Harga diri.

"Ini sesuatu yang anda minta tadi, tuan." Jasen menyerahkan sebuah paper bag mini pada Ansenio. Setelahnya pandangan Jasen beralih pada Anis.

"Silahkan masuk, Nona !!!." ucap Jasen ketika menyaksikan Anis masih diam terpaku.

Anis mulai mengayunkan langkahnya memasuki kamar hotel.

Tanpa di sadari Anis kini Jasen telah melangkah ke luar dari kamar hotel.

Ceklek.

Mendengar suara pintu kamar hotel yang baru saja di tutup membuat Anis menoleh ke sumber suara untuk sejenak.

Kini tatapan Anis kembali pada Ansenio yang berdiri di depannya. Sesekali pria tampak memijat kepalanya yang terasa pusing.

"Kenapa anda meminta saya datang ke sini, tuan Ansenio???." tanya Anis. Ia masih berusaha terlihat tenang di depan Ansenio, padahal kenyataannya ketakutan sudah merajai hati Anis saat ini.

Bukannya menjawab, Ansenio justru membuka paper bag mini pemberian Jasen dan mengeluarkan isinya lalu melemparkannya ke arah Anis.

Anis membungkuk untuk mengambil barang tersebut. Sebagai seorang dokter spesialis kandungan tentunya Anis sangat mengenal benda tersebut.

"Pil kontrasepsi??." lirih Anis, sebelum kemudian kembali menatap Ansenio.

"Untuk apa anda memberikan pil kontrasepsi padaku, tuan??." Anis sadar jika pertanyaan itu mungkin terdengar bodoh, namun ia tetap melontarkannya itu pada Ansenio.

"Minumlah !!! Dan saya rasa kau cukup paham akan kegunaannya, Saya tidak ingin sampai anak saya lahir dari r*him wanita sepertimu." kata Ansenio.

Hati Anis seperti di tusuk sembilu mendengar ucapan Ansenio yang terdengar begitu menyayat hati.

Anis masih diam terpaku, seakan tubuhnya membeku. Sementara Ansenio yang hampir gila menahan gej*lak di dalam dirinya kini melangkah mendekati Anis.

Sudut bibirnya terukir seringai.

"Sepertinya kau sudah mulai tak sayang lagi dengan keluargamu." kata kata Ansenio yang terdengar seperti sebuah ancaman seakan kembali menyadarkan Anis dari lamunannya.

"Baiklah, saya akan meminumnya." dengan langkah lemahnya, Anis berjalan menuju nakas untuk mengambil sebotol air mineral untuk meminum pil kontrasepsi di genggamannya.

"Lepaskan semua pakaian yang melekat pada tub*hmu !!!." perintah Ansenio terdengar seperti hinaan bagi Anis.

Melihat Anis masih diam saja belum melakukan pergerakan apapun membuat Ansenio yang sudah tak sanggup lagi menahan g*irah di dalam dirinya memutuskan untuk menghubungi Jasen. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celananya kemudian mulai menghubungi Jasen.

"Ratakan rumah orang tua_." melalui sambungan telepon Ansenio memerintahkan Jasen untuk melakukan sesuatu, namun belum Ansenio menuntaskan kalimatnya Anis lebih dulu menyela.

"Jangan lakukan itu !!! Baik, Saya akan melakukan apa yang anda perintahkan, tuan." sela Anis dengan cepat.

Ansenio tersenyum menyeringai mendengarnya, sebelum kemudian memutuskan sambungan teleponnya, tanpa peduli di seberang sana Jasen dibuat bingung olehnya.

Dengan berat hati Anis mulai menanggalkan satu persatu pakaian yang kini melekat pada tub*hnya. Anis merasa Ansenio telah menginjak-nginjak harga dirinya hingga tak ada lagi yang tersisa.

Kini hanya tinggal pakaian d*lam saja yang melekat pada tub*h putih nan m*lus milik Anis.

"Tanggalkan semuanya sampai tak ada yang tersisa!!." perintah Ansenio kembali mengkoyakan harga diri Anis. Kini Anis merasa dirinya tak ubahnya seorang j*lang di hadapan pria itu.

Glek.

Dengan susah payah Ansenio menelan salivanya ketika menyaksikan pemandangan yang begitu menggiurkan tersaji di depan mata.

Ansenio yang merasa g*irah hampir meledakan kepalanya akibat reaksi obat per*ngsang di tubuhnya, lantas menarik tub*h polos Anis lalu meraup bibir Anis dan mel*matnya dengan rakusnya.

Dengan mata terpejam serta air mata yang berderai membasahi sudut matanya, Anis hanya pasrah. Malam ini kamar hotel menjadi saksi bisu, di mana seorang Ansenio merenggut kesuciannya. Hancur, sudah pasti Anis merasa hatinya begitu hancur, wanita mana yang tidak akan merasa hancur ketika sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya direnggut oleh pria yang begitu membenci dirinya.

***

Keesokan harinya, Ansenio yang terjaga lebih dulu lantas beranjak dari tempat tidur. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat bercak darah yang mengotori seprei putih, ketika ia menyibak selimut dari tubuhnya.

Tatapan Ansenio langsung tertuju pada wajah Anis, yang tampak begitu teduh ketika sedang terlelap seperti saat ini.

"She's still a v*rgin..." lirihnya.

*

Pukul sembilan pagi Anis baru terjaga dari tidurnya dan kini ia hanya seorang diri di kamar hotel.

Anis menyapu pandangan ke seluruh ruangan kamar hotel, ruangan yang menjadi saksi bisu di mana Ansenio merenggut kesuciannya.

"Dia pergi begitu saja." lirih Anis dengan mata yang telah di genangi air mata. kini harga dirinya sudah hancur lebur lagi dihadapan Ansenio, sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya bahkan telah direnggut oleh pria itu dan ia justru pergi begitu saja. Setidaknya itu yang kini ada dibenak Anis, ketika tak Melihat keberadaan Ansenio.

Anis merasakan sakit pada sekujur t*buhnya terutama pada bagian int* tub*h nya. Dengan sekuat tenaga Anis berusaha bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan t*buhnya. meski harus beberapa kali tubuh lemahnya terjatuh akibat rasa sakit pada bagian s*nsitifnya, namun pada akhirnya Anis berhasil berjalan menuju kamar mandi hotel.

Di bawah kucuran air yang mengalir dari shower, Anis menjatuhkan air matanya. tidak ada lagi harapan untuk ia bisa kembali bersama dengan pujaan hatinya karena kini kesuciannya sudah direnggut oleh seorang pria bernama Ansenio Wiratama, seorang pria yang terang-terangan mengakui kebenciannya terhadap dirinya.

Bukannya lemah, Anis menangis demi mengurangi rasa nyeri di hatinya akibat diperlakukan layaknya seorang wanita j*lang oleh Ansenio. di tiduri lalu di tinggal begitu saja, lalu apa namanya jika bukan wanita ******.

Cukup lama Anis berada di kamar mandi sampai dengan beberapa saat kemudian ia pun beranjak dari kamar mandi. Namun baru saja membuka pintu kamar mandi, pandangannya sudah disajikan dengan seorang pria yang kini hanya mengenakan celana panjang jeans serta bert*lanjang dada, duduk di sofa kamar hotel.

Siapa lagi pria itu kalau bukan Ansenio Wiratama. Ternyata tadi Ansenio tengah berada di balkon kamar hotel menikmati sebatang r*kok, satu kebiasaan buruknya yang kembali dilakukan setelah kematian sang istri.

"Saya pikir tadi kamu tidur di kamar mandi." sindir Ansenio, karena Anis cukup lama di kamar mandi.

Anis hanya diam saja, tidak berniat merespon ucapan Ansenio. Ia memungut satu persatu pakaiannya teronggok di lantai akibat perbuatan Ansenio semalam.

"Tidak perlu memakainya lagi, Jasen sedang dalam perjalanan menuju ke sini untuk mengantarkan baju ganti untukmu." kata Ansenio seraya memasang kaosnya.

"Baik, Tuan." hanya itu yang terlontar dari bibir Anis, sebelum kemudian ia beranjak menuju nakas untuk mengambil pil kontrasepsi yang semalam di berikan Ansenio padanya lalu memasukkannya ke dalam tas selempang miliknya, dan tentu saja pergerakan Anis itu tak luput dari perhatian Ansenio.

Terpopuler

Comments

Kurnaesih

Kurnaesih

kenapa ga minta tolong Ama suami sahabat nya aja nis kan mreka berkuasa juga apalagi hantaran suaminya gita .. Riko ke suaminya Rahma 😭🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️

2025-03-15

0

Sulis Tyawati

Sulis Tyawati

😭😭😭🤫

2024-09-26

1

Evi Destinawati

Evi Destinawati

lanjut Thor

2024-07-17

1

lihat semua
Episodes
1 Sesuatu yang tidak diinginkan.
2 Kebencian Ansenio Wiratama.
3 Rencana Ansenio Wiratama.
4 Jangan melampiaskan pada keluargaku!!
5 Menikahlah denganku!!!.
6 Meninggalkan kekasih tercinta.
7 Ungkapan hati Anis.
8 Seakan meninggalkan Fitrah kejam.
9 Mulai merasakan penindasan.
10 Membawanya ke hotel.
11 Harga diri.
12 Tak Sengaja bertemu.
13 Kembali melakukannya.
14 Tak kembali ke kediaman Wiratama.
15 Seenak jidatnya.
16 Diary milik mendiang Ananda.
17 Tak tega melihat baby Naya.
18 Tidur di kamar yang sama.
19 Danisha Putri.
20 Pertemuan tak sengaja.
21 Cincin, simbol pernikahan.
22 Memberi penanganan pada baby Naya.
23 Tidur bersama baby Naya.
24 Aneh tapi nyata.
25 Ternyata dia telah menikah.
26 Tak ingin di sentuh.
27 Panggilan Mama.
28 Kompensasi dari Ansenio.
29 Pria baik ????
30 Pengakuan di hadapan Armada.
31 Tak paham dengan perasaan sendiri (Ansenio).
32 Dokter juga manusia.
33 Keteguhan hati seorang Danisha Putri.
34 Penawaran dari mantan mertua.
35 Ingin melakukannya di hotel (Alibi Anis.)
36 Terjebak Sandiwara sendiri.
37 Ternyata ketahuan.
38 Permintaan maaf Anis.
39 Sosok misterius.
40 Permintaan mama Dahlia.
41 Ungkapan hati Anis.
42 Mengajaknya bersama.
43 Meminta izin cuti.
44 Perjalanan kerja.
45 Tidak mungkin sampai jatuh hati padanya.
46 Restoran Favorit Ananda.
47 Penindasan??
48 Merasakan pusing tanpa sebab.
49 Mengandung.
50 Di Landa dilema.
51 Tanpa sadar menunjukkan sikap aneh.
52 Pengakuan di hadapan ibu.
53 kepergian Anis dan kemarahan Ansenio.
54 Kepergian Anis.
55 Merubah rencana.
56 Kedatangan di kampung halaman.
57 Saling merindu.
58 Membantu persalinan.
59 Kenyataan yang menyesakkan dada.
60 Tawaran dari pak kades.
61 Perasaan yang sama.
62 Pengakuan Anis di hadapan kedua orang tua Anis.
63 Seakan memberi pertanda.
64 Yakin akan perasaan sendiri.
65 Peresmian pabrik.
66 Merasakan mual dan pusing.
67 Menemukan dirimu.
68 Akhirnya bertemu.
69 Tinggal bersama.
70 Sakit perut.
71 keterkejutan suster Nana.
72 Calon mantu???
73 Sandiwara seorang Ansenio Wiratama.
74 Kepergok warga.
75 Panggilan baru.
76 Ungkapan hati sepasang kekasih halal.
77 Bisa masuk angin.
78 Kejadian buruk menimpa Anis.
79 Kehilangan sebagian ingatan.
80 Perasaan yang tak lagi sama.
81 Praduga Anis.
82 Ungkapan kebenaran.
83 Keputusan Anis.
84 Mengenang awal pernikahan.
85 Jatuh pingsan.
86 Membuat perhitungan pada Syela.
87 Permintaan maaf Syela.
88 Kesibukan sebagai orang tua.
89 ketahuan berdusta.
90 Vira Natasya.
91 Episode terakhir.
92 Promo Novel Pelampiasan Seorang CEO.
93 Promo Novel "Musuh Tapi Menikah."
Episodes

Updated 93 Episodes

1
Sesuatu yang tidak diinginkan.
2
Kebencian Ansenio Wiratama.
3
Rencana Ansenio Wiratama.
4
Jangan melampiaskan pada keluargaku!!
5
Menikahlah denganku!!!.
6
Meninggalkan kekasih tercinta.
7
Ungkapan hati Anis.
8
Seakan meninggalkan Fitrah kejam.
9
Mulai merasakan penindasan.
10
Membawanya ke hotel.
11
Harga diri.
12
Tak Sengaja bertemu.
13
Kembali melakukannya.
14
Tak kembali ke kediaman Wiratama.
15
Seenak jidatnya.
16
Diary milik mendiang Ananda.
17
Tak tega melihat baby Naya.
18
Tidur di kamar yang sama.
19
Danisha Putri.
20
Pertemuan tak sengaja.
21
Cincin, simbol pernikahan.
22
Memberi penanganan pada baby Naya.
23
Tidur bersama baby Naya.
24
Aneh tapi nyata.
25
Ternyata dia telah menikah.
26
Tak ingin di sentuh.
27
Panggilan Mama.
28
Kompensasi dari Ansenio.
29
Pria baik ????
30
Pengakuan di hadapan Armada.
31
Tak paham dengan perasaan sendiri (Ansenio).
32
Dokter juga manusia.
33
Keteguhan hati seorang Danisha Putri.
34
Penawaran dari mantan mertua.
35
Ingin melakukannya di hotel (Alibi Anis.)
36
Terjebak Sandiwara sendiri.
37
Ternyata ketahuan.
38
Permintaan maaf Anis.
39
Sosok misterius.
40
Permintaan mama Dahlia.
41
Ungkapan hati Anis.
42
Mengajaknya bersama.
43
Meminta izin cuti.
44
Perjalanan kerja.
45
Tidak mungkin sampai jatuh hati padanya.
46
Restoran Favorit Ananda.
47
Penindasan??
48
Merasakan pusing tanpa sebab.
49
Mengandung.
50
Di Landa dilema.
51
Tanpa sadar menunjukkan sikap aneh.
52
Pengakuan di hadapan ibu.
53
kepergian Anis dan kemarahan Ansenio.
54
Kepergian Anis.
55
Merubah rencana.
56
Kedatangan di kampung halaman.
57
Saling merindu.
58
Membantu persalinan.
59
Kenyataan yang menyesakkan dada.
60
Tawaran dari pak kades.
61
Perasaan yang sama.
62
Pengakuan Anis di hadapan kedua orang tua Anis.
63
Seakan memberi pertanda.
64
Yakin akan perasaan sendiri.
65
Peresmian pabrik.
66
Merasakan mual dan pusing.
67
Menemukan dirimu.
68
Akhirnya bertemu.
69
Tinggal bersama.
70
Sakit perut.
71
keterkejutan suster Nana.
72
Calon mantu???
73
Sandiwara seorang Ansenio Wiratama.
74
Kepergok warga.
75
Panggilan baru.
76
Ungkapan hati sepasang kekasih halal.
77
Bisa masuk angin.
78
Kejadian buruk menimpa Anis.
79
Kehilangan sebagian ingatan.
80
Perasaan yang tak lagi sama.
81
Praduga Anis.
82
Ungkapan kebenaran.
83
Keputusan Anis.
84
Mengenang awal pernikahan.
85
Jatuh pingsan.
86
Membuat perhitungan pada Syela.
87
Permintaan maaf Syela.
88
Kesibukan sebagai orang tua.
89
ketahuan berdusta.
90
Vira Natasya.
91
Episode terakhir.
92
Promo Novel Pelampiasan Seorang CEO.
93
Promo Novel "Musuh Tapi Menikah."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!