Bercerita tentang seorang gadis SMA kelas 2 bernama Ran. Diam-diam Ran jatuh cinta pada teman barunya bernama Saka. Saka adalah murid pindahan yang memiliki kehidupan yang nyaris sempurna. Cinta Ran pun berbalas. Namun, ternyata ada satu hal yang membuat mereka ngga dibolehkan untuk pacaran lebih dari 30 hari. Sebuah rahasia yang ngga ada satu orang pun di sekolahnya tau tentang kehidupan Ran, dan hal itu membuat Saka sangat penasaran. So, what is Ran’s secret?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
SMK DWI KARYA
“KAK SAKAAAA SEMANGAAAAT!!!”
Teriak beberapa adik kelas yang sedang melihat Saka bermain basket di lapangan sekolah.
Salah satu bibir Ran langsung menyudut ke samping begitu melihat kelebayan para fans Saka yang membuatnya tak habis pikir.
“Kenapa lo, Ran?” Tanya Devanya, melihat Ran dengan heran.
Dengan cepat Ran langsung mengembalikan kembali raut wajah normalnya.
“Ngga, ngga apa-apa.”
“Ngga apa-apa gimana? Jelas gue lihat lo ngeliat sinis ke para cewe yang lagi teriakin Saka main basket. Lo cemburu ya?”
“Gue? Cemburu? No-no-no.” Kata Ran, mengelak.
Tapi Devanya tak percaya. Malahan ia semakin curiga begitu melihat sikap Ran yang berubah menjadi kikuk.
“Sebenarnya ada apa sih antara lo sama Saka? Jujur aja. Gue kan teman lo.”
“Bener, ngga ada apa-apa.”
“Ngga mungkin ngga ada apa-apa, kalo waktu di taman 400 meter tiba-tiba aja Saka segitu ngedeseknya nagih janji lo ke dia.”
“Ya ampun. Itu kan karena Saka minta gue buat melukis dia.”
“Sampe segitu pengennya dia dilukis sama lo?”
“Ya mungkin karena menurut dia gambar gue bagus.”
Devanya tetap tak percaya begitu aja, dan ia masih melanjutkan interogasinya.
“Terus, kenapa kemarin Saka ngotot pengen pindah duduk sama lo?”
“Mana gue tau.” Jawabnya, berusaha bersikap acuh.
Jelas. Devanya semakin tak percaya.
Ran membuka tutup botol minum di tangannya, lalu meneguknya.
“Kalian pacaran?”
Pertanyaan to the point Devanya itu langsung membuat Ran kaget, dan tak sengaja seluruh air di dalam mulut Ran langsung tersembur keluar mengenai Juna yang duduk tepat di depannya.
Dalam sekejap, suara hiruk pikuk bising di lapangan sekolah langsung berubah menjadi hening. Semua pasang mata langsung mengalihkan pandangannya ke arah Ran yang sedang duduk di kursi lapangan.
Juna geram. Ia segera berdiri dan memarahi Ran.
Ran pun langsung minta maaf berkali-kali, seraya membersihkan sisa-sisa air yang mengenai seragam serta rambut Juna.
Tanpa Ran sadari kalau ternyata Saka sedang memperhatikannya dari tengah lapangan. Bahkan Saka langsung menghentikan permainan basketnya begitu insiden itu terjadi.
Merasa tidak rela melihat sikap perhatian Ran yang terlihat berlebihan pada Juna, Saka pun kesal. Ia segera berjalan menghampiri Ran, lalu
“Lepasin!” Kata Saka, pada Ran.
Kemunculan Saka yang tiba-tiba, tentu membuat Ran dan Juna terkejut.
“Apanya yang dilepasin?” Tanya Ran, polos.
“Tangan lo dari kepala Juna.” Jawabnya, marah.
Ran pun tak mau berdebat. Segera ia menjauhkan tangannya dari kepala Juna.
Setelah melihat Ran berhenti menyentuh kepala Juna, Saka langsung pergi tanpa mengatakan apapun lagi.
“Ada apa sama Saka?” Tanya Juna, bingung.
Sambil menghela napasnya, Ran menjawab “Ngga tau.”
***
13:20 11Multimedia1
Tiba-tiba Saka meletakkan sebotol jus jeruk di meja Ran.
Ran langsung mengangkat kepalanya dan melihat ke arah Saka yang sedang berdiri di samping mejanya.
“Jangan sampe ngga diminum.” Kata Saka. Lalu ia kembali ke tempat duduknya.
Sikap perhatian Saka bukannya membuat Ran senang, tapi malah sebaliknya. Tentunya Ran punya alasan kenapa ia tidak suka Saka perhatian padanya di depan teman-temannya. Alasan yang tidak lain adalah hubungan palsu mereka yang Ran harap tetap menjadi rahasia hanya antara dirinya dan Saka saja.
Namun kecurigaan Devanya semakin menjadi. Saking penasarannya, ia sampai memutar kepalanya mengikuti gerakan Saka berjalan sampai ke tempat duduknya.
“Kayaknya Saka suka deh sama lo.” Duganya.
“Ngga mungkin.” Sangkalnya, tetap merasa mustahil.
“Kalo ternyata dugaan gue bener?”
“Gue? Jauh dari tipe ceweknya Saka."
“Tau dari mana lo tentang tipe cewek Saka?”
“Dari semuanya.” Jawab Ran, singkat.
Ran kembali membuka buku mataharinya, seraya memberikan jus jeruk pemberian Saka pada Devanya.
“Lo ngga mau?”
“Ngga.”
Sebelum menerimanya Devanya melirik ke arah Saka, dan ternyata Saka sedang memperhatikannya.
“Ngga deh. Gue mau cari aman aja.” Kata Devanya, tak mau ribut.
Tolakan Devanya langsung disadari oleh Ran. Matanya segera beralih pada Saka. Melihat cara Saka memandanginya dari kejauhan, membuat Ran semakin kesal saja pada Saka.
“Brak!” Botol jus jeruk pun langsung sengaja Ran taruh ulang kembali dengan sedikit membanting di mejanya.
“Ran, Saka. Kalian berdua dipanggil Bu Angel ke ruang guru.” Beritahu Danar.
Feeling Ran pun langsung tidak enak.
***
13:40 Ruang Bimbingan Konseling
“Apa benar kalo kalian bolos sekolah bersama kemarin?” Tanya Pak Budi, guru BK.
Ran tak menjawabnya. Ia hanya diam menunduk.
Saka ingin menjawabnya dengan jujur. Tapi melihat raut wajah Ran yang terlihat sedang menahan sesuatu, yang tak lain adalah amarahnya. Saka pun ikut diam.
Ale yang duduk di samping Ran berusaha menenangkannya, dengan memegang tangan Ran.Tapi ternyata tangan Ran terasa sangat dingin. Ia pun langsung tahu kalau saat ini Ran sedang merasa sangat tegang dan ketakutan.
“Sekali lagi bapak tanya ke kalian berdua, dan tolong kalian jawab dengan jujur. Apa benar kalo kalian bolos sekolah bersama kemarin?”
“Saka, jujur nak.” Kata Ibu, yang duduk di samping Saka.
“Ran?” Panggil Bu Aluna.
Dengan satu hela napasnya, Saka akhirnya menjawab “Iya.”
Ran langsung kecewa mendengar jawaban jujur Saka.
***
“Ran”
“Bang Ale tau dari mana tentang surat pemanggilan itu?”
“Abang ngga sengaja lihat di meja belajar kamu semalam.”
“Kenapa Bang Ale yang datang? Harusnya kan Bunda atau Ayah.”
“Ran, Abang kan…”
“Jangan pernah lagi jadi wali aku di sekolah. Aku ngga suka.” Kata Ran, yang langsung menyelak ucapan Ale.
Ale sedih mendengarnya.
Diam-diam, Saka melihat Ale dan Ran dari kejauhan.
“Aku ngga suka Bang Ale giniin aku terus.” Ran tak kuasa menahan rasa kecewanya dengan kehadiran Ale di sekolahnya. Ia pun tak bisa menahan air matanya, dan menangis.
“Jangan pernah pegang tangan aku lagi, jangan pernah peluk aku lagi. Buat aku sekarang…Bang Ale is nothing.”
DEG.
Bahkan Ran tak mau melihat wajah Ale.
Rasanya semakin menyakitkan. Penolakan yang semakin Ran lakukan pada Ale.
Ale hanya bisa diam dan pasrah. Karena yang bisa dilakukannya sekarang hanyalah tetap bertahan dengan kesabaran.
Dan Saka, ia mulai tahu tentang air mata dan amarah Ran selama ini.
***
Selama berada di kelas, Saka terus memandangi Ran dari tempat duduknya. Ia terus bertanya-tanya tentang Ran. Jelas, Saka bisa melihatnya kalau ada sesuatu yang sedang Ran tahan.
“Saka” Panggil Bu Merry, guru Bahasa Inggris.
“Yes, Mam.” Lamunan Saka langsung pecah.
“What are you doing?”
“I’m looking someone.” Jawabnya, tanpa malu.
“Who?”
“Himawari”
Ran langsung menoleh cepat ke arah Saka begitu mendengar namanya disebut.
“CIEEEEEEEEEEE” Hampir satu kelas langsung meledeknya.
Kejujuran Saka membuat Ran sangat malu.
Devanya pun langsung menyenggol tangan Ran sambil senyum-senyum menggoda.
***
15:40
“Ran, Abang lagi otw ke sekolah kamu.” Kata Ale, melalui pesan.
Ran tak peduli, ia langsung memasukkan kembali hp ke dalam saku roknya.
Saat mau meninggalkan sekolah, ternyata Saka sudah menunggunya di gerbang sekolah.
“Naik” Kata Saka, meminta Ran untuk segera naik ke sepedanya.
Tapi Ran menolaknya. Ia mengabaikan niat baik Saka untuk mengantarnya pulang.
Tapi Saka tak putus asa. Ia malah menggoes sepedanya mengikuti kemana Ran berjalan, walau Ran tetap mengabaikannya.
“Himawari” Saka mencoba membujuknya.
“Apa?”
“Ayo kita baikan.”
“Kenapa harus baikkan?”
“Kan kita lagi berantem.”
“Berantem tentang apa?”
“Ngga tau.”
“Kalo ngga tau jangan sok tau.”
“Ya udah, aku minta maaf.” Kata Saka.
Langkah kaki Ran langsung berhenti begitu mendengar kalimat permintaan maaf yang Saka ucapkan padanya. Padahal Ran tahu kalau Saka tidak buat kesalahan padanya.
“Jangan minta maaf kalo ngga buat salah.”
“Kalo gitu kamu yang minta maaf.” Kata Saka, sambil tersenyum manis.
DEG.
Seketika senyuman manis di wajah Saka malah membuat jantung Ran jadi berdebar.
Dalam pikirannya, kenapa ada cowok secool Saka, setampan Saka, sepintar Saka, dan sepopuler Saka bisa baik padanya? Padahal ia selalu bersikap sinis dengan sengaja.
“Terpesona sama aku?” Tanya Saka, geer.
“Iya” Jawab Ran, jujur.
“UH???” Saka terkejut mendengar jawaban Ran.
“Aku terpesona sama kamu, tapi sayangnya ngga boleh.” Kata Ran, menyesali.
Ran pun kembali berjalan.
Dan jawaban singkat Ran, berhasil membuat jantung Saka yang gantian berdebar sekarang.
Tiba-tiba saja hujan turun rintik-rintik.
Ran yang merasakannya, segera kembali menghampiri Saka yang masih melamun.
“Saka, hujan. Ayo cepet.” Kata Ran, seraya naik ke sepeda Saka di belakang.
Lamunan Saka langsung buyar. Ia segera menggoes cepat sepedanya untuk mencari tempat berteduh.
***
Saka mengarahkan sepedanya ke taman 400 meter. Mereka pun berteduh di bawah permainan yang ada di taman. Keduanya sama-sama kebasahan, karena hujan yang tiba-tiba saja turun deras saat mereka masih di jalan.
Melihat kepala Ran kebasahan, tangan Saka reflek langsung ingin mengusapnya. Tapi dengan cepat Ran malah menjauhkan kepalanya dari tangan Saka.
Saka langsung merengutkan dahinya melihat Ran kembali menolak perhatian darinya.
“Aku ngga boleh ngusap kepala kamu yang basah?” Tanya Saka.
Ran jadi bingung sendiri dengan sikap tolakkannya. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Lalu dengan asal ia pun menjawab “Ngga boleh.”
Dahi Saka semakin merengut tajam. Ia kesal dengan jawaban Ran.
Seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Dengan raut kesal Saka kembali mengungkit kejadian saat di lapangan basket tadi.
“Kenapa Juna boleh bersentuhan sama kamu?, tapi aku ngga boleh?” Tanya Saka, tak terima dengan cara Ran memperlakukannya.
“Kan…ngga sampe sentuh kulit.” Jawabnya, beralasan.
Jawaban Ran terdengar aneh dan terlalu dibuat-buat menurutnya.
“Oke. Aku ngga mau ngebahas lagi. Yang penting buat aku, kalo aku ngga boleh bersentuhan sama kamu berarti ke cowo lain juga begitu. Adil kan?”
“Kenapa kamu jadi posesif?”
“Kan aku pacar kamu.”
“Inget ya. Kita cuma…”
“Ahhh semoga hujan lama redanya.” Kata Saka, langsung mengalihkan. Ia sengaja menyelak kalimat Ran.
Seraya melihat ke atas langit, Saka menadahkan tangannya ke arah langit. Ia sudah tahu apa yang mau Ran katakan, dan ia tidak mau mendengarnya lagi.
Childish. Pikir Ran pada cowok di sebelahnya.
Ia tidak pernah melihat sikap kekanak-kanakan dari seorang cowok. Karena selama ini yang ia lihat adalah sikap dewasa yang selalu Ale tunjukkan padanya.
Dengan terpaksa, Ran pun harus mengatakan “Oke. Adil. Aku ngga akan bersentuhan dengan cowok manapun, kecuali Bang Ale.” Kata Ran, mengakhiri kalimatnya dengan suara lemah.
Ketika nama Ale disebut oleh Ran. Saka langsung merasa kalau Ale adalah alasan Ran menangis.
“Kenapa kecuali Bang Ale?” Tanya Saka, ingin tahu.
“Karena Bang Ale priaku.” Jawabnya, cepat. Namun sambil membuang mukanya ke samping.
“Priaku?”
“Udah jangan ngebahas panjang.” Kata Ran, memutus pembahasan tentang Ale.
Saka pun diam.
“Boleh aku tanya sesuatu?”
“Tentang?”
“Apa alasan kamu nangis di depan aku selama ini?”
Ran terdiam. Entah harus menjawab apa, jujur pun tidak mungkin.
“Aku ngga mau kasih tau.”
“Kenapa?”
“Rahasia.”
“Hhh! Kayaknya hidup kamu penuh dengan rahasia.”
“Exactly.”
“Exactly?”
Ran mengangguk.
Pandangan matanya ia kembalikan ke depan. Ia tidak peduli sekalipun Saka berpikir kalau dirinya adalah cewek yang aneh.
“Kalo…aku tanyain tentang pertanyaan lain?” Tanya Saka, yang masih ingin mengetahui tentang Ran.
“Mau tanya apa lagi?”
“Apa kamu suka sama aku?” Tanya Saka, ragu.
Lagi. Saka mempertanyakan tentang perasaan Ran padanya.
“Kenapa kamu suka tanya ini?”
“Karena aku pengen tau.”
“Jawabannya ngga.” Kata Ran, tanpa ragu.
“Bohong.”
“Kenapa harus bohong? Coba deh kamu berpikir secara realistis. Mana ada orang yang bisa suka sama seseorang hanya dalam waktu hitungan hari aja. Mustahil.” Sahut Ran, tak percaya.
Tapi Saka menanggapi pertanyaannya sendiri dengan serius.
“Apa kamu ngga pernah jatuh cinta?”
Seketika pertanyaan Saka kali ini membuat Ran tersadar dengan satu hal itu. Ia pun mempertanyakan pada dirinya sendiri.
“Pernahkah aku jatuh cinta?”
Ya. Ran memang bukanlah perempuan yang mudah jatuh cinta. Baginya, ia akan benar-benar jatuh cinta pada pria yang tepat untuknya.
“Kenapa harus jatuh cinta untuk menentukan kita suka sama seseorang atau ngga? Bukannya suka sama seseorang bukan berarti jatuh cinta?”
Saka kembali terjebak dengan pertanyaan sendiri. Ran selalu berhasil membuatnya dalam keadaan skak mat.
Saka pun akhirnya diam dan berhenti membahas tentang rasa suka Ran padanya yang sangat ingin ia ketahui.
"Jatuh cinta. Seperti apa rasanya…aku juga ngga tau. Mungkin aku pernah merasakannya, tapi entah dengan siapa. Selama ini laki-laki yang ada di dalam hidup aku hanyalah Abang Ale. Aku memang pernah takut kehilangan dia, aku juga pernah membayangkan seandainya ngga ada dia gimana rasanya. Tapi perlahan dua hal itu berubah menjadi biasa, sejak Saka hadir di dalam hidup aku. Aku justru ingin Saka yang menjadi Abang Ale, menjadi suamiku. Apa itu yang dinamakan jatuh cinta?”
Bersamaan dengan Ran mempertanyakan kembali tentang jatuh cinta, ia pun kembali menoleh ke arah Saka yang masih berdiri di sampingnya. Saat itu, tiba-tiba Saka memakaikannya jaket agar Ran tidak kedinginan.
Tanpa mereka tahu…
Saat ini Ale sedang tergesa-gesa berlari dari mobil menuju ke taman 400 meter. Langkahnya terus mengikuti petunjuk peta di hpnya.
Tepat di depan taman 400 meter, Ale menghentikan langkah kakinya. Saat itu juga Ale melihat Saka sedang memakaikan jaket ke badan Ran. Seketika tangannya yang sedang memegangi payung langsung terasa lemas.
***
19:15 Rumah Susun
“Ran mau ke rumah Bunda?” Tanya Ale.
Ran menggeleng.
“Ran mau Abang ngelakuin apa supaya Ran ngga marah terus sama Abang?”
Ran kembali menggeleng.
Ale semakin kesulitan untuk mengembalikan keceriaan Ran seperti dulu lagi. Apa yang dilakukannya selalu terlihat salah dimata Ran.
“Bang Ale ngga usah ngelakuin apa-apa, karena semuanya bakalan percuma.” Kata Ran, yang sudah terlalu kecewa.
“Ran, Abang tau kalo Ran kecewa banget sama Abang. Abang juga tau kalo Ran marah banget sama Abang. Tapi kalo Ran kayak gini terus, Ran cuma bakalan nyiksa hati dan diri Ran sendiri. Ran harus menerima semua ini secara perlahan-lahan.”
Semua kalimat Ale tidak ada sedikit pun yang bisa diterima oleh nalarnya. Tidak peduli sekeras apa usaha Ale untuk meyakinkan cintanya, tapi Ran tetap ingin menjauh dari Ale.
“Bang Ale tau ngga, siapa teman cowok aku yang udah pernah aku pacarin? Ngga ada kan? Kenapa sampe ngga ada? Itu karena Bang Ale yang selalu sama aku terus. Jadi mereka semua berpikir kalo Bang Ale itu pacar aku. Kenapa sih Bang Ale ngga pernah kasih aku kesempatan sekali aja, untuk ngerasain mengenal cowok lain selain Bang Ale? Bang Ale tuh egois. Dulu, waktu Bang Ale masih SMA, Bang Ale bisa bebas kan kenal sama teman cewek manapun, tapi aku? Kesempatan itu benar-benar ngga pernah ada dalam hidup aku. Kalo pun ada, banyak hati yang harus aku jaga. Hati Mama, Papa, Ayah, Bunda, dan hati Bang Ale. Aku tersiksa. Benar-benar tersiksa dengan keadaan ini.”
Seketika Ale tersadar. Ia benar-benar baru menyadari tentang hal itu, dan selama ini ia tidak pernah memikirkannya.
“Ran…pengen ngerasain pacaran?” Tanya Ale, dengan berat hati.
Ran menatap dalam kedua mata Ale. Lalu dengan jujur, Ran menganggukkan kepalanya.
Lemas. Ale langsung merasa lemas.
“Bahkan aku sampai harus memahami tentang perasaan cintanya untuk pria lain.”
Menyedihkan sekali berada di posisi Ale. Entah berapa lama lagi waktu yang Ale butuhkan sampai Ran bisa memposisikan dirinya seorang di hatinya.
***
23:00
“Dear Raesaka Yutta. Teman priaku. Seharusnya kamu ngga perlu tanya tentang perasaan aku ke kamu, apa aku suka sama kamu? Karena jawaban aku…iya. Aku suka kamu sejak pertama melihat kamu ada di depan mataku, dan berdiri di depanku meskipun kamu ngga melihat ke arahku saat itu. Aku suka kamu dan aku mau kamu selalu ada bersamaku. Karena kamu pria pertama yang buat aku mau pacaran, kamu juga pria pertama yang buat aku bisa tersenyum kembali, dan kamu pria yang buat aku merasakan perasaan suka pada seorang pria untuk pertama kalinya. Tapi aku harus menangis, dan akan menangis. Karena memilikimu hanya akan menjadi khayalan untukku. Maka, di sisa waktu SMAku, aku ingin terus bersama kamu dengan cara apapun itu. Jadi, aku ngga mau kita putus dulu.”
Ran menutup buku matahari dengan tetes air mata. Berada di posisi sekarang sudah cukup membuatnya frustasi. Tapi kehadiran Saka membuat frustasinya perlahan sedikit berkurang.
***
gk ad kelanjutanya kah....??
smngat thor.. smg kamu sehat...selalu
tapi lagi otw review. tunggu aja ya ☺️
atau juga aluna????
thooor katanya mau posting foto bang ale yg asli manaaaaa??
jg lupa si ran nya juga ya....
kalem ga ??
aku suka bngt...
iya kan thor??
uuh makin sayang bgt sama bang ale
lnjut dong thor