Bandung tidak pernah ramah bagi kantong seorang perantau. Di usianya yang menginjak 23 tahun, Yasita Humaira harus memutar otak setiap akhir bulan. Demi mengirimkan rupiah untuk Ayah dan Ibunya di kampung, dia rela menahan lapar dan berhemat sedemikian rupa. Yasita sadar diri; dia bukan wanita sholeha, bukan pula muslimah taat yang rajin beribadah. Shalatnya masih bolong-bolong, penampilannya biasa saja. Jauh dari kata sempurna.
Beruntung, di kota ini dia memiliki Zulaikha—sahabat dekat seumuran yang bak langit dan bumi dengannya. Zulaikha adalah definisi wanita idaman: keturunan Arab-Indonesia dengan mata tajam yang indah, selalu anggun dengan gamis dan hijab lebar yang menjuntai. Tak hanya cantik, Zulaikha adalah putri dari pemilik Mandra Bros J, raksasa industri pakaian muslimah dan perhiasan emas tempat Yasita mengadu nasib. Namun persahabatan itu putus ketika sebuah Tawaran Dari Umi laila Ibu Zulaikha memintanya menjadi istri kedua Ayah Zulaikha yaitu Jalal Ash-Siddiq....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Siang ini cuaca cukup teduh. Aku memanfaatkan kesempatan ini untuk berbelanja di Indomaret. Kenapa aku lebih memilih belanja di sana? Karena harganya sedikit lebih murah. Paling tidak, walaupun hanya berbeda lima ratus atau seribu perak, itu sudah sangat lumayan bagiku untuk menyisihkan sisa uang belanja.
Sebelum pergi, aku memakaikan Jayan kaus putih bersih yang dipadukan dengan celana chino berwarna krem. Sungguh, putra kecilku terlihat sangat tampan.
"Mama, kita mau pergi ke mana ini?" tanyanya sambil mendongak.
"Jayan mau ikut Mama ke Indomaret tidak?" tanyaku balik padanya.
"Aku mau, Mama! Aku mau beli susu sama Yupi... Mama, nanti belikan aku yang banyak ya!" ucapnya antusias yang langsung kubalas dengan anggukan kepala.
Kami berangkat menuju Indomaret dengan mengendarai motor matic milik adikku, berhubung hari ini mereka sedang libur kerja. Tidak sampai sepuluh menit perjalanan, kami pun tiba di tujuan. Jayan dengan riang langsung melompat turun dari boncengan motor. Rupanya, siang ini pengunjung yang berbelanja cukup ramai.
"Ayo, Ayo Mama, kita masuk..." ucapnya tak sabaran, menarik-narik ujung bajuku.
"Iye, sabar. Mama standarkan dulu motornya Om, toh." Setelah memastikan motor terparkir dengan aman, aku bergegas menuntun jemari mungil Jayan masuk ke dalam gerai.
Jayan, yang memang tipikal anak ramah dan periang, langsung menyapa orang-orang di sekitar kasir begitu kami melangkah masuk. "Hai...! Aku mau beli susu sama Yupi...!" serunya tiba-tiba tanpa rasa malu.
Celotehan nyaring itu seketika membuat beberapa pengunjung berbalik dan memperhatikan kami. Jujur, aku merasa agak canggung. Sumpah, punya balita yang perangainya kelewat aktif begini kadang memang menggemaskan, tapi kadang juga bikin geleng-geleng kepala karena dia tidak tahu tempat. Aku hanya bisa mengangguk canggung kepada orang-orang sebagai permintaan maaf.
Untungnya, banyak orang yang justru tertawa gemas melihat tingkah polos Jayan. Aku kembali menuntunnya berjalan menuju rak bagian persusuan. Di sepanjang gandengan tanganku, bocah tiga tahun itu terus saja mengoceh, menanyakan ini dan itu, hingga aku harus memutar otak menyiapkan kata-kata yang tepat untuk menjawab setiap pertanyaannya.
Namun, petaka kecil itu datang saat aku sedang fokus memilih sarden kaleng di rak sebelah. Sedetik kemudian, aku tersadar bahwa keheningan mendadak melingkupiku. Aku menoleh ke bawah. Jayan sudah tidak ada di sampingku!
Kepanikan langsung menyergap dadaku. "Jayan...? Jayan, kamu di mana? Jayan, sini, Nak! Kita beli Yupi, jangan jauh-jauh dari Mama, yah..." ucapku setengah panik sambil melangkah cepat mencarinya ke lorong sebelah.
Langkah kakiku mendadak terkunci, jantungku seakan berhenti berdetak saat mendapati Jayan tengah memeluk erat kaki seorang pria bertubuh besar. Pria itu memakai jaket kulit hitam dan posisinya sedang membelakangiku, namun dia tampak merendahkan tubuhnya, memeluk erat Jayan. Yang membuat hatiku mencelos, Jayan menangis sesenggukan di pelukan pria asing itu dengan air mata yang berlinang deras.
"Jayan?! Kenapa, Nak? Kau apakan anakku, hah?!" teriakku cepat. Diliputi rasa takut, aku langsung merangsek maju dan dengan paksa melepaskan pelukan mereka.
Saat itu, aku sama sekali belum memperhatikan wajah sang pria yang hanya diam membeku. Fokusku sepenuhnya tertumpah pada putraku.
"Sayang, Jayan tidak apa-apa, Nak? Ada yang sakit kah? Hemmm... bilang sama Mama!" ucapku berondong sembari menelisik seluruh tubuh Jayan dengan cemas.
Bocah itu menggelengkan kepalanya. Isak tangisnya mereda, lalu matanya kembali menatap lurus ke arah pria di depannya. Di sela sisa tangisnya, dia berucap lirih, "Bapak..."
Aku tersentak syok. Jantungku berdegup kencang, lalu dengan suara yang sedikit keras aku menegurnya, "Jayan! Itu bukan Bapak! Bapakmu masih kerja jauh di sana!" Perkataanku yang agak membentak itu sukses membuat Jayan terkejut. Dia bersiap menumpahkan tangisnya lagi, membuatku langsung merengkuh tubuh mungilnya rapat-rapat ke dalam pelukanku agar dia tenang.
Tak sengaja, ekor mataku masih menangkap sosok pria berjaket kulit yang kini sudah berdiri tegak di sampingku. Tanpa mau melihat ke arah wajahnya karena masih sibuk menenangkan Jayan, aku berucap meminta maaf dengan buru-buru, "Mas, maaf nah... Anakku asal peluk saja. Kita lanjutmi belanja."
Selesai berbicara, aku perlahan menolehkan wajahku ke atas untuk menatapnya sebagai sopan santun.
JEDER!
Bagai dihantam sambaran petir di siang bolong, seluruh sendi tubuhku mendadak lumpuh seketika. Gawaiku hampir saja lolos dari genggaman jika aku tidak buru-buru mencengkeramnya.
"Pak... Pak Jalal...?" ucapku terbata-bata dengan wajah yang seketika pias, pucat pasi.
Pria matang di hadapanku ini menatapku balik. Namun, tidak ada tatapan benci, dingin, ataupun kemarahan setajam silet seperti terakhir kali dia mengusirku di koridor rumah sakit tiga tahun lalu. Kali ini, sepasang netranya menatapku dengan begitu lembut, sayu, dan penuh kerinduan. Kedua matanya tampak berkaca-kaca, menahan genangan air mata yang siap tumpah.
Dengan suara yang teramat pelan dan bergetar hebat, dia membuka suara. "Apa... apa dia anak saya, Yasita?"
Aku membeku, lidahku mendadak kelu tak tahu harus menjawab apa. Rasa takut yang luar biasa besar datang dengan cepat menyergap dadaku, merenggut seluruh pasokan oksigenku. Pikiran buruk langsung berputar di kepalakah. Tidak... aku harus pergi dari sini sekarang juga! Aku tidak akan pernah membiarkan laki-laki ini mengambil Jayan dariku!