Dathan yang berada di depan Neta, memerhatikan Neta dan anaknya. Dia melihat jelas jika Neta mudah sekali bergaul dengan anak-anak.
“Kamu cepat sekali bisa bergaul dengan anak-anak.” Dathan melihat jelas jika Neta bisa mengambil hati anaknya.
“Saya biasa menangani anak-anak di panti.” Neta tersenyum. “Mereka seperti Cinta .... maksud saya Loveta, yang suka bercerita seperti ini.” Neta menjelaskan pada Dathan.
“Panti, makasudnya ....” Dathan tidak melanjutkan ucapannya.
“Iya, panti asuhan.” Justru Neta yang melanjutkan ucapan Dathan. “Saya besar di panti asuhan bersama anak-anak lainnya.” Neta tersenyum. Tak ada guratan kesedihan sama sekali di wajahnya. Yang ada justru dia bangga sekali karena bisa jadi bagian dari panti asuhan.
Dathan melihat jelas. Di saat orang lain bersedih karena tak punya orang tua, gadis di depannya tampak tetap bahagia. Dathan cukup kagum. Terkadang, orang-orang yang dibesarkan karena keadaan memang membuat banyak orang begitu hebat. Dan mungkin gadis di depannya adalah salah satunya.
Makanan datang. Mereka menikmati makanan bersama-sama. Dathan cenderung diam saat makan. Hanya anaknya saja yang berceloteh. Yang lebih menarik adalah bagaimana Neta menanggapi setiap celoteh Loveta.
Suara ponsel berdering ketika mereka baru saja selesai makan. Suara ponsel itu berasal dari milik Neta. Dengan segera, Neta berpamitan untuk mengangkat sambungan telepon tersebut.
“Ada apa?” Neta yang mengangkat telepon dari Maria, langsung melemparkan pertanyaan itu.
“Kamu belum wawancara?” Maria di seberang sana bertanya.
Rasanya Neta kesal sekali. Dia belum bisa mendapatkan wawancara dengan Dathan. Dathan begitu sulit, apalagi prja itu mengatakan jika tidak suka diwawancara.
“Belum.” Neta menjawab dengan suara lemas.
“Kalau belum, cepat kembalilah. Bos mencarimu. Memintamu untuk segera kembali.”
“Kenapa?” tanya Neta yang ingin tahu.
“Sudah kembalilah ke kantor. Aku juga tidak tahu.”
Neta hanya bisa mengembuskan napasnya. Di saat dia sedang menjalankan misinya mendapatkan wawancara dari Dathan, atasannya justru meminta bertemu dengannya. Sungguh sangat menyebalkan sekali.
“Baiklah, aku akan segera kembali ke kantor.” Neta tidak punya pilihan lagi. Neta segera menutup sambungan telepon. Dia segera menghampiri Dathan dan Neta.
“Permisi, Pak. Sepertinya saya harus segera kembali ke kantor.” Neta memilih berpamitan.
Dathan begitu terkejut. Dia merasa begitu berat melepaskan Neta. Namun, gadis itu punya pekerjaan yang harus diselesaikan.
“Baiklah.” Dathan mengangguk setuju
“Besok saya akan datang untuk mengantarkan jas milik Pak Dathan.” Neta tidak akan melepas kesempatan berharga bertemu dengan Dathan.
“Datanglah ke kantor.” Tak hanya Neta yang berharap bertemu. Dathan pun berharap hal itu juga.
“Baik, Pak.” Neta mengangguk setuju. Dia beralih pada Loveta. “Aunty pamit dulu. Besok kita bertemu lagi.” Dia memegangi pipi Loveta dengan lembut.
“Besok Aunty ke sini lagi?” Loveta masih merasa berat ketika Neta memilih untuk pergi.
Neta tersenyum. Kata di sini itu memang sedikit tergelitik. “Iya, besok kita bertemu lagi.” Neta meyakinkan Loveta.
“Oke, Aunty.” Loveta yang mendapatkan janji Neta pun tersenyum.
Neta kembali beralih pada Dathan. “Saya permisi dulu, Pak.”
Dathan mengangguk.
Neta segera berlalu pergi. Dia berniat menggunakan ojek saja, mengingat jalanan ibu kota begitu macet. Tak mau sampai terlambat sampai kantor, dan membuat atasannya murka.
Dathan yang melihat Neta pergi, hanya bisa berharap, jika esok dia akan bertemu dengan gadis itu lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 289 Episodes
Comments
Trio Agus Kusmawanto
tadi kan pakai motor ya... ditinggal karena pesona sang CEO kayaknya...heheh
2024-04-13
5
beby
yeee
2023-01-31
1
Dwi Agustin N Muftie
nama dathan kadang tereja Dahlan kadang Nathan...
2022-11-17
2