^^^📌 Bab ini terdapat beberapa pengetahuan yang aku ambil dari kitab suci...^^^
...{[<<
Malam mengalahkan semburat merah sang senja California. Sebuah toko buku dengan aroma kopi yang harum menjadi pelarian terbaik bagi Shanshan.
Sepoi angin balkon menerpa wajah dan mengibarkan hijab merah mudanya. Ini Cafe milik orang Indonesia yang asyik dikunjungi para pecinta novel di sini.
Yah, Shanshan sudah berada di California sedari dua hari yang lalu. Semester akhir siap ia tempuh sebelum lanjut S2.
Jengah terus mengingat bahagianya sang mantan, Shanshan pergi ke sini; berharap bayangan Emyr sirna dari lamunan.
Foto-foto pernikahan Emyr dan Adeeva tersebar di sosial media. Ada momen di mana Emyr terlihat mencium kening istrinya.
Rupanya begitu ceteknya ungkapan cinta Emyr, yang hanya sebatas kata-kata. Tak ada usaha yang dilakukan demi mempertahankan dirinya.
Pelajaran berharga bagi Shanshan adalah, pria hakekatnya sama, sekalipun dia seorang Emyr dzemir pujaannya, cinta pertamanya, orang yang ia pikir jawaban dari doa-doanya.
Seberkas buku yang sedikit menguning menemani malamnya. The Five People you meet in Heaven judul yang tertera di sampul bacaannya.
Malam ini Shanshan larut dalam kisah dan kata-kata penuh makna. Diksi yang mudah dicerna, dan cara bercerita yang tidak biasa membuat dirinya betah berlama-lama duduk di cafe ini.
Telusur punya telusur, rupanya hampir semua kalimat di dalam karya Mitch Albom itu mengandung filosofi hidup.
...'There are no random acts... We are all connected...You can no more separate one life from another than you can separate a breeze from the wind...'...
...Tidak ada tindakan acak... Kita semua terhubung... Anda tidak dapat lagi memisahkan satu kehidupan dari yang lain seperti Anda dapat memisahkan angin dari angin......
"Aku setuju dengan kata-kata ini." Shanshan menoleh ke kanan, di mana suara berat yang barusan terdengar, rupanya berasal dari pria tampan.
Sorot mata dengan bingkai sedikit monolit kini mengarah pada paras cantiknya. Shanshan mengenal baik wajah tegas itu.
Haikal Sulaiman, nama seleb muda yang sering mondar-mandir di televisi Indonesia dengan seruan dakwahnya.
"BTW, maaf kalo aku nyelonong duduk di sini, tapi, aku bisa pergi jika memang keberadaan ku mengganggu mu,” kata Haikal.
Segera Shanshan menggeleng. "Tidak apa, duduk saja." Meski seorang aktris terkenal, Shanshan tak cukup berani untuk bersikap sombong, terlebih Haikal berasal dari negara yang sama.
Yah, mereka memang tak cukup akrab untuk duduk berdua di atas bangku yang bersisian, tapi sepertinya Haikal terbiasa dekat dengan siapa saja.
Mendapat lampu hijau, senyum Haikal mekar hingga menampilkan gingsulnya. "Kau tahu. Aku sudah lima kali bolak-balik baca buku ini, dan masih kagum dengan kata filosofinya."
Shanshan terdiam, ia memang tak berniat menimpali kata-kata lawan bicaranya. Meski nyatanya, ia tertarik mendengar rangkai demi rangkai ulasan Haikal tentang buku tersebut.
Sedikit banyak Shanshan mengakui, bahwa teman satu negara yang selama tiga tahun terakhir ini tidak cukup ia pedulikan, begitu sopan dan cerdas.
Apa lagi saat Haikal mengaku setuju jika semua kejadian dalam hidup bukanlah kejadian yang ngawur.
Bahwa ada kehidupan lain dari mahluk lain. Semuanya juga andil dalam merajut benang peristiwa dalam hidup.
Terlebih saat Haikal menceritakan kitab 'Al Ibriiz' yang dikajinya beberapa waktu terakhir, sebagai pelarian atas peristiwa hancurnya hati yang terjadi beberapa tahun terakhir.
Tuhannya sudah menjelaskan. Tidak ada satu pun di alam ini yang terjadi secara kebetulan, sebagaimana tertuang dalam Al-Qur`an, "Allah mengatur urusan makhluk-Nya." ar-Ra'd: 2.
Dalam ayat lain dikatakan, "Dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula..." al-An'aam: 59.
Siapapun yang masuk dalam hidup, sebesar ataupun sekecil apapun peranannya, semua sudah dituliskan sang pencipta alam.
Shanshan menjadi berpikir. Jika Shanshan dibuat-Nya (Allah) lahir di luar pernikahan, dan dibuat Nya lahir menjadi cicit Raka Rain, maka ini bukanlah ajang uji coba Tuhannya.
Sekuat apapun menolak dan menghindar, takkan mampu manusia berpaling. Karena tidak ada selembar pun daun yang jatuh tanpa izin Nya.
Shanshan tersenyum. "Kamu tahu banyak pengetahuan, aku jadi merasa kecil duduk bersama mu," ujarnya.
Haikal tergelak, gelak yang menghibur hati lawan bicaranya. "Tapi aku lebih tahu tentang mu, daripada ilmu pengetahuan," sanggahnya.
Shanshan terkikik kecil. Rupanya, orang yang selama ini tak ingin sekali pun ia sapa, cukup melipur laranya.
"By the way, kamu lebih cantik dengan jilbab mu," puji Haikal, senyum itu menyejukkan.
"Rayuan gombal ala ustadz." Shanshan bergumam pelan dengan kekehannya. Sebelum Haikal, Emyr yang selalu bilang, dirinya lebih cantik saat berjilbab.
"Wah-wah, aku mencium ada diskriminasi di sini. Kau tahu, ustadz juga manusia."
Lagi-lagi Shanshan tertawa kecil, tak seperti Emyr yang terkenal dingin, Haikal begitu asyik saat bicara.
Ngomong-ngomong, kenapa sampai detik ini pun, Shanshan masih membandingkan Emyr yang sudah menjadi milik orang?
"Maafkan istri saya Mr." Ucapan yang terdengar dari arah kanan membuat Shanshan dan Haikal menoleh pada sumbernya.
Degup jantung Shanshan meningkat seketika, tatkala sepasang matanya mendapati dua orang yang baru saja memasuki area balkon cafe ini.
"Emyr," lirihnya membatin. Tak cukupkah usaha dia melupakan laki-laki itu? Kenapa harus ada Emyr dan istrinya di sini?
'Istri saya?' Barusan telinganya mendengar sendiri bagaimana Emyr menyebutkan istri saya; terlihat sekali Emyr memberikan Adeeva perlindungan seorang suami ketika Adeeva tak sengaja menabrak seseorang.
Setelah cukup kuat keluarga Emyr menggores luka padanya. Kini Emyr seolah menabur garam di atasnya.
Jadi rupanya, Emyr membawa Adeeva untuk tinggal bersama di California. Bisa terbayang bagaimana sentuhan Emyr tak segan ketika dengan istrinya yang sah.
"Shan," panggil Haikal. Sedikit tepukan di lengan membuat lamunannya membuyar.
Shanshan mengemasi tas dan bukunya, ia bangkit dari duduk untuk segera merelokasi raga dari sini. "Maaf Haikal, aku harus pulang," pamitnya.
Haikal terdiam menatapnya, ia tahu Shanshan terburu-buru karena adanya Emyr yang masih belum ngeuh oleh keberadaan mereka.
"Terima kasih Mas." Sahutan lembut Adeeva terdengar ketika Shanshan sengaja melewati tubuh wanita itu.
"Shan!"
Panggilan itu Shanshan acuhkan, suara damai itu begitu akrab di telinganya. Namun, untuk memilikinya sudah tidak lagi layak baginya.
Entah, kenapa semenjak pulang dari pesantren milik Abah Emyr, semua terasa lebih sensitif.
"Shanshan!" Sekali lagi Shanshan indahkan seruan-seruan yang terdengar dari belakang tubuhnya.
Segera ia memasuki mobil tanpa mau menoleh barang sebentar. "Kita ke rumah Papa Alex Pak," titahnya pada sang sopir yang masih setia menunggu di jok kemudinya.
"Baik Nona muda."
Mobil bergerak, beberapa ketukan di jendela kacanya terdengar. Sakit, ekor matanya mengintip kaca spion, tempat di mana Emyr terlihat bergeming di belakang mobilnya yang melaju.
Baru pernah Shanshan sesakit ini. Setelah pernikahan pengkhianatan itu, masih tak tahu malu kah Emyr menyebut namanya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
RahaYulia
memang sama manusia tp sbg manusia berilmu agama hrsnya lb mnjaga mata dn lisan jgn smp teselip kemunafikan yg hakiki
2024-12-28
0
Nanik Kusno
Emyr....kamu sudah punya istri....jaga semuanya...mata...hati.... hanya untuk istrimu...
2025-03-28
0
yeni NurFitriah
Shanshan menghindar dari Emyr,eh malah ketemu dengan Emyr juga istri nya.
2025-01-20
0