Gladis 24 tahu harus menerima kenyataan bahwa masa depannya berada di tangan kedua orang tuanya. Ia dijodohkan dengan anak rekan bisnis papanya untuk memperkuat perusahaan orang tuanya di kancah Internasional.
Gadis yang mempunyai kekasih bernama Fadli seorang dokter kandungan harus rela putus karena kedua orang tua Gladis tidak pernah merestui hubungan keduanya.
David calon suami Gladis adalah seorang pengusaha muda yang terkesan dingin, ketus, pemarah, tempramen. Akankah pernikahan mereka berlansung bahagia!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Masih Virgin?
Terlihat seseorang sedang sibuk sendiri memainkan ponsel miliknya, sambil duduk bersandar di bangku kerjanya. Fadli yang kala itu sudah selesai praktek berusaha untuk menghubungi Gladis yang sedari tadi tidak membalas pesannya.
*K**amu kemana Gladis dari tadi aku chat kamu tidak membalasnya, sedang apa kamu? Sesibuk itu kah kamu hingga tidak bisa membalas pesan yang aku kirim beberapa kali*.
Lalu ketika Fadli sedang diam melamun seseorang mengagetkannya.
Tok..Tok...tok...Fadli tersadar dari lamunannya oleh suara ketukan pintu itu. Dengan cepat dia pun membetulkan duduknya dengan benar.
"Masuk," suara Fadli dari dalam.
Lalu krek...pintu itu terbuka terlihat postur tinggi semampai kurus putih bersih ternyata itu adalah Ando sahabatnya.
"Eh, masuk," sambung Fadli ketika Ando terlihat dari balik pintu.
Ando tersenyum dan masuk menghampiri Fadli yang sedang duduk.
"Sibuk lo?" Ando menghampiri Fadli dan duduk di kursi di hadapannya.
"Tidak begitu," jawabnya sedikit terdengar malas sambil kembali bersandar kepada bangkunya.
Ando aneh melihat sikap Fadli yang moodnya tidak baik seperti itu.
"Lo kenapa ada masalah dengan Gladis?" tanya Ando kepada Fadli.
"Tidak ada hanya dari pagi gw chat, gw telpon, gw DM gw SMS tidak di balas."
"Loh kenapa bisa begitu? Lo sedang marahan dengan dia?" Ando terus bertanya.
"Gw tidak marahan sama dia."
"Mungkin dia sedang sibuk?" tebak Ando.
"Ya tidak biasanya, sesibuk apapun dia jika gw chat pasti di balas walaupun telat, nah ini gw chat berkali-kali tidak ada balasan," katanya sedikit kecewa.
"Lo datengin saja ke butiknya," saran Ando.
"Lihat nanti deh, lo sendiri ada apa kesini? Sudah beres praktek lo."
"Astagfirullah!" Ando kaget ketika Fadli bertanya balik kepadanya.
Rupanya ada hal penting yang ingin di bicarakan Ando kepada Fadli, dan Fadli hanya tersenyum melihat tingkah Ando.
"gw lupa bro! Gw mau memberi tahu lo, jika lusa ada seminar di Bandung. Lo bisa ikut tidak? Gw tidak bisa ikut sibuk banget," papar Ando.
Fadli berpikir sejenak ia mengingat apakah ada jadwal penting.
"Bagaimana, lo bisa tidak?" lanjut Ando ketika masih melihat Fadli berfikir.
"Berapa hari seminarnya?"
"3 hari, urusan lo di RS biar gw yang handel," Ando terus merayu sementara Fadli masih ragu untuk pergi ke Bandung apa lagi seharian ini ia belum dapat kabar dari Gladis.
"Ok. Gw berangkat," jawab Fadli setelah berpikir beberapa saat.
"Nah gitu dong, ya sudah gw balik dulu ya ke ruang operasi," Ando hendak berdiri dan pamit.
"Ada yang mau lo tangani?"
"Iya ada perempuan dia di jodohkan oleh orangtuanya, tetapi perempuannya tidak mau dia mencoba bunuh diri, kasian ya," kata Ando mencoba simpati.
Lalu Fadli terpikir akan Gadis, akan hubungannya dengan Gladis seperti itu! Apa lagi ia tahu bahwa orang tua Gladis tidak pernah menyetujuinya.
"Bro, kenapa bengong lo?" Ando mengagetkan Fadli yang kembali melamun dan Fadli tersadar akan lamunannya.
"Sorry, tidak kenapa-napa ko," kata Fadli.
"Melamun terus, cepetan urus surat ijin dan packing," saran Ando sambil pergi berjalan meninggal kan Fadli.
"Iya bawel lo," kata Fadli ngedumel.
Ando menghilang dari pandangan Fadli dan Fadli masih memikirkan kan Gladis.
3 hari tidak akan bertemu Gladis hem, kemana sih kamu, beb.
Di Rumah David
Setelah menempuh perjalanan 20 menit akhirnya David dan Gladis sampai di rumah David. Rumah yang sejuk banyak pepohonan tinggi dan rindang gaya minimalis dengan pintu gerbang yang tinggi. Gladis dan David berjalan masuk rumah, David yang berada di depan dan Gladis mengikuti dari belakang.
"Siang Den," sapa seorang wanita tua ketika Gadis dan David sampai di ruang tamu.
Mereka bertemu dengan Mbok Sum salah satu pembantu di rumah itu. Lebih tepatnya orang kepercayaan keluarganya David, sebab Mbok Sum sudah bekerja di sana sejak papanya David yaitu Om Gustiawan dan Ny Teresa baru menikah Mbok Sum yang merawat David dan Devi sejak masih lahir. Jadi tidak salah jika David dan Devi menganggap mbok Sum seperti ibu ke dua mereka.
"Siang Mbok, Mama mana?" tanya David kepada Mbok Sum.
"Di dalam kamarnya, Den," jawab Mbok Sum sambil sesekali wanita tua itu menatap Gladis.
David sadar jika Mbok Sum sedari tadi memperhatikan Gadis, sepertinya ia ingin tahu siapa wanita yang datang dengan David itu.
"Mbok kenalkan ini Gadis, calon istriku," papar David sambil menarik tangan Gladis mendekati Mbok Sum di hadapannya.
Mbok Sum kaget mendengar ucapan David sekaligus ia senang karena David yang sudah ia anggap anaknya itu akan menikah dengan wanita yang amat cantik dan baik.
"Gladis, ini Mbok Sum dia yang merawat aku dari lahir dan sudah aku anggap sebagai ibu kedua bagiku."
Gladis tersenyum kepada Mbok Sum begitu pun sebaliknya.
"Gladis," Gladis mengulurkan tangannya sambil tersenyum kepada Mbok Sum dan Mbok Sum membalasnya.
"Mbok Sum, Non," balas Mbok Sum memperkenalkan dirinya.
"Ya sudah Mbok, aku mau bertemu Mama dulu," pamit David meninggalkan Mbok Sum.
"Permisi Mbok," sambung Gladis mengikuti David.
Lalu David dan Gladis menuju kamar Ny Teresa yang berada di lantai 2, mereka berdua menaiki anak tangga. Belum selesai tangga terakhir langkah Gladis terhenti.
"David tunggu!" Gladis menghentikan langkahnya dan David yang berjalan di depan Gladis menghentikan langkahnya dan berbalik menatap ke arah Gladis yang berada di belakangnya.
"Ada apa?"
"Apa tidak sopan menemui Mama mu di kamarnya?" tanya Gladis ragu.
"Memangnya kenapa! Kamu calon menantunya, Mama pasti senang jika kamu menemuinya di kamar."
"Bukan begitu, aku takut tidak sopan," kata Gladis merasa tidak enak.
"Sudah jangan banyak bicara, Mama aku itu tidak kaku seperti Mama kamu," jelas David santai.
Gladis kaget ketika mendengar ucapan David yang sedikit menyinggungnya.
"Mama aku itu tidak seperti Mama kamu, yang tidak dekat dengan anaknya," tambah David lagi.
Gladis terdiam mendengar ucapan David, memang benar ucapan David, Gladis dan kedua orangtuanya tidak dekat, mereka bukan seperti orang tua dan anak, dari kecil Gladis selalu mandiri hanya di bantu oleh baby sitter nya. Mama dan papanya sibuk bekerja hingga tidak ada waktu untuk main dan bersama walaupun sekedar mengobrol.
"Kenapa melamun?" David membangunkan lamunan Gladis dan Gladis tersadar kembali menatap David.
"Tidak, tidak kenapa-kenapa," ucap Gladis.
"Ayo masuk," ajak David.
Lalu tidak lama mereka sampai di kamar Ny Teresa. David membuka kamar mamanya.
"Ma," panggil David sambil mengetuk pintu kamar mamanya.
Krek pintu itu terbuka David masuk ke kamar itu, tapi Gladis masih terdiam di depan pintu kamar Ny Teresa.
"Mama," panggil David sambil mencari keberadaan mamanya.
Ia melihat Ny Teresa baru keluar dari kamar mandi dan Ny Teresa sadar akan kedatangan David.
"David," kata mamanya ketika sadar akan kehadiran David.
Lalu David mencium tangan mamanya, wanita itu tersenyum sambil tangan kirinya mengusap kepala David.
"Kamu sendirian, Mama menyuruh kamu datang bersama Gladis," tanya mamanya menatap David.
"Gladis di luar," kata David singkat.
"Kenapa tidak di suruh masuk."
"Dia malu Ma."
"Ajak masuk."
David kembali keluar kamar mamanya dan ia masih melihat Gladis terdiam berdiri di depan pintu.
"Mau sampai kapan di sini," suara David mengagetkan Gladis.
Gladis berbalik ke arah David ia melihat David sudah ada di belakangnya.
"Mama menunggu kamu di dalam, ayo masuk," lanjut David.
"Aku!" kata Gladis kaget menatap David.
"Ya siapa lagi di sini selain kamu," ucap David dengan nada sedikit jutek.
Tanpa persetujuan Gladis, David meraih tangan Gladis membawanya ke dalam, tapi Gladis kaget untuk kesekian kalinya David memegang tangan Gladis tanpa pamit. Gladis terdiam tidak bergerak ia melihat tangannya di pegang oleh David, begitupun David menyadari Gladis diam saja. David menatap Gladis, mereka saling pandang dan David melihat tangannya tidak sengaja memegang tangan Gladis. Lalu David melepaskan tangannya terlihat wajah David aga merah merona begitu Gladis beberapa saat mereka terdiam salah tingkah.
"Mama menunggu kamu, ayo masuk," ajak David.
David masuk di susul dengan Gladis dari belakang, mereka melihat Ny Teresa sedang duduk di sofa panjang kamar itu mereka berdua menghampirinya.
"Siang tante," sapa Gladis ramah.
Ny Teresa senang akan kedatangan Gladis, ia langsung bangun dan memeluk Gladis dengan erat. Gladis kaget ia tidak pernah di peluk seperti ini apa lagi oleh mamanya, rasanya begitu hangat dan damai.
*O**h tuhan, nyaman sekali terasa hangat dan damai. Aku tidak pernah merasakan pelukan ini dari Mama, kenapa pelukan ini sangat damai membuat aku terasa damai dan hangat*.
"Akhirnya kamu kesini," bisik Ny Teresa masih memeluk Gladis.
Gladis tersentak kaget dan menyudahi pelukannya.
"Iya Tante, tadi aku tahu dari David."
"Makasih ya sayang kamu sudah datang," lanjut Ny Teresa sambil menatap Gladis dan mengusap rambutnya.
Gladis semakin kaku dengan sikap Ny Teresa dia tidak pernah di perlakukan manis seperti itu oleh mamanya sedangkan David memandang mereka dengan sinis.
Mama rupanya sangat menyukai Gadis, bagaimana bisa Mama menyukai wanita ini, apa kelebihan dia? Mereka mau menjodohkan aku karena uang, kan! Lihat saja jika sudah menjadi istriku nanti pasti banyak maunya.
"Kemari," Ny Teresa membawa Gladis duduk di sampingnya di sebuah sofa kamar itu.
Gladis duduk di sampingnya sejajar dengan Ny Teresa, sedangkan David duduk di sebelah Gladis di sebuah sofa kecil, terlihat wajah NY Teresa amat senang sekali akan kedatangan Gladis.
"Tante sudah membelikan cincin untuk pertunangan kalian."
Gladis dan David terdiam saling berpandangan, sesekali Gladis menunduk dan mengambil nafas lalu Ny Teresa menunjukan sebua kotak merah. David dan Gladis sudah bisa menebak isi kotak itu, iya isinya adalah cincin pertunangan mereka, David dan Gladis fokus pada kotak merah kecil itu. Ny Teresa membuka kota itu David dan Gladis melihat sepasang cincin yang sangat indah sekali cincin yang bertahtakan berlian.
"Ini cincin untuk kalian, bagaimana kalian suka, kan?" tanya Ny Teresa menatap Gladis dan David.
Gladis dan David terdiam saling pandang.
"Suka ko Ma, bagus, simpel, aku suka Ma," kata David sambil sesekali menatap Gladis yang masih kikuk.
"Kamu bagaimana, Gladis?"
"Eemm, aku juga suka ko Tante, bagus cincinnya," Tambah Gladis datar.
Ny Teresa merasa aneh dengan sikap Gladis, ia tahu mungkin Gladis masih belum siap dengan semuanya.
"Kamu kenapa sayang? Apa kamu baik-baik saj,!" kata NY Teresa menatap Gladis.
"Aku baik-baik saja ko Tante," kata Gladis mencoba untuk tidak membuat Ny Teresa tidak khawatir.
"Tante tahu Gladis, kamu masih belum siap akan semua ini, tapi percayalah semua ini sudah kami pikirkan matang-matang dan kamu akan baik-baik saja menikah dengan David. Lama-lama kalian akan saling memahami."
Gladis hanya tertunduk, batinnya menangis ingin sekali ia bicara pada Ny Teresa apa yang ia rasakan tapi tidak akan mungkin bola mata Gladis melirik ke kiri ke kanan. Seakan menahan air mata untuk tidak keluar dari matanya, David memperhatikan Gladis, ia khawatir dengan perubahan mood Gladis saat ini.
"Kamu mau menerima perjodohan ini, kan?" lanjut Ny Teresa bertanya.
Gladis menatap ke arah Ny Teresa ia mengangguk arti setuju sambil tersenyum manis.
"Iya Tante, aku mau ko."
Ny Teresa tersenyum dan memeluk Gladis lagi, rasa nyaman, hangat tenang di rasakan oleh Gladis saat Ny Teresa memeluknya kembali.
Oh tuhan apa ini dekapan seorang ibu! Aku sudah lama tidak merasakannya lagi, sungguh sangat damai seakan pelukan ini membuat beban ini hilang.
Gladis membalas pelukan Ny Teresa dengan erat, lalu ia meneteskan air mata, Ny Teresa tahu akan perasaan Gladis ia bisa menebak dari pelukan Gladis. Rasanya Gladis mempunyai beban di dalam dirinya yang tidak bisa di ungkapkan.
Ny teresa melepaskan pelukan Gladis, ia melihat Gladis mengeluarkan air mata namun Gladis segera menunduk tapi tidak bisa membohongi Ny teresa.
"Jika ada apa-apa kamu cerita sama Tante, kamu sudah Tante anggap sebagai anak sendiri," Ny Teresa mengusap air mata Gladis
Gladis mengangguk, sementara David amat kesal akan kedekatan mereka.
"Iya Tante," jawab Gladis menatap Ny Teresa
"Kalian belum makan, kita makan siang sama-sama ya," ajak Ny Teresa menyudahi pembicaraannya menatap Gladis dan David.
"Iya Ma," jawab David singkat sementara Gladis masih terdiam.
"Ya sudah kalian tunggu di sini dulu ya, Mama mau menyiapkan makan siang dulu," pamit Ny Teresa.
Lalu Ny Teresa pergi meninggalkan David dan Gladis, David melihat Mama hilang di balik pintu kamar itu lalau David menajamkan pandangannya kepada Gladis yang berada di hadapannya, Gladis menyadari bahwa David menatapnya.
"Kenapa Mama sangat menyukai mu?" tanya David jutek.
Gladis yang mendapat pertanyaan tiba-tiba dari David langsung menatap laki-laki itu, terlihat tatapan David amat dingin dan jutek.
"Mana aku tahu, tanya saja padanya," jawab Gladis sinis.
David hanya tersenyum sinis mendengar ucapan dari Gladis, ia tahu bahwa Gladis akan berbicara seperti itu.
"Aku tidak suka jika kamu terlalu dekat dengan Mama, aku harap kamu bisa menjaga jarak dengannya."
Mendengar ucapan David, Gladis tersenyum kecil, David yang mengetahui reaksi Gladis seperti itu membuatnya kesal.
"Kenapa kamu tersenyum?" lanjut David kembali bertanya dengan nada ketus.
"Kenapa kamu tidak bertanya langsung kepada Mama kamu tadi."
David tersenyum sinis menatap Gladis, David memajukan duduknya ke arah Gladis di dekatkan dirinya di hadapan wanita cantik itu, wajah Gladis dan David lumayan dekat. David menatap tajam pada Gladis dan Gladis pun membalas tatapan David.
"Dengar ya Nona, aku tidak harus bilang kepada Mama, yang jelas aku sudah bilang kepadamu, jika aku tidak suka kamu dekat dengan mamaku, dan setelah kita menikah kita akan tinggal di apartemen agar kamu dan mamaku tidak begitu akrab, kamu juga harus bilang jika kamu ingin tinggal di apartemen. Jika Mama mengajak untuk tinggal di sini kamu harus menolaknya mengerti kamu!"
"Iya Tuan Muda, aku sangat mengerti dan kamu tidak perlu khawatir akan kedekatan aku dengan mamamu aku akan menjaga jarak dengannya."
"Bagus, kamu sepertinya cukup mengerti akan posisi kamu di sini, aku juga tidak suka kamu dekat dengan adikku," lanjut David.
Hati Gladis sangat sedih, kenapa pernikahan yang dinanti dirinya akan seperti ini! Gladis termenung mendengar ucapan David. sementara David sedari tadi menatap wajah Gladis, ia memperhatikan wajah Gladis itu sangat cantik, tiba-tiba jantung David berdegup kencang.
"Kamu masih virgin?" tanya David tiba-tiba.
Gladis yang tadinya terdiam kini kaget mendengar pertanyaan David.
kemudian, berarti dia tdk menerima kalau bayi nya terlahir cacat.
🙏🙏 kalau sy slh paham