Episode 4 - Putra Petaka Kabangan

Di bagian lain keraton, dari sebuah kamar yang paling besar yang tak lain adalah kamar Sang Prabu dan Permaisuri, terdengar jerit tangisan bayi. Beberapa dukun beranak dan emban tampak memegangi tubuh Ratu Nawang Kasih sang Permaisuri Prabu Kertapati, beberapa yang lainnya nampak membersihkan tempat tidur sang ratu dan menyeka wajah sang ratu dengan air dingin yang dicampur daun salam. Ya permaisuri Mega Mendung ini baru saja melewati proses persalinan untuk melahirkan putra pertamanya.

“Selamat Gusti Ayu, putramu seorang laki-laki!” ucap seorang nenek yang tak lain adalah salah seorang dukun beranak dan paraji kepercayaan keluarga kerajaan yang membantu proses persalinan Permasuri, yang menghampiri permaisuri sambil menggendong bayi merah yang menangis dengan kerasnya.

Si nenek lalu menyerahkan bayi itu pada Sang Permaisuri, Ratu Nawang Kasih tersenyum lalu mencium kening si bayi. “Ah tangisnya sangat keras, bayi ini tentu akan menjadi sosok pangeran yang gagah perkasa,” sambung si nenek.

Ratu Nawang Kasih tidak menyahut, seketika senyumnya berganti menjadi wajah ketakutan dan kekalutan yang teramat sangat, ketika ia ingat akan nasib selir Prabu Kertapati yang juga hamil. Pada saat usia kandungan empat bulan, Sang Prabu menusukan pedang pusakanya pada perut selirnya! Pada saat itu pula, nyawa selir dan jabang bayi dalam kandungannya terbang menuju alam lain! Mengingat peristiwa itu, dia menjadi takut kalau-kalau Sang Prabu akan melakukan hal yang sama terhadap dirinya dan bayinya yang baru lahir tersebut.

Pada saat itu, masuklah Sang Prabu yang masih mengenakan pakaian ringkas hitam yang baru saja selesai bersemedi diruangan pusaka keraton. Para Dukun Beranak dan Emban segera membungkuk pada raja mereka. Prabu Kertapati dengan wajah dingin tanpa ekspresi terus melangkah menghampiri istri dan bayinya diatas tempat tidur.

Jantung Sang Permaisuri serasa berhenti berdetak ketika suaminya menatap bayi merah yang sedang menangis itu tanpa berkesip, dengan tenaganya yang masih lemah, dengan segala daya yang ia miliki, ia buru-buru memeluk bayi itu untuk melindunginya karena takut suaminya akan berbuat sesuatu yang tidak diinginkannya.

Pada saat itu, tiba-tiba nenek Imas, si dukun beranak itu menjura pada Sang Prabu, sambil tersenyum senang dia berkata “Gusti Prabu, selamat atas kelahiran Putra Pertamamu. Dia bayi laki-laki yang sehat dan kuat yang dilahirkan pada saat terjadi peristiwa Bulan Kabangan, tentu ia akan menjadi berkah bagi Mega Mendung karena akan menjadi Putra Mahkota yang gagah perkasa, calon penerus kerajaan Mega Mendung!”

Sebetulnya nenek tua itu juga merasa tidak enak karena mengetahui nasib selir yang dibunuh saat hamil empat bulan oleh sang prabu sendiri, apalagi bayi ini dilahirkan pada saat peristiwa Bulan Kabangan, yang menurut orang-orang tua adalah suatu pertanda malapetaka. Tetapi ia menindih semua perasaan tidak enak itu, ucapannya tadi adalah suatu permintaan halus agar Sang Prabu tidak melakukan suatu hal yang buruk pada bayi yang baru lahir itu.

Prabu Kertapati diam tidak menyahuti nenek tua yang juga membantu proses persalinannya dulu ketika ia dilahirkan oleh Ibunya. Ia hanya menatap tak berkesip pada bayi yang masih merah itu dan pada istrinya bergantian dengan wajah dingin. Lalu tanpa mengucapkan apa-apa, dia membalikan tubuhnya dan keluar dari kamarnya. Sang Permaisuri bernafas lega walaupun dia masih khawatir karena tidak dapat menebak apa yang ada didalam benak suaminya, begitu pun dengan Nenek Imas. Sementara para dukun beranak yang lainnya beserta para emban-emban, hanya melongo keheranan karena tidak mengerti dengan sikap Sang Prabu yang seharusnya menyambut kelahiran anaknya dengan sukacita.

 

 

***

 

 

Empat hari kemudian setelah Mega Mendung menguasai Sancang hanya dalam tempo setengah malam, tepat tujuh hari setelah peristiwa bulan kabangan di Mega Mendung, Prabu Kertapati sudah kembali ke Keraton Mega Mendung. Seluruh harta rampasan dari Sancang dia bagi-bagikan kepada para pendekar golongan hitam yang ia sewa, sementara barang-barang serta senjata-senjata pusaka Sancang ia simpan di ruangan pusaka keratonnya.

Kabar penyerangan dan jatuhnya Sancang segera sampai ke pihak Banten. Jatuhnya Sancang yang merupakan Negara Islam membuat Banten gelisah, apalagi sampai saat ini mereka belum sanggup untuk menundukan Padjadjaran, sekarang ditambah Mega Mendung yang walaupun telah menerima penyebaran agama Islam namun bersikap memusuhi Banten dan Cirebon serta bernafsu untuk menguasai seluruh tanah Pasundan ini.

Sultan Hasanudin segera mengirim dua ribu orang prajurit di bawah pimpinan Senapati Tubagus Giliwangsa untuk menyerang Mega Mendung. Namun suatu keanehan terjadi kalau tidak mau dikatakan ajaib, pasukan Banten yang jumlahnya sangat besar itu tidak dapat menembus tapal batas kerajaan Mega Mendung yang hanya dijaga oleh empat ratus prajurit! Seolah ada tembok dan benteng-benteng tak terlihat yang menghalangi pasukan Banten untuk memasuki wilayah Mega Mendung! Malah justru banyak korban yang berjatuhan di pihak Banten dalam usaha penyerbuan itu, sementara di pihak Mega Mendung nyaris tidak ada korban sedikit pun. Bahkan Senapati Tubagus Giliwangsa yang terkenal sakti mandraguna itu seolah tidak dapat berbuat apa-apa untuk menjebol perbatasan Mega Mendung!

 

 

***

 

 

Senja hari itu di Keraton Mega Mendung, Permaisuri Nawang Kasih baru saja selesai menyusui bayinya yang diberi nama Jaya Laksana, bayi laki-laki mungil itu nampak terlelap disebelahnya. Sang Ratu tersenyum menatap anak sulungnya yang baru saja terlelap itu, “Ya Gusti, hamba mohon tolong lindungi anak hamba yang tidak berdosa ini...” bisiknya dalam hati karena ia masih merasa takut pada suaminya.

Sampai saat ini suaminya selalu nampak dingin dan tidak berkata apa-apa soal bayi sulungnya yang berhak untuk menjadi putera mahkota kerajaan itu, bahkan memberi nama saja tidak! Mahapatih Ki Balangnipa lah yang masih terhitung Kakak Sepupu dari Prabu Kertapati yang memberinya nama Jaya Laksana.

Sedang ia melamun sambil menatap wajah anaknya, masuklah Prabu Kertapati dengan wajah kelam membesi. Yang membuat Ratu Nawang Kasih takut adalah di pinggang Sang Prabu terselip Keris Kyai Segara Geni, keris yang biasa ia bawa hanya ketika pergi berperang!

Sang Prabu melangkah dengan cepat menghampiri bayi yang baru saja terlelap itu, dengan mata melotot! Permaisuri yang melihat gelagat tidak baik langsung melompat menerjang sang prabu untuk melindungi anaknya, kedua tangannya memegang tangan kanan Sang Prabu erat-erat yang sudah memegang hulu keris pusakanya!

“Kakang Prabu mau apa?! Jangan mencelakai anak kita, Kakang!” bentaknya dengan histeris dan air mata mulai bercucuran.

“Minggir kau! Anak itu harus kujadikan tumbal agar cita-citaku menguasai seluruh Tanah Pasundan ini tercapai!”.

“Kau gila Kakang!!! Mengapa harus sampai membunuh darah daging sendiri segala?! Sadarlah Kakang, kembalilah ke jalan yang benar, jalan yang diridhai Gusti Allah!”

“Minggir perempuan Sundal! Jangan kau sebut nama Tuhanmu lagi dihadapanku!”

“Tidak!!! Sadarlah Kakang!” ratap Nawang Kasih sambil berlutut memegang kedua kaki suaminya.

“Dengarlah, menurut bisikan Eyang di Alam Arwah, kita akan mempunyai anak lagi, kau masih bisa mengandung lagi! Dialah yang akan menurunkan garis keturunan penguasa Mega Mendung!” ucap Sang Prabu yang mencoba membesarkan hati istrinya.

“Tidak! Kau gila percaya pada mahluk sesat itu! Bagaimanapun anak ini adalah darah daging kita! Jangan kau bunuh Kakang! Ingatlah pada Gusti Allah!”

“Minggir!” bentak Sang Prabu dan...

“Plakkk!” Ia menampar pipi istrinya, hingga istrinya terjengkang.

Dengan secepat kilat ia membuka kerisnya, sinar biru menggidikan keluar dari keris bereluk sembilan menerangi kamar itu, hawa panas menyambar bagaikan matahari tepat berada diatas kamar itu! Ratu Nawang Kasih buru-buru mencekal kaki Sang Prabu, sehingga keris yang sudah siap dihujamkan menembus jantung bayi itu terpeleset dan hanya menggores tipis kening diatas alis sebelah kanan bayi itu! Bayi itu menangis karena merasa kesakitan oleh lukanya itu, darah mengucur deras dari lukanya! Sungguh memilukan keadaan bayi itu!

“Perempuan sundal! Minggir! Jangan ganggu aku!” bentak Sang Prabu.

“Tidak, kalau kau mau bunuh bayi kita, bunuh aku dulu!” jerit Ratu Nawang Kasih

Menyaksikan keadaan istrinya yang menangis histeris sambil memeluk kaki kanannya, Sang Prabu merasa iba juga, apalagi ketika dilihatnya, bayi darah dagingnya sendiri menangis parau karena kesakitan dengan luka dikening diatas alis kanannya itu. Bagaimanapun ia masih seorang manusia yang mempunyai rasa kasih sayang pada istri dan anaknya, selama ini dia diserang rasa bimbang karena harus membunuh anaknya sendiri, selain rasa sedih dan bersalah karena sudah membunuh selirnya yang sedang hamil empat bulan.

Dia pun jatuh terduduk lemas, seluruh tubuhnya seolah tak bertulang dan kehilangan seluruh tenaganya, dengan perlahan ia menyeka darah di kerisnya, lalu mencium kerisnya dan menyarungkan kembali keris pusakanya.

“Istriku, maafkanlah aku, aku khilaf! Namun walaupun aku tidak jadi membunuh bayi kita, nyawanya tetap terancam karena aku sudah terlanjur mengadakan perjanjian dengan Eyang dari Alam Arwah di Kawah Gunung Patuha,” ucapnya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan kakang?” tanya istrinya yang masih menangis sambil menyeka darah di kening bayinya.

Prabu Kertapati menggosok-gosokan tangan kanannya pada sebuah batu akik berwarna hijau tua sambil mulutnya komat-kamit merapal ajian, lalu dengan lembut batu akik itu dioleskan pada kening bayinya yang terluka, dan sungguh ajaib! Luka di kening itu langsung sembuh mengering walaupun meninggalkan bekas luka.

Sang Prabu terdiam sejenak, lalu ia bangun dan memanggil Ki Patih Balangnipa, serta dua lurah tantama kepercayannya Jayadi dan Laksadi, dengan tergopoh-gopoh ketiga orang ini masuk kedalam kamarnya.

“Laksadi menyamarlah menjadi penduduk biasa, aku minta kau mencari seorang bayi laki-laki yang lahir tepat pada tujuh hari yang lalu! Aku tidak peduli bagaimana caranya, kau harus segera membawa bayi itu secepatnya kepadaku sebelum tengah malam ini!”

Meskipun terheran-heran dengan perintah itu, ditambah melihat keadaan di kamar Sang Prabu tersebut, dia langsung menjura “Baik Gusti Prabu!” Ia langsung berlalu saat itu juga.

Sang Prabu kemudian menoleh pada istrinya, “Istriku, tidak aman jika bayi itu berada di lingkungan keraton. Kita harus membuangnya saat ini juga, jangan sampai ada yang tahu kalau kau membuang bayi kita apalagi Topeng Setan!” ujar Sang Prabu. Permasuri hanya bisa diam pasrah karena ia juga faham betul keadaan suaminya saat itu, daripada anaknya harus mati menjadi tumbal.

Sang Prabu lalu menoleh pada Jayadi, “Jayadi, aku perintahkan engkau untuk membawa bayi ini ke Padepokan Sirna Raga di Tagok Apu, secepatnya malam ini juga! Jangan sampai ada orang lain yang tahu, menyamarlah menjadi rakyat biasa! Ingat kau harus bergerak cepat dan melindungi nyawa bayi ini dengan nyawamu! Setelah sampai katakan pada Kyai Pamenang bahwa bayi ini adalah anakmu sendiri, jangan katakan bahwa bayi ini adalah anakku! Katakan pada Kyai Pamenang bahwa kau menitipkan bayi ini untuk dididik diberikan ilmu pengetahuan, ilmu agama, serta ilmu kesaktian!”.

Perwira muda ini menjura hormat, “Hamba, Gusti Prabu!”

Maka setelah Sang Permaisuri menulis sepucuk surat serta membuat satu tusuk cabai merah, bawang merah, dan bawang putih untuk yang diselipkan pada buntalan kain yang menyelimuti si bayi sebagai pelindung dari gangguan ghaib. Bayi itu segera dibungkus oleh sebuah kain samping bermotif batik kerajaan, Jayadi pun langsung pergi dari keraton setelah menyamar menjadi rakyat jelata.

Setelah Jayadi pergi, Sang Prabu segera menoleh pada Patihnya “Kakang Patih, Kakang aku beri satu tugas yang maha penting, aku tidak ingin rahasia tentang anakku ini ada yang tahu apalagi kalau sampai diketahui oleh Topeng Setan, maka aku perintahkan engkau untuk membunuh Jayadi dengan tanganmu sendiri setelah dia menyerahkan anakku pada Kyai Pamenang!”

Ki Patih Balangnipa agak terkejut dengan perintah tersebut, tetapi kalau sampai Sang Prabu memerintahkan ia sendiri yang melakukannya maka ia maklum kalau ini adalah suatu tugas yang sangat penting, maka ia pun menjura hormat “Daulat Gusti Prabu”.

 

 

***

 

 

Padepokan Sirna Raga adalah suatu padepokan yang didirikan oleh Kyai Pamenang di puncak bukit Tagok Apu yang masih termasuk kedalam wilayah Mega Mendung. Padepokan ini masih terbilang baru namun sudah memiliki nama yang harum dan besar di dunia persilatan tanah Pasundan sebagai perguruan golongan putih yang juga menjungjung tinggi ilmu agama Islam. Setiap murid di Padepokan ini selain diajarkan Ilmu Silat Kanuragan dan Ilmu Ajian Pukulan Sakti, juga diajari ilmu Agama Islam.

Padepokan ini didirikan pada masa pemerintahan Prabu Wangsareja ayah mertua Prabu Kertapati atau ayah kandung dari Ratu Nawang Kasih, karena Kyai Pamenang dianggap banyak berjasa pada Mega Mendung, maka Prabu Wangsareja mengizinkannya untuk mendirikan padepokan yang bercorak islam, maka saat itu pula agama Islam mulai masuk dan menyebar di wilayah Mega Mendung. Tak heranlah kalau Prabu Kertapati mempercayakan Kyai Pamenang untuk mengasuh sekaligus menjadi guru anak sulungnya.

Saat itu mentari sudah terbenam di ufuk barat, ia hanya menyisakan segaris cahaya merah keemasan di garis cakrawala sebagai salam perpisahannya untuk hari ini yang tahtanya akan segera digantikan oleh sang rembulan serta kawanan bintang gemintang di layar beludru biru kehitaman yang akan segera tiba.

Di sebuah kamar di padepokan Sirna Raga, seorang pria paruh baya beserta seorang wanita paruh baya nampak baru saja menyelesaikan shalat maghribnya, yang dilanjutkan dengan membaca dzikir. Saat cahaya sang bagaskara telah benar-benar lenyap hari itu, mereka menyelesaikan dzikirnya untuk menununggu saatnya isya datang. “Istriku, entah mengapa beberapa hari ini perasaanku aneh, tadi malam aku bermimpi menangkap seorang bayi yang jatuh dari angkasa, bayi itu menggenggam bintang di kedua tangannya” Ucap Pria paruh baya itu yang tak lain adalah Kyai Pamenang pemimpin padepokan Sirna Raga.

Wanita tua di sebelahnya yang bernama Nyai Mantili yang merupakan istri dari Kyai Pamenang dan bertugas ntuk mengurus para murid wanita di padepokan ini menyahut “Hatiku juga merasakan suatu perasaan aneh Kakang, semalam aku bermimpi melihat almarhum guru kita memasangkan mahkotanya pada kepalamu, itu tandanya engkau akan mendapatkan suatu tugas yang berat!”

Baru saja mulut Nyai Mantili tertutup, ada yang mengetuk pintu kamar mereka, mereka pun segera keluar, di balai ruing padepokan ada seorang tamu, seorang pemuda yang nampak kelelahan sambil menggendong seorang bayi yang menangis dengan kerasnya.

Pemuda itu tak lain adalah Jayadi, lurah tantama kepercayaan Prabu Kertapati yang ditugasi untuk membawa bayinya pada Kyai Pamenang di Padepokan Sirna Raga. Setelah saling mengucap salam, Kyai Pamenang pun menanyakan maksud kedatangan Jayadi “Ada gerangan apakah Ki Dulur bertamu kemari?”

“Sebelumnya mohon maaf apabila hamba tidak sopan datang pada saat seperti ini, nama hamba Jayadi, hamba berniat menitipkan putra hamba pada Kyai dan dulur-dulur di padepokan ini untuk dididik menjadi manusia yang berbudi dan taat pada agama serta berguna bagi sesama manusia juga dengan alam sekitarnya” jawab Jayadi.

Kyai Pamenang memperhatikan seluruh gestur dari Jayadi. Sebagai orang yang telah banyak makan asam garam dunia, dia dapat mahfum kalau Jayadi adalah seseorang yang telah banyak berinteraksi dengan kalangan priyayi atau kalangan keraton, maka ia pun bertanya “Hmm… Kenapa Ki Dulur bermaksud untuk menitipkan puteranya kepada kami? Siapakah Ki Dulur sebenarnya?”

Jayadi berpikir sejenak, tapi ketika ia hendak menjawab, sebuah keris kecil berwarna hitam pekat meluncur dengan deras menembus punggungnya tepat di bagian jantung dari sebelah belakang! Kyai Pamenang dan seluruh murid-murid Sirna Raga yang berada di sana terkejut bukan main sebab mereka tidak menyadari kehadiran orang asing yang telah membokong Jayadi tersebut, Kyai Pamenang segera memerintahkan murid-muridnya untuk mengejar si pembokong itu, sementara ia segera melihat keadaan Jayadi “Ki Dulur bertahanlah!”

Tapi nafas Jayadi tingal satu dua, nyatalah bahwa keris kecil berwarna hitam itu telah dilumuri oleh suatu racun yang teramat jahat! Dengan seluruh sisa tenaganya Jayadi berkata “Kyai… Tolong rawat anak ini… Berikanlah ia… il… ilmu… yang… berman…faat…” dan terbanglah nyawa Jayadi meninggalkan raganya.

“Inalillahi Wainalillahi Rojiun…,” ucap Kyai Pamenang sambil menutupkan mata Jayadi.

Nyai Mantili segera menggendong bayi itu. “Kakang lihatlah kain batik ini, kain batik ini bukan kain sembarangan, seperti kain dari keraton!”

Kyai Pamenang pun mengamati kain batik itu. “Kamu benar Nyai, ini seperti kain batik keraton Mega Mendung!”

“Ah lihat keningnya Kakang, ada sebuah bekas luka goresan yang cukup dalam, seperti sebuah bekas luka besetan, tapi anehnya luka ini bisa kering seperti ini!” Nyai Mantili lalu menemukan sebuah gulungan surat yang diselipkan di buntalan kain yang menyelimuti bayi itu, dia langsung membacanya

“Bayi ini bernama Jaka Lelana, mohon kepada yang memungutnya untuk merawatnya sebaik-baiknya, maaf kami orang tuanya tidak dapat membalas apa-apa kepada Kyai Pamenang yang kami hormati, semoga Gusti Allah melimpahkan rahmat dan berkahnya kepada anda...”

Kyai Pamenang terdiam sejenak sambil mengamati bayi itu. “Aku yakin bayi bukan bayi sembarangan dan bukan bayi yang berasal dari kalangan orang biasa, aku dapat melihat cahaya di keningnya!”

Pada saat itu datanglah rombongan murid-murid Padepokan yang tadi mengejar pembokong pembunuh Jayadi “Ampun guru, kami tidak berhasil mengejarnya, ia memiliki aji halimunan yang dapat membuatnya lolos dari kejaran kami, selain itu gerakannya sangat gesit”.

“Hmm… Berarti pembunuh itu bukan pembunuh bayaran biasa, ia pasti memiliki ilmu yang cukup tinggi” pikir Kyai. Tapi kemudian dia disadarkan oleh tangisan bayi yang parau itu “Astagfirullah sampai aku terlupa pada bayi ini! Nyai kita akan membesarkan bayi ini sebagaimana amanat dari pengantarnya dan dari surat itu”, jadilah bayi yang bernama Jaya Laksana yang kini berganti nama menjadi Jaka Lelana menjadi penghuni padepokan tersebut, menjadi murid dari Kyai Pamenang, seorang tokoh silat yang disegani di tanah Pasundan ini.

Terpopuler

Comments

Vina Sandra

Vina Sandra

Emang iya thor... Putra yah laki laki 🤣

2023-04-10

1

Joyokusumo

Joyokusumo

ijin nderek promo ya Thor,, "Tirta Jayakusuma".

2022-01-16

0

tarjun

tarjun

Josh gandosss kotos kotossssss

2022-01-06

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 - Prolog
2 Episode 2 - Perjanjian Wasiat Iblis (1)
3 Episode 3 - Perjanjian Wasiat Iblis (2)
4 Episode 4 - Putra Petaka Kabangan
5 Episode 5 - Putri Mega Sari (1)
6 Episode 6 - Putri Mega Sari (2)
7 Episode 7 - Putri Mega Sari (3)
8 Episode 8 - Putri Mega Sari (4)
9 Episode 9 - Dharmadipa (1)
10 Episode 10 - Dharmadipa (2)
11 Episode 11 - Misteri Gunung Patuha (1)
12 Episode 12 - Misteri Gunung Patuha (2)
13 Episode 13 - Rajah Cakra Bisma (1)
14 Episode 14 - Rajah Cakra Bisma (2)
15 Episode 15 - Rajah Cakra Bisma (3)
16 Episode 16 - Rajah Cakra Bisma (4)
17 Episode 17 - Ilmu Teluh Ngareh Jiwa (1)
18 Episode 18 - Ilmu Teluh Ngareh Jiwa (2)
19 Episode 19 - Mimpi Pertanda (1)
20 Episode 20 - Mimpi Pertanda (2)
21 Episode 21 - Pelet Sang Putri (1)
22 Episode 22 - Pelet Sang Putri (2)
23 Episode 23 - Awal Dendam Kesumat (1)
24 Episode 24 - Awal Dendam Kesumat (2)
25 Episode 25 - Duel Dua Saudara (1)
26 Episode 26 - Duel Dua Saudara (2)
27 Episode 27 - Tautan Janji (1)
28 Episode 28 - Tautan Janji (2)
29 Episode 29 - Kyai Supit Pramana (1)
30 Episode 30 - Kyai Supit Pramana (2)
31 Episode 31 - Bisikan Iblis (1)
32 Episode 32 - Bisikan Iblis (2)
33 Episode 33 - Bisikan Iblis (3)
34 Episode 34 - Bisikan Iblis (4)
35 Episode 35 - Bisikan Iblis (5)
36 Episode 36 - Bisikan Iblis (6)
37 Episode 37 - Jaya Laksana (1)
38 Episode 38 - Jaya Laksana (2)
39 Episode 39 - Tabib Dari Tionggoan (1)
40 Episode 40 - Tabib Dari Tionggoan (2)
41 Episode 41 - Tabib Dari Tionggoan (3)
42 Episode 42 - Tabib Dari Tionggoan (4)
43 Episode 43 - Tabib Dari Tionggoan (5)
44 Episode 44 - Tabib Dari Tionggoan (6)
45 Episode 45 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (1)
46 Episode 46 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (2)
47 Episode 47 - Geromobolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (3)
48 Episode 48 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (4)
49 Episode 49 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (1)
50 Episode 50 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (2)
51 Episode 51 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (3)
52 Episode 52 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (4)
53 Episode 53 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (5)
54 Episode 54 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (6)
55 Episode 55 - Cincin Mustika Kalimasada (1)
56 Episode 56 - Cincin Mustika Kalimasada (2)
57 Episode 57 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (1)
58 Episode 58 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (2)
59 Episode 59 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (3)
60 Episode 60 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (4)
61 Episode 61 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (5)
62 Episode 62 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (6)
63 Episode 63 - Guna-Guna Siluman Ular (1)
64 Episode 64 - Guna-Guna Siluman Ular (2)
65 Episode 65 - Guna-Guna Siluman Ular (3)
66 Episode 66 - Guna-Guna Siluman Ular (4)
67 Episode 67 - Ki Patih Balangnipa (1)
68 Episode 68 - Ki Patih Balangnipa (2)
69 Episode 69 - Perpisahan Di Persimpangan (1)
70 Episode 70 - Perpisahan Di Persimpangan (2)
71 Episode 71 - Siasat Sang Pendekar (1)
72 Episode 72 - Siasat Sang Pendekar (2)
73 Episode 73 - Siasat Sang Pendekar (3)
74 Episode 74 - Siasat Sang Pendekar (4)
75 Episode 75 - Cermin Noda (1)
76 Episode 76 - Cermin Noda (2)
77 Episode 77 - Cermin Noda (3)
78 Episode 78 - Cermin Noda (4)
79 Episode 79 - Pangeran Adipati Bogaseta (1)
80 Episode 80 - Pangeran Adipati Bogaseta (2)
81 Episode 81 - Tersibaknya Tabir (1)
82 Episode 82 - Tersibaknya Tabir (2)
83 Episode 83 - Tersibaknya Tabir (3)
84 Episode 84 - Tersibaknya Tabir (4)
85 Episode 85 - Kepekatan Dalam Dendam (1)
86 Episode 86 - Kepekatan Dalam Dendam (2)
87 Episode 87 - Dalam Kebeningan Cinta Kasih (1)
88 Episode 88 - Dalam Kebeningan Cinta Kasih (2)
89 Episode 89 - Siluman Srigala Putih (1)
90 Episode 90 - Siluman Srigala Putih (2)
91 Episode 91 - Galuh Parwati (1)
92 Episode 92 - Galuh Parwati (2)
93 Episode 93 - Kala Mega Kian Mendung (1)
94 Episode 94 - Kala Mega Kian Mendung (2)
95 Episode 95 - Kala Mega Kian Mendung (3)
96 Episode 96 - Kala Mega Kian Mendung (4)
97 Episode 97 - Kala Mega Kian Mendung (5)
98 Episode 98 - Kala Mega Kian Mendung (6)
99 Episode 99 - Langit Merah di Mega Mendung (1)
100 Episode 100 - Langit Merah Di Mega Mendung (2)
101 Episode 101 - Langit Merah Di Mega Mendung (3)
102 Episode 102 - Langit Merah Di Mega Mendung (4)
103 Episode 103 - Langit Merah Di Mega Mendung (5)
104 Episode 104 - Langit Merah Di Mega Mendung (6)
105 Episode 105 - Pelangi Di Mega Mendung (1)
106 Episode 106 - Pelangi Di Mega Mendung (2)
107 Episode 107 - Keris Kyai Segara Geni (1)
108 Episode 108 - Keris Kyai Segara Geni (2)
109 Episode 109 - Dendam Tak Bertepi (1)
110 Episode 110 - Dendam Tak Bertepi (2)
111 Episode 111 - Pernikahan Sepasang Pendekar (1)
112 Episode 112 - Pernikahan Sepasang Pendekar (2)
113 Episode 113 - Kehidupan Kedua (1)
114 Episode 114 - Kehidupan Kedua (2)
115 Episode 115 - Tumenggung Jaya Laksana (1)
116 Episode 116 - Tumenggung Jaya Laksana (2)
117 Episode 117 - Tumenggung Jaya Laksana (3)
118 Episode 118 - Tumenggung Jaya Laksana (4)
119 Episode 119 - Tumenggung Jaya Laksana (5)
120 Episode 120 - Tumenggung Jaya Laksana (6)
121 Episode 121 - Jin Bagaspati (1)
122 Episode 122 - Jin Bagaspati (2)
123 Episode 123 - Korban Pertama (1)
124 Episode 124 - Korban Pertama (2)
125 Episode 125 - Pesan Pembawa Petaka (1)
126 Episode 126 - Pesan Pembawa Petaka (2)
127 Episode 127 - Pesan Pembawa Petaka (3)
128 Episode 128 - Pesan Pembawa Petaka (4)
129 Episode 129 - Perjalanan Ke Selatan (1)
130 Episode 130 - Perjalanan Ke Selatan (2)
131 Episode 131 - Wasiat Sang Prabu Siliwangi (1)
132 Episode 132 - Wasiat Sang Prabu Siliwangi (2)
133 Episode 133 - Petuah Sang Guru (1)
134 Episode 134 - Petuah Sang Guru (2)
135 Episode 135 - Santun Petaka (1)
136 Episode 136 - Santun Petaka (2)
137 Episode 137 - Sang Rajapati (1)
138 Episode 138 - Sang Rajapati (2)
139 Episode 139 - Racun Raja Kobra Hitam (1)
140 Episode 140 - Racun Raja Kobra Hitam (2)
141 Episode 141 - Racun Raja Kobra Hitam (3)
142 Episode 142 - Racun Raja Kobra Hitam (4)
143 Episode 143 - Akhir Sebuah Mimpi (1)
144 Episode 144 - Akhir Sebuah Mimpi (2)
145 Episode 145 - Ajian Bajra Panjara
146 Episode 146 - Panglima Gandawijaya
147 Episode 147 - Sirnanya Wahyu Keprabon
148 Episode 148 - Uga Siliwangi
149 Episode 149 - Langkah Pertama Banten...
150 Episode 150 - Wangsit Sang Dewi
151 Episode 151 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (1)
152 Episode 152 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (2)
153 Episode 153 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (3)
154 Episode 154 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (4)
155 Episode 155 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (5)
156 Episode 156 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (6)
157 Episode 157 - Kiamat Di Mega Mendung (1)
158 Episode 158 - Kiamat Di Mega Mendung (2)
159 Episode 159 - Kiamat Di Mega Mendung (3)
160 Episode 160 - Kiamat Di Mega Mendung (4)
161 Episode 161 - Kiamat Di Mega Mendung (5)
162 Episode 162 - Kiamat Di Mega Mendung (6)
163 Episode 163 - Kiamat Di Mega Mendung (7)
164 Episode 164 - Kiamat Di Mega Mendung (8)
165 Episode 165 - Kiamat Di Mega Mendung (9)
166 Episode 166 - Wangsit Dharmadipa (1)
167 Episode 167 - Perjalanan Menuju Banten
168 Episode 168 - Sesampainya Di Banten...
169 Episode 169 - Wangsit Siliwangi
170 Episode 170 - Menuju Medan Danalaga
171 Episode 171 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (1)
172 Episode 172 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (2)
173 Episode 173 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (3)
174 Episode 174 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (4)
175 Episode 175 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (5)
176 Episode 176 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (6)
177 Episode 177 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (7)
178 Episode 178 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (8)
179 Episode 179 - Perpisahan Yang Terpaksa (1)
180 Episode 180 - Perpisahan Yang Terpaksa (2)
181 Episode 181 - Ikhlas...
182 Episode 182 - Kyai Surakarna (1)
183 Episode 183 - Kyai Surakarna (2)
184 Episode 184 - Kyai Surakarna (3)
185 Episode 185 - Petaka Dari Masa Lalu (1)
186 Episode 186 - Petaka Dari Masa Lalu (2)
187 Episode 187 - Mimpi Kutukan (1)
188 Episode 188 - Mimpi Kutukan (2)
189 Episode 189 - Menghadap Sultan Banten
190 Episode 190 - Wangsit Dharmadipa (2)
191 Episode 191 - Menuju Rajamandala (1)
192 Episode 192 - Menuju Rajamandala (2)
193 Episode 193 - Duka Sang Pendekar (1)
194 Episode 194 - Duka Sang Pendekar (2)
195 Episode 195 - Duka Sang Pendekar (3)
196 Episode 196 - Duka Sang Pendekar (4)
197 Episode 197 - Epilog
198 PENGUMUMAN : Karya Terbaru Author "Elang Mataram"
199 Pengumuman : Karya Author Terbaru "Elang Mataram"
Episodes

Updated 199 Episodes

1
Episode 1 - Prolog
2
Episode 2 - Perjanjian Wasiat Iblis (1)
3
Episode 3 - Perjanjian Wasiat Iblis (2)
4
Episode 4 - Putra Petaka Kabangan
5
Episode 5 - Putri Mega Sari (1)
6
Episode 6 - Putri Mega Sari (2)
7
Episode 7 - Putri Mega Sari (3)
8
Episode 8 - Putri Mega Sari (4)
9
Episode 9 - Dharmadipa (1)
10
Episode 10 - Dharmadipa (2)
11
Episode 11 - Misteri Gunung Patuha (1)
12
Episode 12 - Misteri Gunung Patuha (2)
13
Episode 13 - Rajah Cakra Bisma (1)
14
Episode 14 - Rajah Cakra Bisma (2)
15
Episode 15 - Rajah Cakra Bisma (3)
16
Episode 16 - Rajah Cakra Bisma (4)
17
Episode 17 - Ilmu Teluh Ngareh Jiwa (1)
18
Episode 18 - Ilmu Teluh Ngareh Jiwa (2)
19
Episode 19 - Mimpi Pertanda (1)
20
Episode 20 - Mimpi Pertanda (2)
21
Episode 21 - Pelet Sang Putri (1)
22
Episode 22 - Pelet Sang Putri (2)
23
Episode 23 - Awal Dendam Kesumat (1)
24
Episode 24 - Awal Dendam Kesumat (2)
25
Episode 25 - Duel Dua Saudara (1)
26
Episode 26 - Duel Dua Saudara (2)
27
Episode 27 - Tautan Janji (1)
28
Episode 28 - Tautan Janji (2)
29
Episode 29 - Kyai Supit Pramana (1)
30
Episode 30 - Kyai Supit Pramana (2)
31
Episode 31 - Bisikan Iblis (1)
32
Episode 32 - Bisikan Iblis (2)
33
Episode 33 - Bisikan Iblis (3)
34
Episode 34 - Bisikan Iblis (4)
35
Episode 35 - Bisikan Iblis (5)
36
Episode 36 - Bisikan Iblis (6)
37
Episode 37 - Jaya Laksana (1)
38
Episode 38 - Jaya Laksana (2)
39
Episode 39 - Tabib Dari Tionggoan (1)
40
Episode 40 - Tabib Dari Tionggoan (2)
41
Episode 41 - Tabib Dari Tionggoan (3)
42
Episode 42 - Tabib Dari Tionggoan (4)
43
Episode 43 - Tabib Dari Tionggoan (5)
44
Episode 44 - Tabib Dari Tionggoan (6)
45
Episode 45 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (1)
46
Episode 46 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (2)
47
Episode 47 - Geromobolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (3)
48
Episode 48 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (4)
49
Episode 49 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (1)
50
Episode 50 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (2)
51
Episode 51 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (3)
52
Episode 52 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (4)
53
Episode 53 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (5)
54
Episode 54 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (6)
55
Episode 55 - Cincin Mustika Kalimasada (1)
56
Episode 56 - Cincin Mustika Kalimasada (2)
57
Episode 57 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (1)
58
Episode 58 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (2)
59
Episode 59 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (3)
60
Episode 60 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (4)
61
Episode 61 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (5)
62
Episode 62 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (6)
63
Episode 63 - Guna-Guna Siluman Ular (1)
64
Episode 64 - Guna-Guna Siluman Ular (2)
65
Episode 65 - Guna-Guna Siluman Ular (3)
66
Episode 66 - Guna-Guna Siluman Ular (4)
67
Episode 67 - Ki Patih Balangnipa (1)
68
Episode 68 - Ki Patih Balangnipa (2)
69
Episode 69 - Perpisahan Di Persimpangan (1)
70
Episode 70 - Perpisahan Di Persimpangan (2)
71
Episode 71 - Siasat Sang Pendekar (1)
72
Episode 72 - Siasat Sang Pendekar (2)
73
Episode 73 - Siasat Sang Pendekar (3)
74
Episode 74 - Siasat Sang Pendekar (4)
75
Episode 75 - Cermin Noda (1)
76
Episode 76 - Cermin Noda (2)
77
Episode 77 - Cermin Noda (3)
78
Episode 78 - Cermin Noda (4)
79
Episode 79 - Pangeran Adipati Bogaseta (1)
80
Episode 80 - Pangeran Adipati Bogaseta (2)
81
Episode 81 - Tersibaknya Tabir (1)
82
Episode 82 - Tersibaknya Tabir (2)
83
Episode 83 - Tersibaknya Tabir (3)
84
Episode 84 - Tersibaknya Tabir (4)
85
Episode 85 - Kepekatan Dalam Dendam (1)
86
Episode 86 - Kepekatan Dalam Dendam (2)
87
Episode 87 - Dalam Kebeningan Cinta Kasih (1)
88
Episode 88 - Dalam Kebeningan Cinta Kasih (2)
89
Episode 89 - Siluman Srigala Putih (1)
90
Episode 90 - Siluman Srigala Putih (2)
91
Episode 91 - Galuh Parwati (1)
92
Episode 92 - Galuh Parwati (2)
93
Episode 93 - Kala Mega Kian Mendung (1)
94
Episode 94 - Kala Mega Kian Mendung (2)
95
Episode 95 - Kala Mega Kian Mendung (3)
96
Episode 96 - Kala Mega Kian Mendung (4)
97
Episode 97 - Kala Mega Kian Mendung (5)
98
Episode 98 - Kala Mega Kian Mendung (6)
99
Episode 99 - Langit Merah di Mega Mendung (1)
100
Episode 100 - Langit Merah Di Mega Mendung (2)
101
Episode 101 - Langit Merah Di Mega Mendung (3)
102
Episode 102 - Langit Merah Di Mega Mendung (4)
103
Episode 103 - Langit Merah Di Mega Mendung (5)
104
Episode 104 - Langit Merah Di Mega Mendung (6)
105
Episode 105 - Pelangi Di Mega Mendung (1)
106
Episode 106 - Pelangi Di Mega Mendung (2)
107
Episode 107 - Keris Kyai Segara Geni (1)
108
Episode 108 - Keris Kyai Segara Geni (2)
109
Episode 109 - Dendam Tak Bertepi (1)
110
Episode 110 - Dendam Tak Bertepi (2)
111
Episode 111 - Pernikahan Sepasang Pendekar (1)
112
Episode 112 - Pernikahan Sepasang Pendekar (2)
113
Episode 113 - Kehidupan Kedua (1)
114
Episode 114 - Kehidupan Kedua (2)
115
Episode 115 - Tumenggung Jaya Laksana (1)
116
Episode 116 - Tumenggung Jaya Laksana (2)
117
Episode 117 - Tumenggung Jaya Laksana (3)
118
Episode 118 - Tumenggung Jaya Laksana (4)
119
Episode 119 - Tumenggung Jaya Laksana (5)
120
Episode 120 - Tumenggung Jaya Laksana (6)
121
Episode 121 - Jin Bagaspati (1)
122
Episode 122 - Jin Bagaspati (2)
123
Episode 123 - Korban Pertama (1)
124
Episode 124 - Korban Pertama (2)
125
Episode 125 - Pesan Pembawa Petaka (1)
126
Episode 126 - Pesan Pembawa Petaka (2)
127
Episode 127 - Pesan Pembawa Petaka (3)
128
Episode 128 - Pesan Pembawa Petaka (4)
129
Episode 129 - Perjalanan Ke Selatan (1)
130
Episode 130 - Perjalanan Ke Selatan (2)
131
Episode 131 - Wasiat Sang Prabu Siliwangi (1)
132
Episode 132 - Wasiat Sang Prabu Siliwangi (2)
133
Episode 133 - Petuah Sang Guru (1)
134
Episode 134 - Petuah Sang Guru (2)
135
Episode 135 - Santun Petaka (1)
136
Episode 136 - Santun Petaka (2)
137
Episode 137 - Sang Rajapati (1)
138
Episode 138 - Sang Rajapati (2)
139
Episode 139 - Racun Raja Kobra Hitam (1)
140
Episode 140 - Racun Raja Kobra Hitam (2)
141
Episode 141 - Racun Raja Kobra Hitam (3)
142
Episode 142 - Racun Raja Kobra Hitam (4)
143
Episode 143 - Akhir Sebuah Mimpi (1)
144
Episode 144 - Akhir Sebuah Mimpi (2)
145
Episode 145 - Ajian Bajra Panjara
146
Episode 146 - Panglima Gandawijaya
147
Episode 147 - Sirnanya Wahyu Keprabon
148
Episode 148 - Uga Siliwangi
149
Episode 149 - Langkah Pertama Banten...
150
Episode 150 - Wangsit Sang Dewi
151
Episode 151 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (1)
152
Episode 152 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (2)
153
Episode 153 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (3)
154
Episode 154 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (4)
155
Episode 155 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (5)
156
Episode 156 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (6)
157
Episode 157 - Kiamat Di Mega Mendung (1)
158
Episode 158 - Kiamat Di Mega Mendung (2)
159
Episode 159 - Kiamat Di Mega Mendung (3)
160
Episode 160 - Kiamat Di Mega Mendung (4)
161
Episode 161 - Kiamat Di Mega Mendung (5)
162
Episode 162 - Kiamat Di Mega Mendung (6)
163
Episode 163 - Kiamat Di Mega Mendung (7)
164
Episode 164 - Kiamat Di Mega Mendung (8)
165
Episode 165 - Kiamat Di Mega Mendung (9)
166
Episode 166 - Wangsit Dharmadipa (1)
167
Episode 167 - Perjalanan Menuju Banten
168
Episode 168 - Sesampainya Di Banten...
169
Episode 169 - Wangsit Siliwangi
170
Episode 170 - Menuju Medan Danalaga
171
Episode 171 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (1)
172
Episode 172 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (2)
173
Episode 173 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (3)
174
Episode 174 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (4)
175
Episode 175 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (5)
176
Episode 176 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (6)
177
Episode 177 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (7)
178
Episode 178 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (8)
179
Episode 179 - Perpisahan Yang Terpaksa (1)
180
Episode 180 - Perpisahan Yang Terpaksa (2)
181
Episode 181 - Ikhlas...
182
Episode 182 - Kyai Surakarna (1)
183
Episode 183 - Kyai Surakarna (2)
184
Episode 184 - Kyai Surakarna (3)
185
Episode 185 - Petaka Dari Masa Lalu (1)
186
Episode 186 - Petaka Dari Masa Lalu (2)
187
Episode 187 - Mimpi Kutukan (1)
188
Episode 188 - Mimpi Kutukan (2)
189
Episode 189 - Menghadap Sultan Banten
190
Episode 190 - Wangsit Dharmadipa (2)
191
Episode 191 - Menuju Rajamandala (1)
192
Episode 192 - Menuju Rajamandala (2)
193
Episode 193 - Duka Sang Pendekar (1)
194
Episode 194 - Duka Sang Pendekar (2)
195
Episode 195 - Duka Sang Pendekar (3)
196
Episode 196 - Duka Sang Pendekar (4)
197
Episode 197 - Epilog
198
PENGUMUMAN : Karya Terbaru Author "Elang Mataram"
199
Pengumuman : Karya Author Terbaru "Elang Mataram"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!