NovelToon NovelToon
IBUKU ADALAH MAUT

IBUKU ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Pengkhianatan / CEO
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.

“Kenapa harus suamiku, Bu?!”

Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.

Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MASAKANKU DIBUANG IBU.

Hari semakin larut. Tak terasa sinar matahari mulai merayap masuk melalui celah hordeng.

Nafisa berdiri di depan cermin meja rias. Ia mengoleskan lipstik ke bibirnya dengan hati-hati.

“Mau berangkat sekarang?”

Nafisa menghentikan gerakan tangannya, kemudian netranya menoleh melalui pantulan cermin. Dan melihat suaminya berdiri di belakang, sibuk mengancingkan baju kemejanya.

“Iya, Mas. Habis sarapan, langsung berangkat,” jawab Nafisa. “Aku sudah masak buat sarapan kita, Mas.”

Setelah merasa cukup, ia menutup lipstik itu dan meletakkannya di atas meja rias. Tangannya kemudian membenahi jilbabnya yang kurang rapi.

“Nanti pulang jam berapa?” tanya Damar lagi.

“Nggak tahu, Mas. Lihat saja nanti.”

Nafisa berbalik, tatapannya tertuju pada kemeja suaminya yang tampak sedikit kusut. Dasi di lehernya pun miring, sementara beberapa helai rambutnya berdiri tidak beraturan.

Nafisa mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya ia melangkah mendekati suaminya.

“Mas, sini sebentar. Aku mau rapikan bajunya.”

Nafisa berhenti tepat di Damar, lalu tangannya mulai merapikan kerah kemejanya. Jemarinya kemudian beralih membenahi dasi yang sedikit bergeser, menarik simpulnya agar kembali berada di tengah.

Setelah selesai, ia mengangkat tangan untuk merapikan rambut suaminya yang berantakan.

Setelah di rasa cukup rapi. Nafisa menurunkan tangannya dan memeriksa penampilan suaminya sekali lagi.

“Nah, sudah rapi.” Ia tersenyum tipis. “Ayo sarapan. Takut keburu dingin, soalnya aku masaknya jam setengah empat tadi.”

Damar mengangguk singkat. “Duluan saja, Mas nanti menyusul.”

Nafisa mengangguk lalu melangkah pergi, tak lupa ia  meraih tasnya yang tergeletak di atas meja rias.

Langkahnya mengarah ke ruang makan.

. . .

Setibanya di ruang makan, langkah Nafisa terhenti ketika melihat ibunya sedang membawa dua buah piring berisi makanan.

Asapnya masih mengepul, tanda bahwa makanan itu baru saja di masak oleh ibunya.

“Bu ….”

“Naf, sudah mau berangkat kerja?” tanya Bu Yulia sambil meletakkan piring-piring itu di atas meja makan.

Nafisa mengangguk. “Iya, Bu.”

Ia berjalan mendekat, berniat duduk dan sarapan sebelum berangkat. Namun, langkahnya kembali terhenti ketika melihat hidangan yang tersaji di atas meja.

Alis Nafisa berkerut. Ia mengalihkan pandangan kepada ibunya yang masih sibuk mengatur posisi piring.

“Bu, udang balado sama telur dadar yang aku masak, kenapa berubah jadi sayur bening, ayam goreng, sama sambal bawang?”

Bu Yulia menghentikan gerakan tangannya. Wanita tersebut menoleh dan menatap ke arahnya.

“Eh, maaf, ya, Naf. Ibu gak tahu. Ibu kira makanannya sudah basi, jadi Ibu buang ke tempat sampah.” Ia mengangkat tangan, menunjuk ke arah sudut ruangan. “Itu, di sana.”

Nafisa mengikuti arah telunjuk ibunya.

Matanya langsung tertuju pada tempat sampah yang berada tidak jauh dari meja makan. Tutupnya sedikit terbuka, memperlihatkan sisa makanan yang sudah bercampur dengan sampah lainnya.

“Ya ampun, Bu.” Ia menoleh lagi kepada ibunya. “Kenapa nggak ngomong dulu sama aku? Aku sudah bangun pagi, buat masak.”

Namun, justru ia mendengar helaan napas berat dari bibir ibunya.

“Naf, Ibu sudah bilang. Ibu nggak tahu,” jawab Bu Yulia sambil mengibaskan tangan.

Nafisa menatap ibunya lekat-lekat. Tapi ekspresi wanita itu hanya santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.

“Ada apa ini?”

Suara Damar terdengar dari belakang, membuat Nafisa menoleh.

“Mas—”

“Dam,” potong Bu Yulia.

Nafisa menoleh ke arah ibunya yang memotong ucapannya, keningnya mengernyit saat melihat ibunya sedikit menundukkan wajahnya.

 “Ibu nggak sengaja membuang makanan yang dimasak Nafisa,” lirihnya. “Ibu kira makanannya sudah basi, jadi Ibu buang.”

“Tapi ibu bisa cium dulu baunya sebelum ibu buang, Bu.”

“Sudahlah, Naf.”

Suara Damar terdengar santai. Nafisa kembali menatap ke arah suaminya.

“Lagian ibu gak tahu,” lanjut Damar.

Nafisa terdiam dan memperhatikan suaminya yang berjalan santai menuju salah satu kursi.

Tak ingin membuat paginya berantakan, ia akhirnya mengalah dan berjalan mendekat ke meja makan untuk membantu suaminya mengambil sarapan.

Ia mengambil piring kosong dan mulai menyendokkan nasi.

“Nasinya segini cukup, Mas?”

Belum sempat mendapatkan jawaban dari suaminya. Suara ibunya terdengar.

“Biar Ibu saja, Naf.” Bu Yulia segera mendekat. “Ibu tahu takaran makan suami kamu.”

Nafisa menoleh. “Tapi, Bu, aku—”

Ucapannya terhenti saat piring yang dipegangnya sudah diambil alih oleh sang ibu.

“Sudah, kamu ambil sarapanmu sendiri. Biar Ibu yang ambilkan makanan untuk suami kamu.”

Nafisa terdiam. Ia memperhatikan ibunya menyendokkan nasi, mengambil ayam goreng, lalu menambahkan sayur bening dan sambal ke dalam piring tersebut.

“Ini, Dam. Makan yang banyak, ya.” Bu Yulia meletakkan piring itu tepat di hadapan Damar. “Kalau kurang, bilang saja sama Ibu.”

Damar tersenyum tipis. “Iya, Bu. Terima kasih.”

Nafisa kembali menghembuskan napas pelan, dan ia mulai mengambil makanannya sendiri meski ada perasaan yang mengganjal di benaknya.

Netranya sesekali menatap ke arah suaminya yang  tampak begitu lahap menikmati sarapan.

‘Aneh.’

“Bu, ini enak banget,” puji Damar sambil menoleh kepada Bu Yulia. “Sayurnya pas, ayam gorengnya juga enak.”

Netra Nafisa lalu menatap ke arah ibunya. Terlihat senyum mengembang.

 “Masa, Dam? Kalau kamu suka, nanti Ibu masakin lagi.”

“Boleh, Bu. Aku suka masakan Ibu.”

Nafisa masih terdiam sembari mendengar obrolan ibu mertua dan menantunya.

‘Bahkan Mas Damar nggak pernah memuji masakanku seperti itu. Setiap kali aku bertanya apakah makanannya enak, dia cuma bilang biasa saja.’

Nafisa menggigit bibirnya, lalu kembali menyuapkan nasi ke mulut. Walau hatinya merasa sedikit kecewa.

Setelah beberapa suap, ia kembali mengangkat wajah.

“Bu, apa Ibu sudah sembuh?” tanyanya.

Ibunya tampak terdiam namun netranya terlihat menatap ke arah Damar sebelum akhirnya menatap ke arahnya dan mulai menjawab.

“Alhamdulillah, Naf. Ibu sudah sembuh karena ada Damar yang merawat Ibu,” jawabnya. “Lagian, kamu selalu sibuk kerja, sih. Jadi, Damar yang lebih sering menemani Ibu.”

Gerakan tangan Nafisa melambat. Ia menatap ibunya beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum tipis.

“Alhamdulillah, kalau ibu sehat.” Ia meletakkan sendok sebentar, lalu melanjutkan, “Maafin Nafisa, Bu. Soalnya Nafisa harus kejar target, dan Alhamdulillahnya, Nafisa naik jabatan jadi ketua tim.”

Bu Yulia langsung mengangkat alis. “Kamu naik jabatan, Naf?”

Nafisa mengangguk. Kali ini, senyumnya sedikit lebih lebar.

“Iya, Bu. Mulai bulan ini, tanggung jawabku di kantor bertambah.”

“Ya ampun, syukurlah!” Bu Yulia tampak bersemangat. “Ibu jadi senang dengarnya. Kalau begitu, bagaimana kalau kita rayakan?”

Nafisa belum sempat menjawab ketika Damar lebih dahulu menyahut.

“Ide yang bagus, Bu.”

Nafisa memandang keduanya bergantian. Dan mau tak mau ia mengangguk pelan.

“Baiklah. Malam ini kita adakan pesta barbeque di halaman rumah.”

“Wah, boleh juga!” seru Bu Yulia. “Nanti Ibu yang belanja. Kamu catat saja bahan-bahan yang diperlukan.”

“Iya, Bu.”

Nafisa kembali mengambil sendoknya. Ia melanjutkan sarapan yang sempat tertunda.

Bahkan suasana ruangan pun kembali hening, hanya terdengar suara dentingan sendok yang bergulat di atas puring.

Sementara itu, Yuliana sesekali melirik Damar yang duduk di depannya sembari kakinya menyentuh kaki Damar dengan lembut dan penuh kode.

. . .

Beberapa menit kemudian, sarapan mereka akhirnya selesai. Nafisa segera membereskan piringnya, lalu berpamitan sebelum berangkat kerja.

“Bu, aku berangkat dulu, ya. Assalamualaikum.”

Bu Yuliana yang kini berada di teras rumah pun menoleh sekilas.

 “Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, Naf.”

“Iya, Bu.”

Kemudian ia melangkah menuju motor yang biasa digunakannya untuk bekerja.

Tak lupa, ia mengenakan helm sebelum ia berkendara untuk keselamatan. Setelah memastikan tali pengamannya terpasang dengan benar, ia menaiki motor dan memasukkan kunci ke lubangnya.

Mesin motor menyala setelah ia memutarnya.

Tiin!

Nafisa menekan klakson sebentar sebagai tanda pamit, kemudian perlahan memutar gas. Motornya mulai bergerak meninggalkan pelataran rumah sang ibu.

Sejak menikah dengan Damar, mereka memang masih tinggal sementara di rumah ibunya. Keputusan itu diambil karena Nafisa ingin mengumpulkan uang terlebih dahulu sebelum membeli rumah sendiri bersama suaminya.

Ia ingin memiliki tempat tinggal untuk membangun keluarga kecilnya.

Karena itu, ia berusaha mengatur penghasilannya sebaik mungkin. Apalagi, setelah mendapatkan kenaikan jabatan, ia berharap bisa menabung lebih banyak setiap bulannya.

Tangannya sedikit memutar gas ketika lampu lalu lintas di persimpangan berubah hijau.

.

Setelah motor yang dikendarai Nafisa menghilang di tikungan, Yulia masih berdiri di ambang pintu. Ia baru saja hendak masuk ketika sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya.

“Ah!”

Tubuhnya terseret ke dalam rumah. Namun, Yulia tak perlu menebak siapa yang melakukan itu. Ia sudah mengenali pemilik tangan tersebut.

Punggungnya terbentur dinding. Belum sempat ia mengatur posisi, Damar sudah berdiri begitu dekat di hadapannya.

Yulia mendongak. Tatapannya bertemu dengan mata menantunya, sementara bibirnya perlahan membentuk senyum kecil.

“Dam—”

Ucapannya terputus ketika Damar menundukkan kepala dan menciumnya keningnya.

Yulia sempat terkejut, tetapi hanya sesaat.

Beberapa saat kemudian, Damar menjauh.

Mata Yulia menatap lekat ke arah Damar yang juga menatap ke arahnya dalam jarak dekat. Namun, Damar tiba-tiba bertanya.

“Sayang, apa kamu sengaja membuang masakan Nafisa?”

Senyum di bibir Yulia langsung memudar. Ia melipat kedua lengan di depan dada. Wajahnya berpaling ke samping, menunjukkan ketidaksenangannya atas pertanyaan tersebut.

“Kenapa memangnya kalau aku yang buang masakannya Nafisa? Kamu mau marah?” tanyanya ketus.

Damar menggeleng kecil. “Enggak begitu, Sayang. Aku cuma bertanya.”

Ia melirik menantunya sekilas sebelum akhirnya kembali menatap wajah pria tersebut.

“Iya, aku memang sengaja membuangnya.”

“Kenapa?” Damar mengernyit. “Padahal Nafisa sudah masak dari pagi.”

“Karena aku nggak suka melihat kamu makan masakan yang dibuat Nafisa!” sahut Yulia, suaranya terdengar lebih tinggi. “Aku cemburu, tahu!”

Alih-alih merasa bersalah, Damar justru terkekeh. Ia mengangkat tangan, lalu menyentuh pipi Yulia dengan lembut.

“Ya ampun, Sayang. Kamu cemburu cuma gara-gara makanan yang Nafisa buat?”

Yulia mendengus. “Memangnya kenapa? Aku nggak suka!”

“Tapi, masakan kamu tetap juara, Sayang. Beda sama masakan Nafisa. Kadang hambar, asin, bahkan terlalu manis. Rasanya juga nggak karuan.”

Yulia memperhatikan wajah menantunya dengan tatapan lekat sembari meraba dadanya dengan lembut.

“Kamu cuma ingin menyenangkan hatiku, kan?” tanyanya curiga.

Damar menggeleng cepat. “Aku serius. Memangnya kapan aku bohong sama kamu?”

Yulia menyipitkan mata, lalu mengangkat dagu sedikit.

“Ya sudah, aku percaya deh.”

Senyum Damar kembali mengembang. Ia mengecup singkat kening Yulia sebelum mundur selangkah.

“Kalau begitu, aku berangkat dulu, Sayang. Nanti kita lanjutkan lagi obrolannya.”

Yulia mengangguk. “Iya. Hati-hati di jalan, ya.”

“Iya, cantik.”

Damar berjalan menuju pintu. Yulia mengikutinya dengan pandangan mata hingga pria itu benar-benar keluar dari rumah.

Bahkan setelah sosoknya menghilang, aroma parfum yang dikenakan Damar masih tertinggal di udara.

Yulia mengangkat tangan, menyentuh bibirnya sendiri, lalu terkekeh pelan.

“Dasar Damar,” gumamnya dengan senyum yang sulit disembunyikan.

Ia kemudian merapikan hijabnya dan melangkah kembali ke dalam rumah, seolah tak terjadi apa-apa.

1
Mundri Astuti
iya ih Nafisah masih percaya beud sama emaknya ..
kasih kaca yg gede emakmu Nafisah, perut dah gede gitu ..dah tua juga, masih ga insaf juga...
Mundri Astuti
hati" Nafisa ibumu belum tobat romannya...jangan tinggal bareng ya, sewain tmpt tinggal dan kasih pembantu yg usianya sama...

sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
Lee Mba Young
widih calon mangsa baru bu Yulia nih 🤣🤣🤣. dah gatel tu
Lee Mba Young
Ibu ibu dah tua kakean polah, the real beban buat nafisa.
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.
Lee Mba Young
nnti pasti semua biaya sang bayi smp bayi itu besar, biaya sekolah nafisa yg di suruh nanggung. iuhhh kasian nafisa, ibunya bukan membahagiakan tp ngasih beban.
Lee Mba Young
hbis ini ngemis lagi ke anak yg di khianati trus tanggung jawab adik nya semua biaya suruh nafisa yg nanggung. the real beban ibu Dan sang bayi.
Lee Mba Young
sekarang tinggal nunggu karma ibu Dan Adam itu. iuhh naudzibillah banget ngangkang ke mantu sendiri. jalang ketemu laki ngacengan 🤣.
Neni Rahmawati
bagus dewangga .
Neni Rahmawati
super duper gila..naudzubillah
Neni Rahmawati
ya ampun naudzubillah bu yulia..moga cepet dapet azab..si damar juga sama2 gila
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!