Baby Grezyca Aurora, Nama yang bagus tapi tidak dengan nasibnya. sedari kecil Baby sudah ditinggal oleh kedua orang tuanya karena kecelakaan yang menimpa mereka. Dan sejak saat itu Baby harus menjalankan hidupnya hanya dengan Marvel pratama, Kakak kandungnya.
Suatu hari Baby dipecat dari pekerjaannya tanpa alasan dan itu membuatnya uring uringan. Karena Baby sangat membutuhkan uang untuk pengobatan kakaknya yang sedang sakit.
Seorang teman Baby memberikan informasi bahwa di perusahaan Xington group sedang membuka lowongan pekerjaan. Baby sangat bahagia, ia memutuskan untuk melamar pekerjaan disana.
"Pendidikan terakhir?"
"SMA pak"
Pria itu diam sesaat dan menatap Baby dengan sorot mata yang tajam.
"Kamu ditolak, saya tidak bisa menerima Sekretaris yang hanya lulusan SMA"
"Bapak menolak saya karena saya lulusan SMA, memangnya bapak pikir lulusan SMA tidak bisa bekerja jadi sekretaris. Saya pastikan bapak menyesal karena menolak saya.
Leon pradipta Xington, orang yang baby bentak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririn Calliesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PMS
Leon dan Marvel sedang tertawa terbahak bahak di ruang tengah. Marvel memaksa Leon untuk tidak pulang sebelum malam. Karena jujur saja Marvel sangat kesepian di rumahnya.
Baby yang saat itu sedang memasak di dapur mengintip mereka sebentar, Baby terpaku pada tawa Leon yang begitu lepas. Tak seperti biasanya, Leon benar benar berbeda saat ia tertawa.
Tanpa sengaja Mata Leon menatap ke arahnya, Baby buru buru masuk ke dapur lagi agar tidak ketahuan Leon. Tapi sayangnya Leon sudah melihatnya terlebih dahulu.
Marvel menepuk pundak Leon sambil menatapnya. "Selain antara bos dan sekretaris kamu ada hubungan apa dengan Baby?" Tanya Leon yang kini mulai serius.
"Kita tidak ada hubungan apapun selain itu" jawab Leon dengan jujur. "Malah adik lo itu nyebelin banget sama gue" lanjut Leon sambil menatap ke arah Marvel.
"Dia pernah cerita sama aku tentang kamu, gara gara kesombongan kamu membuat dia jadi benci. Tiap kali dia berbicara yang ada hubungannya denganmu dia melengos begitu saja"
Leon mengangguk. "Tapi meskipun dia ngeselin sama kamu, kamu gak akan pernah mempermainkan dia kan? Kalau sampe aku tahu kamu mempermainkan Baby. Jangan harap wajah dan tubuhmu masih utuh" Marvel menatap tajam Leon.
"Gawat, bagaimana kalau Marvel sampe tahu jika aku pernah membuat adiknya menjadi budakku, tenang Leon kamu aman asalkan mulut lo tetap diam" batinnya.
"Gue gak mungkin mempermainkan apalagi menyakiti adik sahabat gue sendiri" jawabnya dengan penuh dusta.
"Baguslah"
Baby sudah selesai memasak untuk makan malam, ia menyiapkan semua makanannya di atas meja. Setelah beberapa menit kemudian Baby pun berniat memanggil Marvel untuk makan malam.
Baby menghampiri Marvel yang sedang menonton bola bersama Leon di sampingnya. "Abang" panggilnya. Kedua lelaki itu menoleh secara bersamaan padahal yang dipanggil hanya satu dan itu adalah abangnya sendiri.
"Kenapa dek?"
"Makan malam sudah siap, ayo kita makan bersama sama" ajak Baby. "Baiklah, ayo Leon kita makan malam" Leon mengangguk sambil menatap Baby.
Mereka bertiga berjalan ke meja makan dan duduk di kursinya masing masing. Baby membantu Marvel untuk menyiapkan makanannya. Sedangkan Leon ia hanya meliriknya saja.
"Kok abang doang yang disiapin? Leon juga dong" ucap Marvel. Dengan enggan Baby menyiapkan makanan untuk Leon kemudian langsung memberikannya. "Lauknya pilih sendiri saya tidak tahu mana lauk yang pas di lidah bapak" ucapnya.
"Kenapa gak sekalian aja kamu yang nyiapin semuanya, saya pasti suka kok. Itung itung belajar makan makanan dari istri nanti" ucap Leon.
Marvel terkejut mendengar perkataan Leon, selama ini Marvel tidak pernah berpikir Leon akan menikah karena wanita masa lalunya itu. Lalu kenapa sekarang Leon tiba tiba berbicara seperti itu.
"Belajar sendiri kan bisa" jawab Baby dengan cuek. Ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri kemudian langsung memakannya. Tak seperti di cafe, kali ini Baby makan dengan tenang dan rapi.
"Tumben makannya jaim gitu? Tadi di cafe kayak tikus kelaparan aja" ucap Leon pada Baby.
"Apa urusannya sama bapak terserah saya lah mau makan kek gimana" Baby menjawabnya dengan sewot. Marvel menyenggol lengan kanan Leon dan membisikkan sesuatu.
"Aku cuma mau bilang kalau adikku mungkin lagi pms. Dan kadar kegalakannya akan bertambah berkali kali lipat. Jadi bersikap baiklah di kantor atau kamu yang akan jadi korban PMS nya Baby" Marvel mengerlingkan matanya ke arah Leon sambil tersenyum prihatin
Leon tidak akan takut, lagi pula dimana harga dirinya kalau ia takut hanya dengan seorang wanita yang pms. Yah Leon harus menguatkan mentalnya.
Ayahnya memberinya nama Leon bukan tanpa alasan tertentu, melainkan agar Leon saat dewasa nanti menjadi seorang pemuda yang pemberani dan tidak kenal takut.
Leon balik berbisik pada Marvel. "Gue yakin, Gue bisa menjinakkan adik lo dengan mudah" bisiknya. Marvel tersenyum meremehkan, rupanya Leon masih belum tahu banyak tentang baby. Ia tidak sabar menunggu hari esok.
"Apa yang kalian bisikkan?'" Tabya Baby dengan wajahnya yang datar.
"Tidak ada, kami hanya membisikkan tentang pertandingan bola tadi"
"Cepat makan dan jangan mengobrol di tengah tengah makan malam" ucap Baby lagi, entah kenapa pms kali ini membuat Baby tambah sensi. Apakah itu karena ada Leon disini?
Setelah selesai makan malam bersama Leon memutuskan untuk segera pulang, ia memakai kembali jas nya dengan baik. "Vel gue harus pulang nih dah malem kapan kapan gue kesini lagi'
Marvel berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Leon. "Yaudah tapi kapan kapan kamu kesini lagi. Awas aja kalau sampe lupa niat dateng kesini."
Leon terkekeh kemudian ia menatap Baby yang masih asik dengan sinetronnya. Baby menghadap dan menonton televisi dengan pandangan lurus ke depan dan mulut sambil menguyah makanan.
"Baby saya mau pulang" ucap nya pada Baby. Baby menoleh pada Leon sebentar kemudian menaruh kembali makanannya di atas meja. "Baiklah, ayo saya antar bapak ke depan" jawaban Baby kali ini sedikit lunak.
"Aku pulang Vel, lo kalau ada waktu juga bisa datang lah ke apartemen, kita main ps bareng seperti dulu lagi" ucap Leon pada Marvel. Marvel mengangguk.
Kemudian Baby mengantar Leon sampai halaman depan rumahnya. Ketika Leon tak kunjung masuk mobil dan malah menatapnya membuat Baby berang.
"Cepat bapak masuk mobil" ucapnya. Leon menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ada satu orang pun. Leon berjalan maju dan mendekatkan wajahnya pada telinga milik Baby.
"Jangan galak galak nanti malah suka lagi'
Baby berdecak sebentar dan menatap Leon dengan tidak suka. "Dua menit bapak gak pergi saya akan masuk ke dalam rumah"
"Oke, kalau begitu saya pergi dulu.. tidur nyenyak ya dan jangan lupa matiin monyet eh lampu sebelum tidur" melihat Leon berubah menjadi cerewet di depan Baby membuat Baby harus banyak banyak bersabar.
Leon membuka pintu mobinya dan kemudian segera masuk dan duduk di kursi kemudi dengan memegang setir mobilnya. "Saya pulang dulu terima kasih atas makan malamnya"
"Hm" jawab Baby dengan sedikit malas malasan. Lihat saja besok, Leon pasti akan berubah . Setelah mengantar Leon, Baby kembali lagi ke ruang tengah dan melanjutkan acara nontonnya bersama Marvel.
"Gimana?" Tanya Marvel. Baby menoleh pada Marvel sebentar. Gimana apanya bang?' Marvel memperbaiki posisi duduknya dan menghadap Pada Baby dengan benar
"Leon benar benar tidak bisa dibayangkan dia seperti apa? Mungkin di kantor dia memang terkesan lebih sombong atau angkuh tapi dia sebenarnya Baik. Leon hanya sedang memakai topeng saja" jelas Marvel.
Baby mulai tertarik ke arah pembicaraan mereka. "Tapi kenapa pak Leon gak suka bang kalau Baby nyebut nyebut orang terkasih anda atau kalimat yang berhubungan dengan perempuan?" Tanya Baby penasaran.
'Itu karena dia trauma perempuan, dulu wanita masa lalunya menjual Leon pada wanita kesepian yang haus s*x sehingga Leon benar benar marah saat itu. Dalam sebulan ia tak pernah masuk kantor Lagi. Leon terlalu takut untuk bertemu dengan perempuan. Itu lah sebabnya ia tidak suka jika ada yang menyebut nyebut hal itu"
Sekarang Baby mulai mengerti kenapa Leon mengerti hal itu. "Tapi kenapa sikap Pak Leon sama Baby beda bang? Yah meskipun menyebalkan tapi dia perhatian sama Baby"
Marvel menatap baby tepat di matanya. "Itu adalah misteri yang belum bisa abang pecahkan saat ini, karena abang juga masih belum yakin pada hal itu" jawab Marvel.
.
.
Keesokan harinya, hari ini menjadi hari yang normal bagi Baby karena Leon tidak pernah mengusilinya lagi. Paling Leon hanya memberikan ia tugas kemudian kembali ke meja nya dan menanda tangani semua berkas.
"Baby bacakan jadwal saya hari ini" ucap Leon tanpa menatap Baby. "Hari ini jam 9 bapak akan bertemu dengan pak Ronald dari perusahaan X-Von untuk membahas kerja sama perusahaan. Sedangkan jam 12 nanti bapak harus makan siang dengan Bu Tuti selaku pemegang saham terbesar di kantor Arnesa"
Leon mengangguk anggukan kepalanya. Sebenarnya dari tadi Leon sangat ingin berbicara dengan Baby. Namun Leon masih mengingat jelas apa yang dikatakan Marvel kemarin.
Bahwa Baby akan bertambah galak berkali kali lipat jika sedang pms. "Tolong belikan saya sarapan di kantin, saya belum sarapan pagi ini". Baby menatap Leon.
"Tunggu sebentar pak saya belikan dulu" ucap Baby. Leon hanya menganggukkan kepala sebagai balasannya.
Baby hanya orang tertentu aja 🙂
Jangan lupa mampir di novel ku juga ya~ Judulnya cinta kedua
Terimakasih🤗
KRNA ORNG NYA TLAH MENDAHULUI KITA...
TAMAT