NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEKOLAH

Malam itu, Aleta duduk sendirian di dalam kamarnya. Ia berniat merapikan beberapa laci yang belum sempat disentuh sejak pulang dari desa.

Saat membuka laci paling bawah, jemarinya menyentuh sebuah buku bersampul hitam yang sudah sedikit usang.

"Buku diary?" ia mengernyit, tangannya perlahan membukanya.

Aleta mulai membaca isi halaman.

"Hari ini, 8 januari 2017 Papa dan Mama kembali bertengkar. Gue cuma bisa mendengarnya dari dalam kamar. Gue berharap suatu hari mereka berhenti bertengkar dan kembali menjadi keluarga yang utuh." Aleta membalik halaman berikutnya.

"Hari ini, 18 mei 2018 mereka resmi bercerai. Sejak itu, Gue diasuh oleh Bibi Mina karena tidak ada yang menginginkan gue."

"Hari-hari semakin terasa berat. Anak yang berumur sembilan tahun, bukankah masih perlu bimbingan orangtua? Lalu kenapa mereka ninggalin gue? Kenapa mereka biarin gue lahir hanya untuk tumbuh dengan seorang pembantu? Gue juga pengen kayak anak-anak lainnya."

"Meskipun Bibi sangat baik. Ia selalu memasakkan makanan kesukaan gue, nemenin gue belajar, bahkan meluk gue saat gue nangis ataupun marah. Tapi... sebaik apa pun Bibi memperlakukan gue, tetap aja dia bukan Mama. Yang gue butuhkan adalah Mama, bukan uang, rumah mewah, makanan enak, fasilitas yang lengkap. Karena semuanya terasa hambar dan kosong tanpa kasih sayang."

Halaman itu dipenuhi bekas air mata yang membuat tintanya sedikit pudar.

"Gue kangen Papa. Gue juga kangen Mama. Kenapa mereka tidak pernah datang bersamaan? Kenapa gue cuma boleh ketemu masing-masing dari mereka sekali dalam enam bulan?"

"Gue ingin tetap hidup. Siapa tahu... suatu saat nanti Papa dan Mama akan kembali bersama."

"Hari ini, 5 april 2025. Gue mencoba membuat masalah di sekolah dengan cara memecahkan kaca jendela kelas. Gue lakuin itu supaya Papa dan Mama dipanggil ke sekolah. Gue mau mereka datang. Dan itu berhasil. Meski hanya sebentar, tapi gue senang bisa melihat mereka berdiri di tempat yang sama."

"Entah sejak kapan semuanya berubah. Gue terus membuat masalah. Gue bahkan membully orang lain. Awalnya cuma pura-pura. Lalu terbiasa. Sekarang gue bahkan gak tahu gimana caranya berhenti, padahal gue tahu gue salah." Aleta perlahan menutup buku itu.

"Jadi begitu..." Ia menatap sampul hitam di tangannya cukup lama.

"Ternyata benar apa yang orang-orang katakan. Untuk apa kekayaan jika tidak bahagia."

...****************...

Jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Keira duduk di sofa ruang tamu sambil sesekali melirik pintu depan.

"Belum pulang..."

"Loh, Non Keira belum tidur?" tanya Bi Wati yang kebetulan lewat.

"Belum Bi. Mau nungguin Ravian," jawab Keira lalu tersenyum manis.

"Senyum Non manis sekali ya. sering-sering senyum ya Non. Cantik tau..."

"Hehe... Iya deh Bi."

Tak lama kemudian, suara pintu terbuka terdengar.

Ceklek.

Ravian akhirnya pulang. Ia tampak sedikit lelah setelah seharian berada di luar rumah. Baru beberapa langkah memasuki ruang tamu, Ravian langsung menghentikan langkahnya. Tatapannya tertuju pada Keira.

Gadis itu mengenakan crop top berwarna hitam berlengan pendek yang memperlihatkan sedikit bagian pinggangnya, dipadukan dengan celana pendek selutut berwarna abu-abu. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai begitu saja.

'Kenapa dia make baju kayak itu?'

"Eh, lo udah pulang." Keira tersenyum kecil. Ravian mengangguk singkat.

"Gue udah siapin air anget buat lo mandi."

Ravian menatapnya beberapa detik. "Lo lihat sekarang jam berapa?"

"Baru juga jam sembilan. Lo mandi dulu. Bau tau habis dari luar."

"Atau..." Keira tersenyum jahil. "Mau gue mandiin?"

Ravian langsung memalingkan wajah. "Gak muhrim."

"Emm... Bukan nggak, tapi belum."

Ravian lalu berjalan menuju tangga. Ia menoleh ke belakang saat menyadari Keira masih diam di tempatnya.

"Ngapain masih di situ? Tidur."

"Lo gak mandi?" tanya Keira balik.

"Besok bangun pagi. Sekolah."

Keira hanya bisa mengangguk pelan. Ravian pun menaiki tangga menuju kamarnya.

'Cewek aneh. Harusnya dia kasih gue makan dulu sebelum nyuruh gue mandi. Untung gue udah kenyang makan di luar.' gerutu Ravian dalam hati.

Di ruang tamu, Keira masih berdiri memandangi punggung Ravian yang perlahan menghilang di balik lorong lantai dua.

"Dia kenapa, sih...Kelihatan risih banget."

Tatapannya kemudian turun ke pakaian yang sedang ia kenakan. Crop top hitam yang pas di badan, dipadukan dengan celana pendek sederhana.

"Apa... gara-gara pakaian gue kali ya?" Keira memiringkan kepala.

"Padahal gue dulu sering banget pake pakaian modelan begini. Apa selera manusia zaman sekarang sudah berubah ya?"

...****************...

Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar Keira. Perlahan, gadis itu membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamarnya.

"Day one sekolah." Ia mengembuskan napas pelan sebelum bangkit dari tempat tidur.

Setelah merapikan diri, Keira turun ke lantai bawah. Rumah besar itu masih tampak sepi. Beberapa pelayan sedang membersihkan ruangan, sementara aroma masakan memenuhi ruang makan. Keira menghentikan langkahnya.

"Apa Tuan Ravian udah bangun?" tanyanya pada salah seorang pelayan.

"Belum, Nona. Ini masih sangat awal. Tuan biasanya akan turun satu jam lagi untuk sarapan."

"Kalau begitu... biar gue aja yang menyiapkan sarapannya."

Para pelayan saling berpandangan. "Nona... mau memasak?"

"Iya." Tanpa menunggu jawaban, Keira langsung mengenakan celemek dan mulai memasak. Setelah semua hidangan selesai, Keira menyerahkannya kepada para pelayan untuk disajikan di meja makan.

"Gue mandi dulu."

"Baik, Nona."

Tak lama kemudian, Keira turun kembali setelah selesai mandi dan bersiap. Ia mengenakan seragam sekolah yang rapi. Aroma parfum lembut bercampur wangi sampo masih terasa samar setiap kali ia melangkah.

Di saat yang hampir bersamaan, Ravian juga menuruni tangga sambil merapikan dasinya. Tanpa sengaja, keduanya bertemu tepat di anak tangga terakhir. Ravian sempat melirik Keira sekilas. Namun ia segera mengalihkan pandangannya dan berjalan menuju ruang makan. Keira ikut duduk di hadapannya.

Seorang pelayan segera menyajikan sarapan yang masih hangat. Ravian baru saja hendak menyendok nasi ketika pelayan itu berkata dengan ramah,

"Silakan dinikmati, Tuan. Semua ini dimasak sendiri oleh Nona Keira sejak pagi."

Sendok di tangan Ravian langsung berhenti. Ia perlahan meletakkannya kembali.

"Kenapa?" Keira mengedip bingung.

"Gue belum bosan hidup." Ravian berdiri sambil mengambil tas sekolahnya.

"Maksud lo?" Keira mengernyit.

"Siapa tahu lo mau racuni gue."

"Kalau gue mau bunuh lo, gue nggak akan milih cara seribet itu."

Ravian hanya mendengus kecil. "Gue berangkat."

Tanpa menunggu jawaban, Ravian langsung berjalan menuju pintu depan. Keira hanya bisa menghela napas pelan sebelum segera menyusulnya.

"BIBI PASTIKAN MAKANANNYA TETAP HANGAT PAS GUE PULANG!" teriak Keira dari kejauhan.

"BAIK, NON."

"Ravian."

"RAVIAN TUNGGU!"

Pria itu menghentikan langkahnya. "Don't call me Ravian, call me Young Master instead."

"Oke. Master, Tuan Ravian, yuk berangkat bareng!"

Ravian menoleh. Tatapannya dipenuhi tanda tanya. "Bukan nya lo berangkat pake mobil sendiri? Biasanya gitu kan? Atau... mobil lo rusak?"

"Gue cuma mau nyoba berangkat bareng lo. Gak salah kan?"

"Lo udah gak malu sama gue?" Ravian mengangkat sebelah alisnya.

Keira membeku.

"Selama ini, kan lo sendiri yang gak mau satu sekolah tahu tentang hubungan kita? Gimana kalau satu sekolah sampai tahu tentang hubungan kita hanya karena kita berangkat bareng pagi ini?" lanjut Ravian.

"Itu Keira yang dulu. Emm maksud gue, sekarang gue berubah pikiran. Anggap aja gue dulu itu buta sampai gak tau mana yang harus gue lakuin dan mana yang nggak boleh. Dan gue sadar gue udah jahat sama lo, gue minta maaf," ucap Keira, otaknya terus mencari alasan yang tepat dan masuk akal.

"Menyembunyikan hubungan ini juga nggak buat gue lebih bahagia. Lagipula..." Keira tersenyum tipis. "Cepat atau lambat mereka juga akan mengetahuinya."

"Cukup! Naik!" ucap Ravian dingin.

"Yes!" seru Keira semangat.

Mobil mewah Ravian perlahan meninggalkan kediamannya. Sepanjang perjalanan Keira tidak pernah berhenti mencoba mengajak Ravian berbicara.

Hingga akhirnya, untuk pertama kalinya, Keira dan Ravian memasuki gerbang Alexander School secara bersamaan. Suasana sekolah yang semula ramai mendadak sedikit hening ketika keduanya turun dari mobil.

"Eh... itu Keira, kan?"

"Iya."

"Tapi... kok bareng Ravian?"

"Biasanya dia sendiri."

"Mereka baikan?"

Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah. Namun keduanya sama sekali tidak memedulikannya. Ravian berjalan lebih dulu menuju gedung sekolah. Keira mengikuti beberapa langkah di belakang.

Sesampainya di depan kelas, Ravian langsung masuk tanpa mengatakan apa pun. Keira pun duduk di bangkunya. Beberapa menit berlalu.

Grrr...

Suara perut seseorang tiba-tiba terdengar cukup jelas. Ravian menunduk pelan. Ia baru teringat belum sempat sarapan. Keira menoleh.

"Tadi gak jadi makan, kan?" tanya Keira basa-basi.

"Yuk ke kantin! Gue juga belum makan. Lapar..." ucap Keira sedikit memelas.

Ravian menghela napas. "Hmm."

"Yuk!" Keira tersenyum kecil.

Keduanya pun kembali keluar kelas menuju kantin. Puluhan pasang mata kembali mengikuti langkah mereka.

"Ada apa dengan sekolah kita hari ini?"

"Iya lagi. Tadi dihebohkan sama Aleta, Aura, Viana yang tiba-tiba satu circle. Sekarang Ravian dan Keira yang tiba-tiba dekat."

"Bukan hanya itu..."

"Emangnya masih ada lagi?"

"Iya. Gue denger denger bakal ada lima murid baru di sekolah kita."

"Apanya yang spesial dari itu?"

"Tentu saja ada. Katanya mereka bukan orang sembarangan. Tapi yang paling penting adalah wajah mereka yang ganteng-ganteng dan cantik."

"Yang paling ganteng punya kembaran, kebetulan kembarannya cewek. Gue mau coba akrab sama adik ceweknya, siapa tahu bisa dapat abangnya wkwk."

...****************...

Di kantin.

Kantin sekolah kembali dipenuhi suara para siswa. Meja-meja hampir seluruhnya terisi. Aroma berbagai makanan memenuhi ruangan, sementara obrolan dari berbagai sudut bercampur menjadi satu.

"Eh, kalian udah dengar belum?"

"Tentang apa?"

"Tentang Aleta, Aura, sama Viana."

"Yang katanya sekarang akur itu?"

"Iya! Padahal dulu mereka musuhan."

"Katanya gara-gara insiden di Sungai Terlarang."

"Serius?"

"Iya. Heran deh. Kok bisa berubah drastis begitu."

Bisik-bisik itu terus terdengar. Namun, tiga gadis yang sedang menjadi bahan pembicaraan sama sekali tidak memedulikannya. Mereka justru asyik duduk di salah satu sudut kantin.

"Jujur aja..." Viana menopang dagunya. "Gue masih nggak nyangka sekolah kita yang dulu jadi begini."

Aleta mengangguk pelan.

"Bangunannya jauh lebih besar. Bahkan kantinnya berubah total," tambah Aura.

"Wajar sih. Sudah belasan tahun," ucap Aleta.

"Hampir semua yang kita ingat pasti berubah." Viana menghela napas. "Dan gue masih sering lupa."

"Lupa apa?" tanya Aleta.

"Lupa nama keluarga gue sendiri."

Aura terkekeh pelan.

"Dengerin gue baik-baik. Nama ayah lo sekarang Pak Hendra, Ibu lo Bu Rina, dan Adik lo Adit. That simple."

Viana langsung mengangguk berkali-kali.

"Iya... iya... Gue tahu soal Adit. Tapi..." Ia buru-buru mengeluarkan buku kecil dari dalam tas. "Gue catat dulu."

Aleta menahan tawa.

"Lo benar-benar takut lupa?"

"Iya gitu deh. Kalau nanti gue pulang terus manggil ayah gue 'Pak' doang, bisa-bisa beliau sedih."

Aura kembali tersenyum. "Keluarga gue bahkan lebih sederhana. Papa gue namanya Surya. Mama gue namanya Lily."

Aleta mengangguk pelan.

"Sederhana kayak tempat tinggalnya ya Au," ucap Viana asal.

"Iya."

"Hah serius? Kayaknya lebih sederhana rumah gue deh."

"Enggak Vi. Rumah gue cuma belum roboh aja."

"Duh maaf ya Au... Gue benaran gak tahu, sumpah..."

"Ya gapapa."

Hening.

Hingga Viana tiba-tiba menunjuk benda di tangan Aleta.

"Ngomong-ngomong... Itu apaan?"

1
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
LOHHH
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!