Lima hari tuan mereka tidak datang ke rumah bahkan Hendry dan yang lain pun tak kembai ke mansion itu. Dan selama itu juga beberapa pelayan berlaku semena mena terhadap Laura.
Begitu mengetahui tuan mereka pergi, pelayan yang menghasut semua orang untuk mengerjai Laura dan menyebarkan gosip kalau Laura adalah pembuat masalah dan bukan wanita baik baik, melimpahkan semua pekerjaannya pada laura dengan dalih kalau tuan Simon yang memerintahkan hal itu untuk dilakukan oleh Laura.
Pelayan lain mencoba mencegah orang itu tetapi dia terlalu menakutkan dan senang mengadu domba, bahkan beberapa pelayan keluar dari rumah itu karena tidak tahan dnegan sifatnya yang suka mengadu domba.
Tetapi bersikap baik di depan kepala pelayan dan tuan mereka. Kepala pelayan ditugaskan mengawasi renovasi makam tuan Kent terdahulu sehingga tidak ada yang mengawasi pelayan di rumah itu selama 2 minggu belakangan.
Laura yang belum sehat di suruh bekerja ini itu bahkan lukanya tak kunjung sembuh karena tak diberi makanan yang layak sesuai perintah Zayn.
Setiap kali kepala koki ingin mengantarkan makanan Laura, pelayan itu selalu mengambilnya dan mengatakan akan memberikannya pada Laura padahal dia makan sendiri dan berikan sisa pada Laura.
Bukannya Laura tidak bisa melawan, tetapi dia belum tahu kebiasaan di rumah itu, lagipula dia tak merasa kalau dia adalah istri yang dianggap, belum lagi para pelayan di sana lebih mengenal Simon jika dibandingkan dengan dirinya.
Bisa dikatakan, Laura selalu berhati-hati dalam tindakannya meski itu merugikan dia.
“ Vivi apa apaan kau, kenapa kau seperti ini? Saat tuan tidak di rumah kau menyakiti banyak pelayan, apa yang salah denganmu, dia juga kurang sehat kenapa kau melakukan ini?” salah satu dari pelayan yang tidak suka dengan cara pelayan bernama Vivi itu protes.
“ cihh.. jangan menggangguku Obelia, kau membuatku kesal, biarkan saja toh dia juga hampir dibunuh oleh tuan, aku hanya melakukan apa yang tuan lakukan hahhaa...” celetuk perempuan itu sambil berjalan kesana kemari seolah dia adalah pemilik rumah itu tanpa tahu segala aktivitasnya direkam oleh CCTV tersembunyi.
Laura menghela nafas, dia demam dan sudah dua hari tak turun turun, lehernya malah semakin parah,” Beristirahatlah, pekerjaan pelayan di sini memang sedikit berat, apalagi kalau tuan yang memerintahkan, aku akan bantu kau membersihkannya, maklum saja dengan Vivi, dia memang seperti itu,” ucap Obelia, gadis polos berparas ayu dengan rambut panjang yang sering di kepang dua.
“ Terimakasih Obelia, aku memang kelelahan, ,lukaku belum sembuh, tapi tuan menyuruhku melakukan ini, biar kulakukan saja, aku tidak mau di marahi,” ucap Laura sambil berjongkok dengan kepala pusing.
Laura tidak mau diusir dari rumah itu, dia harus tetap bertahan di sana karena kini tak ada lagi baginya tempat untuk pulang.
Laura tidak masalah jika harus bekerja seperti ini, dan yang terutama dia tidak boleh kabur dari rumah itu karena keselamatan Pak Mandu menjadi jaminannya.
“ Ck... dasar gadis bebal,” ketus Obelia sambil memegang bahu Laura.
“ Hei Laura jangan memaksakan dirimu, biar kami yang bereskan, kau sudah sangat pucat, kau bisa jatuh,” ucap dua pelayan yang lain.
Mereka dengan tulus membantu Laura dan langsung membersihkan seluruh tempat yang di minta oleh Vivi untuk dikerjakan oleh Laura.
Rumah yang tampak sunyi dan gelap itu harus dibersihkan oleh Laura dan seluruh pelayan tanpa memindahkan satu pun barang di dalamnya.
Obelia membawa Laura untuk beristirahat di sofa, wajah gadis itu pucat sedang dua temannya yang lain membantu membersihkan rumah dengan cepat sebelum Vivi kembai dan mengomeli Laura.
Padahal mereka semua sama di rumah itu, Vivi bahkan tidak punya jabatan lebih tinggi dari para pelayan yang ada di sana, hanya saja dia sudah bekerja cukup lama di rumah itu sama seperti Obelia dan kedua pelayan tadi.
Laura menghela nafas, kakinya kram, jika dia tidak sakit dia pasti dengan semangat membersihkan rumah itu karena sudah jadi pekerjaan sehari harinya. Tapi kondisinya sedang tidak sehat sehingga dia benar benar lemah saat ini.
“ Maaf merepotkan kalian, jangan terlalu banyak membantuku, Vivi mengatakan kalau kalian kan di marahi oleh tuan kalau seperti ini,” ucap Laura.
“ Ck... tenang saja, jangan mengatakan hal yang tidak tidak, lagipula tidak ada yang tahu, kami akan melakukannya dengan cepat Laura,” ucap Irvan, pelayan pria yang mengumpulkan pecahan beling itu.
“ Benar Laura, kita semua sama di rumah ini, Vivi hanya senior, bukan berarti dia bisa berlaku seenaknya, lagipula pekerjaan ini memang pekerjaan kami sebelum kamu datang, jadi tidak masalah,” ucap Gretta si pelayan tomboy yang tinggi menjulang dengan rambut pendeknya yang memikat, seandainya dia diberi sedikit riasan dia akan sangat cantik.
“ Terimakasih Obelia, Irvan dan Gretta,” ucap Laura dengan senyum tipis di wajahnya yang pucat pasi.
"Sudah sana pergi istirahat ke kamarmu, biar kami yang lanjutkan,” ucap Gretta yang dianggukkan oleh Irvan dan Obelia, pelayan muda yang juga cukup lama bekerja di rumah besar itu.
Tanpa mereka ketahui Vivi menatap sinis dari lantai dua sembari mengunyah apel segar yang seharusnya diberikan pada Laura tapi dia makan sendiri karena tamak dan rakus,” cihh... aku pasti akan mengusirmu dari rumah ini,” ucapnya dengan nada ketus.
Laura berjalan dengan perlahan sambil memijit kepalanya yang terasa sakit dan seolah akan meledak. Lehernya perih dan perutnya lapar, seharian tidak maka membuat gadis itu kelaparan.
Laura naik ke lantai dua di mana kamarnya berada tetapi tiba-tiba...
Byyuuuuurrr.....
Tubuh Laura di siram dengan air es oleh tiga orang pelayan yang dihasut oleh Vivi.
Mereka bertiga tertawa terbahak bahak melihat Laura terjatuh di atas lantai dengan tubuh membeku dan kedinginan . Gadis itu menggigil, dia kelaparan dan kurang gizi karena ulah Vivi.
Dari ujung lorong Vivi berjalan dengan santai sambil tertawa cekikikan melihat apa yang teman temannya lakukan pada Laura.
“ Dasar pelayan bodoh, sudah kubilang untuk bekerja dengan baik, kalau tidak betah keluar saja dari rumah ini, kau mengotori pemandangan kami, dasar perempuan jal4ng sialan, kau mungkin anak perempuan haram... cuihhh...” umpat Vivi sambil meludahi Laura yang sesak nafas dan tergelatak di atas lantai dengan gemetaran.
“ Vivi apa yang kau lakukan pada Laura!! “ Irvan, Gretta dan Obelia terkejut bukan main saat melihat hal itu dengan mata kepala mereka, padahal Laura demam dan kelaparan tapi vivi menyiksanya tanpa henti.
Ketiga orang itu berlari dengan wajah panik ke lantai dua dan langsung menghampiri Laura.
Gretta memeriksa kondisi gadis tu sedang Irvan dan Obelia mengecam perbuatan Vivi dan dua pelayan itu.
“ Apa apaan kau Vivi, kenapa kau melakukan hal ini pada Laura, kau pikir kau siapa hah? Kau pikir kau itu kepala pelayan , apa hak mu mengatur semua ini...” teriak Obelia marah.
“ Aku jadi curiga apa benar tuan Simon memerintahkan mu untuk mengajari Laura, apa jangan jangan ini semau perbuatanmu hah?” hardik Irvan seraya menatap Vivi dengan tatapan tajam.
“ Cihhh.. apa untungnya sih buat kalian membela perempuan itu? Dasar pelayan bodoh,” ejek Vivi.
“ Ayo teman teman biarkan saja mereka terkena hukuman tuan Simon karena berdekatan dengan perempuan haram itu,” ketus Vivi sambil berjalan ke bawah diikuti kedua temannya.
Laura hanya diam, Saat dia akan membalas, beberapa saat lalu kedua Netranya menangkap sosok Simon yang sudah menyaksikan apa yang terjadi,"Ahh dia datang, lebih baik tuan Simon yang menghajar orang-orang ini, itu pun kalau dia berbelas kasih padaku," batin Laura .
"Karena mereka melakukannya langsung di depan tuan, akan mudah bagiku menjelekkan, baguslah, tuan Simon datang di waktu yang tepat, aku tidak perlu membuang sisa tenagaku, " Laura tetap tenang, siapa sangka Perempuan itu adalah perempuan yang cerdik mengatasi masalahnya.
Tiba-tiba kaki keempat orang itu bergetar lemas, wajah mereka pucat pasi, jantung mereka berdegup kencang tak karuan.
Hawanya terasa gelap, mansion yang gelap itu semakin menggelap karena aura menyeramkan dari Tuan Simon yang berjalan dengan langkah cepat ke arah mereka setelah mendengar dan melihat secara langsung apa yang para pelayan lakukan terhadap istrinya.
“BERANINYA KALIAN MENYENTUH ORANGKU!!!!" teriak Simon.
Vivi terdiam, dia langsung berlari menghampiri Simon.
“ Tuan hiks hiks hiks... Gretta, Obelia dan mereka semua menyiksa Laura, padahal saya sudah mencoba mengehentikan mereka tapi saya yang dimarahi, maafkan saya tuan!! Vivi bersimpuh di depan kaki Simon sambil menangis dan menuduh pelayan lain yang melakukan hal itu pada laura.
.
.
.
Like vote dan komen
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 232 Episodes
Comments
epifania rendo
dasar vivi
2023-01-21
1
🍒⃞⃟🦅Pisces
adsar kau Vivi laknat👹👹👹👹👹🔪🔪👹👹👹👹😈😈😈
2022-11-25
2
Ayu Octaviany
haiss dasar vivi si muka ular.... pandai sekali br silat lidah. tunggu saja kehancuran mu 😡😡😅😅
2022-11-19
2