Sebuah lampu Tumblr yang ia pasang di antara kelambu dipan ranjang nya menyala seperti bintang.
Hanya ini yang Keisha bisa lakukan, menciptakan sebuah bintang yang akan menemani nya di kamar nya.
Saat ini, Keisha tak lagi ingin melawan Syarif. Ia takut jika Syarif benar-benar membuat nya berhenti kuliah. Jika itu terjadi, maka hancur sudah semua cita-cita nya.
Keisha memejamkan mata nya, setetes air mata slalu saja keluar dari pelupuk mata nya setiap malam. Sejenak ia akan bahagia, saat lampu-lampu tersebut menyala. Tapi, Lama-lama saat Keisha memandangi nya, ia merasa bahwa dirinya saat ini sangatlah miris sekali. Takdir begitu kejam kepada nya. Sebelum nya, ia tidur di rumah mewah dengan design kamar atap kaca. Hidup bebas, tertawa, dan bisa pergi ke sana kemari. Tapi, sekarang tidak lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumtazah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyembunyikan Kesalahan
Sudah tiga bulan lama nya Keisha berada di pesantren. Walau bukan santriwati, kini Keisha merasa sudah mulai banyak peraturan yang melilit nya.
"Tadi sholat kok bi, dia sudah masuk ke kamar nya"
"Baiklah, abi tinggal dulu ya"
Lelaki paruh baya yang di panggil Kyai ma'sum itu pergi dari rumah nya. Seperti biasanya, sehabis sholat Subuh dia akan memberikan ceramah sedikit kepada para santri dan santriwati nya.
"Umi kenapa berbohong sama abi? Kenapa umi belain dia terus sihh" Anisa kesal, ia tak suka dengan umi nya tersebut yang slalu menutupi kesalahan Keisha.
Pagi ini, Keisha tidak bangun dan meninggalkan sholat subuh. Dia sangat kecapekan sekali karena tadi malam dia bergadang mengerjakan tugas kuliah.
Arifah sendiri merasa tak tega, cukup sudah minggu lalu Aditya marah besar kepada keisha. Kyai Ma'sum melaporkan kepada Aditya, karena jarang sekali sholat.
Akibatnya, Anisa merasa iri. Karena dulu umi nya tak pernah menyembunyikan kesalahan Anisa kepada Kyai Ma'sum.
Saat ini, Keisha berada di balik pintu kamar nya. Ia baru saja bangun dan tentu ia mendengar bagaimana Arifah membela nya. Itulah sebab nya, Keisha tak pernah bisa menolak permintaan Arifah.
"Umi maaf" Ucap Keisha.
"Kamu sudah bangun kei, ayo cepat mandi. bukankah hari ini kuliah pagi?"
"Iya umi, tapi maafkan Keisha ya. Gara-gara Keisha umi berbohong kepada Abi"
"Tidak sayang, sudah mandi ya. Jangan pikirkan hal itu"
Keisha pun mengangguk, namun beberapa buah dan sayur yang sekarang berada di meja makan menarik perhatian Keisha.
"Tumben masak di sini, umi?"
"Anak umi, akan datang sayang. Jadi umi sengaja masak"
"Anak umi? emang datang dari mana?"
Arifah menghela nafas nya dengan kasar, seolah-olah dia sedang membuang rasa sedih nya. Tapi dia langsung tersenyum dan berkata "Dia lagi dakwa sayang. Sudah dua tahun lama nya, dia jarang sekali pulang. Paling lama pulang hanya 3 hari"
"Ohh.. dakwa itu yang masuk daerah terpencil gitu ya umi, untuk ceramah biar orang-orang masuk islam?"
"Hehehe.. bukan seperti itu sayang. Dia dapat undangan Ceramah gitu di berbagai tempat. Jadi jarang pulang"
"Ohh.. seperti itu, Keisha kira"
"Sudah, mandilah. Keburu Abi datang nanti"
Keisha pun langsung masuk ke kamar mandi, ia segera menyelesaikan mandi nya, karena kuliah akan di mulai jam 7.
Setelah sarapan, Keisha pun berangkat dengan sebuah motor keluaran terbaru, vespa matic. Motor tersebut adalah hasil ancaman nya kepada Aditya.
Setelah kejadian bersama Anisa waktu pertama masuk kuliah. Keisha langsung mengancam Aditya agar membelikan nya motor tersebut, kalau tidak datang hari itu juga, dia tak mau kuliah. Aditya yang dasar nya sangat sayang dan sulit sekali jika tidak memanjakan Keisha. Dia tidak bisa menolak dan langsung menyusahkan sekertaris nya untuk mengurus keperluan Keisha.
Lama-lama Keisha juga sangat suka dan semangat sekali jika masuk kampus, meskipun dia terkadang lelah dengan aktifitas di pesantren yang wajib sholat berjamaah di masjid. Bagi Keisha, Teman-teman nya itu sangat menyenangkan sekali. Mereka mampu membuat Keisha tertawa, dan sejenak bisa menghilangkan rasa jenuh Keisha.
"Teman-teman, tugas pak Bagyo kumpulin. nanti jam 11 aku mau antar ke ruangan nya"
"Pak Bagyo gak masuk?"
"Kata nya dia terlambat, kemungkinan kita dikasih tugas saja"
Beberapa mahasiswa di sana bersorak gembira. Satu jam kosong hari ini, sudah lebih dari cukup. Mengingat kemarin malam hampir semua nya bergadang mengerjakan tugas.
Jam istirahat tiba, seperti sebelum-sebelum nya, Keisha akan makan bersama Nur. Wanita yang kini menjadi sahabat nya.
"Nanti Gus Syarif datang ya, kei?"
"Siapa Gus Syarif?" jawab Keisha yang tengah sibuk mengunyah lontong sayur.
"Itu, anak nya Kyai Ma'sum"
"Aku gak tau" Ya begitulah Keisha, yang cuek dan sering tak peduli dengan hal-hal yang tidak ada hubungan nya dengan hidup nya.
"Besok kamu mau kemana, kei?"
"Gak ke mana-mana, mbak. Kata papa, dia ada urusan kata nya sama Kyai Ma'sum"
Nur hanya mengangguk saja.
"Tapi sore nya aku sama papa mau jalan-jalan. Ikut yuk mbak"
"Gak bisa kei, kan tau sendiri aku harus ngajar ngaji"
"Emang gak boleh ya mbak, izin gitu"
"Hmm.. gak enak kei"
"Emang gaji nya berapa sih?"
"Dua ratus lima puluh ribu"
"Hah?"
Keisha terkejut bukan main, mendengar kata dia ratus lima puluh ribu.
"Serius mbak? lalu uang kuliah, jajan?"
Nur nampak nya menghela nafas nya dengan kasar "Aku kan dapat beasiswa kei, untuk tempat tinggal sama makan kan udah di kasih sama pesantren, karena aku ngajar di sana."
"Tapi, itu sedikit sekali mbak"
"Bersyukur kei, bersyukur."
Keisha terdiam..
"Yang penting, bagi aku gak minta uang sama orang tua. Dan satu lagi kei"
"Apa?" Keisha menoleh, menatap Nur dengan penasaran.
"Bisa mengajar di pesantren itu juga rezeki, kei. Banyak yang pengen mengajar di pesantren dan dapat beasiswa itu sudah rezeki besar bagiku"
"Makanya kei, kamu harus bersyukur. Terlahir di keluarga kaya. Aku sejak kecil berjuang, bapak ibu ku dulu hanyalah buruh tani, kalau gak berjuang gini mana bisa kuliah."
Ternyata Allah mempertemukan Keisha dan Nur untuk ini. Tak dapat di pungkiri, hati Keisha terketuk hanya dengan ucapan sederhana Nur. Nur sendiri tidak bermaksud apapun, dia hanya ingin mencurahkan isi hati nya, kuasa Allah, itu menjadi hidayah buat Keisha.
Keisha memarkir Sepeda yang kini menjadi kendaraan kesayangan nya itu di tempat biasanya. Lalu masuk kedalam rumah lewat pintu sebelah kiri, tak lupa mencopot sepatu nya dan membersihkan nya dulu sebelum di bawa masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam, sudah pulang kei. Ayo makan dulu" Tawar arifah yang masih saja sibuk di dapur.
"Tidak umi, Keisha sudah makan tadi."
"Yasudah, kamu udah sholat?"
"Sudah, umi" Keisha menggigit bibir bawah nya. Saat ini dia sedang berbohong. Keisha memang seperti itu, sering sekali bahkan hampir tiap hari dia meninggalkan sholat dhuhur, dengan alasan capek.
"Yasudah, kamu istirahat saja. Nanti jam 3 ikut umi ya"
Keisha pun mengangguk, lalu meninggalkan arifah yang masih sibuk di dapur bersama beberapa orang.
"Nduk, kamu cari Gus Syarif. Bilang di panggil saya" Titah Arifah kepada salah satu santriwati yang membantu nya.
"Inggi bu"
"Kemana si Syarif, sudah kubilang jangan ke mana-mana. Udah tua juga masih nakal" Omel Arifah sambil tersenyum, mengingat anak nya itu sering sekali tiba-tiba hilang, sejak kecil.
"Aaaahhhhhhhh"
Arifah kaget, saat mendengar Keisha teriak sangat kencang sekali.
biar Najwa tambah kepanasan...
knp. GK di ajarin puasa. malah sengaja di buatin nasgor tengah hari bolong
inget waktu dulu aku pernah tinggal di kampung suami
lebam 👉 krna habis terkena pukulan / jatuh atau sejenisnya
sembab 👉 krna habis nangis