Sinta Aniswari (23) dulunya adalah mahasiswi kedokteran paling ceria dan cerewet se-FK.
Sampai ayahnya bangkrut dan satu-satunya cara menyelamatkan rumah sakit keluarga adalah dengan menikahi Dean Galang Wijaya (30).
Pengusaha muda, perfeksionis, kaku seperti robot, dan sedingin kulkas dua pintu.
Dua tahun menikah tanpa cinta. Sinta berubah menjadi Nyonya Wijaya yang anggun dan penurut. Dari luar, semua orang mengira ia adalah istri yang tidak disayang. Pernikahan yang kaku seperti dua orang asing yang tinggal di rumah yang sama.
Sampai mereka tau sisi lainnya.
Bahwa Dean yang kaku itu ternyata menjadwalkan segalanya. Bahkan untuk menyentuh istrinya. Satu bulan empat kali. Setiap tanggal 5, 12, 19, dan 26. Jam 21.00 tepat.
Dan selalu diawali dengan kalimat yang sama, dengan wajah datar yang sama:
"Apa mau main?"
Sinta pikir pernikahan ini hanya soal peran. Sampai Dean yang kaku itu mulai membuatnya bingung, berubah menjadi lebih aktip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Negosiasi dan Permohonan Maaf yang Tidak Logis
Bab 10 - Negosiasi dan Permohonan Maaf yang Tidak Logis
Pukul 06.15 pagi.
Dean Galang Wijaya membuka matanya dengan kedipan yang terasa berat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya yang teratur, dia tidak bangun tepat sebelum alarm internalnya berbunyi. Seluruh persendian di tubuh tegapnya terasa kaku, dan otot-otot di sepanjang tulang belakangnya mengirimkan sinyal nyeri yang sangat mengganggu kenyamanan fisik. Tidur di atas sofa ruang tamu yang sempit dengan posisi kaki yang tertekuk selama enam jam terbukti sukses merusak efisiensi pemulihan fisiknya.
Sambil memijat tengkuknya yang terasa tegang, Dean berdiri dengan wajah yang tetap lempeng. Dia melangkah menuju kamar mandi luar untuk membersihkan diri dan merapikan rambutnya yang berantakan dengan minyak rambut mahal agar penampilannya kembali prima sebelum waktu sarapan tiba.
Tepat pukul 06.30 pagi, Dean sudah duduk di ujung meja makan marmer dengan setelan kemeja kerja abu-abu muda yang licin tanpa berkerut sedikit pun. Namun, atmosfer di area ruang makan pagi ini terasa jauh lebih dingin daripada biasanya.
Sinta sudah duduk di hadapannya, mengenakan terusan rajut berwarna pastel yang lembut. Tangannya bergerak gemulai mengoleskan mentega di atas roti panggang, memotong sosis dengan pisau, dan menuangkan air putih ke gelasnya sendiri. Namun, wajah manisnya sama sekali tidak dihiasi senyum hangat seperti hari-hari biasa. Sinta benar-benar menutup rapat mulutnya, membuang muka ke arah jendela, dan memasang ekspresi cemberut yang sangat kentara. Matanya hanya tertuju pada piring sarapannya, benar-benar mengabaikan keberadaan suaminya yang duduk tepat di depannya.
"Pagi," sapa Dean dengan suara berat andalannya yang datar.
Sinta tidak menyahut. Dia hanya menggeser piring roti panggang yang sudah selesai diolesi mentega ke hadapan Dean dengan gerakan yang sedikit kasar, menimbulkan bunyi klek yang cukup keras di atas meja marmer, sebelum kembali fokus pada rotinya sendiri.
Dean menatap roti di hadapannya, lalu melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangan kirinya. Hari ini adalah hari Jumat. Dan berdasarkan kalender regulasi operasional domestik yang sudah mereka sepakati bersama sebulan lalu, nanti malam adalah jadwal berkala untuk agenda hubungan suami istri.
Melihat bagaimana suasana hati istrinya yang masih berada di titik beku ekstrem, Dean langsung menyimpulkan adanya risiko kegagalan yang tinggi terhadap agenda penting nanti malam. Jika Sinta terus mendiamkannya dan menolak disentuh karena masih marah, maka secara teori biologis dan psikologis, hubungan mereka nanti malam tidak akan berjalan dengan lancar. Demi menyelamatkan operasional domestik dan memulihkan suasana penthouse agar kembali nyaman, seorang CEO Wijaya Group terpaksa harus mengambil langkah mundur yang sangat jarang dia lakukan di dunia bisnis: mengalah.
Dean meletakkan garpunya dengan tenang, meminum kopi hitam polosnya sedikit untuk memicu fokus saraf, lalu menatap Sinta lurus-lurus dengan wajah paling lempeng sedunia.
[POV Dean]
Detak jantung saya berada di angka delapan puluh delapan denyut per menit. Sistem analisis taktis saya menyimpulkan bahwa permohonan maaf adalah satu-satunya instrumen hukum domestik yang paling efektif untuk memulihkan stabilitas emosi Nona Sinta sebelum pukul sembilan malam nanti. Meskipun secara jujur, batin saya yang paling dalam tetap memproses bahwa kalimat yang saya ucapkan di meja makan Mama sore kemarin tidak memiliki kesalahan logika sama sekali. Laporan ranjang itu transparan, akurat, dan berbasis data medis yang valid. Saya tidak melakukan pelanggaran hukum ataupun kebohongan data. Namun, menanyakan apa kesalahan saya pada wanita yang sedang tersinggung adalah tindakan bunuh diri korporat yang tidak efisien. Jadi, berdasarkan asas kedamaian rumah tangga, saya harus menyatakan diri bersalah atas pasal yang bahkan tidak tertulis di dalam kitab hukum mana pun seumur hidup saya.
Dean berdeham pendek, melonggarkan sedikit kerah kemeja abu-abunya yang mendadak terasa mencekik, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan melewati meja marmer.
"Nona Sinta," panggil Dean. Suaranya terdengar berat, kaku, dan datar seperti biasa, namun dia sengaja merendahkan intonasinya agar terdengar lebih bersahabat.
Sinta tetap mengunyah rotinya dengan pelan, mempertahankan aksi bungkamnya dengan sangat rapat. Pikirannya yang polos sebenarnya merasa sangat bingung dan tidak nyaman dengan situasi perang dingin ini. Ditambah lagi, dia tidak suka mendiamkan orang, apalagi mendiamkan suaminya sendiri yang sebenarnya sangat baik dan bertanggung jawab selama satu bulan ini. Hanya saja, mengingat ucapan Dean di depan Mama Ratna kemarin, rasa malu di hatinya masih terlalu besar untuk dilepaskan begitu saja.
Dean menarik napas pendek, lalu melontarkan kalimat permohonan maaf yang sudah dia susun secara terstruktur di dalam kepalanya. "Mengenai paparan data internal yang saya sampaikan di hadapan Mama kemarin sore. Saya mengakui bahwa penyampaian informasi medis tersebut telah menimbulkan ketidaknyamanan emosional yang merugikan bagi kamu. Tindakan saya terbukti tidak efisien dalam menjaga privasi domestik kita."
Sinta menghentikan gerakan mengunyahnya sesaat. Matanya mengerjap polos, menatap lurus ke arah wajah manekin suaminya yang sama sekali tidak menunjukkan perubahan ekspresi secara visual. Sinta merasa kalimat maaf dari Dean terdengar sangat aneh, rumit, dan penuh dengan istilah kantor yang tidak dia pahami sepenuhnya sebagai mahasiswi kedokteran.
Dean kembali melanjutkan dengan nada sekaku direktur yang sedang membacakan surat pernyataan resmi perusahaan. "Oleh karena itu, saya meminta maaf atas kesalahan prosedur komunikasi tersebut. Saya berjanji akan melakukan penyaringan data yang lebih ketat di depan pihak ketiga di masa mendatang. Mohon batalkan status karantina kamar utama dan kembalikan suasana hati kamu ke parameter normal sebelum malam ini."
Mendengar kata "malam ini" dan melihat keseriusan di wajah suaminya, kepolosan Sinta langsung membuatnya berpikir ke arah yang sangat sederhana. Otaknya yang polos langsung menghubungkan kata-kata Dean dengan jadwal tidur mereka.
Hah? Parameter normal sebelum malam ini? Maksud Pak Dean... dia minta maaf sekarang karena takut nanti malam tidak bisa tidur di kamar lagi dan harus tidur di sofa lagi ya? batin Sinta murni menebak dengan sangat lugu. Kasihan juga kalau badannya harus pegal-pegal lagi di sofa sempit itu. Berarti dia beneran merasa bersalah karena sudah membuatku malu di depan Mama.
Rasa kasihan dan sifat penurut Sinta perlahan mulai melunakkan ego ngambeknya. Dia tidak tega melihat suaminya yang berwajah tampan itu harus menderita karena diusir dari kamarnya sendiri. Sinta menundukkan kepalanya sedikit, merapikan gaun pastelnya dengan gerakan gemulai, lalu menyahut dengan suara yang dibuat selembut mungkin agar tetap terlihat anggun dan menghormati suaminya.
"Iya, Pak Dean. Permintaan maaf Anda saya terima," ucap Sinta dengan nada yang sangat halus dan tulus. "Saya juga mohon maaf karena sudah mengunci pintu kamar semalam dan membuat Anda tidak bisa tidur dengan nyaman. Nanti malam... Anda sudah bisa kembali tidur di kamar utama."
Dean mengerjap sekali. Ketegangan tak kasat mata di bahunya yang pegal akibat sofa semalam perlahan-lahan mengendur dengan sangat signifikan. Meskipun respons polos Sinta sama sekali tidak menggunakan kosakata bisnis yang dia harapkan, Dean merasa sangat puas karena tujuan utamanya telah tercapai dengan sukses besar. Akses ke kamar utama telah dipulihkan, yang berarti agenda penting mereka nanti malam aman dari pembatalan sistem.
Sedetik kemudian, pertahanan wajah lempeng Dean yang kokoh itu runtuh tipis. Kedua sudut bibirnya terangkat sedikit ke atas, menciptakan sebuah senyuman tipis yang sangat samar namun luar biasa menawan di wajah tampannya. Senyuman kemenangan yang sangat singkat, yang muncul murni karena dia merasa lega "strategi negosiasinya" berhasil mengamankan hak tidur dan hak jadwalnya nanti malam.
Sinta sempat terpaku melihat kilatan senyum tipis yang sangat langka di bibir suaminya itu. Eh? Barusan Pak Dean... tersenyum? Ganteng sekali, batin Sinta polos, pipinya mendadak terasa sedikit hangat.
Namun, sebelum Sinta sempat mencerna pemandangan indah itu, Dean sudah kembali berdeham pelan dan wajahnya langsung berangsur kembali sekaku papan tulis, seolah-olah senyuman tadi hanyalah ilusi optik pagi hari.
"Bagus. Keputusan yang sangat bijak dan efisien, Nona Sinta," kata Dean lempeng, lalu kembali memotong sosis di piringnya dengan ritme yang teratur.
Sinta hanya bisa tersenyum tipis melihat suaminya yang langsung kembali ke mode robot operasional setelah urusan maaf-memaafkan selesai. Dia melanjutkan sarapannya dengan perasaan yang jauh lebih lega, siap menyambut hari Jumat mereka dengan ketenangan rumah tangga yang telah kembali normal—tanpa menyadari arti biologis yang sesungguhnya di balik kepuasan senyum tipis suaminya barusan.