“Bilang pada resepsionis jika ada wanita kemarin mengantarkan jas, suruh masuk ke ruanganku saja.” Dathan menatap sang asisten sekaligus temannya itu. Tangannya kemudian bergerak menarik berkas yang diletakkan di atas mejanya.
“Perjasan itu belum selesai?” Reno yang mendengar tentang gadis yang mengantarkan jas pun memilih bertanya. Perasaan kemarin gadis itu datang untuk mengantarkan jas. Lalu, kenapa masih datang untuk mengantarkan jas?
“Belum.” Dathan menjawab dengan tenangnya. Dia membuka berkas dan mulai menanda tangani berkas yang diberikan oleh Dathan.
“Kenapa belum?” Reno begitu penasaran sekali.
“Karena aku meminta dia mencuci kembali.” Dathan dengan polosnya tersenyum.
“Dasar! Modus!” Reno melirik malas.
Dathan menatap dengan senyum mengembang di wajahnya. Sungguh dia puas sekali bisa membuat Neta kembali menemuinya. Entah kenapa Dathan merasa tertarik dengan gadis itu.
“Kamu menyukainya?” Reno menatap Dathan.
“Aku hanya tertarik saja. Entah kenapa cara dia berbicara dengan Cinta begitu lembut. Aku dengar dari dia, itu karena dia berasal dari panti asuhan, jadi dia begitu menyayangi anak-anak.” Dathan mengingat bagaimana kemarin Neta menceritakan tentang dirinya. Menarik sekali bagi Dathan.
“Sekian lama melihatmu dingin pada wanita, membuatku senang. Akhirnya kamu cair juga. Jika begini. Pusaka yang bertahun-tahun membeku di dalam es akan kembali hidup setelah es mencair.” Reno tertawa mengibaratkan Dathan. Sungguh hal ini benar-benar membuatnya merasa begitu geli sekali.
“Sial!” Dathan menatap malas pada temannya yang meledeknya itu. Bisa-bisanya sang teman meledeknya seperti itu.
“Lanjutkan aku dukung. Jika kamu punya kekasih, paling tidak malam mingguku tidak menemanimu.” Reno tertawa. Kemudian dia berlalu pergi.
Dathan hanya bisa menatap malas pada temannya. Setiap malam minggu memang sang teman menemaninya. Karena setiap akhir pekan Loveta selalu bersama dengan sang ibu, jadi dia memilih bersama dengan temannya itu. Saat teman Dathan pergi, dia kembali memikirkan Neta. Wajah Neta yang cantik seketika menghiasi pikirannya.
Saat memikirkan Neta, tiba-tiba Dathan teringat kenapa Neta belum datang. Padahal gadis itu datang pagi kemarin. Sampai siang jam anaknya pulang pun dia belum datang. Dathan mulai gelisah. Memikirkan apa Neta akan datang atau tidak. Dia juga yakin sekali jika jasnya pasti sudah selesai dicuci.
Dathan mengambil ponselnya. Dia merutuki kesalahannya karena tidak memiliki nomor telepon dari Neta. Jika sudah begini, tentu saja sulit dirinya menghubungi Neta. Dia hanya bisa berharap jika Neta akan datang ke kantornya kembali. Agar Dathan bisa bertemu dengan Neta lagi.
...****************...
Neta mendengus kesal. Manajernya benar-benar membuatnya kesal. Sudah tahu jika dirinya hanya setengah hari di kantor, tetapi tetap saja diberikan pekerjaan tambahan. Alhasil Neta harus menyelesaikannya. Di saat teman-temannya makan siang, dia harus berkutat dengan laptopnya. Padahal perutnya sudah berdendang minta diisi.
Neta buru-buru pergi tempat laundry di mana Dathan mencuci jas miliknya. Sungguh Neta benar-benar sudah dikejar-kejar waktu. Dia hanya membayangkan perjalanan ke tempat laundry memakan waktu satu jam dari kantornya. Dari tempat ke laundry tempat Dathan setengah jam. Artinya untuk perjalanan dia butuh waktu satu setengah jam. Posisi waktu sekarang jam setengah dua. Artinya perkiraan sampai kantor Dathan adalah jam tiga. Dia berharap Dathan masih di kantor. Jadi dia masih bisa bertemu dengan pria itu.
Neta menaiki ojek untuk sampai di tempat laundry. Ini adalah jalan ninja baginya. Jika naik taksi, bisa-bisa dia menghabiskan waktu lebih lama lagi.
Akhirnya Neta sampai juga setelah perjalanan yang luar biasa karena dia meminta tukang ojek menyela mobil dan motor. Dengan segera dia masuk ke tempat laundry. Saat masuk, dia memikirkan isi dompetnya yang akan melayang karena membayar jasa laundry. Yang ada dia tidak akan makan beberapa hari jika begini jadinya. Namun, demi sebuah wawancara, Neta rela melakukannya.
“Siang, saya mau ambil laundry milik Pak Dathan.” Neta menyampaikan apa yang dia inginkan. Dia menyodorkan secarik kertas yang didapatkannya dari Dathan kemarin. Itu adalah alat bukti untuk mengambil jas milik Dathan.
“Baik, tolong tunggu sebentar.” Tampak penjaga laundry segera mengambil barang yang diminta Neta.
Neta sudah berdebar-debar ketika menunggu jas. Dia sudah membayangkan berapa banyak uang yang akan dikeluarkannya. Dengan segera, dia mengambil dompet di dalam tas miliknya.
“Ini.” Penjaga laundry memberikan jas pada Neta.
“Berapa?” Neta memaksakan senyumnya.
“Ini sudah dibayar.”
Seperti mendapatkan oase di tengah gurun pasir, Neta begitu lega sekali ketika mendengar jika ternyata laundry sudah dibayar. Hilang sudah gelisah Neta tentang isi dompetnya yang akan melayang. Kini isi dompetnya aman. Karena ternyata jas milik Dathan sudah dibayar.
“Terima kasih.” Neta melebarkan senyumnya. Dia segera meraih jas yang diberikan padanya.
Dengan semangat Neta meninggalkan tempat laundry. Dia akan segera ke tempat Dathan. Kali ini Neta akan melanjutkan perjalanan dengan taksi. Motornya yang berada di kantor Dathan, memang membuat Neta harus mengendarai kendaraan umum. Sungguh ini adalah pemborosan untuknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 289 Episodes
Comments
Puput
Sabar bang Sabar, Neta bukan pengangguran jadi sabar🤣🤣🤣
2024-06-03
0
Emy Chumii
kirain lupa sama motornya 😁😁
2024-05-31
0
Itha Fitra
demi sbuah misi
2024-05-05
1