"Kita satu kamar?"
"Tentu"
"Kenapa?"
"Kenapa?" Ulang Bram bingung.
"Kenapa gak pisah kamar?"
Bram memejamkan matanya rapat, mencoba untuk menahan emosinya yang lagi-lagi dipancing oleh ucapan Aqila.
"Kamu ingin kita pisah kamar?"
Aqila mengangguk cepat. "Iya, aku mau kita pisah kamar"
"Kenapa?" Tanya Bram dengan mata yang masih terpejam.
Aqila menatap malas pria dewasa di hadapannya yang saat ini tengah berbaring di kasur king size milik nya.
"Kamu istri ku, Aqila" Lanjut Bram karena tidak kunjung mendapat jawaban.
"Tapi--"
"Aku tidak menerima negosiasi, ingat pesan Papa. Kamu harus menurut pada ku!" Potong tegas Bram dengan mata yang kini menatap tajam Aqila.
"Kamu mesum, aku--"
"Bahkan kita sudah melakukan hal lebih Aqila, jangan bersikap seakan kamu belum tersentuh!" Sentak marah Bram.
Aqila langsung terdiam, menatap Bram dengan mata yang kini mulai berkaca-kaca menahan tangis.
Entah kenapa sentakan pria itu sangat menyakiti hati nya. Tanpa Aqila sadari sikap dan perkataan nya pun sangat menyakiti hati Bram.
Menghela napas berat, lalu Bram bangun dan bergeser lalu menarik pelan tangan Aqila hingga kini tubuh Aqila berdiri tepat di hadapan Bram yang duduk di tepi kasur.
"Maaf aku tidak bermaksud membentak mu" Ujar Bram yang terdengar sangat lembut.
"Aku memang sudah kotor, tapi itu semua karena kamu yang merusak diriku!"
"Sadar lah Aqila, jika sedari awal kamu tidak pergi ke night club itu, dan tidak meminum minuman yang kekasih mu pesankan mungkin semuanya tidak akan terjadi" Tutur Bram masih dengan nada yang sama.
"Kamu juga harusnya sadar! Jika kamu bisa menahan nya atau mungkin mengantarku pulang ke apartemen pasti aku masih--"
"CUKUP AQILA!" Stok kesabaran Bram benar-benar sudah habis kali ini.
Bahkan dengan sekali tarikan tubuh Aqila sudah terbaring di kasur dan langsung di tindih oleh Bram dengan tatapan penuh emosi nya.
"Malam itu, aku menahan nya dan tidak merebut kesucian mu yang entah masih suci atau tidak!" Teriak Bram di depan wajah Aqila.
Plak!
Satu tamparan cukup keras mendarat di pipi Bram, dan tentu tamparan itu berasal dari tangan Aqila.
Wajah Bram tertoleh karena tamparan yang cukup keras itu, lalu kekehan keluar dari mulutnya seiring dengan kepalanya yang kembali terarah menatap wajah Aqila.
"Aku menjaga diriku dengan baik!" Sahut Aqila dengan teriakan nya.
"Yakin?" Tanya Bram terkekeh remeh. "Bahkan kamu menjalin hubungan dengan pria liar itu" lanjutnya.
Aqila hanya diam, dada nya terasa begitu sesak bahkan tanpa izin air mata nya yang sedari tadi ia tahan kini sudah mengalir begitu saja.
"Sutt, jangan menangis istriku" Ucap lembut Bram menyeka air mata Aqila.
"Lebih baik sekarang kita membuktikan nya" Lanjut Bram dengan tangan yang mulai turun membelaii leher Aqila hingga turun ke gunung berlemak milik istrinya.
"Menjauh dariku sialan!" Aqila mendorong tubuh Bram dengan sisa tenaga nya.
Tubuh Bram berhasil Aqila singkirkan hingga pria itu terbaring tepat disamping Aqila. Dan dengan cepat Aqila bangun lalu menjauh dari kasur itu dengan tangan yang menyilang di depan dada nya.
"Sampai kapan pun aku tidak akan memberikan nya padamu, walaupun kamu suami ku!" Teriak Aqila penuh emosi dengan air mata yang terus berjatuhan.
Bram hanya diam dengan posisi yang masih sama, napas pria itu memburu dengan tangan yang terkepal kuat.
Melihat Bram yang hanya diam, Aqila hendak kembali melangkah mendekati pintu kamar dan berniat untuk keluar. Tetapi ucapan Bram menghentikan gerakan nya.
"Berani keluar dari kamar ini selangkah pun, jangan harap hidup kamu akan bebas" Ucap dingin Bram yang mulai bangun dan mendekati Aqila.
"Aku tidak peduli!" Aqila kembali bergerak dan memegang handle pintu kamar itu berniat membuka pintu, tetapi tiba-tiba tubuhnya di tarik dan kembali di banting di atas kasur.
"Ini hari pertama kita sebagai sepasang suami-istri Aqila, hari pertama!"
"Kenapa hah? Dari awal aku memang tidak menginginkan pernikahan ini!" Sahut Aqila. "Dan sekarang kebenaran nya aku masih lah seorang gadis, akan aku pastikan kebenaran ini sampai di telinga Papa dan kak Grey!" Lanjut nya dengan nada lantang.
Bram lagi-lagi terkekeh, tapi kali ini terdengar dan terlihat lebih menyeramkan. "Silahkan, aku tidak takut!" Tantang Bram.
Setelah mengucapkan kata tersebut, Bram langsung keluar dan menutup pintu kamar dengan kasar.
Terdengar dari luar sana Bram mengunci pintu kamar itu, menyisakan Aqila yang kini meringkuk di atas kasur dengan isak tangis yang terdengar memilukan.
.
"Mr." Sapa salah satu maid yang berpapasan dengan Bram.
"Jangan ada yang membuka pintu kamar saya kecuali saat waktunya makan, dan biarkan istri saya makan di kamar lalu kunci lagi!" Titah tegas Bram.
Maid tersebut yang tak lain adalah Bi Chi, mengangguk walaupun sempat menatap bingung Bram. "Baik Mr." Sahut Bi Chi.
Setelah mendapat sahutan Bram kembali melanjutkan langkahnya menuju pintu. Sesampai nya di pintu Bram berpapasan dengan Digo-- asisten nya yang datang membawa barang-barang Aqila.
"Boss" Sapa Digo setengah membungkuk hormat.
"Hmm, bawalah ke dalam" Sahut singkat Bram hendak kembali melangkah.
"Sudah mau malam, anda mau kemana boss?"
"Jangan banyak bertanya dan selesaikan tugas mu!"
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Bagus Bram,Aku sokong kamu,Sudah seharusnya kamu bersikap TEGAS ke Qila, Menurut ku Qila itu sudah keterlaluan..
2024-12-08
0
Dede Dahlia
aqila memang keterlaluan.
2023-09-14
0
starblue
pisah thor😅
2022-12-26
0