Balas dendam yang dilakukan oleh adiknya, membuat Seno selama beberapa hari ke depan tidak memakan apapun selain minum air putih. Memikirkan itu saja sudah membuatnya jengkel.
Seno dan kedua adiknya memang seperti ini. Mereka saling bercanda dan mengerjai satu sama lain. Jadi, bagaimana bisa Seno marah kepada adiknya jika dirinya sendiri sering juga mengerjai kedua adiknya.
Sebelum kembali ke kota, kedua adiknya masing-masing mebawa tiga buah kentang dan lima belas wortel. Kentang tersebut akan mereka pakai untuk melakukan tes kepada teman-teman mereka. Tetapi, itu terdengar seperti mereka yang ingin mengerjai teman mereka di telinga Seno.
Kentang yang tersisa saat ini adalah dua buah. Seno sudah menyimpan sayur itu jauh dari jangkauan mata. Ia tidak mau salah ambil dan memakan sayur itu lagi.
Malam itu Seno melakukan riset pasar. Dari apa yang Seno pelajari, ternyata ia salah dalam menentukan target pasar. Sudah jelas pasar tradisional menargetkan mereka yang berasal dari keluarga dengan perekonomian menenngah ke bawah.
Sedangkan sayur milik Seno ini lebih cocok dipasarkan kepada mereka yang memiliki perekonomian menengah ke atas. Ini yang menjadi alasan utama para pedagang di pasar tradisional menolak harga yang Seno berikan.
Jika pasar tradisional tidak menerima, ke mana Seno harus memasarkan sayurnya itu? Memasukkan produknya ke supermarket lebih sulit daripada ke pasar tradisional. Jika tidak mengenal seseorang yang bekerja di supermarket, akan sulit untuk sayuran Seno masuk ke sana.
Karena tidak juga menemukan jawaban, Seno pun memilih beristirahat sejenak. Ia membuka sosial media miliknya untuk sekedar melepas penatnya. Tiba-tiba saja Seno melihat teman satu SMA-nya menjual barang melalui Facebook. Hal itu memberikan ide untuk Seno.
“Ah, kenapa tidak terpikirkan olehku untuk menjualnya secara online? Sudah jelas teknologi sudah semakin maju. Orang bisa berbelanja tanpa harus melangkah keluar dari rumah. Orang-orang seperti ini bisa menjadi target dariku.”
“Aku akan membuka pesanan sayuran secara online. Selain itu, pada jarak tertentu dari rumahku, aku bisa menggratiskan ongkos kirimnya. Yang lainnya ongkos kirim akan menyesuaikan. Dengan begini, aku tidak hanya mendapatkan uang dari hasil berjualan tetapi juga dari ongkos kirim.”
Menurut Seno itu adalah ide yang cermelang. Dengan memasarkan secara online, maka Seno tidak perlu bingung mencari pembeli. Ini akan menjadi awalan yang bagus untuknya.
Toko online biasa melakukan promosi dari mulut ke mulut. Seno yakin, jika pelanggannya sudah merasakan bagaimana rasa dari sayurannya, maka mereka akan ketagihan dan membeli lagi ke Seno. Tidak hanya itu, pelanggannya pasti akan merekomendasikan sayur miliknya kepada yang lain.
“Baiklah aku akan melakukannya.”
Tanpa menunggu lama lagi, Seno melakukan semua persiapannya. Ia mencari kain putih polos di almari miliknya. Ia akan menjadikan kain tersebut sebagai alas foto sayurnya. Bermodalkan kamera ponsel dan penerangan dari senter, Seno sudah mengambil beberapa foto sayuran miliknya.
Laki-laki itu kemudian mengunggah foto tersebut ke Facebook miliknya. Tidak hanya itu, Seno juga menawarkan sayuran miliknya dalam group jual beli yang ada di Facebook. Setiap hari ia membuat unggahan baru, hal itu ia lakukan agar unggahannya masih terlihat oleh yang lainnya dan tidak tenggelam oleh unggahan orang lain.
Selain itu, Seno juga mencoba melelang wortel miliknya. Dari dua ratus sembilan puluh wortel, Seno sudah menjual dua ratus tiga puluh kepada Miranda, empat puluh di antaranya akan ia konsumsi sendiri untuk dirinya dan kedua adiknya.
Jadi, Seno hanya melelang dua puluh wortel saja. Ini adalah percobaan yang akan ia lakukan, jadi Seno tidak mau melelang terlalu banyak wortel di sana. Dengan dua puluh wortel ini, Seno ingin mencoba melihat seberapa mahal wortel miliknya ini bisa terjual.
Seno pun mengunduh sebuah aplikasi yang biasa dipakai untuk melelang barang. Di sana, Seno mendaftarkan akun dengan nama Petani_Hebat.
Dua puluh wortel itu langsung saja Seno unggah di sana. “Wortel ajaib penyembuh penyakit mata”. Itu adalah deskripsi yang Seno berikan untuk wortel yang ia lelang.
Untuk harga sendiri, Seno membuka pada harga lima puluh ribu per buah dengan batas minimum menaikkan harga adalah tiga ribu rupiah. Untuk batas waktunya sendiri, Seno memberi batas waktu empat hari.
Seno juga membeli iklan agar wortel yang ia lelang ini semakin terlihat dan banyak penguna aplikasi lelang yang melihat wortel miliknya itu.
….
Pagi harinya Seno melakukan panen yang ketiga di kebunnya. Setelah penen ini, berarti misi panen 50 wortel dari sistem sudah terselesaikan. Seno hanya tinggal meningkatkan poin tanam miliknya untuk menaikkan level kebunnya.
[Ding]
[Selamat Host telah menjalankan misi panen 50 wortel khusus]
[Selamat Host mendapatkan +100 benih wortel]
“Akhirnya selesai juga. Sekarang aku bisa tenang. Sistem, tunjukkan panel sistem milikku.” Pinta Seno
[Host : Seno Eko Mulyadi (23)]
[Kekuatan : 7 (Manusia Dewasa : 10)]
[Stamina : 5 +2 (Manusia Dewasa : 10)]
[Luas lahan : 800m2]
[Level kebun : 1 (500/500)]
[Poin tanam yang dibutuhkan untuk naik level : 1.000.000]
[Poin tanam : 766.600]
[Penyimpanan Sistem : 10 slot (8/10)]
[Misi : - ]
[Toko sistem : - Bukan Pupuk Biasa : 100 poin tanam
Wortel dengan penuh Vitamin A : 50 poin tanam]
“Seperti dugaanku, aku masih membutuhkan satu kali masa tanam lagi untuk bisa naik level.”
Seno kemudian mengisi kebun miliknya hanya dengan wortel khusus sebanyak empat ribu delapan ratus buah. Itu karena slot kotak penyimpanan yang ia isi dengan sayuran biasa hampir penuh. Seno tidak mau untuk menyimpan sayur tersebut dirinya harus memakai slot baru.
Ia harus menjual sayur-sayur tersebut sebelum kemudian menanam sayur biasa lagi ketika stok menipis. Lagi pula, Seno hanya butuh tiga hari untuk memanen sayuran miliknya.
Seno kemudian mengecek laman Facebook miliknya. Baru kemarin dirinya mengungah foto mengenai sayur miliknya. Sekarang, cukup banyak yang mengirim pesan padanya. Kebanyakan pesan tersebut menanyakan harga dari sayuran miliknya.
Tetapi, Seno tidak mendapatkan respon lanjutan setelah ia memberi tahu berapa harga dari sayuran miliknya. Mungkin mereka berpikir bahwa sayur milik Seno akan memiliki harga yang lebih murah daripada harga di pasar. Tetapi ternyata tidak.
“Ternyata tidak semudah itu berjualan. Memulai semua seperti ini memang membutuhkan kesabaran yang tinggi.”
Lalu, sebuah pesan di kotak masuk Facebook miliknya menarik perhatian Seno. Ia membaca dengan teliti pesan tersebut.
[Cindy K. : Mas apakah ini sayurnya organik?]
“Nah itu. Kenapa aku tidak melabeli sayuranku dengan sayuran organik. Biasanya, sayuran organik harganya sedikit lebih mahal daripada sayuran pada umumnya. Jika aku memberikan label itu pada sayur milikku, maka orang akan merasa wajar dengan harga yang aku berikan.”
“Lagi pula aku tidak memberikan pestisida kimia pada sayur milikku. Jadi tidak masalah jika aku mengatakan ini adalah organik.”
Seno langsung membalas pesan tersebut dengan cepat.
[Seno E. M. : Ya Mbak. Sayurnya organik dari kebun sendiri]
[Cindy : Kalau begitu, kirimkan selada tiga kilo, wortel dua kilo, kangkung sepuluh ikat, dan bayamnya sepuluh ikat. Kirim ke alamat ini ya Mas Jalan Nyalaparna No. 135. Kalau bisa sebelum jam 10 sudah sampe ya Mas sayurnya]
[Seno E. M. : Tentu Mbak, akan aku kirim segera]
Langsung saja Seno menyiapkan pesanan dari pemilik akun dengan nama Cindy itu. Seno sama sekali tidak mempermasalahkan dipergunakan untuk apa sayur sebanyak itu. Asalkan Cindy membayarnya, itu tidak menjadi masalah.
Seno memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Saat ini sudah jam sembilan kurang lima belas menit. Biasanya ia membutuhkan waktu satu jam untuk kek kota. Namun, untuk memperhitungkan waktu yang ia pergunakan untuk mencari alamat Cindy, Seno harus sampai di kota pada setengah sepuluh.
“Fiuh. Akhirnya belum telat.” Ucap Seno ketika berhasil sampai di alamat rumah Cindy pada pukul sepuluh kurang lima belas menit.
Rumah dari Cindy merupakan rumah tiga lantai dengan halaman yang cukup luas. Di depan rumah tersebut, terlihat terparkir beberapa mobil. Sepertinya pemilik rumah sedang memiliki acara sekarang.
Meski gerbang rumah terbuka lebar, Seno tidak langsung masuk begitu saja. Ia menghampiri pos satpam.
“Mau cari siapa Mas?” Tanya satpam yang ada di sana.
“Ini Pak, mau nganter pesanan sayur dari Mbak Cindy. Dia pesen sayur ke aku dan minta dianter ke sini. Apakah bener ini rumah Mbak Cindy?” Tanya Seno.
“Oh pesanan Nyonya Besar. Sebentar Mas.” Satpam tersebut terlihat mengeluarkan uang dari dalam laci. “Ini uangnya Mas. Hitung dulu.”
“Sebentar Pak aku ambilin kembaliannya.”
“Nggak usah Mas.”
“Tapi ini kebanyakan. Semua sayur ini dan ongkos kirimnya hanya dua ratus lima puluh ribu. Sedangkan ini tiga ratus ribu.”
“Kata Nyonya, itu bonus buat Mas kalo nganternya sebelum jam sepuluh. Terima aja Mas. Rezeki nggak bagus ditolak.”
“Makasih Pak.”
Jika dibandingkan dengan pendapatan yang ia terima dari menjual wortel khusus, tiga ratus ribu ini terlihat tidak ada apa-apanya. Tetapi di mata Seno ini adalah uang yang berharga.
Pada akhirnya Seno bisa menjual sayuran di kebunnya setelah melewati berbagai cobaan. Ini juga menandakan bahwa Seno bisa berjualan sayur meskipun tidak di pasar seperti pada umumnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 264 Episodes
Comments
Oka Derza
kentangnya GK Thor?
2025-01-03
0
kutu kupret🐭🖤🐭
semoga dan tersermoga kan sayuran nya cepat terkenal 🤲
2022-11-06
2
Yulyas Arif
50 apa 500 sih bingung gw, udah dibeli miranda ratusan juga. kan lebih dari 50 itu hasil panen sebelumnya... duuh 😭😭
2022-04-30
2