Sabtu pagi tepat pukul delapan, saat ini Aqila beserta keluarga tengah menikmati sarapan nya. Walaupun masih terasa canggung karena kejadian satu minggu yang lalu.
Tetapi Aqila terus mencoba untuk berbicara dengan Alex-- Papa nya yang selalu mendiami nya.
"Papa hari ini libur 'kan?" Alex mengangguk sebagai jawaban.
Sejenak Aqila menatap sang Mama, setelah mendapat anggukan dari wanita itu Aqila kembali mengeluarkan suaranya.
"Emm.. Bagaimana jika kita pergi jalan-jalan? Sudah lama kita tidak--"
"Gak bisa" Potong Alex.
Pria paruh baya itu menghentikan makan nya dan menggelap mulutnya dengan tissue. Kemudian ia langsung menatap putri kesayangan nya.
Aqila yang di tatap oleh Alex tentu merasa sangat bahagia, bahkan kini senyum manis nya terukir mengingat seminggu ini Alex tidak pernah menatap wajahnya.
"Kenapa Pa?" Tanya Aqila dengan senyum manis nya.
"Bram dan keluarganya akan datang siang ini"
Jderrr!
Bagaikan di sambar petir di siang bolong, tubuh Aqila membeku bahkan napas nya tercekat. Senyum manis itu langsung luntur dari bibir nya kala mendengar ucapan Alex.
"Lho ada apa? Kok Papa gak bilang?" Tanya Rachel menatap bingung dan kaget suami nya.
"Tadi malam Mr.Adipati menelpon Papa dan bilang akan datang ke sini bersama Bram dan istrinya" Jelas Alex dengan mata yang tak lepas dari keterdiaman Aqila.
Rachel pun ikut menatap putrinya yang hanya diam menggenggam sendok yang ada di tangan nya.
"Qila?" Rachel menyentuh bahu putri nya, dan detik itu juga Aqila tersadar.
"Oh iya? Ada apa Ma?"
"Kamu gapapa?" Tanya balik Rachel.
Aqila menggeleng pelan dan kembali memakan makanan yang ada di piringnya, walaupun rasa makanan itu telah berubah menjadi hambar dan tenggorokan nya sangat sulit untuk menelan nya.
Tetapi sebisa mungkin Aqila bersikap tenang, apalagi tatapan Alex tengah mengintimidasi dirinya.
.
.
Siang ini di ruang tengah kediaman Ivanka terlihat lebih ramai dari biasanya, dimana para keluarga sedang berkumpul termasuk Grey dan Arazey yang di hubungi oleh Alex. Dan juga Bram bersama Ayah dan Mama nya.
Lain hal nya dengan si kembar Adelio dan Adelia yang asik bermain di kamar, walaupun salah satu dari mereka yang tak lain adalah Adelia-- sangat ingin tahu apa yang terjadi di luar, tetapi gadis kecil itu harus menuruti perintah sang Daddy.
.
"Silahkan di minum dulu, Mr., Mrs. Adipati" Ucap sopan Rachel dengan senyum nya.
Kedua pasutri itu mengangguk dan ikut tersenyum. lalu meminum minuman yang telah di sediakan oleh keluarga itu.
Keadaan cukup canggung, sampai saat Cris Gens Adipati-- Ayah Bram memulai percakapan nya.
"Saya tidak tahu akan memulai dari mana, tapi sepertinya kalian mengerti maksud kedatangan saya dan istri saya ke sini" Ujar Cris menatap bergantian keluarga itu.
Tatapan Cris terhenti pada Aqila yang menundukkan kepalanya dan gadis itu memainkan jari tangan nya yang terlihat khawatir.
"Aqila 'kan?" Aqila yang namanya di sebut lantas mengangkat kepalanya dan menatap Cris.
"I-iya Mr.Adi--"
"Panggil saja Ayah" Potong Cris tersenyum tipis.
Aqila mengangguk ragu dan menatap wajah keluarga nya secara bergantian. Begitu pun dengan Cris yang kembali bersuara.
"Saya ingin melamar Aqila untuk menjadi istri Bram sebagai bentuk pertanggung jawaban dan juga sebagai perempuan yang Bram cintai dari Aqila kecil"
Napas Aqila kembali tercekat, mata nya kini terfokus pada pria yang duduk di sebrang nya dan ternyata pria itu memang sedari tadi terus memperhatikan nya.
"Saya tidak meminta pertanggung jawaban anak anda!" Tegas Alex.
Mendengar hal itu semuanya tercengang, lagi-lagi Alex menolak pertanggung jawaban dari Bram.
"Tetapi memang sudah seharusnya mereka menikah" Lanjut nya.
Senyum bahagia langsung terbit di wajah keluarga Adipati yang tadinya sempat tegang.
"Tapi Qila--" Belum sempat Aqila melanjutkan ucapan nya, tetapi tiba-tiba Arazey bersuara.
"Aqila tolong bantu Bi Su membawa cake di dapur" Potong Arazey dengan senyum nya.
"Tapi Ma--"
"Ayo aku bantu" Sela Bram seraya bangun dari posisi nya.
Tatapan tajam langsung Aqila layangkan pada pria yang kini tengah berjalan ke arah nya. Bram mengulurkan tangan nya berharap Aqila menerima dan menggenggam tangan nya.
Tetapi Aqila malah menepisnya hingga terdengar suara seperti tamparan, lalu gadis itu langsung bangun dan pergi dari ruangan itu tanpa berkata-kata.
"Astaga Aqila.." Lirih Rachel merasa malu.
Bram tersenyum lalu berpamitan dan menyusul langkah Aqila di depan sana.
"Tidak apa kami mengerti, mungkin Aqila belum bisa menerima nya" Ujar Yeslin-- Mama Bram.
"Kami benar-benar merasa tidak enak atas sikap Aqila kepada Bram"
Baik Yeslin ataupun Cris hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Anda benar-benar setuju, Mr.Alex?" Tanya Cris memastikan.
Alex mengangguk dan tersenyum tipis. "Bram sudah menceritakan semuanya, besan"
.......
...-Flashback On-...
Bram masih bersimpuh dan tidak berniat bangun dari hadapan Alex dan Rachel. Sampai wanita paruh baya di hadapan nya berdiri dan memegang kedua bahu nya.
"Ayo nak bangun, jangan seperti ini" Ujar Rachel dengan mata berkaca-kaca nya.
"Tolong dengarkan penjelasan ku" Lirih Bram menggeleng kan pelan kepalanya menolak ajakan Rachel yang menyuruhnya bangun.
"Kami tau yang sebenarnya Bram, bangun lah" Grey menepuk-nepuk bahu Bram.
Sedangkan Bram yang awalnya terlihat sangat pasrah dengan pikiran yang berkecamuk, lantas kini mendongak menatap sosok pria yang baru saja memukuli nya habis-habisan.
"Kamu tidak melakukan itu pada Qila 'kan?" Tanya Grey yang langsung mendapat anggukan cepat dari Bram.
"Aku tidak melakukan nya, aku hanya khilaf sedikit tapi aku langsung sadar" Jelas Bram terburu-buru.
"Walaupun begitu, kalian harus tetap menikah. Saya tidak mau kelak suami Aqila mendapatkan bekas dari pria lain" Ucap pedas Alex menatap sadar Bram.
Bram yang awalnya terdiam kaget karena ucapan Alex tidak sesuai dengan yang ia ucapkan di depan Aqila.
Tetapi dengan cepat Bram mengangguk dan tersenyum, memang hal ini yang ia inginkan, tetapi senyuman nya luntur begitu matanya terarah pada kamar gadisnya.
"Tapi Qila.."
"Biarkan dia merenungi perbuatan nya"
"Apa tidak masalah? Qila baru saja lulus dan usia--"
"Jika tahu begitu, kenapa kau tidak bisa menahan nya hah?!" Potong Alex menatap galak pria yang masih bersimpuh di lantai.
Lagi-lagi kepala Bram menunduk, jujur ia sangat menyesal telah memasang CCTV di kamar nya sendiri, tapi ia merasa beruntung juga karena bisa secepatnya menjadikan Aqila sebagai milik nya.
"Aku pria normal, Pa. Sedangkan dalam kondisi Qila yang terus menggoda ku, mana bisa aku bertahan selama itu" Sahut Bram.
Terdengar decakan kesal yang keluar dari mulut Alex, hingga pria paruh baya itu bangun dari posisi nya.
"Datanglah seminggu lagi bersama orang tua mu, keluarga kami butuh kehormatan" Ujar Alex menepuk pelan kepala Bram lalu pergi.
"Siap!" Sahut cepat Bram penuh semangat.
Bram sangat tau, keluarga ini benar-benar menjaga kehormatan anggota keluarga nya dari kerasnya pergaulan di negara ini.
...-Flashback Off-...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 79 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Kalo Grey udah tau kebenarannya ngapain masih mukul Bram sampe segitunya,Harusnya kalian berterima kasih ke Bram telah menyelamatkan Qila niat jahat pacarnya..
2024-12-08
0
Jeon Melly💫
Gw Kira Papa Nya Jahat Huu..
2022-12-20
1
Anin Nafila
undangan mn undangan
2022-12-20
1