Di dunia yang selalu mencari pemenang, ia memilih untuk berjalan sendirian, tidak untuk menang tapi untuk menghentikan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia pahami.
Ia kembali, bukan sebagai anak yang ingin belajar, tapi sebagai seseorang yang sudah tahu terlalu banyak, dan percaya terlalu sedikit. Di matanya, dunia ini belum berubah, hanya lebih pandai menyembunyikan niat buruk di balik tradisi dan kehormatan.
Ia tak datang mmembawa dendam. Tapi tidak juga datang dengan damai.
Dalam bayang-bayang kesunyian malam, medan perang telah menanti di ujung waktu, satu langkah kecil menjadi pemantik sejarah baru. Atau hanya jejak lain yang hilang bersama debu?
(Remake)
Zhong Li -> Shi Yexian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raffa Alief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 10 - Rasa Benci
“Sepertinya kita harus menghentikan pembicaraannya di sini…” Zhong Li baru menyadari jika di depan sana terdapat satu rumah kecil sederhana, yang tampak sedang menanti kedatangannya. “Itu adalah rumah mu, kau bisa menempatinya. Jika kau butuh sesuatu dariku kau bisa bertemu dengan ku di sana.”
Hou Tian mengarahkannya untuk melihat rumah lainnya yang tidak jauh berbeda dari rumah sebelumnya dengan jarak yang sedikit jauh. “Kita akan berpisah di sini, kau istirahatlah terlebih dahulu jika kau ingin bersantai kau bisa berendam di danau yang ada di sana.”
Hou Tian menunjuk sebuah danau yang sedikit tertutupi oleh beberapa pohon, Zhong Li tidak bisa melihat danau itu sepenuhnya dengan jelas karena jaraknya yang sangat jauh, tapi itu berbeda dengan Hou Tian.
“Apakah aku harus berada di sini seumur hidupku, hanya untuk menemanimu?”
Zhong Li tidak yakin dengan pemikiran yang mengatakan jika dirinya adalah orang yang di pilih untuk menemani orang tua itu yang sendirian, meskipun begitu ini sangat masuk akal dengan perkataan Hou Tian tadi yang mengatakan jika dirinya adalah Orang Yang Terpilih.
Hou Tian yang sejujurnya itu bisa membaca hati manusia hanya bisa tertawa lantang, setelah membaca apa yang Zhong Li pikirkan barusan. Alis Zhong Li naik turun karena mendapat jawaban yang tidak di sangka-sangka dari pria paruh baya yang ada di depannya.
“Aku akui hanya kau lah yang bisa berpikir seperti itu di depanku. Sejujurnya aku sedikit penasaran dengan ini… Kenapa kau sama sekali tidak takut dengan ku?”
“Apakah aku harus menjawab sedemikian rincinya?” Zhong Li tidak tahu harus menjelaskannya dari mana, tapi sebelum selesai dirinya mulai menjelaskan, Hou Tian tampak lebih dulu mengerti keadaannya.
“Tidak perlu, sepertinya aku sudah mendapatkan jawabannya dari hati mu… begitu ya! kau sama sekai tidak takut kepada ku karena kau berpikir jika kau sudah tidak memiliki beban lagi ya. Cukup menarik!”
Dari perkataan yang Zhong Li dengar barusan, dirinya baru sadar jika Hou Tian dapat membaca hatinya, entah apa yang sedang menjadi rencananya ke depannya, atau gumaman lainnya di hatinya saat ini bisa orang itu baca. ‘Itu akan menyulitkan jika aku menghadapinya nanti.’
“Yah lupakan saja, kekuatan ku yang ini. Aku janji tidak akan membaca hati mu untuk kedepannya jadi santai saja. Sampai jumpa besok!” Hou Tian berjalan ke arah rumahnya dengan santainya.
Sedangkan Zhong Li sendiri tersenyum masam karena menyadari jika pria paruh baya itu baru saja mendengar isi hatinya. ‘Apakah aku besok masih selamat? Mungkin saja nanti dia bisa menyerang ku secara-secara diam-diam, jadi sepertinya aku harus terus waspada.’ Zhong Li menghela napasnya pelan.
‘Yang pertama, aku harus istirahat terlebih dahulu! Meskipun saja aku sudah bisa di bilang sembuh, tapi masalah mental mungkin masih belum… Bisa di lihat aku terlalu lelah berpikir tentang kematian yang terjadi tadi.’
Zhong Li berjalan menuju rumah yang di maksud oleh Hou Tian, dirinya harus melewati jalanan turun terlebih dahulu sebelum bisa sampai ke rumah tersebut. “Di sini sangat damai!”
Zhong Li memejamkan kedua matanya di setengah perjalanan, berusaha untuk menghayati semua rasa damai yang menerjangnya bersama semilir angin di pagi hari. ‘Indah! Damai! Tenang, semuanya ada di sini. Entah apa yang harus ku lakukan setelah ini, aku akan memikirkannya nanti.’
Zhong Li melanjutkan langkahnya menuju ke rumah kecilnya, “Rumah ya? Sebelum aku di hidupkan kembali oleh Batu Kehidupan itu, di atas sana aku tidak memiliki rumah… Jadi begini ya, rasanya memiliki tempat untuk pulang.” Dia menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk rumahnya.
Zhong Li jadi teringat, jika sebelumnya ia tidak pernah memiliki sebuah rumah yang selalu menantikan kepulangannya, itu adalah hal yang wajar mengingat dirinya sudah terlepas dari semua genggaman Sekte dan memutuskan untuk mengembara sembari melancarkan misinya yang masih berhubungan dengan sumpahnya.
“Andaikan aku bisa mempunyai rumah yang bisa di tinggali untuk dua orang, mungkin aku akan mengajak Qiqi untuk tidur bersama.” Di iringi dengan tawa kecilnya, Zhong Li melanjutkan niatnya untuk masuk ke dalam rumahnya tersebut.
Di dalamnya sudah terdapat satu kasur rapi dengan satu meja kerja berada di sudut ruangan mengarah ke jendela, mata Zhong Li tidak berhenti di sana, ia menelusuri ruangan itu lebih jauh lagi dan menemukan satu rak buku terpampang jelas di samping kirinya, dekat dengan pintu masuk memanjang sampai ke samping meja kerjanya.
“Apa yang harus ku lakukan saat ini, aku memang sangat ingin untuk menidurkan kepalaku di kasur yang empuk itu, tapi entah kenapa buku-buku ini menahan ku agar tidak tidur… Sialan mungkin aku akan membaca sebentar setelah itu baru tidur!” Zhong Li mendengus pelan sebelum akhirnya mengambil salah satu buku yang menarik perhatiannya.
“Angin Yang Sedang Mengalir, mungkin ini buku ini akan cocok dengan keadaan ku sekarang.” Meskipun Zhong Li adalah pria pemberani yang penuh dengan tekad, tapi tidak bisa pungkiri jika dirinya sangat menyukai dongeng anak-anak yang di penuhi oleh berbagai kata-kata penyemangat yang membangkitkan semangat orang yang membacanya.
Dia membawa buku itu ke meja kerjanya kemudian mulai duduk di kursinya dan membaca bukunya itu di mulai dari halaman pertama. Ia mulai terjun kedalam dunianya sendiri, sehingga sama sekali tidak mempedulikan yang ada di sekitarnya saat ini, bahkan waktu sekalipun.
***
“Anak itu sedang membaca salah satu buku yang sudah ku siapkan, yang lebih mengejutkan lagi dia sedang membaca buku dongeng anak-anak yang ku sukai dulu…” Hou Tian menghela napasnya pelan, sedari tadi ia sudah mengawasi Zhong Li dari kejauhan dengan menggunakan indra perasanya.
“Dia benar-benar mirip dengan ku dulu! ” Hou Tian melihat ke sekitar terlebih dulu sebelum akhirnya turun dari kasurnya. “Mungkin sekarang aku harus mandi, sebelum mengajarinya sesuatu ke depannya.”
“Anak itu harus segera menyelesaikan tugasnya, tapi dia membutuhkan waktu sekitar satu bulan lagi sebelum bisa kembali ke dunianya dulu.
Mungkin aku bisa memanfaatkannya celah waktu ini sebagai kelas latihan untuknya, mengingat sudah terlalu banyak teknik dan jurus yang ku ciptakan di sini, tapi itu sama sekali tidak mengubah apapun di dunia sana.”
Sejak dirinya menjadi dewa tertinggi dan memutuskan untuk tinggal di dunia ini, dirinya jelas sangat bosan untuk menjalani kesehariannya karena tidak adanya teman atau manusia selain dirinya.
Untuk menghapus rasa bosan itulah Hou Tian sering kali, menciptakan teknik dan jurus baru, menguji cobanya dan yang terakhir menulisnya di sebuah buku agar tidak di lupakan nya nanti. “Mungkin dia akan beristirahat setelah ini dan akan bangun nanti malam.”
***
Saat membaca bukunya yang sudah sampai setengah cerita. Zhong Li tiba-tiba saja teringat tentang teman satu-satunya yang selalu menemaninya itu sampai saat ini.
“Qiqi ya… Apa yang sedang dia lakukan saat ini? Apakah dia merindukan ku? Ah itu tidak penting lagi, aku sudah tidak kuat untuk membaca lagi, jadi lebih baik aku tidur saja.” Zhong Li bangun dari duduknya berjalan ke kasur empuknya berada.
Setelah berada di depannya tepat di depannya, dirinya segera menjatuhkan badannya ke kasur itu. “Fanrou Tian Zhi? Dia dewa bukan? Apakah aku juga harus membencinya.” Zhong Li sempat bergumam pelan sebelum akhirnya tertidur pulas.