Bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang tidak diinginkan, di tuntut untuk selalu mengalah dalam segala hal, menyerahkan apapun yang dimiliki untuk orang lain bahkan orang yang di cintai sekalipun harus ia lepaskan? Selalu salah dan di anggap pembawa sial.
Itulah penderitaan yang di rasakan oleh seorang wanita bernama Ayla, ia tumbuh di keluarga yang serba berkecukupan, punya dua kakak laki-laki dan orang tua yang masih lengkap, namun sayang sekali, meskipun memiliki semua itu Ayla sama sekali tidak memiliki kasih sayang dan kebahagiaan.
Di mata keluarga Ayla adalah pembawa sial, sosok yang selalu salah dalam segala hal, berbanding terbalik dengan Alena yang selalu menerima kasih sayang penuh dan selalu di utamakan oleh semua orang.
Siapa Alena? Dan kenapa Ayla memiliki nasip berbeda dengan nya? Cus baca kisah mereka di sini, bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23# Hallo Danu?
"Segalanya terjadi sangat mendadak. Lagipula aku tak ingin membuatmu cemas atau membebanimu, bukankah kau sedang sibuk dengan urusanmu di kota ini? Sekarang aku datang menjemputmu. Kau harus kembali ke rumah," ucap Papa Hans mencoba menjelaskan kepada istrinya.
"Tidak! Aku menolak pulang dalam keadaan begini!" jawab Maya dengan nada tinggi yang penuh kemarahan.
"Kenapa sikapmu seperti ini? Bukankah kau sendiri yang menghubungi Gavin dan memintaku datang menjemputmu pulang?" tanya Papa Hans bingung.
"Itu terjadi sebelum aku tahu bahwa kini sudah ada sosok 'menantu baru' yang duduk di kediaman Aditama!" jawab Mama Maya sambil melipat kedua tangannya di dada dengan sikap menantang.
"Memangnya apa salahnya? Bukankah ini hal baik? Selama bertahun-tahun rumah itu sunyi tanpa kehadiran anak perempuan, dan kau sendiri sering mengeluh merasa kesepian. Sekarang sudah ada menantu perempuan, malah kau tak senang. Sebenarnya apa yang kau inginkan, Maya?" tanya Papa Hans semakin bingung menghadapi perubahan sikap istrinya.
"Yang aku inginkan, dia bukan menantu yang pantas!" ucap Maya tegas dan dingin.
"Kalau begitu, apa maksudmu sebenarnya?" tanya Papa Hans kembali.
Suasana di dalam apartemen tempat Maya tinggal mendadak berubah panas karena perdebatan keduanya. Maya kembali duduk dengan wajah memerah menahan amarah yang meluap.
"Sialan... Bagaimana bisa dia tiba-tiba menikah begitu saja? Apa yang harus kulakukan sekarang? Tapi tunggu dulu... Bukankah Valen saat ini masih dalam keadaan lumpuh? Seharusnya mereka tidak akan mudah memiliki keturunan dalam waktu dekat, bukan? Aku harus segera menghubungi seseorang. Dia harus tahu berita ini sekarang juga," batin Maya dengan penuh perhitungan dan niat tersembunyi.
Siapakah orang yang akan Maya hubungi? Dan mengapa ia begitu membenci serta menentang keberadaan istri baru Valen?
***
"Maya, kenapa kau diam saja?" tanya Papa Hans dengan kebingungan melihat sikap istrinya yang terasa agak aneh.
"Tidak ada," jawab Maya, lalu ia kembali duduk di samping Papa Hans.
"Kau jadi gelisah begini begitu tahu Valen sudah menikah. Ada apa? Kau kan rencananya baru pulang besok? Bukankah kau bilang pekerjaanmu sudah selesai?" ucap Papa Hans lagi.
"Mas, jangan banyak bertanya. Aku tidak gelisah. Aku hanya belum siap menerima kehadiran menantu, apalagi aku sama sekali belum mengenalnya. Baiklah, aku akan pulang besok," jawab Maya sambil memasang wajah datar.
"Nanti kau pasti akan mengenalnya setelah bertemu Ayla. Dia gadis yang baik. Kau tak perlu khawatir. Valen membutuhkan pendamping hidup, memang sudah saatnya ia menikah demi meneruskan keturunan keluarga Aditama," jelas Papa Hans lagi.
"Haha… iya, kau benar sekali," jawab Maya.
"Syukurlah kalau kau juga mengerti hal itu," sambung Papa Hans.
Ia sama sekali tidak tahu bahwa wanita yang duduk di sampingnya saat ini tidak pernah berharap memiliki cucu, apalagi cucu dari Valen—yang sejatinya hanyalah anak tiri bagi Maya.
Gila… Orang tua ini benar-benar tidak sabar menjadikan anaknya sebagai pewaris tunggal keluarga Aditama. Ia bahkan menikahkan anak itu hanya agar segera mendapatkan cucu. Benar-benar menjengkelkan, batin Maya dengan perasaan gelisah, namun ia tetap harus berpura-pura tampak senang di hadapan Papa Hans.
Malam harinya…
Panggilan tersambung
"Halo…" terdengar suara dari seberang telepon.
"Halo, Danu? Kau sedang ada di mana sekarang?" tanya Maya sambil menempelkan ponselnya ke telinga. Sesekali ia menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan dirinya benar-benar sendirian di balkon kamar apartemennya.
"Bukankah Ibu sudah tahu? Kenapa masih bertanya?" jawab sosok itu. Ia adalah anak sulung Maya—Danu. Ia juga anak tiri Papa Hans, sekaligus kakak tiri Valen.
"Danu, Ibu minta hentikan segala permainanmu itu. Kita tidak punya banyak waktu lagi. Keadaan ini gawat, Danu… sangat gawat," ucap Maya, nada suaranya terdengar penuh kepanikan.
"Ada apa sebenarnya? Katakan saja terus terang, jangan membuatku makin pusing," balas Danu yang mulai penasaran.
"Valen… ia sudah menikah," ucap Maya langsung pada intinya.
Seketika keheningan menyelimuti seberang telepon. Danu sama sekali belum mengetahui hal ini jika tidak diberitahu ibunya—padahal ia selalu memantau setiap gerak-gerik orang-orang di kediaman keluarga Aditama.
"Sial! Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?" serunya dengan nada geram.
Maya pun segera menceritakan kembali segala hal yang baru saja disampaikan Papa Hans kepadanya. Penjelasan itu membuat Danu semakin tak sanggup menerima kenyataan tersebut.
"Aku tidak akan membiarkan Valen memiliki keturunan apa pun," ucap Danu tegas.
"Ibu akan kembali besok. Kita harus bertemu dan berbicara langsung," ujar Maya, lalu segera mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Panggilan berakhir
Valen… Berani-beraninya dia menikah dan berencana memiliki anak. Memangnya apa yang bisa dia lakukan jika kakinya lumpuh begini? Sial… Kenapa saja dia tidak mati sejak kejadian tempo dulu? gerutu Danu dalam hatinya, dipenuhi amarah yang meluap.
Memang benar, Maya dan Danu bukanlah orang-orang yang berhati baik. Sejak pertama kali Maya masuk menjadi istri keluarga Aditama, ia sudah menyimpan niat untuk menguasai seluruh kekayaan keluarga itu. Ia pernah berusaha sekuat tenaga agar bisa melahirkan Gavin—namun sayangnya, anak itu sama sekali tidak bisa dikendalikan. Berbeda dengan Danu; meskipun ia sadar dirinya sama sekali tidak memiliki hak apa pun atas harta keluarga Aditama, namun ia memiliki ambisi jahat yang sama persis dengan ibunya. Mereka selalu bekerja sama menjalankan rencana buruk, termasuk berniat menyingkirkan Valen—satu-satunya pewaris sah keluarga Aditama.
Keesokan harinya…
Di Kediaman Aditama…
"Gavin! Kembalikan! Cepat kembalikan, Gavin!"
Di pagi hari itu, teriakan Ayla bergema di seluruh ruang tengah rumah mewah tersebut.
"Ambil saja kalau kau sanggup! Dasar si kecil pendek, botol Yakult!" ejek Gavin sambil terus berlari.
Beberapa saat sebelumnya, Ayla sedang duduk tenang di ruang tengah sambil membaca buku komik kesayangannya. Itu satu-satunya buku komik yang sempat ia bawa dari rumah lama sebelum akhirnya datang menetap di kediaman Aditama.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Gavin yang memiliki sifat jahil tiba-tiba datang dan merebut buku itu dari tangan Ayla. Ia juga berteriak bahwa ia sangat menyukai bacaan bergambar dan belum pernah membaca judul yang sama persis.
"Gavin, kembalikan! Kau bisa merusak halaman-halamannya, bukunya sudah cukup rapuh dan tidak kuat lagi," seru Ayla sambil terus mengejar.
"Aku hanya mau meminjam sebentar. Nanti kalau sudah selesai kubaca pasti akan kukembalikan. Lagipula, buku lama begini pasti sudah lama kau simpan, kan? Mana mungkin kau baru selesai membacanya sekarang," jawab Gavin sambil berlari terengah-engah.
Para pelayan yang melihat kejadian itu hanya diam saja. Tidak ada satu pun yang berani menengahi—karena keduanya sama-sama memiliki kedudukan tinggi di rumah besar itu.
****
bukan satu atau dua alur cerita begini jadi udah malas ma ceritanya