Meragukan sebuah kebahagiaan karena mendapat sebuah cobaan dan mencoba mencari kebahagiaan memanglah sebuah relokasi dari kehidupan, tapi terkadang manusia lupa.
Bahwa "Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi kamu juga menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu."
Karena Allah lebih tahu apa yang terbaik bagimu, berhentilah mencari kebahagiaan yang menurut kamu benar tapi cobalah meminta kebahagiaan lewat sujud dalam sepertiga malam mu.
Karena sesungguhnya Allah lebih dekat denganmu, bahkan lebih dekat dari urat nadimu.
•
"Dikta? Maafin Mama yah nak, Mama gak bisa menasihati Robby ke jalan yang benar, Mama sudah gagal mendidik seorang anak," Mama Reni tampak bersedih.
Dia terduduk diatas ranjangnya, air matanya mengalir saat Dikta yang ada disampingnya juga duduk dengan wajah tertunduk.
"Bukan salah Mama, tapi mungkin ini sudah takdir dari yang kuasa, Dikta yang tidak bisa menjaga suami Dikta, Dikta tidak bisa meneruskan wasiat dari Papa Reno, untuk apapun yang terjadi jangan sampai Dikta bercerai dengan Bang Robby," Perlahan air mata Dikta jatuh mengusam dibalik wajahnya yang tertutup hijab kala itu.
Ia menangis bukan menyesali perceraian itu melainkan kecewa pada dirinya sendiri yang melanggar janji atas Ayah angkatnya, sosok yang sudah menyekolahkan dan memberinya kehidupan yang lebih layak.
Mama Reni yang masih meneteskan air mata perlahan meraih tangan Dikta dan menangkupnya erat, Dikta mengangkat kepalanya sehingga kini kedua mata Mama Reni bertemu pandang dengan Dikta.
"Mama mohon, tolong berusaha sekali saja, untuk terakhir kalinya, jangan sampai pernikahan kalian hancur," pinta Mama Reni dengan nada sedih berharap pernikahan Dikta dan Robby akan baik-baik saja.
Dikta terdiam, dia menarik tangan nya dan meratap dengan kepala menunduk. "Maafin Dikta Ma, bukannya Dikta menyerah pada takdir Allah, tapi memang ini sudah jalannya, Dikta menyerah karena suami Dikta lebih memilih menciptakan cap jari di atas surat gugat perceraian demi mengucap akad dengan Glenca."
Mama Reni terdiam, ia menatap Dikta yang bercucuran air mata menolak permintaan Mama Reni, untuk pertama kalinya Dikta menolak permintaan Mama Reni, yang sudah dia anggap orang tua kandungnya sendiri setelah dia tidak tahu sebenarnya dirinya anak siapa.
"Lima tahun Dikta menjalani pernikahan tanpa status, Dikta menjadi seorang istri yang bahagia di mata orang lain, tapi tidak yang tahu air mata Dikta ketika sendirian, Dikta ibarat burung yang terperangkap didalam sangkar emas, bukannya Dikta ingin menolak, tapi mungkin ini jalan untuk Dikta bahagia, sudah terlanjur sakit hati Dikta." lanjut Dikta. "Dikta berusaha berdamai dengan keadaan, namun kondisinya sulit, Dikta menangis disaat Bang Robby memilih bercinta dengan Glenca didalam kamar pengantin kami, Dikta tersenyum diatas pelaminan disaat Bang Robby meminta izin ke toilet padahal dia berciuman mesra dengan Glenca disana."
"Lima tahun Dikta, menutupi aib seorang suami, karena ketika aib seorang suami akan menjadi luka bagi istrinya, Dikta tidak ingin Bang Robby di cap jelek, tapi apa dampaknya bagi Dikta? Dikta hanya seperti seonggok daging yang bertahan ditengah meja tanpa terjamah, bahkan disaat Bang Robby sendiri menolak mengakui anak dalam kandungan ini," Dikta menangis. "Maafin Dikta, Ma."
•
•
•
Setelah Mama Reni dan Dikta masuk kedalam ruangan rawat Mama Reni, Adam segera berjalan menyusul Robby dan Glenca dia masih belum puas dan tidak menyangka bahwa Robby tega melakukan itu kepada Dikta.
"Tunggu!" Adam menghentikan langkah Robby dan disaat Robby berbalik dia langsung melepaskan bogeman mentah di wajah Robby.
Glenca yang melihat itu membulatkan mata sempurna, sedangkan Adam langsung meraih kerah kemeja Robby dan membuatnya berdiri. "Kau adalah suami pengecut yang pernah aku temui, kau selingkuh dan menjalin hubungan dengan wanita lain, disaat ada istri Sholeha yang selalu menutupi aib-mu."
"Jangan ikut campur!" Robby memberontak sehingga tangan Adam terlepas dari kerah kemejanya. "Kalau kau ingin dia bahagia, kenapa kau saja yang menjadi suaminya?"
Adam terdiam. "Baiklah, kalau begitu maumu, bukan salahku merebut istrimu."
•
•
•
TBC
Mampir ke Karya baru Author yaa :)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Jamayah Tambi
Cepat uruskan surat cerai.Selepas melahirkan nanti Dikita boleh dinikahi Dr Adam/Drool//Drool/
2025-02-16
0
kompiang sari
Dikta jangan sedih karena suami macam di robby tuh
2025-02-19
0
Fatimah Bajari
adam kerennn
2025-03-17
0