“Hai Dina, apa kabar? Sudah lama sekali kita nggak ketemu.” Sapa Seno kepada perempuan tersebut.
“Ternyata itu beneran kamu Seno. Tadi aku lihat kamu masuk ke toko pertanian itu. Aku kira kamu tadi orang lain. Jadi aku tidak berani menyapamu.” Ucap Dina sembari memandang lekat wajah Seno. Laki-laki itu tidak mengalami banyak perubahan setelah beberapa tahun tidak bertemu dengannya.
“Kabarku juga baik-baik saja. Gimana kalo kita nyari tempat deket sini buat ngobrol bareng? Sudah lama banget kita nggak ketemu.” Imbuh Dina.
“Tentu saja. Tidak masalah untukku. Aku memiliki waktu untuk melakukannya.” Jawab Seno.
Untung saja sebelum berangkat tadi Seno sudah mandi dan memakai baju yang pantas. Jika tidak melakukannya, sudah pasti dirinya tidak akan mau ikut ketika diajak Dina ngobrol bareng di sebuah kafe. Pasti badannya akan bau keringat setelah beraktifitas di kebun.
“Aku dengar kabar bahwa kedua orang tuamu meninggal belum lama ini. Aku turut berduka cita Sen. Maaf aku waktu itu nggak sempet buat melayat ke rumahmu.” Ucap Dina mengawali pembicaraan mereka.
“Terima kasih Din. Kamu nggak perlu minta maaf karena nggak bisa dateng ke tempatku. Setiap orang punya kesibukan masing-masing. Jadi, aku paham keadaanmu. Dengan kamu peduli seperti ini saja sudah sangat berarti untukku.” Jawab Seno.
“Jadi, apa kesibukanmu sekarang? Apakah kamu melanjutkan pekerjaan orang tuamu sekarang?” Tanya Dina.
Dina tahu bahwa orang tua Seno merupakan petani sayuran. Dengan meninggalnya kedua orang tuanya, Dina tebak sekarang ini Seno lah yang mengurusi kebun sayur mereka. Tadi saja Dina melihat Seno keluar dari toko pertanian. Sudah pasti laki-laki itu membeli beberapa keperluan untuk kebun miliknya.
“Ya. Sekarang kebun sayur itu aku yang mengelola. Jadi, bisa dibilang aku meneruskan pekerjaan mereka.” Jawab Seno.
“Lalu bagaimana dengan kuliahmu? Apakah kamu berhenti kuliah?”
Seno mengelengkan kepalanya pelan. “Aku mengambil cuti setahun. Aku mau mengelola kebun milik orang tuaku. Hitung-hitung menambah pemasukan sebelum adikku yang paling kecil kuliah. Tahun depan aku baru balik kuliah lagi.”
Dina sedikit lega mendengar Seno tidak sepenuhnya berhenti kuliah. Akan sangat disayangkan jika laki-laki itu menghentikan kuliahnya yang sedikit lagi selesai itu.
“Kamu sendiri gimana? Kuliahmu lancar?” Tanya Seno.
“Cukup lancar. Semester ini aku sudah mengambil skripsi. Jadi, jika semester ini skripsiku sudah selesai, maka aku akan lulus enam bulan lebih cepat dari waktu normal.”
“Wah hebat. Kamu masih aja sepintar dulu. Dulu kamu selalu meraih peringkat pertama di kelas. Sekarang sepertinya tidak terlalu jauh berbeda.”
Keduanya kemudian saling mengobrol lama. Ketika hari mulai menggelap barulah mereka menghentikan obrolan mereka.
“Kalo aku pulang, kapan-kapan kita nongkrong lagi ya. Ngobrol denganmu ternyata masih seasik dulu.” ucap Dina.
“Tentu saja. Jika kamu pulang dan ingin nongkrong bareng, akan aku sisihan waktuku untuk nemenin kamu.”
“Jangan lupa hubungin aku lagi. Awas kalo lupa.”
Dina kemudian mengangkat sebelah tangannya yang mengepal ke arah Seno. Hal itu seolah ia lakukan untuk memperingatkan Seno apa yang akan ia terima jika laki-laki itu tidak menghubunginya.
Keduanya memang sudah bertukar kontak mereka sekarang. Jadi, kedepannya komunikasi di antara mereka tidak akan lagi terputus.
“Tentu. Aku tidak akan lupa. Waktu itu ponselku hilang jadi kita tidak bisa saling kontak. Sekarang, nomormu akan aku simpan baik-baik. Kalau perlu, aku akan menghafalnya. Hehehe.” Jawab Seno sembari menunjukkan sebuah seringai kepada Dina.
“Baiklah. Ingat kata-katamu itu dengan baik.”
*****
Pagi harinya setelah meminum kopi, Seno pergi ke kebun miliknya. Mumpung hari belum terlalu terik, ia ingin menanam beberapa benih yang sudah ia beli kemarin. Laki-laki itu kemudian berjalan menuju petak di mana ia menanam wortel kemarin. Ia ingin mengecek perkembangan wortel tersebut.
Seno cukup kaget ketika melihat tanaman wortel yang ia tanam kemarin sudah memiliki daun yang cukup panjang. Itu seperti wortel yang sudah berumur satu bulan. Seingat Seno, umur tanam dari wortel minimal adalah tujuh puluh lima hari baru bisa panen.
Tetapi wortel di depannya ini tidak seperti wortel yang baru kemarin di tanam. Apakah ini karena ia menanamnya di kebun yang tertaut dengan sistem?
[Memang itu benar Host]
[Semua yang ditanam di kebun yang sudah tertaut dengan sistem akan memiliki masa tanam yang dipersingkat]
[Jadi Host bisa memanen lebih cepat dari biasanya]
Mendengar penjelasan sistem, mata Seno berbinar. Itu berarti dirinya bisa mendapatkan sayuran lebih banyak dari biasanya. Bahkan ada kemungkinan kebunnya yang hanya memiliki luas delapan ratus meter persegi ini, hasil panennya bisa mengalahkan kebun yang memiliki luas beberapa hektar.
Jika kurang dari dua puluh empat jam saja wortel yang ia tanam sudah sebesar ini, itu berarti kemungkinan besar besok sore dirinya bisa memanen wortel tersebut.
“Jika seperti ini, maka aku bisa menyelesaikan misiku dengan cepat.”
Seno baru sadar bahwa misi penanaman wortel yang diberikan oleh sistem memiliki waktu lima belas hari. Awalnya Seno mengira ia akan gagal karena waktu yang diberikan oleh sistem sangatlah singkat. Ternyata tidak seperti itu.
Waktu tanam dari sayurannya yang dipercepat membuat semangat Seno berkobar. Dengan begini, dirinya bisa mengumpulkan uang yang cukup banyak hanya dengan mengandalkan kebun sayurnya ini.
“Sistem, bisakah aku menanam benihnya langsung di kebunku ini tanpa melakukan penyemaian?” Tanya Seno.
[Tentu Host]
[Host bisa langsung menanamnya tanpa harus melakukan penyemaian]
Seno senang mendengar hal itu. Jika tanpa menunggu penyemaian terlebih dahulu, waktu tanam dari sayurannya benar-benar dipersingkat. Langsung saja Seno bergegas menanam benih sayuran yang ia beli kemarin.
Kali ini Seno langsung menanam benih-benih tersebut tanpa menambahkan pupuk lagi. Dirinya tidak lagi memiliki pupuk pemberian sistem. Lagi pula kemarin ketika Seno menyiapkan lahan ini, ia menebar pupuk kandang di kebunnya.
Meski itu pupuk biasa, tetapi Seno yakin bahwa sayurannya itu bisa tumbuh subur. Seno menghabiskan waktu tiga jam untuk mengisi semua lahan yang ada dengan bibit sayuran. Meski terlihat sepele, tetapi itu membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikannya.
Untung saja stamina miliknya bertambah. Jadi sekarang ini Seno tidak terlalu merasa lelah setelah menanam begitu banyak sayuran dalam satu waktu. Jika Seno melakukan ini sebelum mendapatkan tambahan stamina dari sistem, ia pasti akan banyak berhenti untuk beristirahat.
Sekarang saatnya dia membersihkan diri dan sarapan. Sedari tadi memang Seno belum mengisi perutnya dengan makanan. Hanya secangkir kopi hitam.
Sore harinya, Seno mengecek keadaan kebunnya itu. Benih yang tadi pagi ia tanam, sekarang ini sudah mulai tumbuh tinggi. Wortel dari hadiah sistem pun sudah terlihat siap di panen. Tetapi, Seno baru akan melakukannya besok.
Seno kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitar. Memandangi hasil jerih payahnya pagi ini. Sudut bibirnya terangkat memikirkan berapa banyak uang yang ia dapat jika berhasil menjual semua sayuran itu.
Tetapi, senyum di bibir Seno tiba-tiba menghilang. Hal ini dikarenakan Seno baru sadar jika kebunnya itu terbuka. Tidak ada pagar pembatas yang memisahkannya dengan lahan milik orang lain. Hal itu berarti, tetangganya bisa melihat keadaan kebun miliknya kapan saja.
Mereka pasti akan cukup kaget melihat perkembangan tanaman sayur milik Seno yang tumbuh dengan pesat. Alarm bahaya langsung saja berbunyi di kepala Seno saat ini.
[Host tidak perlu risau]
[Tanaman yang ada di kebun milik Host ini akan dianggap sebagai tanaman biasa saja di mata orang lain]
[Selain Host, tidak akan ada yang mengetahui percepatan tumbuh dari sayuran yang ada di sini]
[Dalam ingatan mereka, sayuran di kebunmu memang hanya sebesar itu]
Mendengar penjelasan sistem Seno bisa bernafas lega. Ini karena untuk memagari kebunnya, Seno membutuhkan uang yang cukup besar. Keliling dari kebunnya ini adalah seratus dua puluh meter.
Dengan harga konstruksi bangunan yang sekarang, Seno membutuhkan uang delapan puluh hingga sembilan puluh juta untuk membangun pagar sepanjang itu. Seno sendiri tidak memiliki uang sebanyak itu. Jadi, ia lega tidak harus memagari kebun miliknya ini.
“Syukurlah jika aku tidak perlu melakukan hal itu. Jika kebun milikku ini memiliki mekanisme perlindungan diri seperti itu, maka nanti ketika aku meninggalkannya, aku tidak akan diliputi kecemasan memikirkannya.”
“Dengan begini, aku bisa melakukan aktifitas lainnya dengan tenang.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 264 Episodes
Comments
Kaguya ^^ :v
seru/Smile//Smile//Smile/
2024-06-25
2
Harman LokeST
cepat sekali tumbuhnya
2022-09-05
2
cah desa
dari yang aku jalani umur wortel itu minimal 90 hari bisa dipanen thor,
2022-06-21
2