Bagi publik, Arka Dirgantara adalah pengusaha sukses berselimut gosip miring, mulai dari disfungsi ereksi hingga rumor menyukai sesama jenis. Tak ada yang tahu rahasia terbesarnya, ditinggal kabur mantan istri di malam pengantin membuatnya trauma dan masih perjaka.
Terdesak ancaman dicoret dari warisan dan runtuhnya investasi, Arka nekat mengajak Naya Kirana, gadis ceria yang butuh uang pengobatan ibunya, untuk menjalani pernikahan kontrak satu tahun. Aturannya tegas, pura-pura mesra di depan media, tapi dilarang saling sentuh di rumah.
Namun, hidup seatap dengan Naya yang blak-blakan perlahan meruntuhkan dinding kaku Arka. Ketika sang mantan istri kembali untuk membongkar rahasia kelamnya, akankah sandiwara konyol ini hancur, atau justru berubah jadi cinta sejati yang menyembuhkan trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fhatt Trah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Perjanjian Dengan Iblis
Namanya Naya. Hanya Naya. Tanpa nama belakang mentereng, tanpa riwayat asmara yang rumit dengan petinggi perusahaan, dan yang paling penting ia sedang berada di titik terendah dalam hidupnya.
Arka tidak langsung merespons bisikan Doni. Matanya masih menatap dingin jemari Naya yang berdarah akibat luka goresan kaca, lalu beralih pada raut keputusasaan yang terpancar jelas di wajah perempuan itu.
Bagi Arka, keputusasaan adalah jaminan terbaik. Orang yang putus asa tidak akan memiliki daya untuk bermain api.
“Pak, tolong... saya siap potong gaji tiap bulan buat ganti rugi gelasnya, tapi tolong jangan pecat—”
“Diam,” potong Arka singkat. Suaranya tidak keras, tetapi sanggup membungkam Naya dan manajer lounge seketika.
Arka berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut. Ia melirik manajer lounge yang masih berdiri gelisah dengan peluh dingin di dahi.
“Ganti rugi gelas dan celana saya, potong dari rekening saya,” ujar Arka datar. “Perempuan ini, ikut saya sekarang.”
“T-tapi Pak Arka, dia—”
“Masalah kamu selesai,” potong Arka lagi, tanpa memberi ruang untuk negosiasi. Ia menatap Doni. “Urus administrasi dia malam ini juga. Bawa dia ke mobil.”
Tanpa menunggu tanggapan Naya yang masih membeku dalam kebingungan, Arka melangkah pergi meninggalkan ruang lounge.
Di dalam mobil mewah yang kedap suara, suasana terasa begitu mencekam. Naya duduk kaku di kursi belakang, menyilangkan kedua tangannya yang gemetar di atas pangkuan. Luka di jarinya sudah dibalut tisu oleh Doni, tetapi rasa takut di dadanya jauh lebih menyiksa daripada rasa perih di tangannya.
Di sampingnya, Arka duduk menyandarkan punggung, menatap lurus ke depan tanpa minat sedikit pun untuk menoleh ke arah Naya.
“K-kita mau ke mana, Pak? Kalau Bapak mau minta ganti rugi, saya betul-betul tidak punya uang sekarang...” suara Naya memecah keheningan, begitu pelan dan penuh keraguan.
Arka tidak menjawab. Ia meraih sebuah dokumen tebal dari dalam tas kerja yang berada di sampingnya, lalu melemparnya tepat ke pangkuan Naya.
“Buka,” perintah Arka dingin.
Naya memandangi berkas berisikan puluhan lembar kertas berstempel hukum itu. Dengan tangan yang masih agak gemetar, ia membuka lembar demi lembar. Matanya membelalak saat membaca judul besar di halaman utama: SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.
“Dua miliar rupiah,” suara Arka kembali terdengar, datar tanpa emosi. “Uang tunai malam ini juga untuk biaya operasi dan perawatan ibumu di rumah sakit terbaik. Plus, seluruh biaya hidupmu ditanggung selama perjanjian ini berlaku.”
Naya menahan napas. Angka yang disebutkan Arka seperti mimpi di siang bolong atau justru cengkeraman nasib buruk yang baru.
“T-tugas saya... apa?” tanya Naya pelan.
Arka akhirnya memutar kepala, menatap Naya dengan manik mata hitamnya yang tajam dan tak tersentuh.
“Menjadi istri saya di mata hukum dan publik selama satu tahun. Hadir di setiap acara keluarga dan korporasi. Berperan sebagai istri yang setia di depan media.”
Arka maju sedikit, mendekatkan wajahnya hingga Naya bisa merasakan aura dingin yang mengintimidasi dari pria itu.
“Tugasmu hanya akting. Jangan pernah campuri urusan pribadi saya, jangan pernah menyentuh barang-barang saya, dan yang paling penting...” Arka memberikan jeda yang cukup panjang.
“...jangan pernah berharap saya akan menyentuhmu atau jatuh cinta padamu. Bagi saya, kamu hanya pajangan.”
Naya menelan ludah. Hatinya mencelos mendengar nada bicara pria di hadapannya yang begitu merendahkan, namun bayangan wajah ibunya yang terbaring lemah di ruang ICU rumah sakit mendadak melintas di pikirannya.
Dokternya bilang, jika uang muka operasi tidak dibayar besok pagi, nyawa ibunya tidak akan tertolong.
Ia tidak punya pilihan. Harga dirinya tidak ada harganya dibanding nyawa sang ibu.
“Di mana saya harus tanda tangan, Pak?” tanya Naya dengan suara tegar, meski matanya berkaca-kaca.
Arka menyunggingkan senyum tipis, senyuman dingin tanpa kehangatan. Ia menyodorkan sebuah pena mahal ke tangan Naya.
Perjanjian dengan iblis baru saja dimulai.
Lampu penyeberangan jalan menyinari interior mobil yang gelap saat Naya membubuhkan tanda tangannya di lembar terakhir. Setiap goresan tinta terasa bagai rantai yang mengikat lehernya.
Pria di sampingnya tidak membuang waktu. Dia merebut kembali dokumen itu, memeriksa sepintas sepintas, lalu melemparnya ke arah Doni di kursi depan.
“Transfer uang mukanya sekarang. Pastikan rumah sakit memproses operasinya malam ini,” perintah Arka tanpa menoleh.
Doni dengan sigap mengetik sesuatu di tabletnya. Hanya dalam hitungan detik, ponsel Naya yang retak di dalam saku bergetar. Sebuah notifikasi pesan singkat masuk dari pihak rumah sakit. Pembayaran biaya operasi telah diterima.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes, membasahi ibu jarinya yang terbalut tisu berdarah. Satu-satunya alasan ia menjual kebebasannya baru saja terbayar tuntas. Ibunya akan selamat.
“Jangan menangis di depan saya,” suara Arka memecah hening, dingin dan menusuk. “Mulai detik ini, kamu bukan lagi pelayan bar yang patut dikasihani. Kamu adalah calon istri Arka Dirgantara. Hapus air matamu dan perbaiki sikapmu.”
“B-baik, Pak,” bisik Naya pelan, mengusap pipinya seraya menunduk.
“Dan panggil saya Arka jika kita sedang tidak di depan umum, atau ‘Mas’ kalau ada media dan keluarga saya. Panggilan ‘Pak’ membuatmu terdengar seperti sekretaris saya,” tambahnya, kembali menatap lurus ke luar jendela.
Mobil melaju membelah gemerlap kota Jakarta hingga akhirnya berhenti di depan sebuah kondominium mewah berlantai tinggi di kawasan elit.
Doni membukakan pintu. Naya melangkah keluar dengan canggung, menyandarkan kesadarannya pada sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Sepatu hak tingginya yang murah dan gaun seragam lounge yang kotor menyajikan pemandangan yang teramat kontras dengan kemewahan lobi gedung tersebut.
Arka berjalan di depan dengan langkah lebar dan tegap, membuat Naya harus setengah berlari untuk menyamakan langkahnya.
Begitu pintu apartemen di lantai paling atas terbuka, Arka langsung melepas jasnya dan melemparnya sembarangan ke sofa kulit. Ia berbalik, menatap Naya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan menilai yang teramat dingin.
“Kamar kamu di ujung lorong sebelah kiri,” ujar Arka. “Di dalam sudah ada pakaian bersih yang disiapkan Doni. Mandi, bersihkan lukamu, dan tidur. Besok jam tujuh pagi, tim penata busana dan pengacara keluarga saya akan datang.”
Naya memegang erat tali tas kainnya yang kusam. “Terima kasih, Pak, maksud saya, Arka.”
Arka tak merespons. Ia sudah berbalik menuju ruang kerjanya tanpa menoleh lagi, seolah Naya hanyalah sepotong perabot baru yang baru saja ia beli untuk melengkapi rumahnya.
Naya melangkah pelan menuju kamar yang ditunjuk. Begitu pintu tertutup rapat di belakangnya, tubuhnya meluruh ke lantai. Ruangan itu sangat luas, bahkan lebih luas dari rumah sewaannya dan sang ibu, namun udaranya terasa begitu dingin dan asing.
Di atas tempat tidur, tergeletak sebuah kotak perhiasan beludru merah yang terbuka. Di dalamnya, sebuah cincin berlian bermata satu berkilau di bawah lampu kamar. Cincin pengikat, atau lebih tepatnya, label harga atas dirinya.
Naya menatap jemarinya yang terbalut perban, lalu menyentuh permukaan dingin cincin tersebut. Ia tahu, kehidupannya yang tenang telah berakhir malam ini.
Namun saat membayangkan ibunya yang besok pagi akan masuk ke ruang operasi, Naya menghembuskan napas panjang dan mengepalkan tangannya.
Ia siap memainkan peran ini, betapa pun tingginya harga diri yang harus ia korbankan.
–tbc–
lanjut
buat arka jatuh cinta ke naya ya kak... dan naya makin jaga jarak dan sadar diri dgn pernikahan kontraknya
lanjut kak