Revalina Celendia 20 tahun, sering di sapa Lina atau Reva, seorang pelayan kafe dan penjaga warnet. Tapi juga memiliki nama 'Recel' di dunia dunia siber.
Abhirama Notonegoro 27 tahun, pengacara junior yang terpaksalah menikah dengan pelayan kafe, yang baru di kenalnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eed Reniati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Revalina Celendia
"Malam ini ada job mengamankan lalu lintas, mau diambil gak, Lin?" kata Niko.
"Mengamankan apa?" tanyaku balik tanpa melihat kearahnya, yang asik bermain game di warnet tempatku bekerja 4 tahun ini, sekaligus tempatnya Niko bekerja selama 5 tahun lebih, dari jaman putih Abu-Abu sampai kuliah manajemen saat ini.
Warnet tempatku bekerja buka 24 jam, karena itu aku, Niko dan Dafa di bagi menjadi 3 sif. Hari ini aku kebahagiaan jaga sore, yang berjaga dari pukul 2 sore sampai pukul 10 malam. Sedangkan Niko jaga malam, yang sebentar lagi menggantikan aku jaga warnet sampai pagi.
Aku bekerja di sini sudah hampir 4 tahun, tepatnya sejak aku duduk di bangku Sekolah menengah atas Kelas sebelas, sampai sekarang. Dulu aku hanya bekerja di sif sore saat pulang sekolah, tapi sejak lulus SMA 2 tahun lalu aku mulai kena 2 sif, pagi dan sore.
"Tengah malam ada balapan di jalan protokol, tugasmu mengamankan CCTV dan mengamankan rambu-rambu supaya bisa kondusif. Uang muka," ucap Niko dengan mengangkat kelima jarinya. "Jika sukses mereka bisa memberikan lima kali lipat."
Mengamankan CCTV yang di maksud, aku harus membuat mobil para peserta tidak terdeteksi oleh tilang E-TLE, yang menggunakan kamera berbasis Closed Circuit Television (CCTV) yang beroperasi selama 24 jam. Dan mengatur rambu-rambu lalulintas untuk menghindari kecelakaan, yang mana aku juga harus meretas rambu lalu lintas yang berarti mengubah, atau memanipulasi rambu-rambu lalulintas elektronik.
"Aku mau dinaikan, aku tidak mau lima kali lipat lagi kaya kemarin, karena ini ilegal. Jika ketahuan pihak berwajib yang di hukum aku, bukan mereka." ucapku acuh, tanpa melihat kearah Niko yang langsung melihat kearahku.
"Gila kamu! Apa mereka mau, kalau mereka menolak bagaimana?"
"Kemarin aku kasih murah, karena selain uji coba langsung, aku juga masih promosi," ujarku santai.
Pekerjaan ini baru aku lakukan satu kali dan bisa jadi ini yang kedua kalinya, jika mereka setuju dengan harga ku.
Sebelumnya aku hanya membantu beberapa orang untuk menghapus data, seperti menghapus video atau foto yang senonoh atas permintaan seseorang, melacak seseorang dan tidak pernah berhubungan dengan pihak berwajib.
Soal meretas jaringan CCTV yang terhubung dengan E_TLE, aku juga baru bisa setelah mengotak atik coding.
Aku bukan seorang ahli komputer atau hacker, aku Revalina Celendia seorang penjaga warnet yang hobi dan suka dengan dunia programmer, serta suka dengan dunia komputer yang memiliki bahasa kode yang kata orang susah di pahami.
Aku juga bukan seorang mahasiswa teknik informatika atau ilmu komputer, aku hanya lulusan SMA yang bekerja serabutan di cafe dan jaga warnet sejak lulus SMA, yang suka bereksperimen, dengan komputer rusak milik warnet.
"Tapi kalau mereka menolak bagaimana?"
"Ya sudah gak apa-apa, aku juga gak rugi ini."
"Ya sudah, aku hubungi mereka dulu."
Aku tersenyum tipis, melihat Niko yang langsung menghubungi seseorang dengan ponsel mahalnya. Dari Niko lah aku mendapatkan beberapa pekerjaan. Berawal dari teman Niko yang butuh bantuan untuk mencari seorang, dari sana pekerjaan mulai Niko tawarkan dengan keuntungan bagi hasil.
"Lin, orangnya oke!"
"Oke, aku hubungi ayah dulu, takut nungguin lama." Setiap aku pulang malam, ayah selalu menjemputku, baik itu di warnet atau di cafe.
"Ayahmu tahun gak, anaknya mempunyai duit banyak di bank, Lin?"
"Enggak lah. Bisa jantungan ayahku, Ko." canda ku, karena ayahku hanya seorang sopir mobil online.
Selama ini aku kerja untuk keburu pribadiku dan hidup berdua dengan ayah, sisanya aku tabung. Sedang ayah bekerja keras untuk membayar hutang Bank, akibat usahanya yang bangkrut karena dampak pandemik covid 19.
Ayah dulu mempunyai usaha agen penyedia transportasi, yang bekerjasama dengan beberapa hotel dengan menyediakan kendaraan baik roda dua, empat atau lebih, untuk di sewa oleh para tamu hotel.
Sedang ibu anak pemilik salah satu hotel yang juga bekerjasama sama dengan bisnis keluarga ayah.
Karena pandemik ayah meminjam bank untuk bertahan dan saat bangkrut, tidak hanya ibu yang pergi meninggalkan ayah dengan menuntut cerai. Tapi adik ayah saudara satu-satunya yang harusnya membantu bisnis keluarga, malah kabur dengan membawa beberapa aset, mengakibatkan kakek terkena serangan jantung lalu meninggal.
Tapi satu yang aku pelajari dari ayah, tetap sabar dan tidak pernah putus aja dengan apa yang dia alami. Meski terlilit hutang ratusan juta, mengakibatkan aku yang sekolah di sekolah bertaraf internasional dan harus pinda ke sekolah gratis, serta tinggal di rumah kecil yang luasnya tidak ada setengah dari rumah lama kami dulu.
**
Tok, tok, tok. "Sayang, bangun sholat subuh dulu!" panggil ayah lembut dengan mengetuk pintu kamarku, pelan.
"Iya yah," dengan malas aku bangun dan berjalan kearah pintu, maklum semalam aku pulang jam 1 dini hari dan baru tidur pukul setengah tiga pagi.
Senyum lembut ayah yang langsung aku lihat, saat pertama membuka pintu kamarku dan membuatku malu, melihat ayah yang sudah segar siap menjemput rejeki.
"Sholat subuh dulu, ayah mau berangkat narik, ini baru dapat orderan ke Bekasi."
"Hati-hati yah, jangan ngebut." ujarku dengan menguap.
"Iya sayang," ucap ayah sambil mengusap lembut kepalaku. "Ayah sudah bikin nasi goreng, bisa kamu buat sarapan sebelum berangkat bekerja."
Inilah salah satu yang tidak membuatku menyesal memilih untuk ikut ayah, setelah ayah bercerai dengan ibu. Karena aku bisa merasakan kasih sayang ayah lewat masakan buatannya, yang mungkin tidak pernah di rasakan oleh adikku yang ikut ibu. Karena saat kami tinggal bersama, semua di kerjakan pembantu rumah tangga.
"Makasih ayah."
"Ayah yang harusnya berterimakasih, karena putri ayah mau ikut hidup susah dengan ayah."
"Aku tidak susah kok, yah."
"Sudah ah, ini pelanggan ayah sudah nungguin, nanti di cancel lagi orderannya karena nungguin kelamaan. Ayah pergi dulu, assalamualaikum!"
"Walaikumsalam," balas ku dengan menatap punggung ayah, yang berjalan keluar dari dalam rumah.
"Aku tidak susah, aku bahagia hidup berdua sama ayah, meski tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi."
Aku lirik jam dinding rumah yang menunjukkan pukul setengah enam pagi, membuatku bergegas berjalan ke kamar mandi yang ada di belakang dapur, tepatnya di samping kamar ayah.
Setelah selesai sholat subuh aku tidur kembali dan baru bangun pukul setengah delapan pagi, aku emang pemalas jika berhubungan dengan kebersihan rumah. Karena dari kecil, pekerjaan rumah di kerjakan oleh pembantu. Baru setelah ayah bangkrut, aku mulai belajar membersihkan rumah itu juga masih kalah sama ayah, yang lebih banyak membersihkan rumah.
Tapi paling tidak sejak hidup berdua dengan ayah, aku bisa bersihin kamarku sendiri dan mencuci bajuku. Tapi kalau masalah dapur, aku masih kalah jago sama ayah, yang katanya sudah di latih almarhumah nenek sejak kecil.
Aktivisku pagi ini adalah bekerja di cafe pagi hingga siang dan sorenya baru jaga warnet sampai malam.
terima kasih cerita bagusnya....
Sengaja nengokin Mas Juna, eeeh... saingannya udh gede ternyata.... 🤣🤣🤣
in