Neta keluar dari ruangan manajer. Sudah ada Maria yang menyambutnya. Saat Neta duduk kerjanya, Maria langsung menarik kursinya. Menghampiri Neta. Dia begitu penasaran sekali dengan apa yang dilakukan sang manajer pada Neta.
“Kenapa BuMa memanggil kamu?” Maria benar-benar penasaran sekali.
“Em ....” Neta tersenyum. Dia menyalakan laptopnya. Ada beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan. Jadi dia harus mengerjakannya.
“Ta, aku serius.” Maria yang kesal pun menepuk bahu Neta.
Neta hanya tertawa. “BuMa hanya mengatakan jika aku diundang pengusaha tekstil yang aku wawancara kemarin.” Dia menjelaskan pada temannya.
“Wah ... keren sekali kamu bisa diajak makan malam.” Maria memang tahu, Neta memang pandai mengambil hati atasan serta orang yang diwawancaranya. Jadi wajar saja jika hal itu didapatkannya.
“Jangan panggil aku Marsya Kineta jika tidak mendapatkan sesuatu yang spesial.” Neta dengan bangganya memamerkan dirinya.
Maria sudah tahu pasti jika Neta tidak benar-benar menyombongkan diri. Hanya padanyalah dia mengatakan hal itu padanya saja.
“Dapatkan dulu wawancara dengan Dathan Fabrizio. Baru aku akan kagum.” Maria menyeringai. Merasa Neta masih ada yang kurang. Apalagi jika bukan wawancara dengan pria yang terbilang sulit didapatkannya itu.
Mendengar nama itu Neta langsung lemas. Sungguh ini sangat menyebalkan sekali. Sampai detik ini, dia justru sibuk dengan jas milik Dathan.
Neta menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. Dia benar-benar pusing memikirkan tentang Dathan Fabrizio. “Dia tidak suka diwawancara.” Neta memejamkan matanya sambil memejamkan matanya.
Maria sudah menduga jika tidak akan semudah itu mewawancarai Dathan Fabrizio. Pasti sangat sulit sekali mewawancarai pria itu karena sudah banyak orang yang mencoba.
“Aku malah sibuk mengurusi jasnya yang kurang bersih.” Neta semakin kesal dengan tugas yang diberikan oleh Dathan. Ini di luar kendalinya. “Tadi dia justru mengajak aku menjemput anaknya.” Ditambah hal itu Neta semakin frustrasi. Kerajaannya justru hal lain selain wawancara.
Maria memerhatikan dengan saksama cerita Neta. Dia ikut memikirkan bagaimana cara mewawancara Dathan Fabrizio itu.
“Apa anaknya nyaman denganmu?” Maria yang menemukan ide, langsung menanyakan hal itu pada Neta.
“Kamu tahu bukan anak-anak di panti saja dekat dengan aku. Jadi tentu saja anak Pak Dathan langsung dekat denganku.” Neta menjawab sambil memejamkan matanya sambil bersandar pada kepalanya ke kursi.
“Nah ... itu.” Maria langsung berteriak.
Teriakan Maria membuat Neta yang asyik memejamkan mata langsung membuka matanya. Tangannya langsung membungkam mulut Maria yang berteriak.
“Apa kamu mau semua orang menghajarmu dengan berteriak seperti itu?” Neta tidak habis pikir dengan temannya itu. Bisa-bisanya berteriak seperti itu. Padahal jelas-jelas suaranya pasti mengganggu orang lain. Neta yang merasa Maria sudah tidak berteriak, akhirnya memilih untuk segera melepaskan tangannya dari mulut Maria.
“Maaf-maaf.” Maria tersenyum polos. “Aku hanya merasa jika dari anaknya kamu pasti bisa mewawancara Dathan.” Maria pun menjelaskan bagaimana cara mendapatkan wawancara dengan Dathan.
Mendengar ucapan Maria, Neta merasa bingung sekali. Apa yang sebenarnya yang temannya itu jelaskan. “Maksudmu bagaimana?” Neta yang bingung pun memilih untuk bertanya.
“Jadi seperti ini Marya Kineta. Kamu dekati saja anaknya. Jika hati anaknya sudah dapat. Kamu tinggal mendapatkan wawancara dengan Dathan Fabrizio.” Maria menepuk bahu Neta. Memberi tahu apa yang dipikirkannya tadi.
Neta memikirkan apa yang diucapkan oleh Maria. Dia membenarkan jika dia bisa memanfaatkan Loveta. Mengingat anaknya itu cukup nyaman dengannya. Jadi wajar saja jika dia memanfaatkan.
“Apa tidak masalah aku memanfaatkannya?” Neta menatap Maria. Dia masih merasa masih tidak tega memanfaatkan anak-anak.
“Kita hanya pakai anaknya sebagai jembatannya saja. Kamu tetap lakukan dengan ketulusan ketika memberikan perhatian. Anggap dia juga seperti anak panti.” Maria memberitahu Neta.
Neta menimbang-nimbang apa yang dikatakan oleh Maria. Dia tidak benar-benar memanfaatkan, tetapi memberikan perhatian lebih. Jadi tentu saja Loveta tidak akan merasa tersakiti.
“Aku rasa akan aku coba.” Neta langsung setuju. Dia memilih untuk menerima usul dari Maria.
“Selamat mencoba.” Maria tersenyum.
Neta balas tersenyum. Di kepalanya mulai tersusun rapi bagaimana cara untuk membuat hati Loveta nyaman dengannya. Dengan begitu Dathan akan melihatnya dan pastinya memberikan kesempatan wawancara.
Saat memikirkan wawancara Dathan, seketika Neta teringat sesuatu. Dia segera berdiri dan berlalu pergi. Maria yang melihat hal itu merasa aneh. Mau ke mana gerangan temannya itu?
Neta mengetuk pintu manajernya. Sesaat kemudian suara dari dalam terdengar mengizinkannya masuk. Dia pun segera masuk untuk bertemu dengan sang manajer lagi.
“Ada apa, Ta?” tanya sang manajer yang melihat Neta masuk ke ruangannya.
“Ini masalah wawancara Pak Dathan Fabrizio, Bu.” Neta memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya.
“Kenapa dengan Dathan Fabrizio?”
“Karena saya sedang berusaha untuk mendekati Pak Dathan guna mendapatkan wawancara, bisakah saya ke kantor saat pagi saja, Bu. Saat siang saya akan menemui Pak Dathan. Karena ada yang harus saya lakukan untuk membuat Pak Dathan mau wawancara.” Neta berniat untuk mendekati Loveta, jadi dia butuh waktu.
Sang manajer menimbang permintaan Neta. Dia memikirkan apa yang terbaik untuk wawancara itu. “Kamu sudah berniat seperti itu artinya kamu sudah tahu konsekuensi jika tidak berhasil ‘kan?” Sang manajer menatap Neta penuh dengan tatapan intimidasi.
Neta menelan salivanya. Merasa hidupnya benar-benar dipertaruhkan kali ini. “Saya tahu konsekuensinya.” Dengan sangat berat Neta menjawab hal itu.
“Baiklah, lakukan yang kamu mau. Asalkan pekerjaanmu di kantor selesai, dan kamu dapat wawancara Dathan Fabrizio.”
Neta berbinar. Walaupun ini terasa seperti bunuh diri, tetapi dia tidak punya pilihan lain.
“Terima kasih, Bu.” Neta menganggukkan kepalanya sedikit. Kemudian berlalu pergi. Jalan awal sudah mulus. Tinggal melancarkan aksi saja besok. Dengan mendekati Loveta. Neta berharap dia bisa mendapatkan wawancara sebelum sebulan. Karena dia tak mau menyayangi Loveta hanya karena sebuah wawancara. Dan lagi, pekerjaanya dipertaruhan kali ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 289 Episodes
Comments
beby
dekati anaknya
2023-01-31
2
Kar Genjreng
tidak apa apa Neta.. untuk melancarkan misinya jadi berkorban...semoga berhasil mendapatkan ..hati Lolita..nah dapatkan hati sang Duda Ayahnya Lolita..semangat 🤣🤣
2023-01-05
0
Oh Noonim ❤
bukannya kesempatan wawancara yang didapat tp malah kesempatan jd istri kkkkk
2022-09-29
7