Adeeva menuangkan keluh kesah pada yang menciptakannya di sepertiga malam. Hanya itu saja yang bisa dia lakukan dalam kemelut sunyi senyapnya.
Sarapan pagi bersama Emyr pun dilakukan seperti biasa. Hanya setitik saja suara yang terdengar melingkupi keduanya, itu pun sekedar denting piring yang tak sengaja dibuat.
"Maafkan aku tadi malam, Ning," ucap Emyr, sesaat setelah menyelesaikan makannya, ia mengelap ujung bibir dengan tisu.
Adeeva mengangguk pelan, bibirnya mulai memancar senyum. "Deeva juga minta maaf, harusnya Deeva tidak emosi, Deeva tahu Deeva terlalu terburu-buru."
Emyr membalas senyum seraya mengusap pucuk kepala gadis itu, senyum manis yang menyembuhkan luka semalam Adeeva.
Bagaimana pun, mereka berada dalam ikatan pernikahan yang sah. Percekcokan di awal pernikahan anggap saja ujian sebelum diberi sakinah mawadah warahmah.
Adeeva hanya harus bersabar, menunggu Emyr mau menatapnya sebagai seorang istri. Dia tahu tak mudah melupakan, seperti dirinya yang tak pernah beralih dari Emyr-nya.
"Ning." Setelah cukup lama terdiam dengan pergolakan batin, Emyr kembali bersuara.
"Hmm?" Adeeva menatap wajah suaminya, terulas gamang di sana. Seperti ingin tapi tak ingin mengutarakan sesuatu.
Segera Adeeva menggenggam kepalan tangan suaminya. Seolah menyiratkan dirinya sudah baik-baik saja. "Bicara saja, Adeeva siap mendengar."
Degup....
Pada akhirnya kalimat itu membuat Adeeva menyesal. Di mana ternyata, sang suami meminta izin untuk menikahi Shanshan.
Adeeva bergeming menatap daun pintu yang baru saja Emyr tutup. Masih terngiang untaian kata-kata yang Emyr gaungkan, meski pria itu sudah melenggang dari pandangan.
"Dari awal kamu tahu aku memiliki kekasih yang ingin sekali aku jadikan istri. Aku tahu pernikahan kita baru di mulai, Ning. Jujur, aku tidak mau terus membohongi mu tentang apa dan bagaimana perasaan ku."
"Gimana, kalau ternyata aku tidak bisa melupakan Shanshan?"
"Mas masih mau memperistrinya?"
"Itu pun atas izin mu."
Adeeva terduduk di lantai. Sebisa mungkin ia bersabar, bukan mendapat perhatian Emyr, lelaki itu justru semakin lupa diri. Inikah yang namanya cinta menyesatkan?
...{[<<
Drrrttt...
Shanshan meraih ponsel yang berdering menggetarkan nakasnya. Dengan handuk kecil di separuh tubuhnya, ia mengangkat telepon yang berhasil membuat bibirnya mengembang.
Sudah ke tiga kalinya nomor tersebut menghubungi ponselnya. Pertama sebelum shalat subuh, lalu setelah shalat subuh, dan sekarang Shanshan mendapatkannya lagi.
Paginya telah siap dengan set hijab peach lembut kesukaan yang masih dia letakan di sisi ranjang. Belum sempat mengenakannya, Haikal lagi-lagi memanggil kontaknya.
Percakapan pun tak terelakkan, rupanya Haikal berniat menjemput putri cantik Alex Prince Miller ini.
Shanshan dengan sangat senang hati menerima tawaran Haikal. Lagi pun, Shanshan merasa tak ada yang aneh dari teman barunya.
Shanshan melanjutkan dandan, mengenakan pakaian juga segala macam perintilan yang dia perlukan.
Langkah pastinya kemudian menapaki satu persatu anak tangga. Di lantai bawah, Papa Alex dan Mami tirinya mengajak sarapan.
Kedua gadis kembar Alex juga duduk di kursi meja makan. Gadis-gadis cantik bermata biru itu baru berusia sepuluh tahun; Glory dan Flory.
"Hay My Shanshan!" Satu lagi anggota keluarga Alex datang. Shanshan melepas paksa pelukan laki-laki berwajah Eropa itu.
"George!" Alex menegur. Putra angkatnya memang tidak segan saat memberikan sentuhan pada putri kandungnya.
Tak ayal, George lahir di London dan tinggal di California, ia mungkin menganggap bahwa sentuhan seorang kakak memang seperti itu.
George putra angkat Caroline, lebih tepatnya keponakan yang diangkat menjadi keluarga inti mereka.
Acap kali Shanshan mendapati usapan jemari di dagunya, cubitan di pipinya, dan sejauh ini Shanshan baru mengetahui, ada pelecehan yang dia alami dari George.
Oh Tuhan, kenapa lagi-lagi Emyr yang dia ingat jika sudah begini? Beberapa bulan saja mengenal dekat Emyr, rasanya sulit terlupa.
Segala aspek yang dia lalui di kehidupan sehari-harinya, pasti ada kenangan manis bersama Emyr.
"Kamu ngapain pakai pakaian seperti ini hmm? Kamu lebih cantik dengan gaya mu yang dulu!" George mencela pakaian tertutup adik sambungnya.
Alex menggeleng ringan, George sudah cukup keterlaluan. Itu lah kenapa ia mengirim George ke negara lain untuk melanjutkan kuliah.
Tak mau berlama-lama berada satu ruangan dengan George, Shanshan beralih menatap ayahnya. "Shanshan berangkat Pa," pamitnya.
"Sarapannya?"
"Di luar saja."
Alex mengangguk, lalu mengecup kening putrinya. Caroline dan anak kembar Papa Alex juga mendapat kecupan manis Shanshan sebelum gadis itu pergi.
George merasa, Shanshan berubah semenjak berhubungan dengan Emyr. Bibirnya miring ketika mengingat, Shanshan tak jadi menikah.
Di luar, udara California masih teramat lembab; seusai salju semalam. Butiran halus es pun masih ada yang tersangkut di pucuk dedaunan.
Rupanya di depan teras, Haikal tersenyum lebar. Pintu mobil sport berwarna merah dengan atap terbuka dia persilahkan teruntuk Shanshan seorang.
Mobil yang sengaja Haikal siapkan, agar tidak terkesan berdua di dalam mobil yang sama, bersama gadis pujaannya.
Shanshan terkekeh seraya masuk. Hawa riang dari senyuman Haikal seolah tersebar hingga menular ke bibirnya.
"Apa aku tidak perlu ketemu, Papa?"
"What?" Shanshan terkaget-kaget, Haikal Sulaiman memanggil Alex Papa? Bukan main memang, ustadz gaul ini.
"Bukankah aku harus izin lebih dulu?"
Shanshan terkekeh. "Ayolah, memangnya kamu pacar ku?"
Sontak, Haikal tergelak. Dia mengambil alih kemudi, lantas sesegera mungkin berlalu dari kediaman keluarga Shanshan.
Obrolan ringan mereka diskusikan, Shanshan masih tertarik dengan pembahasan seputar hijrah yang dipilihnya.
Hal yang ingin Shanshan ketahui, Haikal tegar menjawab sesuai pedoman yakni Al-Qur'an dan haditsnya.
Tak terasa waktu begitu cepat sehingga tiba mereka di parkiran kampus tanpa rasa bosan akan pembicaraan keduanya.
Secara bersamaan Shanshan dan Haikal turun lewat masing-masing pintunya. Sempat Shanshan membetulkan Khimar miliknya.
Dari kaca spion Shanshan baru menyadari, mobil yang mengekor di belakangnya; mobil hitam milik Emyr. Itu berarti, Emyr sudah mengamatinya sedari tadi.
Tatapan dingin itu nampak mencekam, dan mencoba Shanshan acuhkan dengan berpura pura tidak melihatnya.
Gadis itu mengayun kakinya. Haikal baru saja akan mensejajarkan langkah mereka. Tarikan tangan Emyr merenggut keberadaan gadis itu.
Haikal bisa apa selain menghela napas berat disertai bacaan istighfarnya. Harus bersabar seperti apa lagi dia setelah ini?
"Myr!"
Sampai di tempat yang sedikit menjauh dari Haikal, Emyr melepas tangan berkain milik mantan kekasihnya. "Aku mau bicara!"
"Bicara apa lagi?" sergah Shanshan. Nadanya kian meninggi; pertanda bahwa ia bosan terus dipengaruhi laki-laki ini.
Harus berapa lama Shanshan melupakan; sementara Emyr selalu ada dan tak pernah sudi melepaskan dirinya?
"Aku mau menikahi mu, Shan!"
"Hkh?" Di tengah kepulan asap lembut yang keluar dari bibir keduanya Shanshan terkekeh heran. "Kamu perlu periksa ke psikiater!"
"Aku serius Shan!" Emyr meyakinkan lagi dengan menekankan kata dan tatapan seriusnya. "Aku tahu ini gila, tapi aku terus memikirkan mu. Aku sakit melihat mu bersama Haikal, asal kau tahu!"
"Aku hanya bersama, sedang kamu menikahi Adeeva tepat di satu Minggu setelah kau mengajakku ke rumah mu!" catuk Shanshan.
"Maaf," kata Emyr lirih. Matanya nanar seperti mengeluarkan bibit kaca-kaca.
"Kau pikir siapa yang mau menjadi istri ke dua hah? Kamu pikir aku sudi disebut pelakor oleh keluarga besar mu?"
...📌 Segera up lagi... Terima kasih Bintang limanya, para majikan kesayangan kooh... Huhu......
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 49 Episodes
Comments
Ida Faridah
😮💨emyr justru semakin membuat shanshan menjadi orang yang tak baik klo sampai beneran terjadi tapi good untuk shanshan menolak dgn tegas
2025-02-23
0
yeni NurFitriah
Good Shan..sdh cukup kamu disebut anak diluar nikah sama keluarga nya Emyr,sekarang kamu tegas tdk ingin disebut sebagai pelakor👍
2025-01-20
0
Yuyu sri Rahayu
good shanshan mana mau jadi yang kedua yg akan d cemooh sebagai pelakor kamu hebat
2025-01-23
0