Episode 3 - Perjanjian Wasiat Iblis (2)

Gunung Patuha adalah suatu gunung yang dianggap sangat angker oleh banyak rakyat di Bumi Pasundan kala itu. Belum ada seorang pun yang berani menjamah apalagi menempati Gunung yang masih perawan tersebut sebagai tempat tinggalnya. Jangankan ada yang berani menghuni atau bercocok tanam, mengambil kayu saja atau memungut sebatang rumput pun tidak ada yang berani.

Puncak gunung itu berupa danau kawah yang putih yang selalu mengepulkan asap putih, tidak ada seekor burung atau seranggapun yang berani melintas di sana, mereka pasti mati bila melintas diatas kawah tersebut! Gunung itu dikenal angker dan banyak dihuni oleh mahluk-mahluk ghaib yang jahat dan tidak bersahabat dengan manusia, namun ada suatu desas-desus bahwa diatas puncak gunung Patuha yang berupa danau kawah putih itu, dihuni oleh dua orang pertapa sakti penganut ilmu hitam yang sangat ditakuti oleh masyarakat Pasundan.

Tidak jelas identitas mereka sebenarnya, namun bagi yang pernah mendengar nama besar mereka yang sangat angker, mengenal dua pertapa sesat itu dengan nama Topeng Setan dan satu lagi seorang nenek iblis teluh yang bernama Nyai Lakbok.

Pada suatu malam di sekitar gunung Patuha, terjadi satu pemandangan yang mengerikan bagi siapa saja yang menyaksikan. Bagaimana tidak? Di malam buta ketika tak ada rembulan dan langit tidak pula berbintang, di bawah kepekatan yang menghitam gelap disertai hembusan angin mencucuk dingin, ditambah dengan turunnya hujan rintik-rintik, seekor kuda hitam dengan ditunggangi seorang pria muda berlari kencang menuju puncak Gunung Patuha. Sambil lari binatang ini tiada hentinya keluarkan suara meringkik keras dari sela mulutnya yang berbusa.

Menjelang dinihari, kuda hitam itu mencapai puncak gunung yang sangat curam dan perjalanan tak mungkin diteruskan dengan menunggangi binatang itu. Menyadari hal tersebut, pria penunggang kuda itu yang tak lain adalah Prabu Kertapati turun dari kudanya. Setelah melepas pergi hewan tunggangannya itu, dia lalu bersidekap bersemedi sambil berdiri merapal ajiannya dan memusatkan pikirannya. Sebelum menggerakan tubuhnya lagi dia berkata dengan suara pelan namun jelas “Kepada seluruh penghuni Gunung Patuha yang keramat, hamba Kertapati prabu Mega Mendung mohon untuk diizinkan lewat, hamba ingin bertemu dengan penghuni puncak gunung ini, hamba rela menyerahkan apapun yang hamba miliki sebagai balasannya, punten!”

Seolah mengerti dengan ucapan Prabu Kertapati, alam disekitar sana menunjukan suatu keanehan, angin kencang yang dingin mencucuk tulang tiba-tiba bertiup dahsyat! Ranting-ranting pohon yang besar banyak yang berderak patah, pohon-pohon besar seakan hendak tercabut dari akarnya! Lalu terjadilah sebuah keanehan, udara dan langit dihadapan Prabu Kertapati bergetar hebat, lalu terbukalah suatu tabir ghaib di udara kosong itu, dengan jantung berdebar Prabu Kertapati masuk kedalam tabir tersebut.

Anehnya didalam tabir itu seolah-olah hanya nampak hutan biasa, sama seperti hutan yang tadi sebelum masuk kedalam tabir itu, tapi Prabu Kertapati dapat merasakan aura yang berbeda, belasan pasang mata seolah sedang memperahtikannya dengan buas, dengan menenangkan diri lalu mengucap punten, Prabu Kertapati mengerahkan seluruh tenaga dalamnya pada kedua kakinya lalu melesat menuju keatas puncak gunung!

Beberapa saat kemudian, sampailah Prabu Kertapati keatas puncak gunung Patuha. Nampaklah seorang nenek tua renta mengenakan tongkat, berpakaian hitam-hitam, rambutnya putih disanggul keatas, bermata merah melotot dan mulutnya merah mengunyah sirih, tampangnya sangat menakutkan! Prabu Kertapati dapat merasakan getaran aneh yang sangat kuat dari si nenek sehingga membuanya gentar.

"Siapa yang mengantar nyawa berani datang ke tempatku tanpa diundang?!" Tanya Nenek itu dengan suara bergetar. Prabu Kertapati terkejut bukan main, jantungnya berdegup kencang, tanah yang dipijaknya seolah bergetar oleh ucapan si Nenek, tanda tenaga dalam si nenek sungguh luar biasa.

Prabu Kertapati lalu berusaha menenangkan diri, "Saya Prabu Kertapati. Raja dari negeri Mega Mendung. Ingin bertemu dengan pertapa sakti bernama Topeng Setan dan Nyai Lakbok. Kabarnya beliau adalah penghuni goa ini!"

Si nenek menyeringai menakutkan, “Kau bisa menembus tabir, berarti kau cukup lumayan hingga diizinkan lewat oleh para penghuni ghaib Gunung Patuha dihutan, sekarang katakan apa keperluanmu!"

"Saya datang untuk mohon diambil jadi murid!" jawab Kertapati sambil membungkuk memberi hormat.

Si Nenek tertawa mengkikik menegangkan bulu roma “Hihihi… Aku Nyai Lakbok tidak pernah berniat untuk mengangkat seorang murid laki-laki, aku hanya mengangkat murid perempuan untuk kuajari ilmu teluh Ngareh Jiwa! Sekarang minggat sana kau!”

Prabu Kertapati terkejut dengan ucapan si Nenek, tapi tiba-tiba terdengar suara tawa yang lebih dahsyat daripada tawa si nenek, habis tawa yang seolah mengguncangkan seluruh gunung Patuha, terdengar suara serak dan parau yang besar dari dalam Goa yang berada di tepi kawah putih “Hahaha… Adikku Nyai Lakbok, ini adalah tamuku, aku sudah menantikannya beberapa purnama terakhir ini! Persilahkan dia masuk!”

Si Nenek mendelik membuat Prabu Kertapati bergidik ketakutan, “Ayo masuk!” ucapnya dengan kasar, lalu Prabu Kertapati pun mengikuti si nenek dari belakang masuk kedalam goa tersebut.

Didalam goa yang remang yang hanya mendapat cahaya dari sebuah obor, duduklah sesosok tubuh tinggi besar berjubah hitam-hitam, kuku ditangannya panjang-panjang dan berwarna hitam, rambutnya gondrong acak-acakan sebahu, kemudian baru nampaklah wajahnya dari balik kegelapan, ternyata wajahnya ditutupi oleh sebuah topeng yang sangat mengerikan!

Topeng itu berwarna hitam kecuali dibagian matanya yang bolong berwarna merah darah, dibagian atas alis kiri-kanan ada tanduk yang mencuat keluar, tepat dibagian bibirnya terdapat dua buah taring yang sejajar dengan masing-masing tanduk diatasnya, dibagian keningnya mengkerut tiga buah garis bagaikan orang yang sedang mengernyitkan keningnya, topeng itu tampak menyeringai, sementara dibagian matanya yang bolong, nampak dua buah bola mata yang melotot merah dari dalam wajah si pemiliknya.

Prabu Kertapati sangat ketakutan melihat sosok itu, hampir saja ia jatuh lemas karena ketakutan, namun karena ia sudah nekat sebab keadaanya yang sangat kepepet ia memberanikan diri menatap sosok mengerikan yang duduk dihadapannya. Kembali suara serak yang menggetarkan goa itu bersuara “Aku sudah tahu maksud dari kedatanganmu, aku sudah mendapat bisikan ghaib dari beberapa purnama silam, tapi sebelum aku memberikan apa yang kamu mau, apakah kau membawakan sesuatu untukku?”

Prabu Kertapati membuka bungkusan yang tadi ia lilitkan di punggungnya, bungkusan kain itu belumuran darah, didalam kain itu terdapat sebuah jantung bayi laki-laki yang dibungkus lagi oleh daun pisang “Aku mohon ampun apabila apa yang aku persembahkan pada Eyang ini kurang berkenan di hati eyang” ucapnya pelan sambil menatap kebawah.

Topeng Setan tertawa melihat jantung bayi itu “Hahaha! Kau tepat membawakan aku jantung bayi laki-laki yang berusia tujuh hari!” Prabu Kertapati menarik nafas lega, dia tahu syarat untuk menemui Topeng Setan adalah jantung bayi yang masih berusia tujuh hari.

“Aku sudah tahu maksudmu, tapi katakanlah lagi, apa maksud kedatanganmu kemari!”

“Ampun Eyang, aku ingin meminta bantuan Eyang Topeng Setan dan Eyang Nyai Lakbok agar aku dapat menguasai seluruh tanah Pasundan ini di bawah kekuasaan Mega Mendung… Namun sebelumnya aku mohon bantuan Eyang untuk membebaskan Mega Mendung dari cengkraman pasukan Padjadjaran”.

Topeng Setan memanggut-manggut “Baik, aku akan memberimu bantuan kekuatan untuk dapat merebut kembali Mega Mendung dan membantumu untuk menguasai seluruh tanah Pasundan ini, tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi dalam satu bentuk perjanjian!”

“Apa itu, Eyang?”

“Kau harus tahu bahwa perjanjian yang bernama ‘Perjanjian Wasiat Iblis’ ini akan terus berlaku sampai anak keturunanmu, jadi anak keturunanmu juga akan memikul beban dari perjanjian! Syaratnya kau harus mengorbankan bayi laki-laki putra sulungmu! Kau harus memberikan jantung bayi putra sulungmu itu padaku! Dan ini berlaku bagi seluruh keturunanmu, seluruh keturunanmu harus mempersembahkan jantung bayi laki-laki sulung! Kalau tidak, seluruh keluarga dan keturunanmu akan tertimpa bencana malapetaka! Sebagai tanda jadi, aku juga minta kau harus membunuh selirmu yang juga sedang hamil!”

Prabu Kertapati terkesiap mendengar persyaratan tersebut, ia langsung teringat pada istrinya yang sedang hamil tua, Topeng Setan menyeringai “Kau bersedia atau tidak?! Kalau kau bersedia, niscaya seluruh Pasundan akan tunduk di bawah kakimu, tapi kalau kau menolaknya, nyawamu hanya sampai disini saja!”

Mengingat kondisinya yang sudah makin kepepet maka terpaksa Prabu Kertapati menurutinya, “Baiklah Eyang hamba setuju!”

“Bagus! Sekarang seluruh balad mahluk halus di Gunung Patuha ini menjadi bala tentaramu, dengan kekuatan kami, kau akan dapat merebut kembali negerimu dengan mudah!”

Prabu Kertapati pun bersujud pada topeng setan “Terimakasih Eyang”.

Malam itu juga Prabu Kertapati menuruni gunung Patuha, dengan kurir rahasianya dia menghubungi Patih Ki Balangnipa untuk bersiap-siap mengumpulkan kekuatan. Prabu Kertapati juga mengajak beberapa perguruan golongan hitam untuk bergabung dengannya. Pada waktu yang ditentukan, mereka pun menyerang pasukan Padjadjaran yang berada di Rajamandala dan seluruh Mega Mendung.

Berkat batuan para tokoh silat golongan hitam dan pasukan ghaib serta ilmu hitam Topeng Setan dan Nyai Lakbok, Prabu Kertapati berhasil memukul mundur pasukan Padjadjaran dengan mudah. Tumenggung Aryakerta pemimpin pasukan Padjadjaran mati dengan mengenaskan, sementara seluruh sisa pasukan Padjadjaran yang mundur mati setelah sebelumnya menderita suatu penyakit aneh berkat teluh Nyai Lakbok yang dahsyat itu.

Demikianlah Mega Mendung dikuasai kembali oleh Prabu Kertapati. Namun Prabu Kertapati berubah perangainya menjadi seorang raja yang bertangan besi dan senang berperang. Kendati beberapa kerajaan di pedalaman Pasundan dapat ia taklukan dengan mudah, kehidupan rakyat Mega Mendung malah berubah drastis. Rakyat menjadi banyak yang menderita akibat raja yang gemar mengobarkan perang.

 

 

***

 

 

Pada satu Malam purnama ketiga, suasana hening senyap, langit tiada berbintang dan bulan purnama pun nampak tertutup awan tipis. Tidak seperti biasanya, bulan purnama itu berwarna merah keemasan, tidak berwarna putih, sehingga bulan purnama bercahaya merah keemasan yang tertutup oleh sekumpulan awan putih tipis itu nampak sangat menakutkan bagi orang-orang yang melihatnya, tidak ada suara binatang-binatang malam pada malam itu, yang terdengar hanya suara koakan burung-burung gagak dan srigala-srigala di hutan.

Udara malam yang seharusnya dingin sejuk, kala itu berubah mendadak menjadi panas dan sangat lembab, anehnya udara lebih panas daripada siang siang hari. Sejak senja tadi orang-orang sudah tidak ada yang berani keluar, bahkan para pemuda yang biasanya suka meronda malam, tidak ada yang berani untuk meronda. Para penduduk negeri Mega Mendung tidak ada yang berani keluar ataupun hanya sekedar melongok dari jendela rumahnya. Fenomena alam yang serba aneh dan mengerikan Inilah yang menurut orang tua dimasa lalu dinamakan peristiwa Bulan Kabangan.

Begitu pula halnya dengan keadaan di Keraton Mega Mendung, sebuah negeri yang telah menerima masuknya Islam namun sistem ketatanegaraannya masih bercorak Hindu-Budha, walaupun kebanyakan penduduknya memeluk agama leluhur (yang juga sudah mulai ditinggalkan berganti memeluk Islam). Meskipun keadaan di sana nampak sangat sepi tidak seperti malam-malam biasanya, keadaan di sana nampak terang benderang dari lampu-lampu yang dipasang disetiap sudut dan jalan Keraton, para prajurit tetap berada di posnya masing-masing untuk menjaga keamanan Keraton.

“Malam yang aneh dan menakutkan, jarang-jarang terjadi peristiwa Bulan Kabangan beberapa tahun ini, bahkan selama dua puluh tahun hidupku, aku belum pernah melihatnya” ucap salah seorang prajurit dari dua penjaga gapura pintu gerbang keraton pada temannya.

“Kau benar, bulu kudukku juga berdiri melihat peristiwa ini, apalagi kudengar suara kaokan burung gagak dan lolongan anjing hutan... Bukan itu bukan anjing hutan, tapi lolongan srigala yang tiada hentinya... Menurut orang tua dulu, Bulan Kabangan adalah suatu pertanda tidak baik, akan peristiwa buruk atau suatu malapetaka!” sahut kawannya.

“Kalau kau berkata begitu, aku jadi khawatir dengan keadaan kita dan nasib seluruh negeri ini, esok lusa kita akan menggempur kerajaan Sancang diselatan sana, bagaimana kalau kita kalah dan Sancang balas menyerbu Negeri kita? Belum lagi kalau Padjadjaran menyerbu kita karena jelas-jelas Raja kita berontak pada kekuasaan Prabu Surawisesa! Atau yang lebih buruk lagi kalau gabungan pasukan Banten dan Cirebon yang menyerang!”

“Boleh jadi, tapi sebaiknya kita tidak terlalu mengkhawatirkan semua itu, Raja kita adalah Raja yang sangat sakti mandraguna, apalagi kita dibantu oleh tokoh-tokoh silat sakti dari daerah selatan.”

“Tapi aku tetap merasa tidak tenang Kang!” balas kawannya yang masih nampak gelisah dan ketakutan karena peristiwa bulan kabangan ini.

“Kalau begitu kau harus yakin pada takdir Gusti Allah, kalau Gusti Allah menghendaki kita menang, kita pasti akan menang!” ujar kawannya membesarkan hati kawan jaganya itu.

“Justru itulah yang aku takuti Kang, sudah satu tahun ini, semenjak gusti Prabu senang bertapa, dia tidak mengizinkan adzan berkumandang di Kotaraja ini, itu artinya kita juga dilarang untuk beribadah shalat padahal itu adalah kewajiban kita selaku umat muslim! Bukankah Sang Prabu sudah menerima dan mengizinkan Islam menyebar di Mega Mendung ini, kenapa dia melarang kita beribadah?! Apalagi tokoh-tokoh silat yang membantu kita dari golongan hitam semua yang sesat! Aku khawatir peristiwa Bulan Kabangan ini adalah suatu pertanda yang akan melanda kita semua!”

“Ssst.... Hati-hati kalau bicara!” desis kawannya sambil menempelkan jari telunjuknya pada mulutnya, “Kita ini hanya orang kecil saja yang harus tunduk pada Raja kita, kita ini hanya prajurit yang harus mengikuti semua perintah raja kita! Sudah, waktu jaga kita sudah habis, sebaiknya kita beristirahat untuk perjalanan esok ke Sancang, jangan bicarakan hal ini lagi agar tidak menjadi sugesti buat kita!”

Kawannya hanya bisa mengangguk-ngangguk saja walaupun kegelisahan masih nampak jelas diwajahnya “Baiklah Kang, ayo kita beristirahat, itu para prajurit pengganti sudah datang”. Merekapun lalu berlalu setelah dua orang prajurit pengganti datang menggantikan tugas mereka.

Asap dupa membumbung tinggi menghamparkan aroma dupa bercampur kemenyan. dihadapan pendupaan besar itu, duduk seorang pria berkumis melintang, berpakaian ringkas hitam, rambutnya yang panjang digelung keatas kepalanya. Mata pria ini terpejam, dia duduk dengan sikap semedi. Pria itu tak lain adalah Kertapati, sang Prabu dari kerajaan Mega Mendung yang saat ini sudah mulai berani secara terang-terangan memberontak pada kerajaan Padjadjaran setelah sebelumnya dia hanya berani menunjukan sikap pembangkangannya pada Prabu Surawisesa dengan hanya telat menyerahkan upeti bulu bekti dan mengurangi jumlah upetinya pada Kotaraja dengan berbagai alasan.

Sudah tiga hari tiga malam dia bersemedi di ruangan pusaka kerajaan. Dia bersemedi ditengah-tengah ruangan pusaka kerajaan dengan dikelilingi berbagai benda dan senjata pusaka milik kerajaan Mega Mendung, tidak ada seorangpun yang berani mengganggu semedi sang Prabu. Dalam khusuknya semedi Sang Prabu, tiba-tiba angin deras berseoran di ruangan pusaka kerajaan itu dengan suara yang menggidikan, lalu terdengar suara ringkikan-ringkikan dan tawa yang menyeramkan tak tahu darimana asalnya, semua benda-benda pusaka di ruangan itu bergoyang-goyang!

Di antara keanehan-keanehan tersebut, tiba-tiba sebilah keris yang berada dihadapan Sang Prabu melayang keudara, lalu berputar-putar sebanyak tujuh kali diatas kepala Sang Prabu. Perlahan Sang Prabu membuka kedua matanya, diambilnya serangkum bunga tujuh rupa dari sebelahnya lalu dimasukan kedalam bara pendupaan, sehingga kini aroma pendupaan itu bercampur juga dengan aroma bunga tujuh rupa. Saat itu juga keris yang tadi melayang-layang dan berputar-putar diatas kepalanya turun keatas pangkuannya.

Sang Prabu mengambil keris itu dan disentuhkan ke keningnya, lalu dia membuka keris itu dari sarung atau warangkanya, keris itu berhulu gading, terbuat dari baja berumur seribu tahun dari dasar kawah gunung Krakatau, bereluk sembilan, ditengahnya tergambar ukiran naga dan ujung runcing keris itu tepat merupakan ujung lidah naga yang menjulurkan lidahnya di ukiran keris tersebut. Keris itu mengeluarkan hawa yang sangat panas serta sinar terang berwarna biru menggidikan! Seluruh ruangan yang tadinya redup yang hanya diterangi oleh empat buah lampu kecil disetiap sudut ruangan kini menjadi terang berwarna biru akibat cahaya yang keluar dari keris yang menandakan bahwa keris itu bukan suatu senjata mustika biasa!

Sang prabu lalu mencium bagian tengah keris itu, lalu dia berkata “wahai keris Kyai Segara Geni, mustika yang telah turun temurun melindungi trah penguasa Kerajaan Mega Mendung, tolonglah berikan kekuatanmu padaku untuk mengalahkan semua musuh-musuhku! Lindungilah kami para penduduk Mega Mendung!”, sekejap keluar api berwarna biru dari dalam tubuh keris itu bagaikan membakar tubuh keris itu, sesaat kemudian api berwarna biru itu pun padam. Setelah mengucapkan itu, dia menyimpan kembali keris pusaka tersebut pada sarungnya dan disentuhkan lagi pada keningnya sambil membungkuk, seolah dia bersujud pada keris pusaka tersebut.

Baru saja dia selesai, tiba-tiba terdengar suara serak dan parau yang besar dari sebuah sudut ruangan yang gelap “Bagus Prabu! Sekarang Eyang dialam Arwah sudah merestui dirimu untuk menjadi penerusnya, dia berjanji akan melindungi seluruh daerah kekuasaan Mega Mendung!”

Sang Prabu membalikan tubuhnya dan memandang kearah suara itu. Sesosok tubuh tinggi besar berjubah hitam-hitam serta mengenakan topeng berwajah setan yang amat menyeramkan tiba-tiba muncul di sebuah sudut ruangan tersebut yang sangat gelap.

Sang Prabu usap-usap kumisnya yang melintang dan dagunya, dia lalu membuka mulutnya “Tentu saja itu yang aku harapkan Eyang Topeng Setan,” ucapnya pada orang bertopeng mengerikan itu.

“Tapi kau harus ingat Prabu, kau baru membunuh salah seorang selirmu yang sedang hamil saja, kau juga harus membunuh putra sulungmu dari permaisuri tuamu yang akan segera lahir dalam malam ini sebagai tumbal! Baru Eyang di alam arwah akan merestui dan membantumu untuk menghancurkan Cirebon dan Banten, sehingga kau dapat menguasai seluruh tanah Pasundan ini!”

Sang Prabu mangut-mangut, dipelupuk matanya masih tergambar jelas bagaimana dia membunuh selirnya yang sedang hamil empat bulan dengan pedang pusakanya sendiri yang dia lakukan dengan terpaksa, ditengah rasa bimbang karena hausnya ia akan kekuasaan! Kini si Topeng Setan yang menjadi perantara antara dirinya dengan Eyang Di Alam Arwah yang berjanji untuk membantunya, meminta tumbal yang kedua, yaitu membunuh anak sulungnya yang akan segera lahir, begitu bayi itu dilahirkan, dia harus langsung membunuhnya! “Ya tentu saja aku ingat Topeng Setan,” jawabnya.

“Bagus! Sekarang susunlah rencanamu untuk menyerang Negeri Sancang, Eyang di Alam Arwah akan membantumu sehingga kau akan menang dengan mudah! Tujuh hari dimuka setelah kau menghancurkan Sancang, kau harus segera membunuh bayi putra sulungmu itu!” tukas si Topeng Setan yang lalu menghilang bagaikan asap ditiup angin. Sang Prabu bangun dari duduknya lalu melangkah keluar dari ruangan pusaka itu.

 

 

Terpopuler

Comments

Syamsu Alam

Syamsu Alam

seorang raja jdi iblis demi ambisinya

2021-07-02

1

🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️

🍭ͪ ͩ𝕸y💞🅰️nnyᥫ᭡🍁❣️

wow.... tumbal ngerii...

2021-02-17

2

Mc J@ger

Mc J@ger

harusnya jgn pakai kata lampu....pakai kata
obor...teplok ...sentir ...atau apalah sesuai zamannya....

2020-10-14

4

lihat semua
Episodes
1 Episode 1 - Prolog
2 Episode 2 - Perjanjian Wasiat Iblis (1)
3 Episode 3 - Perjanjian Wasiat Iblis (2)
4 Episode 4 - Putra Petaka Kabangan
5 Episode 5 - Putri Mega Sari (1)
6 Episode 6 - Putri Mega Sari (2)
7 Episode 7 - Putri Mega Sari (3)
8 Episode 8 - Putri Mega Sari (4)
9 Episode 9 - Dharmadipa (1)
10 Episode 10 - Dharmadipa (2)
11 Episode 11 - Misteri Gunung Patuha (1)
12 Episode 12 - Misteri Gunung Patuha (2)
13 Episode 13 - Rajah Cakra Bisma (1)
14 Episode 14 - Rajah Cakra Bisma (2)
15 Episode 15 - Rajah Cakra Bisma (3)
16 Episode 16 - Rajah Cakra Bisma (4)
17 Episode 17 - Ilmu Teluh Ngareh Jiwa (1)
18 Episode 18 - Ilmu Teluh Ngareh Jiwa (2)
19 Episode 19 - Mimpi Pertanda (1)
20 Episode 20 - Mimpi Pertanda (2)
21 Episode 21 - Pelet Sang Putri (1)
22 Episode 22 - Pelet Sang Putri (2)
23 Episode 23 - Awal Dendam Kesumat (1)
24 Episode 24 - Awal Dendam Kesumat (2)
25 Episode 25 - Duel Dua Saudara (1)
26 Episode 26 - Duel Dua Saudara (2)
27 Episode 27 - Tautan Janji (1)
28 Episode 28 - Tautan Janji (2)
29 Episode 29 - Kyai Supit Pramana (1)
30 Episode 30 - Kyai Supit Pramana (2)
31 Episode 31 - Bisikan Iblis (1)
32 Episode 32 - Bisikan Iblis (2)
33 Episode 33 - Bisikan Iblis (3)
34 Episode 34 - Bisikan Iblis (4)
35 Episode 35 - Bisikan Iblis (5)
36 Episode 36 - Bisikan Iblis (6)
37 Episode 37 - Jaya Laksana (1)
38 Episode 38 - Jaya Laksana (2)
39 Episode 39 - Tabib Dari Tionggoan (1)
40 Episode 40 - Tabib Dari Tionggoan (2)
41 Episode 41 - Tabib Dari Tionggoan (3)
42 Episode 42 - Tabib Dari Tionggoan (4)
43 Episode 43 - Tabib Dari Tionggoan (5)
44 Episode 44 - Tabib Dari Tionggoan (6)
45 Episode 45 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (1)
46 Episode 46 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (2)
47 Episode 47 - Geromobolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (3)
48 Episode 48 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (4)
49 Episode 49 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (1)
50 Episode 50 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (2)
51 Episode 51 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (3)
52 Episode 52 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (4)
53 Episode 53 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (5)
54 Episode 54 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (6)
55 Episode 55 - Cincin Mustika Kalimasada (1)
56 Episode 56 - Cincin Mustika Kalimasada (2)
57 Episode 57 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (1)
58 Episode 58 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (2)
59 Episode 59 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (3)
60 Episode 60 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (4)
61 Episode 61 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (5)
62 Episode 62 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (6)
63 Episode 63 - Guna-Guna Siluman Ular (1)
64 Episode 64 - Guna-Guna Siluman Ular (2)
65 Episode 65 - Guna-Guna Siluman Ular (3)
66 Episode 66 - Guna-Guna Siluman Ular (4)
67 Episode 67 - Ki Patih Balangnipa (1)
68 Episode 68 - Ki Patih Balangnipa (2)
69 Episode 69 - Perpisahan Di Persimpangan (1)
70 Episode 70 - Perpisahan Di Persimpangan (2)
71 Episode 71 - Siasat Sang Pendekar (1)
72 Episode 72 - Siasat Sang Pendekar (2)
73 Episode 73 - Siasat Sang Pendekar (3)
74 Episode 74 - Siasat Sang Pendekar (4)
75 Episode 75 - Cermin Noda (1)
76 Episode 76 - Cermin Noda (2)
77 Episode 77 - Cermin Noda (3)
78 Episode 78 - Cermin Noda (4)
79 Episode 79 - Pangeran Adipati Bogaseta (1)
80 Episode 80 - Pangeran Adipati Bogaseta (2)
81 Episode 81 - Tersibaknya Tabir (1)
82 Episode 82 - Tersibaknya Tabir (2)
83 Episode 83 - Tersibaknya Tabir (3)
84 Episode 84 - Tersibaknya Tabir (4)
85 Episode 85 - Kepekatan Dalam Dendam (1)
86 Episode 86 - Kepekatan Dalam Dendam (2)
87 Episode 87 - Dalam Kebeningan Cinta Kasih (1)
88 Episode 88 - Dalam Kebeningan Cinta Kasih (2)
89 Episode 89 - Siluman Srigala Putih (1)
90 Episode 90 - Siluman Srigala Putih (2)
91 Episode 91 - Galuh Parwati (1)
92 Episode 92 - Galuh Parwati (2)
93 Episode 93 - Kala Mega Kian Mendung (1)
94 Episode 94 - Kala Mega Kian Mendung (2)
95 Episode 95 - Kala Mega Kian Mendung (3)
96 Episode 96 - Kala Mega Kian Mendung (4)
97 Episode 97 - Kala Mega Kian Mendung (5)
98 Episode 98 - Kala Mega Kian Mendung (6)
99 Episode 99 - Langit Merah di Mega Mendung (1)
100 Episode 100 - Langit Merah Di Mega Mendung (2)
101 Episode 101 - Langit Merah Di Mega Mendung (3)
102 Episode 102 - Langit Merah Di Mega Mendung (4)
103 Episode 103 - Langit Merah Di Mega Mendung (5)
104 Episode 104 - Langit Merah Di Mega Mendung (6)
105 Episode 105 - Pelangi Di Mega Mendung (1)
106 Episode 106 - Pelangi Di Mega Mendung (2)
107 Episode 107 - Keris Kyai Segara Geni (1)
108 Episode 108 - Keris Kyai Segara Geni (2)
109 Episode 109 - Dendam Tak Bertepi (1)
110 Episode 110 - Dendam Tak Bertepi (2)
111 Episode 111 - Pernikahan Sepasang Pendekar (1)
112 Episode 112 - Pernikahan Sepasang Pendekar (2)
113 Episode 113 - Kehidupan Kedua (1)
114 Episode 114 - Kehidupan Kedua (2)
115 Episode 115 - Tumenggung Jaya Laksana (1)
116 Episode 116 - Tumenggung Jaya Laksana (2)
117 Episode 117 - Tumenggung Jaya Laksana (3)
118 Episode 118 - Tumenggung Jaya Laksana (4)
119 Episode 119 - Tumenggung Jaya Laksana (5)
120 Episode 120 - Tumenggung Jaya Laksana (6)
121 Episode 121 - Jin Bagaspati (1)
122 Episode 122 - Jin Bagaspati (2)
123 Episode 123 - Korban Pertama (1)
124 Episode 124 - Korban Pertama (2)
125 Episode 125 - Pesan Pembawa Petaka (1)
126 Episode 126 - Pesan Pembawa Petaka (2)
127 Episode 127 - Pesan Pembawa Petaka (3)
128 Episode 128 - Pesan Pembawa Petaka (4)
129 Episode 129 - Perjalanan Ke Selatan (1)
130 Episode 130 - Perjalanan Ke Selatan (2)
131 Episode 131 - Wasiat Sang Prabu Siliwangi (1)
132 Episode 132 - Wasiat Sang Prabu Siliwangi (2)
133 Episode 133 - Petuah Sang Guru (1)
134 Episode 134 - Petuah Sang Guru (2)
135 Episode 135 - Santun Petaka (1)
136 Episode 136 - Santun Petaka (2)
137 Episode 137 - Sang Rajapati (1)
138 Episode 138 - Sang Rajapati (2)
139 Episode 139 - Racun Raja Kobra Hitam (1)
140 Episode 140 - Racun Raja Kobra Hitam (2)
141 Episode 141 - Racun Raja Kobra Hitam (3)
142 Episode 142 - Racun Raja Kobra Hitam (4)
143 Episode 143 - Akhir Sebuah Mimpi (1)
144 Episode 144 - Akhir Sebuah Mimpi (2)
145 Episode 145 - Ajian Bajra Panjara
146 Episode 146 - Panglima Gandawijaya
147 Episode 147 - Sirnanya Wahyu Keprabon
148 Episode 148 - Uga Siliwangi
149 Episode 149 - Langkah Pertama Banten...
150 Episode 150 - Wangsit Sang Dewi
151 Episode 151 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (1)
152 Episode 152 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (2)
153 Episode 153 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (3)
154 Episode 154 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (4)
155 Episode 155 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (5)
156 Episode 156 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (6)
157 Episode 157 - Kiamat Di Mega Mendung (1)
158 Episode 158 - Kiamat Di Mega Mendung (2)
159 Episode 159 - Kiamat Di Mega Mendung (3)
160 Episode 160 - Kiamat Di Mega Mendung (4)
161 Episode 161 - Kiamat Di Mega Mendung (5)
162 Episode 162 - Kiamat Di Mega Mendung (6)
163 Episode 163 - Kiamat Di Mega Mendung (7)
164 Episode 164 - Kiamat Di Mega Mendung (8)
165 Episode 165 - Kiamat Di Mega Mendung (9)
166 Episode 166 - Wangsit Dharmadipa (1)
167 Episode 167 - Perjalanan Menuju Banten
168 Episode 168 - Sesampainya Di Banten...
169 Episode 169 - Wangsit Siliwangi
170 Episode 170 - Menuju Medan Danalaga
171 Episode 171 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (1)
172 Episode 172 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (2)
173 Episode 173 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (3)
174 Episode 174 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (4)
175 Episode 175 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (5)
176 Episode 176 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (6)
177 Episode 177 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (7)
178 Episode 178 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (8)
179 Episode 179 - Perpisahan Yang Terpaksa (1)
180 Episode 180 - Perpisahan Yang Terpaksa (2)
181 Episode 181 - Ikhlas...
182 Episode 182 - Kyai Surakarna (1)
183 Episode 183 - Kyai Surakarna (2)
184 Episode 184 - Kyai Surakarna (3)
185 Episode 185 - Petaka Dari Masa Lalu (1)
186 Episode 186 - Petaka Dari Masa Lalu (2)
187 Episode 187 - Mimpi Kutukan (1)
188 Episode 188 - Mimpi Kutukan (2)
189 Episode 189 - Menghadap Sultan Banten
190 Episode 190 - Wangsit Dharmadipa (2)
191 Episode 191 - Menuju Rajamandala (1)
192 Episode 192 - Menuju Rajamandala (2)
193 Episode 193 - Duka Sang Pendekar (1)
194 Episode 194 - Duka Sang Pendekar (2)
195 Episode 195 - Duka Sang Pendekar (3)
196 Episode 196 - Duka Sang Pendekar (4)
197 Episode 197 - Epilog
198 PENGUMUMAN : Karya Terbaru Author "Elang Mataram"
199 Pengumuman : Karya Author Terbaru "Elang Mataram"
Episodes

Updated 199 Episodes

1
Episode 1 - Prolog
2
Episode 2 - Perjanjian Wasiat Iblis (1)
3
Episode 3 - Perjanjian Wasiat Iblis (2)
4
Episode 4 - Putra Petaka Kabangan
5
Episode 5 - Putri Mega Sari (1)
6
Episode 6 - Putri Mega Sari (2)
7
Episode 7 - Putri Mega Sari (3)
8
Episode 8 - Putri Mega Sari (4)
9
Episode 9 - Dharmadipa (1)
10
Episode 10 - Dharmadipa (2)
11
Episode 11 - Misteri Gunung Patuha (1)
12
Episode 12 - Misteri Gunung Patuha (2)
13
Episode 13 - Rajah Cakra Bisma (1)
14
Episode 14 - Rajah Cakra Bisma (2)
15
Episode 15 - Rajah Cakra Bisma (3)
16
Episode 16 - Rajah Cakra Bisma (4)
17
Episode 17 - Ilmu Teluh Ngareh Jiwa (1)
18
Episode 18 - Ilmu Teluh Ngareh Jiwa (2)
19
Episode 19 - Mimpi Pertanda (1)
20
Episode 20 - Mimpi Pertanda (2)
21
Episode 21 - Pelet Sang Putri (1)
22
Episode 22 - Pelet Sang Putri (2)
23
Episode 23 - Awal Dendam Kesumat (1)
24
Episode 24 - Awal Dendam Kesumat (2)
25
Episode 25 - Duel Dua Saudara (1)
26
Episode 26 - Duel Dua Saudara (2)
27
Episode 27 - Tautan Janji (1)
28
Episode 28 - Tautan Janji (2)
29
Episode 29 - Kyai Supit Pramana (1)
30
Episode 30 - Kyai Supit Pramana (2)
31
Episode 31 - Bisikan Iblis (1)
32
Episode 32 - Bisikan Iblis (2)
33
Episode 33 - Bisikan Iblis (3)
34
Episode 34 - Bisikan Iblis (4)
35
Episode 35 - Bisikan Iblis (5)
36
Episode 36 - Bisikan Iblis (6)
37
Episode 37 - Jaya Laksana (1)
38
Episode 38 - Jaya Laksana (2)
39
Episode 39 - Tabib Dari Tionggoan (1)
40
Episode 40 - Tabib Dari Tionggoan (2)
41
Episode 41 - Tabib Dari Tionggoan (3)
42
Episode 42 - Tabib Dari Tionggoan (4)
43
Episode 43 - Tabib Dari Tionggoan (5)
44
Episode 44 - Tabib Dari Tionggoan (6)
45
Episode 45 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (1)
46
Episode 46 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (2)
47
Episode 47 - Geromobolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (3)
48
Episode 48 - Gerombolan Pengemis Dari Bukit Tunggul (4)
49
Episode 49 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (1)
50
Episode 50 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (2)
51
Episode 51 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (3)
52
Episode 52 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (4)
53
Episode 53 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (5)
54
Episode 54 - Dewi Pengemis Dari Bukit Tunggul (6)
55
Episode 55 - Cincin Mustika Kalimasada (1)
56
Episode 56 - Cincin Mustika Kalimasada (2)
57
Episode 57 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (1)
58
Episode 58 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (2)
59
Episode 59 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (3)
60
Episode 60 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (4)
61
Episode 61 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (5)
62
Episode 62 - Pendekar Dari Lembah Akhirat (6)
63
Episode 63 - Guna-Guna Siluman Ular (1)
64
Episode 64 - Guna-Guna Siluman Ular (2)
65
Episode 65 - Guna-Guna Siluman Ular (3)
66
Episode 66 - Guna-Guna Siluman Ular (4)
67
Episode 67 - Ki Patih Balangnipa (1)
68
Episode 68 - Ki Patih Balangnipa (2)
69
Episode 69 - Perpisahan Di Persimpangan (1)
70
Episode 70 - Perpisahan Di Persimpangan (2)
71
Episode 71 - Siasat Sang Pendekar (1)
72
Episode 72 - Siasat Sang Pendekar (2)
73
Episode 73 - Siasat Sang Pendekar (3)
74
Episode 74 - Siasat Sang Pendekar (4)
75
Episode 75 - Cermin Noda (1)
76
Episode 76 - Cermin Noda (2)
77
Episode 77 - Cermin Noda (3)
78
Episode 78 - Cermin Noda (4)
79
Episode 79 - Pangeran Adipati Bogaseta (1)
80
Episode 80 - Pangeran Adipati Bogaseta (2)
81
Episode 81 - Tersibaknya Tabir (1)
82
Episode 82 - Tersibaknya Tabir (2)
83
Episode 83 - Tersibaknya Tabir (3)
84
Episode 84 - Tersibaknya Tabir (4)
85
Episode 85 - Kepekatan Dalam Dendam (1)
86
Episode 86 - Kepekatan Dalam Dendam (2)
87
Episode 87 - Dalam Kebeningan Cinta Kasih (1)
88
Episode 88 - Dalam Kebeningan Cinta Kasih (2)
89
Episode 89 - Siluman Srigala Putih (1)
90
Episode 90 - Siluman Srigala Putih (2)
91
Episode 91 - Galuh Parwati (1)
92
Episode 92 - Galuh Parwati (2)
93
Episode 93 - Kala Mega Kian Mendung (1)
94
Episode 94 - Kala Mega Kian Mendung (2)
95
Episode 95 - Kala Mega Kian Mendung (3)
96
Episode 96 - Kala Mega Kian Mendung (4)
97
Episode 97 - Kala Mega Kian Mendung (5)
98
Episode 98 - Kala Mega Kian Mendung (6)
99
Episode 99 - Langit Merah di Mega Mendung (1)
100
Episode 100 - Langit Merah Di Mega Mendung (2)
101
Episode 101 - Langit Merah Di Mega Mendung (3)
102
Episode 102 - Langit Merah Di Mega Mendung (4)
103
Episode 103 - Langit Merah Di Mega Mendung (5)
104
Episode 104 - Langit Merah Di Mega Mendung (6)
105
Episode 105 - Pelangi Di Mega Mendung (1)
106
Episode 106 - Pelangi Di Mega Mendung (2)
107
Episode 107 - Keris Kyai Segara Geni (1)
108
Episode 108 - Keris Kyai Segara Geni (2)
109
Episode 109 - Dendam Tak Bertepi (1)
110
Episode 110 - Dendam Tak Bertepi (2)
111
Episode 111 - Pernikahan Sepasang Pendekar (1)
112
Episode 112 - Pernikahan Sepasang Pendekar (2)
113
Episode 113 - Kehidupan Kedua (1)
114
Episode 114 - Kehidupan Kedua (2)
115
Episode 115 - Tumenggung Jaya Laksana (1)
116
Episode 116 - Tumenggung Jaya Laksana (2)
117
Episode 117 - Tumenggung Jaya Laksana (3)
118
Episode 118 - Tumenggung Jaya Laksana (4)
119
Episode 119 - Tumenggung Jaya Laksana (5)
120
Episode 120 - Tumenggung Jaya Laksana (6)
121
Episode 121 - Jin Bagaspati (1)
122
Episode 122 - Jin Bagaspati (2)
123
Episode 123 - Korban Pertama (1)
124
Episode 124 - Korban Pertama (2)
125
Episode 125 - Pesan Pembawa Petaka (1)
126
Episode 126 - Pesan Pembawa Petaka (2)
127
Episode 127 - Pesan Pembawa Petaka (3)
128
Episode 128 - Pesan Pembawa Petaka (4)
129
Episode 129 - Perjalanan Ke Selatan (1)
130
Episode 130 - Perjalanan Ke Selatan (2)
131
Episode 131 - Wasiat Sang Prabu Siliwangi (1)
132
Episode 132 - Wasiat Sang Prabu Siliwangi (2)
133
Episode 133 - Petuah Sang Guru (1)
134
Episode 134 - Petuah Sang Guru (2)
135
Episode 135 - Santun Petaka (1)
136
Episode 136 - Santun Petaka (2)
137
Episode 137 - Sang Rajapati (1)
138
Episode 138 - Sang Rajapati (2)
139
Episode 139 - Racun Raja Kobra Hitam (1)
140
Episode 140 - Racun Raja Kobra Hitam (2)
141
Episode 141 - Racun Raja Kobra Hitam (3)
142
Episode 142 - Racun Raja Kobra Hitam (4)
143
Episode 143 - Akhir Sebuah Mimpi (1)
144
Episode 144 - Akhir Sebuah Mimpi (2)
145
Episode 145 - Ajian Bajra Panjara
146
Episode 146 - Panglima Gandawijaya
147
Episode 147 - Sirnanya Wahyu Keprabon
148
Episode 148 - Uga Siliwangi
149
Episode 149 - Langkah Pertama Banten...
150
Episode 150 - Wangsit Sang Dewi
151
Episode 151 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (1)
152
Episode 152 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (2)
153
Episode 153 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (3)
154
Episode 154 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (4)
155
Episode 155 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (5)
156
Episode 156 - Maut Bernyanyi Di Mega Mendung (6)
157
Episode 157 - Kiamat Di Mega Mendung (1)
158
Episode 158 - Kiamat Di Mega Mendung (2)
159
Episode 159 - Kiamat Di Mega Mendung (3)
160
Episode 160 - Kiamat Di Mega Mendung (4)
161
Episode 161 - Kiamat Di Mega Mendung (5)
162
Episode 162 - Kiamat Di Mega Mendung (6)
163
Episode 163 - Kiamat Di Mega Mendung (7)
164
Episode 164 - Kiamat Di Mega Mendung (8)
165
Episode 165 - Kiamat Di Mega Mendung (9)
166
Episode 166 - Wangsit Dharmadipa (1)
167
Episode 167 - Perjalanan Menuju Banten
168
Episode 168 - Sesampainya Di Banten...
169
Episode 169 - Wangsit Siliwangi
170
Episode 170 - Menuju Medan Danalaga
171
Episode 171 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (1)
172
Episode 172 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (2)
173
Episode 173 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (3)
174
Episode 174 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (4)
175
Episode 175 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (5)
176
Episode 176 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (6)
177
Episode 177 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (7)
178
Episode 178 - Pajajaran Sirna Ing Bumi (8)
179
Episode 179 - Perpisahan Yang Terpaksa (1)
180
Episode 180 - Perpisahan Yang Terpaksa (2)
181
Episode 181 - Ikhlas...
182
Episode 182 - Kyai Surakarna (1)
183
Episode 183 - Kyai Surakarna (2)
184
Episode 184 - Kyai Surakarna (3)
185
Episode 185 - Petaka Dari Masa Lalu (1)
186
Episode 186 - Petaka Dari Masa Lalu (2)
187
Episode 187 - Mimpi Kutukan (1)
188
Episode 188 - Mimpi Kutukan (2)
189
Episode 189 - Menghadap Sultan Banten
190
Episode 190 - Wangsit Dharmadipa (2)
191
Episode 191 - Menuju Rajamandala (1)
192
Episode 192 - Menuju Rajamandala (2)
193
Episode 193 - Duka Sang Pendekar (1)
194
Episode 194 - Duka Sang Pendekar (2)
195
Episode 195 - Duka Sang Pendekar (3)
196
Episode 196 - Duka Sang Pendekar (4)
197
Episode 197 - Epilog
198
PENGUMUMAN : Karya Terbaru Author "Elang Mataram"
199
Pengumuman : Karya Author Terbaru "Elang Mataram"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!