"Duniaku gelap, tapi aku tidak butuh lampu. Aku hanya butuh seseorang yang tidak memalingkan wajah saat aku memanggil 'Papa'."
Di kediaman Tenggara yang megah, Aurora Alandriana adalah sebuah anomali. Di tengah kesuksesan sang Ayah dan dominasi keempat kakak laki-lakinya—Eros, Gavin, Juna, dan Arvin—Aurora hidup seperti hantu. Baginya, rumah itu bukan tempat berteduh, melainkan sebuah pengadilan yang menghukumnya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan: lahir ke dunia.
Tiap sudut rumah adalah pengingat akan kebencian. Meja makan adalah tempat penghinaan, dan lorong sekolah adalah tempat ia harus berpura-pura tidak mengenal darahnya sendiri. Terutama Arvin, kakak keempatnya yang paling dekat jarak usianya, yang memilih untuk menjadi perundung paling kejam di sekolah hanya untuk membuktikan bahwa Aurora tidak punya tempat di hidupnya.
Namun, saat sebuah rahasia besar di balik kematian sang Ibu mulai terkuak, dan saat tubuh Aurora yang rapuh mulai mencapai batas kemampuannya untuk ber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Penyesalan di Sisi Ranjang dan Badai yang Berbalik
Bau antiseptik yang menyengat bercampur dengan desis konstan dari mesin ventilator menjadi satu-satunya ritme kehidupan di dalam ruang isolasi ICU Rumah Sakit Pusat Tenggara. Ruangan itu terasa begitu dingin, steril, dan asing bagi siapa pun yang memasukinya.
Di tengah-tengah ruangan, di atas ranjang medis yang dikelilingi oleh berbagai monitor pemantau fungsi vital, Aurora terbaring kaku. Rambut hitamnya yang biasanya dibiarkan tergerai acak-acakan kini tampak rapi, kontras dengan kulit wajahnya yang sewarna kertas putih tanpa dialiri darah segar.
Sebuah tabung endotrakeal masuk melalui mulutnya, menghubungkan paru-parunya yang lelah dengan mesin pemompa oksigen.
Di dadanya, tiga elektroda menempel, mengirimkan grafik gelombang elektrik jantung ke layar monitor. Angka-angka di sana bergerak tidak beraturan, kadang melompat tinggi, kadang turun drastis hingga memicu bunyi peringatan pendek yang menyakitkan telinga.
Di luar dinding kaca tebal, ketiga kakak laki-laki Aurora masih setia berjaga. Mereka menolak untuk berganti pakaian, menolak untuk makan, bahkan menolak untuk sekadar memejamkan mata. Setiap kali mereka menutup mata, bayangan tubuh Aurora yang tersentak di lantai dapur dengan darah mengalir dari mulutnya selalu kembali hadir seperti mimpi buruk yang nyata.
"Kalian harus bergantian masuk," ucap Dokter Hendra yang kini ikut mendampingi Profesor Gunawan. "Ruang ICU harus tetap steril. Maksimal satu orang di dalam, dan hanya untuk sepuluh menit. Dia berada dalam kondisi koma medis, tapi secara neurologis, organ pendengarannya mungkin masih menangkap stimulasi dari luar."
Arvin menjadi orang pertama yang melangkah maju. Tangannya yang gemetar dipasangi sarung tangan steril, dan tubuhnya dibalut jubah hijau rumah sakit. Saat kakinya melintasi ambang pintu ruang steril, lututnya terasa begitu lemas. Setiap langkah mendekati ranjang Aurora terasa seperti berjalan di atas pecahan kaca.
Ia duduk di kursi besi di samping ranjang. Untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun, Arvin tidak menatap Aurora dengan pandangan jijik. Ia menatap jemari tangan adiknya yang kecil, yang kini dipasangi alat pengukur saturasi oksigen (pulse oximeter). Perlahan, dengan sangat hati-hati seolah takut meremukkan tubuh yang rapuh itu, Arvin menggenggam tangan Aurora.
Dingin. Tangan itu terasa sedingin es.
"Ra..." suara Arvin pecah seketika. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini menetes bebas, membasahi kain masker medis yang ia kenakan. "Ini gue, Ra... Kak Arvin."
Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Aurora, berbisik dengan suara yang tercekik oleh rasa bersalah yang teramat sangat.
"Maaf, Ra... Maaf karena selama ini gue selalu jadi monster buat lo. Gue yang selalu bentak lo, gue yang selalu biarkan orang lain injak-injak harga diri lo. Gue selalu panggil lo pembunuh, padahal lo cuma anak kecil yang nggak tahu apa-apa tentang kematian Mama."
Arvin meremas pelan tangan kaku itu, berharap kehangatan tubuhnya bisa berpindah pada Aurora.
"Buku catatan biru lo... ada di gue, Ra. Gue sudah baca semuanya. Setiap halaman, setiap kata... Lo nulis kalau lo mau liat gue tersenyum buat lo sekali saja. Ra, sekarang gue senyum buat lo, lihat gue, Ra... Buka mata lo." Arvin mencoba memaksakan sebuah senyuman di balik air matanya, namun senyuman itu justru terlihat seperti guratan kepedihan yang paling dalam.
"Tolong bangun... Kasih gue kesempatan buat jadi kakak yang beneran buat lo. Jangan pergi dulu, Aurora..."
Di layar monitor, grafik detak jantung Aurora sempat berfluktuasi sedikit saat Arvin terus membisikkan kata-kata penyesalannya, seolah jiwa gadis itu di alam bawah sadarnya mendengar ratapan sang kakak. Namun, setelah sepuluh menit berlalu, perawat menepuk bahu Arvin, memintanya untuk keluar secara bergantian.
Orang berikutnya yang masuk adalah Eros. Laki-laki yang selalu dibanggakan sebagai penerus takhta Tenggara Group itu melangkah dengan kepala tertunduk. Keangkuhan yang selama bertahun-tahun ia pelihara sebagai pelindung ego seketika menguap di depan raga adiknya yang hampir hancur.
Eros berdiri di sisi ranjang, menatap masker oksigen dan selang-selang yang menopang hidup Aurora. Ia mengeluarkan strip obat kosong yang semalam ia sita dari tangan Aurora dari saku jasnya. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Aku yang mengambil ini dari kamu, Ra," ucap Eros, suaranya terdengar sangat rendah namun bergetar hebat. "Aku pikir kamu sengaja mengarang cerita sakit ini untuk memeras emosi kami. Aku pikir kamu benci melihat kami bahagia. Ternyata... obat ini yang menjaga kamu tetap hidup di tengah semua siksaan yang kami berikan."
Eros menjatuhkan lututnya di lantai rumah sakit yang dingin, bersujud di samping ranjang Aurora. Bahunya terguncang hebat saat tangisnya yang selama ini tertahan akhirnya pecah. Seorang Eros Tenggara yang dikenal berdarah dingin di dunia bisnis, kini menangis meraung-raung seperti anak kecil di depan tubuh adiknya yang koma.
"Maafkan Kakak, Aurora... Kakak egois. Kakak menyalahkan kamu atas kepergian Mama karena Kakak tidak tahu harus melimpahkan rasa kehilangan ini kepada siapa lagi. Papa mengajari kami untuk membencimu, dan kami mengikutinya seperti orang bodoh. Jika malam itu aku tidak mengambil obat ini... kamu tidak akan berada di sini. Aku yang menaruh kamu di pintu kematian ini, Ra..."
Sementara itu, di luar ruangan, Juna duduk menyendiri di sudut koridor. Berbeda dengan Arvin dan Eros yang meluapkan emosinya melalui tangisan, Juna mengekspresikan penyesalannya dengan cara yang berbeda. Di pangkuannya, sebuah laptop menyala menampilkan ribuan baris kode dan rekaman data digital. Mata Juna yang biasanya dingin kini memancarkan aura permusuhan yang mematikan.
Ia tidak sedang menganalisis data perusahaan. Juna sedang menguliti semua jejak digital dari orang-orang yang pernah menyakiti adiknya di sekolah. Fokus utamanya malam itu adalah satu nama: Kaila.
Melalui kemampuan peretasan dan analisis sistemnya yang genius, Juna berhasil menarik semua data dari grup obrolan rahasia siswa kelas dua belas, rekaman CCTV sekolah yang sempat dihapus oleh oknum pihak keamanan atas perintah keluarga Kaila, hingga video asli perundungan susu cokelat yang terjadi kemarin lusa.
Tidak hanya itu, Juna juga menemukan rekaman pesan suara di mana Kaila secara eksplisit mengancam Aurora agar tidak melaporkan tindakan fisik yang dialaminya kepada pihak sekolah, dengan ancaman bahwa keluarga Kaila akan menghancurkan beasiswa atau masa depan Aurora jika berani bersuara.
"Kau pikir kau bisa lolos karena ayahmu seorang pejabat, Kaila?" gumam Juna, jarinya menekan tombol enter dengan kasar pada keyboard laptopnya.
Malam itu juga, tanpa sepengetahuan Eros maupun ayahnya, Juna mengirimkan seluruh barang bukti tersebut langsung ke server utama Kepolisian Pusat, Divisi Kejahatan Siber, dan Divisi Perlindungan Anak. Ia memastikan bahwa data tersebut dienkripsi dengan cara yang tidak bisa dihapus oleh kekuasaan politik mana pun. Juna juga menyebarkan video asli perundungan itu ke seluruh platform media sosial menggunakan ratusan akun bot yang ia kendalikan, membuat nama Kaila dan sekolah mereka menjadi tren teratas dalam hal kecaman publik hanya dalam hitungan jam.
Di kediaman mewahnya, Kaila sedang duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut ketika ponselnya tiba-tiba bergetar tanpa henti. Ratusan notifikasi masuk secara bersamaan. Saat ia membuka salah satu aplikasi media sosial, wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi.
Video dirinya saat menjatuhkan Aurora, menyiramnya dengan susu cokelat, dan memaki-makinya dengan sebutan "anak haram pembawa sial" telah ditonton oleh jutaan orang. Di kolom komentar, netizen menghujatnya dengan kata-kata yang sangat kejam. Alamat rumahnya, nama ayahnya yang seorang anggota dewan, hingga akun bisnis ibunya semuanya dibocorkan oleh akun anonim yang tak lain adalah Juna.
"Enggak... Ini nggak mungkin! Siapa yang menyebarkan video ini?!" teriak Kaila histeris. Ia mencoba menghapus video tersebut atau menghubungi pihak platform, namun sistemnya menolak. Ponselnya terus-menerus menerima pesan makian dari orang-orang asing.
Tiba-tiba, pintu kamarnya didobrak kasar oleh ayahnya. Wajah sang ayah tampak merah padam menahan amarah yang luar biasa.
"Kaila! Apa-apaan yang kamu lakukan di sekolah?!" bentak ayahnya sambil melemparkan sebuah tablet ke atas tempat tidur. "Gara-gara kelakuan bodohmu ini, posisi Papa di partai terancam! Pihak kepolisian baru saja menghubungi Papa, mereka mengeluarkan surat pemanggilan paksa untukmu besok pagi atas kasus perundungan berat dan kekerasan fisik!"
"Papa, tolong Kaila, Pa! Itu cuma bercanda! Aurora yang sengaja cari perhatian!" Kaila menangis, mencoba meraih kaki ayahnya, namun ayahnya justru mendorongnya menjauh.
"Bercanda kamu bilang?! Anak yang kamu rundung itu adalah putri bungsu dari Bramantyo Tenggara! Kamu tahu siapa dia?! Dia bisa menghancurkan karir politik Papa dan bisnis keluarga kita dalam satu malam jika dia mau! Sekarang, pengacara keluarga Tenggara sudah mendaftarkan gugatan resmi, dan mereka menolak jalur damai!"
Kaila membeku. Putri dari Bramantyo Tenggara? Aurora? Selama ini, Aurora selalu datang ke sekolah dengan seragam yang agak kusam, sepatu yang sudah lama, dan tidak pernah diantar oleh mobil mewah.
Semua orang mengira Aurora hanyalah anak angkat atau pembantu di rumah keluarga Tenggara yang menumpang hidup. Kaila tidak pernah menyangka bahwa gadis yang ia injak-injak setiap hari adalah bagian dari dinasti Tenggara yang paling ditakuti di kota ini.
Ketakutan yang teramat sangat kini menyerang Kaila. Ia teringat tatapan mata Arvin di koridor sekolah kemarin—tatapan mata seorang kakak yang siap membunuh siapa saja demi melindungi adiknya. Dan kini, badai itu benar-benar telah berbalik arah untuk menghancurkan hidupnya.
Kembali ke Rumah Sakit Pusat Tenggara, waktu telah menunjukkan pukul empat pagi. Bramantyo Tenggara masih berdiri di lorong ICU, menolak untuk pergi ke ruang istirahat khusus yang telah disediakan. Di tangannya, foto kecil bernoda darah itu mulai berkerut karena terus-menerus ia genggam.
Kenangan sepuluh tahun lalu berputar kembali di otaknya seperti proyektor tua yang rusak. Ia ingat hari itu, hari ulang tahunnya yang ke-45. Ia sedang minum sendiri di ruang kerjanya yang gelap, meratapi kematian istrinya yang sudah berlangsung enam tahun saat itu. Aurora yang masih berusia enam tahun, dengan gaun putih kecilnya, mengetuk pintu dengan ragu-ragu. Anak itu membawa sebuah kotak kecil yang dibungkus dengan kertas koran bekas, tersenyum ceria sambil berkata,
"Selamat ulang tahun, Papa. Aurora buatkan gambar untuk Papa."
Namun, apa yang dilakukan Bramantyo saat itu? Ia melempar kotak itu ke dinding hingga hancur, lalu membentak Aurora kecil hingga anak itu menangis ketakutan dan berlari keluar kamar sambil memegangi dadanya yang kesakitan. Sejak hari itu, Aurora tidak pernah lagi berani mendekati ruang kerjanya. Dan hadiah itu—foto mereka berdua yang diambil diam-diam oleh Bi Inah—ternyata disimpan oleh Aurora di dalam saku seragamnya selama sepuluh tahun, menjadi satu-satunya harta karun yang mengingatkannya bahwa ia pernah mencoba menyayangi ayahnya.
"Maafkan Papa, Amalia..." bisik Bramantyo pada mendiang istrinya, air mata akhirnya mengalir melewati pipinya yang berkerut.
"Aku mengira aku menghukumnya untuk membalas kematianmu... padahal aku hanya melimpahkan pengecutnya diriku yang tidak bisa menjagamu kepada anak kita sendiri."
Tiba-tiba, alarm di dalam ruang ICU kembali berbunyi dengan nada melengking yang panjang. Lampu indikator darurat berkedip merah secara konstan. Grafik di layar monitor menunjukkan penurunan drastis pada tekanan darah Aurora. Angka sistoliknya turun di bawah 50, dan detak jantungnya melemah hingga ke titik kritis.
"Dokter! Tekanan darah pasien drop! Terjadi tamponade jantung akibat penumpukan cairan pasca-resusitasi!" teriak salah satu perawat dari dalam ruangan.
Profesor Gunawan dan tim medisnya segera berlari masuk ke dalam ruang steril dengan membawa peralatan bedah darurat. Tirai kaca ditutup dengan cepat, menghalangi pandangan dari luar.
Arvin yang berada di koridor langsung melompat berdiri, menempelkan kedua telapak tangannya pada kaca penutup, mencoba melihat apa yang terjadi di dalam.
"Aurora! Enggak, Ra! Jangan sekarang! Jangan tinggalin gue!" teriaknya histeris.
Eros memegangi tubuh Arvin yang mulai lepas kendali, sementara Juna hanya bisa berdiri mematung dengan tatapan kosong, menyadari bahwa secerdas apa pun otaknya dalam meretas sistem dunia, ia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk meretas takdir kematian yang sedang berjalan di depan matanya.
Di dalam tidurnya yang panjang, di balik kegelapan koma medisnya, Aurora merasa dirinya sedang berjalan di sebuah padang rumput yang sangat luas dan diselimuti kabut putih yang lembut. Rasa sakit yang selama belasan tahun membakar dadanya mendadak hilang sepenuhnya. Ia merasa tubuhnya begitu ringan, begitu bebas.
Di ujung padang rumput itu, seorang wanita dengan gaun putih yang sangat cantik sedang berdiri sambil merentangkan kedua tangannya. Wajah wanita itu sangat mirip dengan foto yang selalu ia pandang diam-diam di rumah besar.
"Mama..." bisik Aurora dengan senyuman paling bahagia yang pernah ia miliki.
Wanita itu tersenyum hangat, menganggukkan kepalanya seolah memanggil Aurora untuk datang mendekat. Aurora mulai melangkahkan kakinya, berjalan perlahan meninggalkan dunia yang penuh dengan air mata, menuju ke pelukan hangat yang selama ini hanya bisa ia temui dalam mimpi-mimpinya yang sepi.
Sementara di dunia nyata, jarum suntik berisi epinefrin dosis tinggi kembali menembus kulit Aurora, mencoba menahan jiwanya yang sudah selangkah lagi melewati batas antara hidup dan mati.
Perjalanan penyesalan keluarga Tenggara baru saja dimulai, namun waktu yang dimiliki Aurora di dunia ini kini benar-benar telah berada di ujung nadir, menyisakan bulan-bulan penuh penderitaan medis sebelum takdir akhir benar-benar menjemputnya.
Banyak pelajaran yg bisa kita ambil dari cerita kk
sungguh sangat sedih dan menguras air mata🥹🥹🥹
tapi gak kuat bacanya
soalnya sedih banget 😭😭🥹🥹