“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Deru roda kereta kuda terdengar di pagi hari, begitu awal untuk seseorang yang datang bertamu.
Tepat di depan pintu utama kastil, kereta kuda berhenti. Para pelayan yang berjajar langsung menundukkan kepala begitu pintu terbuka.
Seorang wanita turun lebih dulu.
Wanita yang sangat anggun, gerakannya tenang, sangat tenang untuk seseorang yang datang ke kastil Duke Cassian. Gaunnya gelap, elegan, dengan perhiasan yang tidak mencolok namun jelas sangat mahal.
Beberapa pelayan sudah mengenal siapa wanita itu.
Dowager Duchess, Lady Valerie, Ibu kandung Cassian.
Tak lama setelahnya, tangan berbalut sarung satin muncul dari dalam kereta. Menerima bantuan pelayan dengan anggun, lalu melangkah turun.
Seorang wanita muda.
Cantik. Begitu berkelas, sangat mencolok sampai susah untuk diabaikan.
Wanita itu berdiri di samping Lady Valerie. Rambutnya tersusun rapi, mengenakan gaun dengan warna lembut, Potongannya sempurna mengikuti tubuhnya.
Sesekali wanita itu tersenyum tipis, sangat anggun, seolah sudah terlatih sejak lahir.
“Itu kan, Putri Lidya,” bisik salah satu pelayan yang mengenali siapa wanita yang dibawa oleh Lady Valerie.
Tak lama kemudian, suara langkah terdengar dari dalam.
Cassian muncul di ambang pintu, wajahnya datar seperti biasa. Sorot matanya menggelap saat melihat sosok di samping ibunya.
Rahang Cassian mengeras.
“Ibu,” ucap Cassian singkat.
Lady Valerie menatapnya, lalu tersenyum tipis, bukan senyum kehangatan tapi sebuah senyum formalitas.
“Cassian.” Suara Lady Valerie lembut, namun terasa dingin.
“Apa kau ingin aku terus berdiri di luar seperti ini?” sindirnya.
Sedetik kemudian, tatapannya bergeser ke arah lain.
“Kau lihat kan aku tidak datang sendirian. Aku membawa tamu istimewa.”
Putri Lidya menundukkan tubuhnya dengan anggun. “Yang Mulia.”
Cassian hanya mengangguk singkat.
Tak jauh dari Cassian, Elowen berdiri diam. Dia penasaran siapa yang datang, dan berjalan cepat melihat ke luar.
Sangat kaget saat Cassian memanggil salah satunya dengan panggilan ‘Ibu’ dan detik itu juga Elowen pertama kali melihat mertuanya.
Dowager Duchess tidak datang ke pernikahan Cassian dan Elowen. Awalnya, Elowen pikir sang mertua sedang mengalami sakit seperti yang dikatakan Adrian padanya.
Siapa sangka, setelah satu bulan menikah. Elowen baru bisa melihat wajah mertuanya itu. Dan, sepertinya wanita itu tidak menyukainya.
Lady Valerie melangkah mendekat pada Elowen. Langkahnya anggun penuh percaya diri. Matanya lurus menatap Elowen.
Saat jarak mereka dekat. Lady Valerie diam sejenak.
Detak jantung Elowen seakan berhenti sesaat, ketika bertatapan dengan mata dingin Lady Valerie. Reflek pandangan Elowen menunduk, melihat lantai.
Sudut bibir Lady Valerie melengkung ke atas. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Cassian.
“Jadi… Ini istrimu.”
Suasana berubah menjadi dingin, udara di sekitar langsung terasa berat. Elowen melirik ke arah suaminya.
Pria itu tidak bereaksi dalam beberapa menit. Tidak langsung membalas ucapan Ibunya.
“Ya, dia istriku.”
Dowager Duchess tersenyum tipis, bukan senyum ramah melainkan senyuman merendahkan.
“Cantik,” ujarnya singkat, lalu mengambil jeda sesaat. “Sayang, tidak bisa bicara.”
Deg!
Elowen tanpa sadar mengangkat wajahnya. Tepat ketika itu matanya bertatapan dengan mata wanita yang melahirkan Cassian, suaminya.
Lady Valerie menyunggingkan senyumnya lebih lebar ketika Elowen menatapnya. Seolah mengatakan bahwa dia tidak merasa bersalah mengatakan hal itu.
Sesaat Elowen menunggu tanggapan Cassian. Tapi, pria itu tak berkata apapun. Rasa kecewa muncul di hati Elowen. Kenapa Cassian tidak membelanya?
Saat Elowen menunggu pembelaan dari suaminya, Putri Lidya berjalan mendekat ke arah Cassian.
“Selamat atas pernikahan kalian,” ucap Putri Lidya dengan senyuman yang lembutnya.
Namun, entah kenapa ucapan selamat dari Putri Lidya seperti sebuah sindiran dalam bentuk lain.
***
Ruang perjamuan penuh pagi itu, sambutan hangat sebagai tuan rumah diberikan untuk Lady Valerie dan juga Putri Lidya.
“Kuharap lain kali Ibu datang dengan pemberitahuan lebih dulu.” Ujar Cassian dingin.
“Apa aku harus mengirim surat hanya untuk berkunjung ke rumah anakku?” sahut Lady Valerie.
Cassian mengeraskan wajahnya, pandangannya beralih ke samping, Elowen menunduk menyembunyikan wajahnya.
Tangan Cassian mengepal erat sampai buku jarinya memutih.
“Lalu, kenapa mengajaknya kemari?” ujar Cassian tegas melihat ke arah Putri Lidya.
“Putri Lidya ingin mengucapkan selamat kepadamu. Lagipula kalian pernah hampir menikah, jadi sebagai sopan santun Putri Lidya ingin memberikan hadiah pernikahan secara langsung.” Tukas Lady Valerie.
Kejutan lain untuk Elowen. Cassian dan Putri Lidya sempat akan menikah. Mungkinkah, rumor soal seorang putri dari Kerjaan Lysandria yang ditolak oleh sang duke itu adalah Cassian dan Putri Lidya.
Elowen melihat ke arah Putri Lidya, wanita secantik itu… ditolak oleh Cassian. Dan, pria itu malah memilihnya sebagai istri.
Apa ini masuk akal?
“Berapa lama kalian akan tinggal?” Cassian kembali bersuara.
“Kalau diperbolehkan, aku ingin tinggal satu atau dua bulan di sini. Ayah dan Ibu menyuruhku untuk belajar banyak tentang politik wilayah di barat Arvendale. Siapa tahu akan berguna untuk kemajuan Lysandria di masa depan,” jawab Putri Lidya dengan suara lembutnya.
Belajar tentang politik wilayah? Itu artinya, Putri Lidya akan belajar dengan Cassian. Elowen mulai menyimpulkan sesuatu.
Apa mungkin mereka mencoba menyingkirkan aku dari posisi Duchess of Clyvedon?
Secepat ini? Wajah Elowen mulai terlihat cemas. Cassian menyadarinya, kemudian menarik tubuh istrinya lebih dekat dengannya.
“Jimmy!” tiba-tiba Cassian memanggil kepala pelayan. “Siapkan kamar untuk Putri Lidya dan juga Ibuku, antarkan mereka dan layani dengan baik. Setelah itu siapkan kereta,” perintah Cassian.
“Baik Yang Mulia. Tapi, kalau boleh saya tahu kereta untuk apa…”
“Aku dan istriku akan menginap di Cottage selama mereka ada di sini.”
Semua orang langsung menatap Cassian, begitupun Elowen.
Apa maksudnya?
***
klo di rupiah kan setara dgn berapa kah...?
auto lsg tanta mbh gogle
you're amazing writer