Cklik~ Cklik~
Pintu kamar yang di kunci itu kembali terbuka, Aqila dengan antusias menatap ke arah pintu berharap Bram yang membuka pintu itu. Tetapi harapan nya lagi-lagi pupus begitu melihat Bi Chi maid yang sudah lama bekerja di rumah ini lah yang masuk.
"Malam nyonya" Sapa Bi Chi.
Aqila tersenyum tipis, jujur saja ia tidak nyaman di panggil dengan embel-embel 'Nyonya'
Bi Chi langsung menatap Aqila begitu melihat piring makanan Aqila yang masih utuh dan belum di makan sedikit pun.
"Nyonya belum makan?" Aqila menggeleng sebagai jawaban.
Bi Chi lantas mendekati Aqila yang bersandar di kepala kasur itu. "Nyonya harus makan, jika tidak nanti Nyonya akan sakit" Ujar Bi Chi
"Aku gak laper Bi, dan tolong jangan panggil aku Nyonya"
Bi Chi terdiam menatap wajah Aqila yang kini dengan menatap nya dengan senyum tipis. Terlihat kesedihan di wajah Nyonya baru nya.
"Baiklah Bibi panggil nona saja, bagaimana?"
Aqila mengangguk menyetujui, ia lebih suka panggilan ini dari pada panggilan sebelum nya yang seakan-akan dirinya sangat tua.
"Nona makan ya? Semalam nona tidak makan dan seharian ini makanan nona selalu utuh" Ujar Bi Chi
Memang benar dari semalam Aqila belum memakan apapun hingga hari sudah berganti menjadi malam lagi. Begitu pun dengan Bram yang sampai saat ini belum kembali.
"Ada yang ingin nona tanya kan?" Tawar Bi Chi yang peka akan sikap Aqila.
"Emm.. Kak Bram kemana, Bi?" Tanya ragu Aqila.
"Oh, nona ingin menanyakan keberadaan tuan?"
Aqila mengangguk pelan, sebenarnya ia sangat ragu menanyakan hal ini.
"Tapi maaf Bibi juga tidak tau dimana tuan sekarang, mungkin lebih baik nona menelpon tuan"
"Baiklah bi, terimakasih" Aqila tersenyum menatap wanita paruh baya yang terlihat mulai berkeriput dihadapan nya.
Bi Chi mengangguk, lalu berucap. "Bibi mau minta tolong sama nona, boleh?"
"Minta tolong apa Bi?"
"Tolong dimakan makanan nya, Bibi takut nona sakit dan nanti bibi yang kena marah sama tuan karena tidak becus menjaga nona" Ujar Bi Chi dengan raut sedih.
Sejujur nya Bi Chi tidak takut akan amukan Bram, tetapi ia takut istri kecil tuan-nya ini akan sakit, belum lagi kemarin sore Bi Chi sempat mendengar pertengkaran mereka saat tidak sengaja melewati kamar Bram.
"Baik Bi, nanti akan aku makan"
"Sekarang saja 'ya nona? Biar bibi suapin"
"Tidak usah, Bi. Aku bisa sendiri"
Mendengar jawaban itu kepala Bi Chi menunduk dan wanita paruh baya itu meremat jarinya khawatir.
"Jika sekarang Bibi keluar tidak membawa piring kosong itu, mungkin besok Bibi tidak bisa bekerja disini lagi. Dan bagaimana dengan biaya kuliah anak Bibi di kampung"
Aqila yang mendengar seketika menarik Bi Chi untuk duduk di tepi kasur lalu menggenggam tangan wanita itu.
"Maksud nya Bi Chi akan di pecat?" Bi Chi mengangguk sebagai jawaban.
"Di depan ada anak buah tuan Bram yang sedang mengawasi kita, nona"
Kepala Aqila menoleh ke arah pintu, di dalam hatinya Aqila tengah mengucapkan makian untuk Bram yang seenak nya akan memecat maid yang sudah lama bekerja disini hanya karena ia tidak mau makan.
Padahal Bi Chi hanya mengarang agar Aqila mau makan, karena Bi Chi tau sebenarnya Aqila mempunyai hati yang lembut.
"Baiklah bi, aku akan makan sekarang!" Putus Aqila.
.
.
.
"Sudah sangat larut boss, anda butuh istirahat" Ujar Digo yang saat ini tengah berdiri di depan meja kerja Bram
"Pergilah, jika kamu ingin istirahat" Sahut dingin Bram dengan mata dan jari yang terus sibuk dengan komputernya.
"Tidak boss, saya akan menemani anda untuk lembur" Jawab Digo dengan semangat 45-nya.
Bram terkekeh pelan, asisten nya yang masih berumur Dua puluh tahun ini cukup menghibur. Di usia nya yang masih muda juga Digo sangat berprestasi dan benar-benar membantu Bram.
"Tidak apa, pulang lah dan istirahat di rumah. Besok datang seperti biasanya" Ucap Bram yang kini menatap Digo.
Memang ini yang Digo inginkan, tetapi tidak bisa. Digo tau sedang ada masalah antara Boss nya dan Ibu Boss nya.
"Emm.. Apa boss tidak ingin bercerita dengan saya? Sejujurnya saya malas pulang karena Mama saya terus menanyakan dimana kekasih saya" Tanya Digo yang berujung menjadi celotehan.
"Tidak ada, dan jika kamu tidak mau pulang lebih baik beristirahat di sana" Jawab Bram melirik sofa panjang yang ada di ruangan nya.
"Tidak usah boss, saya akan kembali ke ruangan saja untuk menyusun jadwal anda"
"Baiklah jangan terlalu memaksa kan, istirahat jika kamu lelah"
"Siap boss" Digo menjawab dengan antusias kemudian pria itu membungkuk hormat sebelum pergi dari ruangan Bram.
Pintu ruangan kembali tertutup menyisakan Bram yang kini menatap kosong layar komputer nya. Jujur Bram sangat merindukan Aqila tetapi ia harus menahan nya dan memberikan sedikit pelajaran untuk istri kecil nya itu.
"Ucapan mu sangat pedas dan menusuk hati ku, tetapi aku tidak bisa berhenti mencintai mu, naughty girl" Gumam Bram.
"Tapi entahlah, semoga tuhan cepat membuka pintu hati mu untuk ku" Lanjut nya dengan nada pasrah.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Jeon Melly💫
Semoga Aqila Bisa Cepat Mencintai Bram
2022-12-22
7