NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jadi Putri Terbuang, Sistem Es Dewa Milikku..

Reinkarnasi Jadi Putri Terbuang, Sistem Es Dewa Milikku..

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Fantasi / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: S RIANA

Kehidupanku berakhir saat ditikam tunangan dan adik tiriku sendiri.

Tapi saat aku membuka mata, aku ber Reinkarnasi menjadi Ratu es putri yang dibuang keluarga kerajaan karena "tidak punya kekuatan".

Apes? Enggak. Karena aku membawa [Sistem Es Dewa].

Misi: Selamat, Balas Dendam, dan Jadi Ratu!

Keluarga yang mengusirku? Tunggu saat aku membekukan kerajaan kalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S RIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

LEDAKAN TEROR DAN KEDATANGAN CAHAYA SUCI

Pukul dua dini hari, Paviliun Mawar di dalam Istana Kerajaan Silversnow masih terang oleh cahaya lampu sihir. Pangeran Julian sedang mondar-mandir dengan cemas, sementara Alicia duduk di sofa beludru sambil menyesap teh kamomil untuk menenangkan sarafnya yang tegang.

"Seharusnya Kaelen sudah kembali sekarang," gumam Julian, meremas gagang pedangnya.

"Shadow Fang adalah organisasi terbaik. Mereka tidak pernah gagal."

"Tenanglah, Julian," hibur Alicia dengan nada lembut yang dipaksakan. "Elena hanya beruntung saat melawan Legiun Salju Pertama karena Jenderal Boros terlalu meremehkannya. Di hadapan pembunuh bayaran yang bergerak dalam senyap, penyihir sehebat apa pun akan mati jika lehernya digorok saat tidur."

BRAKK!

Pintu kayu paviliun itu mendadak terbuka kasar. Sesosok tubuh terjatuh ke atas lantai marmer dengan suara berdebam yang berat. Itu adalah Kaelen. Kondisinya sangat mengenaskan; seluruh pakaian kulit khususnya telah robek, wajahnya membiru, dan dia terus merangkak menggunakan satu tangan yang tersisa sambil memegangi dada kirinya.

"Kaelen!" Julian bergegas mendekat. "Bagaimana? Di mana kepala Elena?!"

Kaelen mendongak. Mata satu miliknya dipenuhi oleh pembuluh darah yang pecah, memancarkan kengerian yang luar biasa. "P-Pangeran... Nona Alicia..." suaranya terdengar seperti gesekan amplas pada batu. "Jangan... jangan pernah kirim siapa pun lagi... Dia... dia bukan manusia..."

"Apa maksudmu?! Di mana anggota timmu?!" bentak Julian, mencengkeram kerah baju Kaelen.

"Mati... semuanya membeku dalam hitungan detik..." Kaelen terbatuk, dan alih-alih darah, butiran kristal es tajam keluar dari mulutnya.

"Putri Elena... menitipkan pesan... W-Waktu kalian... tinggal dua puluh lima hari lagi... Dia akan datang... meratakan istana ini..."

"Sialan! Sampah tidak berguna!" Julian menghempaskan tubuh Kaelen ke lantai.

Tepat pada detik itu, dada kiri Kaelen mulai memancarkan cahaya biru kehitaman yang tembus pandang dari balik kulitnya. Suhu di dalam Paviliun Mawar mendadak merosot drastis hingga membuat teh di cangkir Alicia membeku seketika.

"Ah! Kak Julian, lihat dadanya!" jerit Alicia sambil berdiri dan mundur ke sudut ruangan.

"K-Kutukan... Es Dewa..." Kaelen merintih untuk terakhir kalinya.

KRIIIEK... DUUMMM!

Jantung Kaelen meledak dari dalam. Namun, tidak ada ledakan daging atau darah yang menjijikkan. Tubuh pemimpin pembunuh bayaran itu hancur berkeping-keping menjadi debu es halus yang langsung menyebar ke seluruh ruangan, membekukan karpet, meja, dan kursi di sekitarnya dalam sekejap.

Julian terpental mundur, wajahnya tergores oleh serpihan es tajam. Dia menatap lantai tempat Kaelen hancur dengan napas memburu dan mata melotot horor. Teror yang dibawa Elena benar-benar nyata, menembus dinding-dinding pertahanan istana mereka yang paling aman.

----------------

Pagi harinya, suasana tegang di ibukota sedikit mereda oleh kedatangan tamu yang telah dinanti-nantikan. Di gerbang utama kota, gemuruh terompet perak terdengar menggelegar. Masyarakat berkumpul di pinggir jalan untuk menyaksikan kedatangan bala bantuan yang dijanjikan.

Pasukan Salib dari Kekaisaran Suci telah tiba.

Berada di barisan paling depan, seratus Ksatria Suci berbaju zirah emas putih berkuda dengan gagah. Di tengah-tengah mereka, sebuah kereta kencana yang diukir dengan lambang Matahari Suci berjalan dengan anggun. Di dalam kereta itu duduk dua sosok penting yang dikirim langsung oleh Paus Kekaisaran.

Yang pertama adalah Komandan Galahad, seorang Ksatria Suci Bintang Lima yang memiliki kekuatan fisik setara Pendekar Pedang Lingkaran 7 Tahap Menengah. Di sampingnya duduk Uskup Agung Malakai, seorang Penyihir Elemen Cahaya Agung Lingkaran 7.

Raja Alistair, Julian, dan Alicia menyambut mereka langsung di halaman luar istana dengan membungkuk hormat.

"Selamat datang di Silversnow, Komandan Galahad, Uskup Agung Malakai," ucap Raja Alistair dengan nada penuh kelegaan. "Kehadiran Anda sekalian adalah berkah bagi kerajaan kami yang sedang diancam oleh penyihir sesat."

Komandan Galahad turun dari kudanya, zirah emasnya berdenting keras. Dia menatap Raja Alistair dengan pandangan merendahkan yang samar. "Yang Mulia Raja, Kekaisaran Suci bersedia membantu karena kalian telah menyerahkan tambang kristal mana di perbatasan. Namun, kami terkejut mendengar bahwa legiun elit kalian bisa disapu bersih oleh seorang gadis buangan."

Wajah Julian memerah menahan malu, namun dia buru-buru menimpali, "Komandan, Elena entah bagaimana telah mencapai Lingkaran 7 dan menggunakan semacam ilmu hitam es kuno yang sangat keji. Dia bahkan telah membunuh agen Shadow Fang di dalam istana kami semalam!"

Uskup Agung Malakai keluar dari kereta, memegang sebuah tongkat emas dengan permata suci yang besar di ujungnya. Dia tersenyum tenang, memancarkan aura kebijaksanaan yang palsu. "Pangeran Julian, tidak perlu khawatir. Di hadapan Cahaya Suci, segala bentuk sihir es dan ilmu hitam hanyalah kegelapan yang akan sirna saat fajar tiba.

Elemen es miliknya tidak akan berkutik melawan perisai matahari kami. Besok, kami akan berangkat ke Frozen Abyss dan memurnikan tempat itu."

Alicia tersenyum licik di balik kipasnya. 'Elena, kau boleh saja sombong dengan sihir esmu. Tapi mari kita lihat bagaimana kau bertahan dari pembakaran api cahaya Kekaisaran!'

---------------

Di saat yang sama, di dalam aula Istana Es Dewa Fase 2, Elena perlahan membuka matanya dari meditasi di tepi Kolam Pemurnian Mana Es. Sepasang matanya kini memancarkan kilatan keperakan yang jauh lebih tajam. Pondasi Penyihir Agung Lingkaran 7 miliknya kini telah sepenuhnya stabil dan sempurna.

[Sistem: Proses Pemurnian Mana Selesai.]

[Kapasitas Mana Meningkat 30%. Kecepatan Perantauan Mantra Meningkat 50%.]

[Poin Sistem Saat Ini: 28.500 Poin.]

"Mereka sudah tiba di ibukota, Elena," Frost yang berada di bahunya berbisik, matanya menatap ke arah luar jendela istana. "Aura elemen cahaya yang memuakkan itu bisa kurasakan bahkan dari jarak ratusan mil. Sangat menyengat."

"Berapa banyak dari mereka yang datang?" tanya Elena datar lalu berdiri dari duduknya.

[Sistem: Memindai Perbatasan...]

[Terdeteksi: 1 Penyihir Agung Lingkaran 7 (Elemen Cahaya), 1 Pendekar Tingkat Tinggi Lingkaran 7, dan 500 Ksatria Suci Elit (Rata-rata Lingkaran 4-5).]

"Dua orang di Lingkaran 7," Elena bergumam, menatap telapak tangannya sendiri. "Kekaisaran Suci benar-benar menganggapku sebagai ancaman besar. Sistem, buka Toko Sihir Tingkat Penyihir Agung."

Layar virtual biru berkedip, menampilkan daftar sihir es dewa tingkat tinggi yang terkunci sebelumnya.

* [Spear of the Ice God (Sihir Serangan Tunggal Tingkat Tinggi - Mampu menembus pertahanan absolut tingkat 7): 15.000 Poin]

* [Glacial Judgment (Sihir Pemusnah Area - Menjatuhkan meteor es raksasa dari langit): 20.000 Poin]

"Beli Spear of the Ice God," perintah Elena tanpa ragu.

[Sistem: Membeli Spear of the Ice God... Sukses. Sisa Poin: 13.500 Poin.]

[Pengetahuan sihir langsung ditransfer ke memori pengguna.]

Seketika, gelombang informasi dan formula mantra yang rumit mengalir ke dalam otak Elena. Dia bisa merasakan es di sekitarnya bergetar, merespons niat membunuh yang mulai bangkit dari dalam dirinya.

Elena berjalan menuju gerbang istana, memandang ke arah pegunungan salju yang membatasi wilayahnya dengan dunia luar. Dua Golem Es Kuno yang kini bertubuh berlian hitam berdiri tegap di kanan dan kiri gerbang, memancarkan aura penindasan yang luar biasa. Di balik bayang-bayang, tiga puluh Frost Specter melayang dengan tenang, siap menunggu perintah pembantaian berikutnya.

"Dua puluh lima hari? Tidak, aku tidak akan membiarkan mereka bersiap selama itu," Elena tersenyum dingin, sebuah senyuman tirani yang begitu memikat namun mematikan. "Jika mereka ingin membawa cahaya suci ke hutan ini, maka aku akan memadamkan cahaya itu untuk selamanya di tempat ini."

Elena menoleh ke arah Frost. "Frost, bersiaplah. Saat mereka menginjakkan kaki di Frozen Abyss, kita akan menyambut mereka dengan upacara kematian yang paling megah."

1
Sunflower_6520
Suka nih sama yang balas dendam begini...
SRIANA: terima kasih udah singgah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!