Mengaku kalah

"Emyr mohon, jangan ikut campur urusan Emyr lagi! Yang mau menjalani pernikahan bukan Paman, tapi Emyr!"

Emyr tahu betul, sedari awal paman dan bibinya lah yang bersemangat mengusulkan Adeeva untuknya.

Emyr yakin, jika sudah begini pasti ada apa apa dengan paman dan bibinya. Keluarga pengeretan seperti mereka tidak akan kekeuh membela tanpa imbalan dari pihak Adeeva.

Shanshan yang tidak tahu menahu bagaimana perangai mereka, bisa dipastikan akan lebih mudah salah paham menghadapi situasi ini.

"Biar Emyr selesaikan dengan Abah, Paman silahkan keluar dari sini," usir Emyr.

"Lee!" Ummi menegur. "Yang sopan sama Paman mu, Bagus," tuturnya.

"Saya mengerti." Shanshan bersuara di tengah percekcokan keluarga itu.

Abah dan Ummi tak bersuara kembali, biar saja anak perempuan itu bicara kali ini.

Yang jelas, apa pun yang terjadi: Emyr tetap akan menikah dengan Adeeva.

Shanshan mengedar pandangan, menyisir seluruh wajah-wajah yang katanya pengurus pesantren. "Silahkan hina pekerjaan saya, tapi jangan sangkut pautkan dengan orang tua saya!"

"Jika saya terlalu tidak tahu malu, datang ke sini dan dianggap mengotori lingkungan kalian, saya minta maaf," imbuhnya. Luruh sudah air dari sudut netranya.

Emyr menyentuh lengan kekasihnya, dan segera ditepis. "Saya permisi," tambahnya seraya bangkit.

"Shan," panggil Emyr.

Melewati dengan arogan, kaki Adeeva terinjak sepatu heels Shanshan. Entah, Shanshan tak menganggap wanita di sisinya ada.

Abah dan Ummi menggeleng ringan, seperti inikah calon yang akan Emyr kenalkan pada mereka?

Sebelumnya memang sudah ada yang merumorkan kedekatan Shanshan dan Emyr lewat sosial media. Dari sejak itu, pesantren ini seperti mendapat cibiran.

Bagaimana tidak, foto-foto Shanshan terlalu vulgar untuk ukuran pandangan mereka yang menjunjung tinggi aturan-aturan berpakaian.

Lihatlah, Emyr bahkan berniat memperistri, bukankah itu berarti seorang anak kiyai pun tergoda oleh rupa yang terbuka.

Apa jadinya nanti, jika santriwati pun menyontoh pakaian Shanshan, yang mungkin dianggap sebagai trend oleh mereka.

"Apa menyakiti perasaan Shanshan juga bagian dari rencana Abah?" tuding Emyr.

"Lee...," tegur Ummi. "Sejak kapan kamu berani sama Abah begitu? Apa Amerika membuat mu tidak punya lagi etika?"

"Tapi menyakiti Shanshan juga tindakan yang tidak beretika Ummi!"

"Bagus!" Suara dari arah pintu terdengar tinggi. Rupanya Hilman Fauzi: kakak pertama Emyr datang melototi-nya. "Berani kamu meninggikan suara mu di depan Ummi?"

"Apa seorang anak tidak boleh mengingatkan orang tuanya? Mumpung masih di Dunia, Emyr masih bisa menegur mereka, kalau sudah di neraka, Emyr bisa apa?"

Hilman mengeras wajah. "Cita-cita mu masuk neraka, pantas cari calon istri sembarangan!"

"Sudah!" pungkas Abah. Sedari tadi kediamannya membuatnya tak terlihat.

Hilman menatap ayahnya. "Ini akibatnya kalau Abah terlalu memanjakan anak ini, lihat Bah, anak bungsu Abah jadi begini!"

"Bukannya kuliah di Kairo, melanjutkan dakwah, malah ambil kedokteran di Amerika, dari awal Hilman juga sudah menyangka, akan seperti ini jadinya!"

"Berdakwah tidak melulu soal lisan Mas, kiprah juga perlu tindakan," sanggah Emyr.

"Bukankah sebaik-baiknya manusia, dia yang berguna bagi manusia lain! Mas pikir dokter tidak berguna?"

Hilman tercekik, takkan pernah ada kata menang, jika sudah berdebat dengan adik bungsunya.

"Hiks..."

"Ummi!" Adeeva baru bersuara, tatkala wanita paruh baya itu memegangi dadanya. "Ummi kenapa?" tanyanya peduli.

Ummi terisak. "Kenapa jadi begini, sejak kapan kalian berani meninggikan suara di depan Abah sama Ummi?" ujarnya lirih.

Tak mau berlama-lama berdebat. Emyr melangkah pergi, mungkin saja sekarang Shanshan sedang menangis tanpanya.

Setengah berlari Emyr menuju kamar tamu, yang mana tempat itu hanya di perkhusus untuk perempuan.

"Lihat saja kelakuan Emyr!" ketus Hilman.

Abah tergeming, silahkan Emyr marah, murka, sakit hati padanya, setidaknya setelah ini dia tidak perlu repot-repot memisahkan putranya dengan gadis kaya itu lagi.

Abah yakin, setelah ini Shanshan sendiri yang akan pergi meninggalkan Emyr. Menyakiti hati manusia sudah pasti berdosa.

Namun, Abah tahu, Emyr putranya akan tetap kekeuh berjuang keras selama Shanshan masih mau bersamanya.

Yah, setidaknya Abah percaya wanita yang berasal dari keluarga kaya raya takkan mau bertahan setelah mendapat hinaan.

Harga diri cucu Dhyrga lebih tinggi dari apa pun di Dunia ini. Begitu pula dengan pesantrennya yang masih memerlukan citra baik.

...{[<<>>]}...

Emyr masuk ke dalam kamar tamu, di mana Shanshan berdiri sesenggukan; mengemasi barang-barang miliknya ke dalam koper.

Melihat genangan air mata di wajah cantik kekasihnya, Emyr sakit. "Maafkan ucapan keluarga ku, shan," ucapnya.

"Mereka tidak sepenuhnya salah." Shanshan menggeleng tanpa menoleh. Dia kesal dan marah atas ketidakjujuran Emyr soal Adeeva.

Seharusnya katakan saja, jika Emyr memang sudah dijodohkan dengan perempuan lain jauh-jauh hari.

Setidaknya Shanshan tak perlu berharap lebih jauh lagi. Pertama kalinya hati Shanshan terjatuh pada lelaki, bunga yang baru mekar itu layu dengan tragisnya.

"Mereka benar, aku wanita murahan."

Emyr menggeleng. "Kamu sangat berharga di mata ku," katanya lirih. "Beri aku kesempatan sekali lagi saja, kita berjuang sama-sama lagi, aku yakin masih bisa meyakinkan Abah sama Ummi," bujuknya.

"Buat apa?" Tajam Shanshan menatapnya.

"Aku sangat mencintai mu," ucap tulus Emyr. Mata itu tak pernah bisa membohongi, bisa dilihat binar ketulusannya bagi Shanshan.

Namun, bertahan di sini pun sudah tak berkemungkinan. "Cinta tidak harus menikah, Emyr! Aku setuju dengan keluarga mu, kita memang tidak cocok," sanggahnya.

"Aku yang tahu dengan siapa aku merasa cocok. Aku tulus mau meminang mu, Shan!"

Shanshan menggeleng kekeuh. Watak gadis itu sama seperti ibundanya. Tak segan pergi jika merasa tersakiti.

Segera Shanshan menurunkan kopernya; untuk ditariknya ke luar.

"Shanshan." Raut menghiba, Emyr mengikuti langkah kaki kekasihnya. Sebagian santriwati menyaksikan, bagaimana seorang Emyr membujuk kekasihnya.

"Mau ke mana?"

"Ke tempat asal ku," sergah Shanshan. Ayunan kaki terus dia percepat; berharap tak ada media yang menangkap adegan ini.

Emyr menggeleng pelan. "Setidaknya pulang besok pagi, ini sudah malam," tuturnya.

Shanshan terkekeh. "Kamu lupa aku punya banyak pengawal hmm?"

"Lalu bagaimana dengan ku?"

"Kamu akan menikah dengan pilihan orang tua mu." Gegas, gadis itu bertepuk tangan.

Di depan sana, pengawal suruhan ayahnya bergegas meraih koper miliknya. "Kita pulang ke Jakarta langsung!" suaranya bergetar.

"Baik Nona." Kendati masih bingung, para pengawal dan pelayan khusus Shanshan, segera menganggukkan kepalanya.

"Shan!" Emyr berusaha mencegah, tapi gadis itu tetap memasuki mobilnya. "Kita masih bisa bicarakan baik-baik."

Shanshan terisak di atas joknya. Tak ada yang akan baik. Nyatanya mereka memang tidak satu kufu, tidak satu trah, dan tidak layak bersama.

Meski cinta masih teramat besar, Shanshan mengaku kalah pada Adeeva yang mungkin lebih segalanya dari pada dirinya.

Terpopuler

Comments

Rahmi Mamimima

Rahmi Mamimima

mmg btul
bnyk org pham agama,tp dlm ksehariannya blm tntu mnjalanknnya
dan tdk sdkit pula yg mnganggap rmeh org lain krna mreka lbh mrasa punya ilmu yg tinggi mskipun tk d barengi dg adab

2025-02-08

1

Rahmi Mamimima

Rahmi Mamimima

setuju sih.kbnyakan yg dakwah dan kluarganya mnganggap mreka lebih tinggi drajatnya dr org² biasa
tdk ssuai antara tindakan dan ucapan mreka ktika berdakwah

2025-02-08

0

yeni NurFitriah

yeni NurFitriah

😭😭nyesek, keluarga Emyr harus dihadapi nya sama Daddy Rega ini mh,dijamin tak berkutik oleh omongan nya Daddy Rega mh.

2025-01-20

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!