Tak rela beralih

Dari balik jendela kaca ruang kelas, Shanshan berdecak menatap ke arah langit, rupanya salju turun lebih awal dari perkiraannya.

Satu persatu teman-temannya pulang, ia pikir ia hanya harus menunggu di kelas sampai orang suruhan Papa Alex menjemput.

Saking kalutnya sang otak yang terus menerus dipenuhi oleh Emyr. Hari ini ia lupa membawa perlengkapan musim dingin.

Tak ada coat, tak ada syal, tak ada topi musim dingin, bahkan sarung tangan. Pikir jadi menerawang pada waktu subuh tadi, Lilyana sempat menanyakan tentang perlengkapan kampusnya.

Tak bosan-bosannya sang ibu mewanti-wanti untuk tidak mengambil semester di musim dingin.

Musim dingin Amerika boleh dibilang lebih ekstrim, terutama di bulan Januari, di mana suhu turun drastis dan terkadang disertai badai salju.

Mungkin ini alasan Mama Lilyana terus rewel dengan aktivitasnya di California. Terlebih, saat bepergian tanpa pengawalan.

Lilyana sudah sering mengatakan, untuk memulai kuliah di semester musim gugur; cuacanya lebih bersahabat.

Namun, mau apa dikata jika ternyata program kuliah yang Shanshan minati masuk di semester musim dingin.

"Assalamualaikum, Shan." Dalam kesendirian ia terlonjak tanpa mengekspresikannya, yah...

Ternyata jantungnya masih berfungsi waras, bahkan setelah semua yang terjadi dalam waktu beberapa Minggu ini.

Aroma damai yang ia rindukan tanpa ia sadari merasuk ke dalam penciumannya. Ia maklum, Emyr pasti khawatir seperti bulan bulan sebelumnya.

"Aku barusan salam, Shan," ucap Emyr, sebelum pria itu benar-benar berdiri di hadapan matanya.

"Waalaikumusalam," jawabnya. Terlihat, Emyr menyodorkan coat tebal berwarna coklat muda padanya.

"Pakai ini," teduh suara berat itu. Shanshan bergeming, andai Emyr bukan suami orang, mungkin ia khilaf memeluknya.

"Tidak perlu," tolaknya.

Shanshan beranjak menjauh, ia meraih tas dan beberapa buku tebal dari atas meja, kakinya terayun keluar dari ruangan, bahkan berlanjut sampai keluar koridor saat ekor matanya mengerling ke samping, dan masih ada Emyr yang setia mengikuti langkahnya.

Desing salju beserta gemuruh dari cikal bakal badai mulai mengisi keheningan. Terpaan angin mengenai wajah dan tubuhnya.

Kedua tangannya ia gesekan satu sama lain. Ia pun jadi berpikir, Emyr takkan mampu melihatnya mengedik bahu yang menggigil.

Ingin nampak kuat, tapi hawa dingin ini membuat tubuhnya menggelugut secara alamiah.

Ia mengusap-usap kedua lengan miliknya dan cukup membantu melebur kedinginan yang menggerumut tubuhnya.

Emyr menyetarakan langkah mereka, kembali pria itu menyodorkan coat pada Shanshan yang masih acuh tak acuh darinya.

"Anggap ini bantuan dari teman," bujuknya.

Sengaja Emyr mengeraskan suara agar mampu bersaing dengan gemuruh yang menguasai lingkungan sekitar.

"Shan!" Kediaman gadis itu membuat Emyr peka, ia salah sangat salah. "Aku minta maaf sudah membuat mu sakit," ucapnya lagi.

Shanshan terkekeh samar. Sakit? Seolah kesalahan Emyr hanya sekedar ingkar, bukan mengkhianati kepercayaannya.

"Aku tahu kau pasti membenci ku," lanjutnya.

"Kita tidak berjodoh, lupakan semuanya Emyr, tidak pantas kau membahas ini lagi," tampik Shanshan.

"Kamu kedinginan." Dengan sangat terpaksa, Emyr meraih lengan Shanshan, melingkarkan paksa coat miliknya. "Setidaknya pakai ini."

Shanshan menggeleng tanpa bersuara. Bukan soal bantuan dari teman, Shanshan tahu betul maksud tujuan Emyr memberikan mantel itu, karena masih mengkhawatirkan keadaannya, bahkan masih mencintainya.

Yah benar, cinta yang hanya terucap dari bibir tapi tidak terbuktikan. Ini tidak benar, Shanshan tak setega itu untuk menerima perlakuan manis dari suami orang.

Segera ia lepas apa yang tidak seharusnya ia terima. Meletakkannya di atas bangku yang teronggok di sekitarnya.

"Shan!" Emyr meraih kembali pergelangan tangan wanita itu. Sempat ia melihat mata Shanshan mengarah pada tangannya.

Sebelumnya ia sangat menjaga interaksi di antara mereka. Tak pernah ia menyentuh kulit-kulit berharga kekasihnya.

Kali ini, di tengah kedinginan ini, Emyr seolah tak peduli. "Aku masih sangat mencintai mu, asal kau tahu," katanya.

"Kamu gila?" Shanshan menepuk keras dada bidang laki-laki itu. "Kamu sudah beristri!"

Emyr menggeleng pelan. "Entah lah, terlalu sulit melupakan mu!" jujurnya. Keduanya saling berteriak untuk didengar satu sama lain.

"Kamu yang memberi tahu ku, Allah maha membolak-balikkan hati manusia," ujar Shanshan dan anggukan kepala Emyr pertanda bahwa lelaki itu juga setuju perkataannya. "Lalu apa ini?"

"Aku bahkan tidak mau kalau sampai rasaku berpindah ke tempat lainnya," sanggah Emyr.

Mencintai Shanshan adalah bagian dari kenyataan hidup yang bisa dikatakan terlalu indah, ia nyaman dengan rasa ini.

Egoisnya mengatakan, jangan lupakan dirinya, dia lah gadis yang pertama kali merenggut seluruh hatinya, mengubah abu-abunya menjadi merona merah menyala-nyala.

"Sekali pun itu istri mu?"

Pandangan Emyr menanar. Cukup lama keduanya terdiam di tengah semaraknya angin yang berangsur kencang.

"Baby ... Emyr." Seketika itu juga, secara bersamaan Shanshan dan Emyr menoleh, rupanya Papa Alex menatap bingung kedua duanya.

"Om." Tundukkan kepala khidmat Emyr berikan, nyalinya menciut setelah berani menyakiti hati putri Tuan tampan bermata biru itu.

Alex tak mau bertanya lebih lanjut, ia tahu putrinya sudah sangat kedinginan, bahkan kian membiru bibir merona-nya.

Sesegera mungkin Shanshan meraih mantel dari tangan ayah biologisnya. Mengenakan, lalu pergi mengeluyur melewati tubuh tinggi tersebut.

Alex tahu Shanshan tak mau bicara padanya, terlebih setelah Abah Emyr menolak hanya karena status anak di luar nikah dan belum berhijrah.

"Emyr minta maaf," celetukan bibir Emyr, dibalas dengan tepukan Alex yang mengenai pundaknya. "Om duluan," ucapnya pamit.

Emyr mengangguk, setidaknya ia lega, Shanshan pulang dengan ayah yang terlihat sangat peduli akan keselamatan putrinya.

Bukan pengawal atau pun pelayan, Alex datang sendiri ke sini demi menjemput sang putri.

Alex mempercepat langkah, di depan sana, atap mobil Limosin miliknya sudah sedikit ditunggangi salju tipis.

Dia mengarahkan tatapan ke atas, sepertinya salju sudah mulai mereda. Tapi tidak dengan kencangnya angin yang masih melingkupi.

Lelaki itu masuk ke dalam mobil, sang sopir dan pria yang digadang-gadang sebagai tangan kanannya telah siap di jok depan, sementara Shanshan sudah duduk berpaling menatap jendela.

Mobil bergegas pergi, tangan Alex mengelus puncak kepala gadis itu. Gadis pertama yang mampu merubah sebagian dirinya.

"Are you okay?" Shanshan menepis usapan damai sang ayah. Bukankah seharusnya, Alex cukup menjadi Om saja baginya?

Shanshan kecewa cukup dalam. Dikarenakan lelaki tampan itu lah, ibu tercintanya harus dipandang rendah masyarakat luas.

Alex mengalihkan pandangan ke depan, di mana ia harus berpura-pura kuat setelah beberapa Minggu ini Shanshan tak mau bicara padanya.

Ia mengaku betul, Shanshan ada karena kesalahannya, tapi tidak ia sesali jika melihat putri cantik itu tumbuh dengan sangat baik.

Shanshan begitu berarti dalam hidupnya, meski sudah ada anak lain dari pernikahan yang sekarang.

Terpopuler

Comments

Rahmi Mamimima

Rahmi Mamimima

keren sih papanya g mnghakimi emyr

2025-02-09

0

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

kasihan kamu shanshan yg sabar yach

2025-01-23

0

Tuti Tyastuti

Tuti Tyastuti

kasihan shanshan

2025-01-14

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!