Cerita ini berawal dari seorang gadis cantik bernama Tari yang sedang melakukan KKN disebuah desa terpencil dipinggir laut. Ia bertemu dengan seorang pemuda yang sedang terjebak di desa itu karena mengalami amnesia.
Mereka pun akhirnya menjalin sebuah hubungan karena merasa saling menyukai, bahkan hubungan mereka sudah melampaui batas sampai Tari bisa hamil anak dari pemuda itu.
Tapi saat pemuda itu ingin mempertanggung jawabkan perbuatannya, ia ditemukan oleh keluarganya yang ternyata adalah pemilik kerajaan bisnis di kota J.
Dan lebih mengejutkan lagi ternyata ia sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menikah, ia terpaksa meminta kakaknya yang sekaligus pewaris utama perusahaan keluarganya untuk menikahi Tari yang saat ini mengandung anaknya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya??? ikuti terus yah novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enni Chaka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegalauan Zafran
Sehabis berselancar di dunia goegle, Zafran kembali ke cottage dan mendapati Tari sedang menelfon dengan kedua sahabatnya.
Ia duduk pada sofa sambil menyilangkan kedua kakinya. Ia sengaja menguping pembicaraan Tari karena merasa penasaran wanita itu yang sesekali terlihat tertawa.
"Kelihatan sekali dia sangat bahagia. Pria seperti apa yang sudah membuatnya jatuh cinta, hingga ia bisa lupa dengan statusnya sekarang. Lihat saja nanti, aku tidak akan mengizinkanmu kemana-mana jika tidak bersamaku." batin Zafran.
Sementara Tari yang sadar sedang diperhatikan oleh Zafran, berfikir lebih baik secepatnya mengakhiri pembicaraan dengan kedua sahabatnya yang saat ini sedang menikmati liburan.
"Cher, udah dulu yah telfonnya. Gua mau bikin sesuatu." ucap Tari asal.
"Mau bikin apaan sih, dedek bayi yah? Kan lu lagi bunting."
"Apaan sih, Cher. Lu kalau ngomong nggak pake saringan banget."
"Yeh... Maaf Nyonya Zafran. Gua kan cuma bercanda."
"Iya... iya... tau."
Ketiga sahabat itu memang sudah seperti saudara sendiri. Mereka tidak akan mudah tersinggung dengan omongan satu sama lain.
"Gua tutup yah telfonnya. Dah..."
"Eh... tunggu... tunggu Tar!" seru Nara.
"Ada apa lagi sih, Nar."
"Sepulang dari sini, kita ketemuan yah. Gua kangen banget ama lu, Tar. Banyak yang gua mau ceritain sama lu. Apa perlu gua izinin sama mas Zafran?"
"Nggak perlu, Nar. Mas Zafran baik kog. Dia pasti ngizinin gua."
Mendengar jawaban Tari, Nara langsung menggoda sahabatnya itu.
"Lu udah mulai suka yah sama manusia salju itu?"
"Apaan sih, Nar. Dia suami gua. Namanya mas Z-a-f-r-a-n."
"Iya, iya, sengsi banget sih tuan putri ini."
"Udah ah, nanti kita lanjut lagi yah, bye!"
Tari memutus sepihak sambungan telfonnya karena ia yakin kedua sahabatnya itu akan terus mengulur-ulur waktu untuk berhenti bicara padahal ia sejak tadi sudah merasa tidak nyaman diperhatikan oleh Zafran.
"Bersiaplah, kita akan pulang hari ini juga."
Tari membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Zafran.
"Loh, mas. Bukannya kamu bilang kita akan pulang besok?"
"Aku berubah fikiran."
Setelah berkata begitu, Zafran berdiri dan kembali berjalan keluar cottage sambil memasukkan kedua tangan di kantong celananya. Sementara Tari masih heran melihat sikap Zafran yang menurutnya seperti Bunglon.
Dengan tarikan nafas berat, Tari akhirnya melakukan perintah Zafran. Meski sebenarnya ia masih enggan untuk pergi dari tempat itu apalagi jika memikirkan akan bertemu Zayn di Mansion saat mereka kembali.
***
Sementara di kantor Faresta Grup, Zayn terlihat sangat sibuk saat seorang wanita dengan kacamata hitam yang lebar masih nangkring indah di hidungnya tiba-tiba masuk dan langsung mengalunkan lengannya pada leher pria itu.
"Sayang, kita makan siang dulu yuk. Jangan kerja terus dong." ucapnya seraya bergelayut manja.
"Tapi aku masih banyak kerjaan, sayang."
"Kerjaannya simpan dulu. Kan masih ada waktu habis makan siang."
Wanita itu kemudian mematikan laptop Zayn dan menutupnya. Apa Zayn marah? Tidak sama sekali, karena ia sangat menyayangi wanita itu yang tak lain adalah Delia, calon istrinya.
Zayn justru mengecup lembut bibir Delia kemudian bangkit dari duduknya mengikuti keinginan wanitanya.
"Kita mau makan dimana?"
"Ditempat biasa aja, sayang."
"Oke, come on."
Delia lalu menggandeng mesra tangan Zayn keluar dari ruangan tersebut. Didepan pintu mereka tidak sengaja berpasasan dengan Arya.
"Ar, aku mau makan siang sebentar sama Delia.
"Oke, silahkan."
Arya masih terpaku ditempatnya saat kedua pasangan itu berlalu dari hadapannya. Ia menarik nafas dalam-dalam memikirkan peliknya kehidupan asmara sahabatnya kelak saat Zayn tahu ternyata ia punya anak dari istri kakaknya sendiri.
Saat ia sedang memikirkan semua itu, ponselnya tiba-tiba berdering dan itu dari Zafran.
"Panjang umur nih orang." batin Arya sebelum menjawab telfonnya.
"Kamu dimana, Ya?"
"Aku sedang berdiri didepan ruangan Zayn."
"Ngapain kamu disana? Kamu tidak sedang memata-matai Zayn, kan?"
"Aku sedang menyaksikan kedua pasang manusia yang sangat romantis sedang keluar makan siang sambil bergandengan tangan."
"Kurang kerjaan kamu, Ya."
"Jadi kapan kamu menyusul keromantisan Zayn dan Delia? Apa kamu masih ingin berjalan ditempat tanpa bermaksud untuk maju?" tanya Arya sengaja ingin menggoda sahabatnya.
Meski sebenarnya ia serius menanyakan hal tersebut. Karena ia sangat ingin melihat sahabatnya itu menjalani pernikahan normal atas dasar saling mencintai.
"Sialan kamu, Ya. Aku menelfonmu bukan untuk membicarakan hal seperti itu. Aku hanya ingin memberi tahumu bahwa sebentar lagi aku akan kembali ke kota J. Aku ingin apartemenku sudah bisa ditempati."
"Bukannya kamu akan pulang besok?"
"Apa kamu tidak dengar kalau aku bilang akan pulang hari ini?"
"Baiklah, apa pun katamu. Aku harap kamu secepatnya mencintai wanita itu. Buat ia melupakan bahwa pernah ada Zayn dalam perjalanan hidupnya."
Zafran terdiam mendengar ucapan Arya. Sementara Arya mematikan sendiri ponselnya setelah beberapa detik tidak terdengar jawaban dari seberang.
Sesaat Zafran memikirkan ucapan Arya tapi semenit kemudian ia kembali teringat pada Tari yang menurut Geogle sedang jatuh cinta. Ia menjadi kesal pada wanita itu lagi.
***
Ditempat berbeda, disebuah pulau kecil yang sangat indah. Dua orang wanita sedang berjemur sambil menatap langit biru yang menawarkan sejuta keindahannya di pagi hari. Salah satunya benar wanita asli, tapi yang satunya lagi wanita jadi-jadian.
Setelah mereka menghubungi Tari lewat ponsel, mereka justru semakin kefikiran pada wanita cantik itu.
"Cher, kira-kira gimana yah nasib pernikahan Tari nanti kalau Zayn bisa mengingat kembali memorynya yang terjadi lima bulan belakangan?" tanya Nara dengan pandangan yang masih tak berkedip kearah langit.
"Gua juga nggak tahu, Nar. Tapi semoga saat itu tiba, Perasaan Tari dan mas Zafran semakin dalam." balas Chery dengan pandangan mata yang sama.
"Sepertinya perasaan Tari sudah ada kemajuan, Cher. Yang gua sangsikan perasaan manusia salju itu. Andai saja kita bisa membantu Tari mencairkan hatinya, bahkan Zayn tidak akan menemukan sedikit pun celah untuk masuk kedalam hubungan mereka."
"Ucapan lu ada benarnya juga, Nar. Kalau begitu sepulang dari sini kita nggak usah balik dulu ke kota S. Kita kan tinggal skripsi. Nggak masalah kalau kita menghabiskan waktu lebih banyak di kota J."
"What? lu kalau ngomong suka asal deh. Lu mau tinggal dimana di kota J? Apa lu niat mau numpang di mansion mas Zafran?"
"Eh, lu tuh yang asal ngomong. Mana mungkin gua mau numpang disana. Gua juga punya malu kali', Nar."
"Terus maksud lu apa kita tinggal di kota J?"
"Kita Ngontak!"
"Apa?
Nara terlihat kaget mendengar ucapan Chery tapi sedetik kemudian ia malah menyetujuinya.
"Eh, tapi lu benar juga, Cher. Ini semua kan demi Tari. Kalau begitu pulang dari sini kita akan nyari rumah kontrakan yang cocok."
Kedua sahabat itu pun saling melempar senyum. Mereka akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan salah satu sahabatnya yang sudah lebih dulu membangun sebuah keluarga kecil.
💜 Happy reading kesayangan mommy🤗
💜 Aku mencintai seluruh sudut kehidupanmu. Tidak akan kubiarkan seorang pun bahkan hanya sekedar menatapmu... // Delia💜