam pelukannya.

Di dalam pelukan Armada, Anis mengeluarkan semua sesak di dada dengan mengeluarkan air matanya. Anis menangis dalam diam, sementara Armada yang merasa kemejanya mulai basah bisa menebak jika saat ini kekasihnya itu sedang menangis, apalagi sesekali Armada melihat bahu Anis tampak bergetar.

Terpopuler

Comments

Vavian

Vavian

kuat" ama si ansenioo deh niss

2025-01-03

1

Siti Aminah

Siti Aminah

sabar Nis...nanti jg si Arseno akan kena karma ny...

2024-10-31

1

Inooy

Inooy

koq ikutan nyesek yaa..🥺

2024-07-01

2

lihat semua
Episodes
1 Sesuatu yang tidak diinginkan.
2 Kebencian Ansenio Wiratama.
3 Rencana Ansenio Wiratama.
4 Jangan melampiaskan pada keluargaku!!
5 Menikahlah denganku!!!.
6 Meninggalkan kekasih tercinta.
7 Ungkapan hati Anis.
8 Seakan meninggalkan Fitrah kejam.
9 Mulai merasakan penindasan.
10 Membawanya ke hotel.
11 Harga diri.
12 Tak Sengaja bertemu.
13 Kembali melakukannya.
14 Tak kembali ke kediaman Wiratama.
15 Seenak jidatnya.
16 Diary milik mendiang Ananda.
17 Tak tega melihat baby Naya.
18 Tidur di kamar yang sama.
19 Danisha Putri.
20 Pertemuan tak sengaja.
21 Cincin, simbol pernikahan.
22 Memberi penanganan pada baby Naya.
23 Tidur bersama baby Naya.
24 Aneh tapi nyata.
25 Ternyata dia telah menikah.
26 Tak ingin di sentuh.
27 Panggilan Mama.
28 Kompensasi dari Ansenio.
29 Pria baik ????
30 Pengakuan di hadapan Armada.
31 Tak paham dengan perasaan sendiri (Ansenio).
32 Dokter juga manusia.
33 Keteguhan hati seorang Danisha Putri.
34 Penawaran dari mantan mertua.
35 Ingin melakukannya di hotel (Alibi Anis.)
36 Terjebak Sandiwara sendiri.
37 Ternyata ketahuan.
38 Permintaan maaf Anis.
39 Sosok misterius.
40 Permintaan mama Dahlia.
41 Ungkapan hati Anis.
42 Mengajaknya bersama.
43 Meminta izin cuti.
44 Perjalanan kerja.
45 Tidak mungkin sampai jatuh hati padanya.
46 Restoran Favorit Ananda.
47 Penindasan??
48 Merasakan pusing tanpa sebab.
49 Mengandung.
50 Di Landa dilema.
51 Tanpa sadar menunjukkan sikap aneh.
52 Pengakuan di hadapan ibu.
53 kepergian Anis dan kemarahan Ansenio.
54 Kepergian Anis.
55 Merubah rencana.
56 Kedatangan di kampung halaman.
57 Saling merindu.
58 Membantu persalinan.
59 Kenyataan yang menyesakkan dada.
60 Tawaran dari pak kades.
61 Perasaan yang sama.
62 Pengakuan Anis di hadapan kedua orang tua Anis.
63 Seakan memberi pertanda.
64 Yakin akan perasaan sendiri.
65 Peresmian pabrik.
66 Merasakan mual dan pusing.
67 Menemukan dirimu.
68 Akhirnya bertemu.
69 Tinggal bersama.
70 Sakit perut.
71 keterkejutan suster Nana.
72 Calon mantu???
73 Sandiwara seorang Ansenio Wiratama.
74 Kepergok warga.
75 Panggilan baru.
76 Ungkapan hati sepasang kekasih halal.
77 Bisa masuk angin.
78 Kejadian buruk menimpa Anis.
79 Kehilangan sebagian ingatan.
80 Perasaan yang tak lagi sama.
81 Praduga Anis.
82 Ungkapan kebenaran.
83 Keputusan Anis.
84 Mengenang awal pernikahan.
85 Jatuh pingsan.
86 Membuat perhitungan pada Syela.
87 Permintaan maaf Syela.
88 Kesibukan sebagai orang tua.
89 ketahuan berdusta.
90 Vira Natasya.
91 Episode terakhir.
92 Promo Novel Pelampiasan Seorang CEO.
93 Promo Novel "Musuh Tapi Menikah."
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Sesuatu yang tidak diinginkan.
2
Kebencian Ansenio Wiratama.
3
Rencana Ansenio Wiratama.
4
Jangan melampiaskan pada keluargaku!!
5
Menikahlah denganku!!!.
6
Meninggalkan kekasih tercinta.
7
Ungkapan hati Anis.
8
Seakan meninggalkan Fitrah kejam.
9
Mulai merasakan penindasan.
10
Membawanya ke hotel.
11
Harga diri.
12
Tak Sengaja bertemu.
13
Kembali melakukannya.
14
Tak kembali ke kediaman Wiratama.
15
Seenak jidatnya.
16
Diary milik mendiang Ananda.
17
Tak tega melihat baby Naya.
18
Tidur di kamar yang sama.
19
Danisha Putri.
20
Pertemuan tak sengaja.
21
Cincin, simbol pernikahan.
22
Memberi penanganan pada baby Naya.
23
Tidur bersama baby Naya.
24
Aneh tapi nyata.
25
Ternyata dia telah menikah.
26
Tak ingin di sentuh.
27
Panggilan Mama.
28
Kompensasi dari Ansenio.
29
Pria baik ????
30
Pengakuan di hadapan Armada.
31
Tak paham dengan perasaan sendiri (Ansenio).
32
Dokter juga manusia.
33
Keteguhan hati seorang Danisha Putri.
34
Penawaran dari mantan mertua.
35
Ingin melakukannya di hotel (Alibi Anis.)
36
Terjebak Sandiwara sendiri.
37
Ternyata ketahuan.
38
Permintaan maaf Anis.
39
Sosok misterius.
40
Permintaan mama Dahlia.
41
Ungkapan hati Anis.
42
Mengajaknya bersama.
43
Meminta izin cuti.
44
Perjalanan kerja.
45
Tidak mungkin sampai jatuh hati padanya.
46
Restoran Favorit Ananda.
47
Penindasan??
48
Merasakan pusing tanpa sebab.
49
Mengandung.
50
Di Landa dilema.
51
Tanpa sadar menunjukkan sikap aneh.
52
Pengakuan di hadapan ibu.
53
kepergian Anis dan kemarahan Ansenio.
54
Kepergian Anis.
55
Merubah rencana.
56
Kedatangan di kampung halaman.
57
Saling merindu.
58
Membantu persalinan.
59
Kenyataan yang menyesakkan dada.
60
Tawaran dari pak kades.
61
Perasaan yang sama.
62
Pengakuan Anis di hadapan kedua orang tua Anis.
63
Seakan memberi pertanda.
64
Yakin akan perasaan sendiri.
65
Peresmian pabrik.
66
Merasakan mual dan pusing.
67
Menemukan dirimu.
68
Akhirnya bertemu.
69
Tinggal bersama.
70
Sakit perut.
71
keterkejutan suster Nana.
72
Calon mantu???
73
Sandiwara seorang Ansenio Wiratama.
74
Kepergok warga.
75
Panggilan baru.
76
Ungkapan hati sepasang kekasih halal.
77
Bisa masuk angin.
78
Kejadian buruk menimpa Anis.
79
Kehilangan sebagian ingatan.
80
Perasaan yang tak lagi sama.
81
Praduga Anis.
82
Ungkapan kebenaran.
83
Keputusan Anis.
84
Mengenang awal pernikahan.
85
Jatuh pingsan.
86
Membuat perhitungan pada Syela.
87
Permintaan maaf Syela.
88
Kesibukan sebagai orang tua.
89
ketahuan berdusta.
90
Vira Natasya.
91
Episode terakhir.
92
Promo Novel Pelampiasan Seorang CEO.
93
Promo Novel "Musuh Tapi Menikah."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!