Laura di tarik ke dalam ruang ganti pengantin wanita.
Tanpa perasaan mereka memaksa gadis itu untuk menuruti keinginan mereka hanya demi secuil investasi saham yang dijanjikan keluarga Kent pada Raymond grup.
" Menurut lah atau kau dan Pak Mandu akan mati!!" ancam Tuan Raymond sambil menatap nya dengan tajam dan mencengkram leher gadis itu.
" Tapi kenapa harus saya tuan!??" tanya Laura sambil menatapnya dengan tatapan pedih.
Ayah yang dia harapkan memberikan kasih sayang tapi nyatanya bahkan memanggilnya dengan sebutan ayah saja dia tidak mampu.
"Karena kau anak haram, anak cadangan kalau terjadi apa-apa pada Cintia, kau hanya anak hina, setelah keluar dari rumah ini pun kau akan jadi anak dari darah wanita malam yang kotor!" ucap Nyonya Raymond sambil mencengkram wajah gadis itu dengan sangat kuat.
" Cepat kalian dandani dia, gunakan gaun lain, ini terlalu mahal untuk gadis dekil ini, Cintia akan tetap memakainya!" ucap nyonya Tiara dengan tatapan sinis.
"Semuanya keluar!" tuan Raymond menatap mereka dengan tatapan tajam.
"Ada yang ingin kubicarakan dengan perempuan ini, Ma berikan benda itu!" ucap tuan Raymond.
" Ahhh baik pa,"
Nyonya Tiara mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya tepat setelah semua pelayan kecuali Bibi Yuni keluar dari sana.
" Bi Yuni keluar, mau apa di sini!??" tanya Nyonya Tiara dengan tatapan sinis.
" Tapi saya...
Dia melirik tuan Raymond, pria itu tak menanggapinya dan memalingkan wajah sedang Laura menatap dan mengamati semuanya.
Tangannya masuk ke dalam kantong dan menggenggam sesuatu di sana.
"Ba..baiklah Nyonya, Tuan saya permisi," ucap Bi Yuni sambil berjalan mundur dan keluar dari sana dengan kepala menunduk.
Nyonya Tiara mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan bening yang merupakan racun mematikan dari ular paling berbisa di muka bumi ini.
"Ini pa,"
Tuan Raymond mengambil benda itu dan menunjukkannya di depan wajah Laura.
" ini adalah racun dari ular paling berbisa di dunia, sekali minum korbannya akan merasakan efek terbakar dan akhirnya pendarahan!" ucap Tuan Raymond.
Lalu dia mengeluarkan sebuah jarum suntik berisi cairan bening juga di dalamnya.
Jlebbb...
Alat suntik itu tertancap di leher Laura dengan cairan yang masuk ke dalam tubuhnya.
" Ini adalah racun yang perlahan-lahan akan membuat tubuhmu lemah!" ucap Tuan Raymond sambil menatap tajam wajah Laura dan mencengkram rahangnya dengan kuat.
Buliran air mata Laura terjatuh, membasahi tangan tuan Raymond.
" Ke..kenapa anda melakukan ini, saya juga anak Anda tuan," tanya Laura dengan suara tercekat.
Wajah tuan Raymond berubah, dia menatap sendu Laura lalu membelai kepala gadis itu seolah dia adalah seorang ayah yang sangat sayang dengan putrinya.
" Ohh... Ma... dia ternyata putriku...." ucap Tuan Raymond sambil menatap sedih seolah iba dengan Laura.
" Kan memang benar?" sinis Nyonya Tiara.
" Heh... hahahha... putriku? kau?" Tuan Raymond menarik rambut gadis itu dengan sangat kasar bahkan hampir melepas kulit kepalanya.
" kau hanya darah daging wanita malam yang tak taunya malah hamil sekali ku tiduri! Jangan harap kau bisa mengakui pada dunia kalau kau putriku!!" ucap Tuan Raymond.
" Jika kau ingin penawarnya, segera datang ke rumah ini dalam jangka waktu 12 jam. Dengan bukti kau sudah memberikan racun ini, jika lebih dari itu maka kau akan mati!! "ucap Tuan Raymond sambil mendorong Laura dan melemparkan racun itu ke wajah sang gadis sampai pipinya terluka.
" Tuan... saya...
" Ma ayo, kita siapkan acaranya, juga acara putri kita!" ucap tuan Raymond sambil mengedipkan sebelah matanya.
Mereka berdua keluar dari dalam ruangan itu setelah berhasil melukai dan mengancam Laura.
Laura menangis pilu, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan selain bertahan.
" Tahan Laura, jika ingin menemukan kebenarannya dan melindungi Pak Mandu, kau harus bisa bertahan di tempat ini!!" batin gadis itu sambil menangis.
Di saat yang sama MUA dan beberapa pelayan masuk dan langsung menarik Laura dengan cara yang semena-mena.
Mereka mendandani gadis itu dengan cepat untuk acara pernikahan yang telah dibicarakan.
Ruangan, tempat dan para pihak yang ikut dalam pernikahan kilat ini telah berada di dalam satu tempat.
Tempat khusus yang telah diatur untuk pernikahan singkat ini.
"Pa, Mama tidak menyangka kalau tuan Simon akan memilih Laura, padahal ini jauh dari prediksi kita!" bisik Nyonya Tiara.
" Kau benar Ma, awalnya Papa berencana mengusulkan hal itu, dan membujuk si lumpuh dan bisu itu untuk mengikuti nasehat kakeknya," balas Tuan Raymond.
" ternyata dia tahu diri juga hahahha!" sambung pria itu yang langsung dianggukkan oleh Nyonya Tiara.
Semua ini sudah mereka atur, Cintia bukannya hilang tetapi bersembunyi bersama calon suami yang tidak akan pernah disangka sangka.
Semuanya ini atas usul Cintia yang memang tidak mencintai Simon.Yang dia inginkan hanya wajah tampan dan uangnya.
Tapi sial seribu sial, Simon malah lumpuh karena ulah Cintia sendiri.
" Ssthh sudah ayo ke dalam, kita tunggu anak haram itu, setelah mereka menikah semua akan selesai dan kita mendapatkan semuanya!" ucap Tuan Raymond dengan senyuman kemenangan yang mekar di wajahnya.
Mereka masuk ke dalam ruangan di mana acara akan dilaksanakan.
Simon dengan bantuan Hendry sudah berada di altar pernikahan.
Mereka menunggu Pengantin wanita tiba di ruangan itu.
Tak beberapa lama, Bibi Yuni dan pelayan datang sambil membawa Laura yang dibalut gaun tipis dan sederhana, tapi siapa sangka dia tetap cantik dengan balutan gaun itu.
Hanya saja wajahnya pucat pasi seperti mayat hidup.
"Ya ampun, lihat wajahnya Sadrakh, seperti mayat hidup, apa yang mereka lakukan padanya!??"
"Ssthhh diamlah dan saksikan saja Diego, Simon akan marah kalau kita ikut campur!" balas pria bertindik itu.
Laura berjalan dengan tubuh lemas, dia dibawa ke altar.
Pintu ruangan itu pun di tutup dan acara sakral sekali seumur hidup itu pun dilaksanakan.
Mereka berdua mengucap janji suci pernikahan.
Simon mengucapkannya dengan bahasa isyarat dan memenuhi semua upacara sesuai kepercayaan mereka.
Kedua mempelai memasang cin-cin sederhana yang Simon telah siapkan.
Dia Memasang cin-cin yang terlihat lusuh di makan waktu itu. Bentuknya sederhana tetapi penuh makna bagi Simon.
"Bukannya itu cin cin...
" Sshhttt diamlah!" balas Hendry menatap Sadrakh yang terperangah melihat cin-cin pernikahan mendiang kakek dan Nenek Simon yang dipasangkan pria itu pada Laura.
Laura pun demikian, dia menatap cin-cin itu dengan tatapan takjub, dengan wajah pucatnya dia melakukan prosesi pernikahan dengan cepat.
Tak butuh waktu lama, setelah menandatangani dokumen keduanya telah resmi menjadi suami istri di depan hukum dan agama.
Simon melirik Laura yang hanya diam saja, dia lalu melemparkan tatapannya pada tuan Raymond dan Nyonya Tiara yang tersenyum sumringah tanpa mempedulikan Laura.
" Hendry berikan dokumen itu dan Kita pergi dari tempat ini!" titah Simon dengan wajah datarnya.
" Diego bantu perempuan ini!" tulisnya lagi di tablet miliknya, lalu keluar dari sana dengan wajah datar tanpa menunggu yang lain.
.
.
.
like, vote dan komen 🤗
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 232 Episodes
Comments
Pipit Nelly
naaudzubillah....ada manusia ky gitu wlpun cuma didunia novel tapi kaya gak percaya bgt ada ayah sejahat itu ke anaknya
2024-06-29
1
Septi Wariyanti
berat Thor kasian Laura tp setidaknya dia terbebas dari reymond
2023-02-21
4
Riana
orangtua macam apa ini
2023-02-19
2