[Ding]
[Selamat Host telah menjalankan misi pembersihan kebun]
[Selamat Host mendapatkan +2 stamina]
“Hah.” Seno menghembuskan nafas panjang setelah berhasil menyelesaikan misinya.
Seno cukup senang sekarang. Dengan begini, stamina miliknya akan bertambah dan dirinya bisa melatih fisiknya lebih lama lagi dari sebelumnya.
“Sekarang semua kebun milikku sudah siap di tanami. Eh tapi aku belum membuka kotak petani pemula yang aku terima. Sistem, buka kotak itu untukku.” Pinta Seno.
[Ding]
[Selamat Host mendapatkan 10 kantong bukan pupuk biasa]
[Selamat Host mendapatkan 10 benih brokoli penuh vitamin dan mineral]
[Selamat Host mendapatkan +500 poin tanam]
[Semua hadiah telah disimpan di penyimpanan sistem]
“Sudah aku duga aku akan mendapatkan sayuran baru. Baiklah sekarang saatnya aku menanami kebun milikku ini.”
“Panel Sistem”
[Host : Seno Eko Mulyadi (23)]
[Kekuatan : 7 (Manusia Dewasa : 10)]
[Stamina : 5 +4 (Manusia Dewasa : 10)]
[Luas lahan : 800 m2 (+700 m2)]
[Level kebun : 2 (0/1000)]
[Poin tanam yang dibutuhkan untuk naik level : 5.000.000]
[Poin tanam : 486.600]
[Penyimpanan Sistem : 15 slot (10/15)]
[Misi : - Ajak orang untuk mengkonsumsi 50 buah kentang mengenyangkan (0/50). Batas Waktu : 9 hari]
[Toko sistem : - Bukan Pupuk Biasa : 100 poin tanam
Wortel dengan penuh Vitamin A : 50 poin tanam
Kentang mengenyangkan : 100 poin tanam]
Seno langsung bergerak menanami kebun miliknya dengan sayuran baru. Yang pertama kali Seno tanami adalah kebun baru miliknya. Nantinya, jika kebun ini penuh barulah Seno menanami kebun di belakang rumahnya.
Karena Seno memiliki misi mengkonsumsi kentang, laki-laki itu berencana menanam seribu kentang mengenyangkan. Sisa poinnya akan Seno pakai untuk menanam wortel.
Laki-laki itu sudah membuat sebuah perhitungan, dengan poin tanam yang ia miliki sekarang, Seno dapat menanam seribu kentang mengenyangkan dan seribu sembilan ratus empat belas buah wortel. Jumlahnya menurun dari sebelumnya.
Itu karena poin yang Seno miliki sudah habis untuk menaikkan level miliknya. Itu berarti, sisa petak tanah yang kosong, nantinya akan Seno tanami dengan sayuran biasa.
Yang tidak Seno sadari, ketika dirinya menanami sayuran di kebunnya, ada lima pasang mata yang memperhatikan gerak geriknya. Mereka terlihat penasaran dengan kegiatan yang sedang Seno lakukan.
Seno masih sibuk dengan benih-benih miliknya. Asalkan mereka tidak mengganggu apa yang ia lakukan, Seno tidak peduli dengan apa yang mereka lakukan.
Lagipula, Sistem mengatakan bahwa perubahan baru akan terjadi setelah mereka mengkonsumsi lima buah sayuran khsus. Jadi, untuk apa Seno terus menerus memperhatikan gerak gerik mereka.
“Eh ternyata benih sayuran biasaku sudah habis. Sepertinya aku perlu membeli benih sayuran dulu.”
Seno memilih membersihkan badan terlebih dahulu sebelum ke kota. Setelah membersihkan diri, Seno mendapatkan sebuah panggilan di ponselnya. Ketika melihat, itu adalah nomor asing yang menelponnya.
Langsung Seno mengangkat penggilan tersebut. Kemungkinan itu adalah panggilan penting. Jadi, Seno tidak mau melewatkan penggilan tersebut.
“Selamat Siang, apakah ini dengan Bapak Seno?” Tanya seorang laki-laki di ujung panggilan.
“Ya saya sendiri. Ini siapa ya?”
“Kami dari pihak kepolisian. Sekarang ini kami sudah memproses laporan yang sebelumnya Pak Seno masukkan. Sekarang, kami sudah menangkap pelaku pengeroyokan Pak Seno tempo hari. Tidak hanya itu saja, kami juga menemukan tersangka baru dalam kasus ini.” Jelas orang tersebut.
Ini adalah kabar gembira untuk Seno. Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya tertengkap juga pelaku pengeroyokan itu. Polisi bahkan sudah menemukan tersangka lainnya. Apakah itu Joko? Seno sendiri belum tahu. Karena saat ini polisi yang menghubunginya kembali melanjutkan pembicaraannya.
“Untuk itu, Kami meminta kehadiran Pak Seno untuk mengecek apakah benar orang yang sudah kami tangkap ini terlibat dalam pengeroyokan Pak Seno. Jadi, bisakah Pak Seno datang?” Pinta polisi tersebut.
“Tentu, tentu saja Pak. Sekarang juga saya kan berangkat ke sana.” Jawab Seno.
Untung saja dirinya sudah membersihkan diri dan bersiap ke kota. Jika begini, Seno bisa langsung pergi ke kantor polisi tanpa melakukan persiapan lagi.
Tiga puluh menit kemudian, Seno dibawa oleh salah seorang polisi ke ruang introgasi. Dari kaca yang memisahkan ruang introgasi dan lorong di depannya, Seno bisa melihat keberadaan tiga orang preman yang tangannya terborgol. Mereka adalah preman yang sama dengan yang memukuli Seno.
Tidak hanya ketiga orang itu saja yang terborgol, Seno juga melihat dua orang lainnya yang ada di sana. Tentu saja ia mengenali kedua orang itu. Mereka adalah Joko dan salah satu anak buahnya. Ternyata benar dugaannya Joko adalah dalang di balik pengeroyokannya.
“Apakah benar itu mereka Pak?” Tanya polisi tersebut.
“Ya itu benar mereka Pak Polisi. Kalau boleh tahu, berapa lama mereka akan dipenjara?”
Jika sudah seperti ini, jelas mereka akan mendekam di balik jeruji besi. Namun, Seno tidak tahu berapa lama mereka akan mendekam di balik jeruji besi.
“Itu nanti tergantung tuntutan dari Jaksa. Tetapi dari pengalaman kasus yang sudah saya tangani sebelumnya, penganiayaan yang Pak Seno alami ini hanya penganiayaan ringan. Jadi, berdasar pasal 352 ayat (1) KUHP, pelaku hanya mendapat hukuman paling lama tiga bulan penjara.” Jelas polisi tersebut.
Tiga bulan penjara ya? Itu hanya hukuman maksimal. Bisa jadi hukuman yang diterima oleh Joko kurang dari itu. Tetapi, itu tidak terlalu masalah untuk Seno.
Saat ini dirinya sudah melatih tubuhnya setiap harinya. Seno yakin, jika harus menghadapi anak buah Joko lagi, ia bisa lolos tanpa mengalami luka seperti sebelumnya.
Jika memang Seno tidak bisa mengalahkan mereka, Seno juga bisa menyewa pengawal untuk melindunginya. Dalam waktu satu bulan saja Seno yakin kekayaan yang ia miliki sudah cukup banyak untuk dirinya mempekerjakan pengawal.
Jadi, asalkan hukuman Joko lebih dari sebulan, Seno yakin ia akan bisa mengalahkan laki-laki itu nantinya. Dengan tidak adanya penganggu selama dirinya masih lemah seperti sekarang, Seno yakin bisnisnya akan semakin berkembang pesat.
“Tetapi, jika penganiayaan ini adalah penganiayaan terencana, maka dia akan dikenakan pasal 353 ayat (1) KUHP, ancaman hukumannya paling lama empat tahun penjara.” Imbuh polisi tersebut.
Mendengar hal itu, mata Seno semakin berbinar. Ini lebih bagus lagi baginya. Semoga saja polisi mengkatagorikan penganiayaan yang ia alami sebagai penganiayaan terencana. Dengan begitu, Joko tidak akan mengganggunya dalam beberapa tahun, bukan bulan lagi.
Setelah melihat para tersangka tersebut, Seno kemudian ditanyai beberapa hal untuk memperlengkap berkas penyidikan yang ada. Setelah menghabiskan setengah jam waktunya di kantor polisi, Seno pergi dari sana.
Ketika ia mengecek ponselnya, Seno baru tahu bahwa Dina mengiriminya pesan lima belas menit yang lalu.
[Dina : Seno sibuk nggak? Nongkrong yuk.]
Melihat pesan dari Dina itu membuat sudut bibir Seno tertarik. Kebetulan sekali ketika dirinya sudah ada di kota, Dina mengajaknya keluar. Sekalian saja ia nongkrong bersama dengan Dina. Sudah saatnya dia santai sedikit setelah beberapa hari bergelut dengan sayuran.
[Seno : Tentu saja Din, ini aku sudah ada di kota sekarang. Apakah Kamu mau aku jemput sekalian?]
[Dina : Nggak usah. Kita ketemuan di kafe yang waktu itu saja. Sampai bertemu di sana.]
*****
“Hai Dina. Eh udah nunggu lama ya?” Sapa Seno ketika dirinya duduk di kursi yang ada di depan Dina.
“Hai Seno. Nggak kok. Aku baru juga dateng. Pesenanku aja belom nyampe. Kamu pesen aja dulu gih.”
“Baiklah.” Seno pun memanggil pelayan kafe dan menyebutkan pesanannya.
“Jadi, gimana kebun sayur milikmu? Lancar-lancar saja kah?” Tanya Dina.
Perempuan itu memperhatikan Seno yang kulitnya sedikit menggelap semenjak terakhir kali mereka bertemu. Itu mungkin karena Seno sering bekerja di bawah terik mentari.
Dina merasa kasihan melihat Seno yang bekerja keras seperti itu. Pasti menjadi petani cukup melelahkan dan menguras tenaga. Mungkin Dina akan membantu Seno mencari pekerjaan yang tidak mengharuskannya berada di bawah terik mentari.
“Syukurlah tidak terlalu buruk. Sekarang aku berjualan sayur secara online. Aku tiap pagi atau sore ngirim sayur ke pelangganku. Jadi, pemasukanku sudah cukup bagus sekarang.” Jelas Seno.
“Lalu sekarang aku nggak ganggu waktu Kamu kirim sayur bukan?”
Perempuan itu baru sadar jika Seno mengirim sayur pagi atau sore hari, sudah pasti dirinya telah mengganggu jam kerja temannya ini. Dina merasa tidak enak jika dirinya benar-benar telah melakukannya.
Seno mengibaskan sebelah tangannya. “Tenang saja. Kalau aku berada di sini, itu berarti aku sedang luang. Kamu sama sekali nggak ganggu waktuku. Aku mengirim sayuran pun nggak setiap hari.”
“Beberapa orang membeli dalam jumlah cukup banyak untuk stok beberapa hari. Jadi, aku biasa mengirim sayur dua hari sekali.” Jelas Seno.
“Syukurlah kalau begitu. Aku kira aku sudah mengganggu waktumu. Apakah pelangganmu sudah cukup banyak sekarang?”
“Syukurlah aku mendapatkan hasil yang cukup bagus Din. Dalam sekali kirim sayur, setidaknya aku mendapatkan uang satu hingga dua juta. Itu adalah keuntungan bersihku.”
‘Itu saja belum termasuk dengan penjualan sayur khusus milikku yang sekali jual puluhan juta.’ Gumam Seno dalam hati.
Jika Seno memberitahukan semua pendapatannya kepada Dina, ia khawatir temannya itu akan pingsan karena kaget dengan nominal pendapatan bulanan Seno. Jadi, laki-laki itu cukup memberitahu Dina mengenai keuntungan yang ia dapat dari berjualan sayuran biasa.
“Eh beneran dapet segitu? Banyak sekali? Jika kayak gitu, sebulan Kamu bisa dapet tiga puluh juta dong?” Tanya Dina tidak percaya.
Jika penghasilan Seno dari menjual sayur secara online saja sebesar itu, maka pekerjaan yang nantinya akan Dina tawarkan untuk Seno akan jadi sia-sia. Keuntungan bersihnya saja sebanyak itu.
Jelas itu jauh berbeda dengan pekerjaan yang akan Dina tawarkan yang hanya memiliki gaji kurang dari sepuluh juta. Dina rasa Seno akan menolak mentah-mentah tawarannya itu. Untung Dina belum mengatakan hal ini kepada laki-laki itu.
“Ya bisa dibilang sebulannya aku dapet untung lebih dari dua puluh juta. Itu karena sayuran yang aku jual memiliki kualitas bagus. Sayur dariku adalah sayur organik yang tidak memakai pestisida kimia. Jadi, para orang kaya di kota ini berlangganan sayur padaku.” Jelas Seno.
Setelah dipikir-pikir, Seno mendapatkan banyak pesanan dari kalangan atas setelah dirinya menjual sayur kepada Cindy. Itu berarti, peningkatan pelanggannya ada hubungannya dengan Cindy. Mungkin Seno akan memberikannya beberapa sayuran khusus sebagai bonus untuk perempuan itu.
“Oh begitu toh. Emang sih kalo sayuran organik itu harganya jauh lebih mahal daripada sayuran biasanya.”
Tiba-tiba saja Dina terpikirkan sesuatu. Ia masih bisa membantu Seno. Meski ia tidak bisa memberikan Seno pekerjaan dengan penghasilan tinggi, ia masih bisa membantu laki-laki ini memasarkan sayuran miliknya.
“Seno, apakah Kamu butuh promosi? Kalo Kamu butuh, Kamu bisa ikut acara di kampusku. Kebetulan empat hari lagi akan ada bazaar di kampusku. Kamu bisa menyewa salah satu booth untuk berjualan sayur-sayur milikmu itu.”
Mata Seno berbinar ketika mendengar saran dari Dina ini. Di pikiran Seno, bukan sayuran yang akan ia jual. Tetapi kentang miliknya. Bukankah dengan dirinya menjual kentang mengenyangkan miliknya di sana, Seno bisa mendapatkan untung dan juga menyelesaikan misinya.
“Jadi bagaimana? Kamu berminat?” Imbuh Dina.
Bazaar selama dua hari? Itu cukup bagus untuk melakukan promosi sayur miliknya tentunya Seno tidak akan melewatkan hal ini. “Tentu saja aku akan melakukannya. Akhir pekan ini ya. Itu berarti hari Senin dan Selasa bukan?”
Itu waktu yang sangat tepat. Dengan begini, kentang yang hari ini ia tanam, sudah bisa dipanen sebelum acara itu berlangsung.
Sekarang, yang perlu Seno pikirkan adalah cara memasak seperti apa yang perlu ia pakai untuk mengolah kentangnya itu. Dengan tampilan yang menarik, jelas akan ada banyak orang yang tertarik membeli kentang di booth miliknya bukan?
“Baiklah jika Kamu ikut. Aku akan menghubungi temanku untuk menyisihkan satu booth untukmu.”
“Pilihkan lokasi yang terbaik. Harga tidak menjadi masalah untukku. Kalau bisa, aku mau boothku berlokasi di dekat pintu masuk.” Pinta Seno.
“Baiklah akan aku lakukan. Semoga saja masih ada booth dengan lokasi yang Kamu minta.”
Setelahnya, Seno dan Dina mengobrol cukup lama di kafe tersebut. Sebelum pulang, Sneo tidak lupa mampir ke toko pertanian untuk membeli beberapa benih sayuran biasa.bukankah ini adalah tujuan utama dirinya datang ke kota?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 264 Episodes
Comments
Sahrul Fadriansyah
revisi kak
2022-12-08
1
yuce
nagi yg invin diet malas makan nasi cocok vanvaet makan kentang mengenyangkan jadi terap langsing tanpa makan nasi. bagi pekerjaaan model cocok banget itu.
2022-11-09
1
lucy
gua nggk ngerti soal beginian tp baca ini seru bgt ahahha
2022-08-23
1