Ku pinang kau...

Ting tong...

Gigi Shanshan menggertak geram saat menekan bel apartemen milik Emyr. Tak begitu lama, pintu putih itu terbuka.

Emyr berdiri, masih tak mau benar-benar menatapnya. "Shan?"

"Shan." Shanshan meleyotkan bibirnya, mengikuti sebutan Emyr barusan. "Kurang lumutan aku di sini?"

"Kamu menunggu ku?"

"Pikir mu aku kurang kerjaan, berdiri seperti orang bodoh di depan pintu apartemen mu!"

Tak acuh, gadis itu ngeluyur masuk ke dalam apartemen Emyr.

Emyr menghela napas, ia mengikuti langkah Shanshan tanpa menutup pintunya. "Aku belum mempersilahkan mu masuk Shan."

"Kelamaan," ketus Shanshan. Lihatlah, rupanya Emyr mengenal namanya. "Apa kau juga tidak mempersilahkan ku duduk?"

Emyr mengangguk kepalanya setelah berpikir beberapa detik. "Duduk lah."

Pemuda tampan itu berjalan menuju sebuah pintu, lantas memasukinya: dan keluar membawa sehelai mukena atasan.

Shanshan mengamati sekitar, di apartemen ini, apakah ada penghuni lagi selain makhluk rupawan di hadapannya?

"Pakai lah!"

Shanshan terkekeh getir, aneh tentu saja. Dia kira mukena tersebut bukan untuk dirinya.

"Kita bukan mahram, tidak baik berdua mengobrol di tempat yang sepi, apa lagi kalau kamu dalam keadaan seperti ini."

Shanshan berkerut kening, apa maksud dari Seperti Ini? Shanshan duduk bertamu dengan sopan, menurutnya pakaian ini tidak terlalu vulgar. Lagi pun, mereka hidup di California.

"Kau mengejek ku?"

Sebelum lebih lanjut bertengkar, Emyr kekeuh: memaksa gadis itu mengenakan mukena bercorak batik milik kakaknya.

Kendati awalnya menolak, Shanshan menurutinya: demi bisa berbicara empat mata dengan Emyr.

Mata Emyr mengerjap sekilas lalu menatap fokus gadis di hadapannya. Ada sirat kekaguman setelah Shanshan memakai mukena darinya.

Cantik adalah definisinya.

Shanshan merasa aneh, ini pertama kalinya Emyr mau menatap dirinya sebegitu lama. Yah, meski pada akhirnya mata itu kembali membuang pandangan ke arah lain.

"Katakan apa maksud kedatangan mu?"

"Soal siang tadi," ketus Shanshan.

"Yang mana?" Kali ini, kembali Emyr menatap gadis itu.

"Yang kamu bilang aku kerikil!"

"Kamu tersinggung?" Emyr meredup ekspresi, dan terlihat kilatan sesal di matanya yang seolah menyala. "Maaf," ucapnya tak segan.

Shanshan mengernyit, bukankah siang tadi Emyr tak begitu mau menatapnya? Lalu malam ini pemuda itu meminta maaf?

"Kamu punya dua kepribadian?"

Emyr tersenyum, yah senyum yang begitu manis dipandang; lengkungan bibir itu menyejukkan bagi siapa saja yang melihat.

"Tidak ada alasan apa pun. Aku cuma sedang menjagamu dari pandangan laknat ku, maaf kalau membuat mu tersinggung," ucapnya.

Emyr mengakuinya, berharap tak lagi ada kesalahpahaman di antara mereka. Jauh-jauh Shanshan ke sini, pasti karena rasa singgung yang sangat menyiksa hati.

Pengakuan Emyr mengejutkan gadis ini, tentu saja. Shanshan kira pemuda sok suci itu akan mengolok-oloknya lebih parah dari siang tadi; rupanya tidak.

"Ibarat berlian, alangkah akan lebih mahal jika tidak banyak yang bisa memilikinya bukan? Aurat mu juga lebih mahal jika tidak banyak yang melihatnya. Masya Allah, kau bahkan terlihat lebih cantik saat mengenakan mukena seperti ini," terang Emyr.

Batin Shanshan mencela dirinya sendiri. Baru kali ini ia melihat sisi lain Emyr yang selama tiga tahun terakhir membuatnya geram dengan segala tingkah acuhnya.

"Sudah malam, aku antar kamu pulang saja. Gadis seperti mu, tidak pantas ada di rumah pemuda seperti ku."

"Zina tidak melulu soal bersentuhan, tapi bercampurnya laki-laki dan perempuan di tempat sepi juga sudah mendekati zina."

Kali ini Shanshan tak tersinggung. Ia tahu, Emyr seorang pemuda yang mengusir halus dirinya, hanya karena tidak ingin berbuat jahat padanya.

Pantas, jika Farah dan Aruna terus memuji, Emyr memang berbeda, Emyr cukup berbeda dari kebanyakan temannya.

Disaat semua orang ingin menatap kemolekan tubuhnya, pemuda itu menjaganya dari tatapan neraka.

Sejatinya lebel manusia biasa masih tertambat pada siapa saja, termasuk Emyr dzemir.

Kendati lirih dalam batin, lubuk hatinya mengakui, bahwa sikap kanak-kanak yang dimilikinya terbilang naluriah.

Ya Tuhan, kenapa ia menjadi maklum pada sikap Emyr yang kemarin masih terlihat jahat?

Apakah karena kelembutan itu? Atau mungkin karena penjelasan menyentuh itu? Entah saja.

Jelasnya, tidak sia-sia dia datang kemari. Sekarang ia tahu; sisi lain Emyr yang tidak pernah ia tahu.

...----------------...

Bulan-bulan berlalu bergantian, setelah meng-upgrade penampilannya, Shanshan dan Emyr bisa dekat layaknya Farah dan Aruna.

Memang belum berjilbab, setidaknya pakaian Shanshan tak lagi menimbulkan keresahan bagi Emyr yang insan biasa.

Selama ini, Farah dan Aruna memang tak pernah berpakaian terbuka. Pantas jika Emyr hanya mau berteman dengan mereka.

Bukan soal itu. Pada nyatanya, Emyr memiliki kegelisahan lain saat harus bertatap muka dengan gadis bernama Shanshan.

Jantungnya terus berdetak kencang saat pandangannya tertuju pada gadis itu. Dan ini lumrah terjadi ketika satu hati terjatuh pada hati lawan jenis.

Siapa yang mampu memungkiri, Shanshan cukup ideal dijadikan pelabuhan terakhir.

Terlepas dari pekerjaannya sebagai model dan aktris. Shanshan gadis yang baik, terlebih gadis itu berjiwa sosial tinggi.

Di Indonesia sana, Shanshan memiliki panti asuhan, rumah singgah, juga rumah sehat bagi yang membutuhkan tanpa dipungut bayaran.

Emyr kagum akan hal itu. Pekerjaannya bukan sekedar untuk memperkaya diri, sejatinya Shanshan sudah kaya sedari lahir.

Dua ayah kembarnya; Axel dan Alex memiliki kekayaan yang lebih dari berlebih untuk sekedar memanjakan putri pertama Lilyana.

"Emyr."

"Hmm."

Shanshan berada di tepi sungai, duduk di kursi kayu ala cafe; menikmati secangkir teh hijau bersama teman spesialnya.

Emyr tampan dengan celana jeans biru terang, kaos putih, juga sepatu sneaker dan sorban berwarna senada yang tersangkut di lehernya.

Biasanya, ia pakai kain lembut itu untuk alas ketika menghadap Illahi Rabbi, di lima waktu yang dia temui di luar rumah.

Ujung sorban itu beterbangan ditiup angin senja. Keduanya duduk menghadap tanpa menatap.

Cangkir tebal berkelir hitam kemerahan cukup membuat Shanshan iri, saking lekatnya manik Emyr mengamati.

"Apa aku berlebihan jika aku mencintaimu?"

Emyr mendongak, sekilas dalam hening netra mereka bertemu lekat. Emyr tak kaget, tapi juga tak merespon ucapan Shanshan.

"Kenapa diam?"

Sekali lagi pandangan Emyr turun. Jujur, ia juga memiliki perasaan yang sama, tapi ada seseorang yang sudah Abah-nya siapkan.

"Kau menolak ku?" cecar Shanshan.

"Apa kau siap mengubah sekali lagi penampilan mu?"

"Maksudnya?"

Shanshan mencecar bola mata yang ingin sekali ia tatap seksama. Jangan menghindar, ia ingin menuntut jawaban dari sirat kejujurannya.

Sekejap saja jemari Shanshan menyentuh kulit di ujung jari-jari Emyr. Tak lama Emyr mendongak seraya memundurkan tangannya.

"Kalau kau mengaku mencintai ku. Aku jamin, rasaku padamu pun sama tulusnya."

Emyr melepas sorban yang melingkar di lehernya. Lantas, mengenakannya pada kepala gadis itu. Cantik, seperti hari-hari sebelumnya.

"Aku tidak mau bermain-main dengan mu Shan, lebih baik biar aku bawa kamu ke Abah, lalu... Ku pinang kau dengan bismillah," ujarnya.

Shanshan membelalak, tidak kah ini terlalu cepat? Mereka bahkan belum lulus kuliah.

Terpopuler

Comments

yeni NurFitriah

yeni NurFitriah

Abah nya Emyr itu Kiyai Zainy ya Kakek nya Aisha istri nya King Miller.

2025-01-20

0

Yuyu sri Rahayu

Yuyu sri Rahayu

gentelnya emyr yang d sebut gus itukan /Drool//Drool/

2025-01-23

0

Nanik Kusno

Nanik Kusno

Good...Gus Emyr emang the best dah.....👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍

2025-03-28

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!