Hidup Lylac yang datar tapi penuh perjuangan karena orangtuanya yang miskin, berubah total ketika tak sengaja ia bertemu hantu cantik Mika, di gudang sekolah saat ia ingin sendiri.
Mika terus merengek pada Lylac untuk mendekati Evan, Anak basket yang populer. Itu idolanya dulu saat masih hidup. ini membuat Lylac harus berhadapan dengan Angel geng cewek cantik dan populer yang merasa kesal melihat Lylac ada disekitar Evan dan Evan meresponnya. Padahal Lylac hanya disuruh Mika, hantu cantik itu.
Baca dan lihat bagaimana Lylac yang malas mengurusi orang malah bertemu dengan geng cowok dan cewek paling populer itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 10 Bisik di koridor
Langkah kaki Lylac terasa jauh lebih mantap saat keluar dari pintu UKS. Tidak lagi seringan kapas seperti sejam yang lalu. Kepalanya tidak lagi berputar-putar.
Aroma minyak kayu putih masih memenuhi indra penciumannya meski ia sudah terkena angin di koridor.
Di sampingnya, Riri berjalan dengan bahu tegap. Namun matanya bergerak gelisah melirik ke kanan dan ke kiri setiap kali mereka melewati gerombolan anak yang sedang nongkrong di depan kelas.
"Lylac, beneran udah aman? Nggak goyang kan jalanmu?" Riri berbisik setengah menunduk, memastikan wajah sahabatnya tidak pucat lagi. "Kalau mendadak pusing, pegangan lengan jaket aku aja. Nggak usah gengsi."
Lylac hanya mengembuskan napas pelan dari hidung. "Aku udah baik-baik saja, Ri. Gelas teh dari Bu Hani tadi manjur kok."
"Halah! Manjur apanya! Itu karena kamu tadi digendong cogan makanya jiwamu langsung auto-refresh!"
Mika meluncur turun dari langit-langit koridor dengan posisi kepala di bawah, bergelantungan terbalik tepat di depan wajah Lylac. Hantu perempuan itu cemberut sambil melipat tangan di dada.
"Duh, bosen banget deh," keluh Mika.
Lylac mengabaikan wajah transparan Mika yang bergoyang-goyang di depannya. Matanya tetap lurus menatap jalan di depan.
Namun, langkah Riri mendadak melambat saat mereka berbelok di koridor dekat toilet cewek. Cengkeraman tangan Riri di tali tasnya mengencang.
Dari arah berlawanan, rombongan yang paling diwaspadai Riri sejak keluar dari UKS tadi tampak berjalan santai. Angel berada di tengah, melangkah dengan keanggunan yang biasa dia pamerkan, sementara dua temannya, Vanya dan Sherly mengekor di sisi kiri dan kanannya sambil sibuk memainkan ponsel.
Saat mendongak, mereka menemukan Lylac dan Riri di depan mereka.
"Eh, Angel... lihat. Itu cewek aneh yang katanya di gendong Evan, kan?" ujar Vanya memberitahu.
Angel mendongak. Cewek itu hanya diam sambil memperhatikan Lylac dan Riri. Dia tidak mengatakan apa-apa. Sepasang matanya yang jeli hanya mengamati wajah Lylac dengan pandangan menyelidik yang dingin.
Sherly langsung mendongak dari layar ponselnya, menatap Lylac dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan tatapan menilai. "Oh, si cewek Hantu kelas sebelah itu? Iya, bener. Cewek hantu kan dia aja."
"Iya, kan? Mana pakai acara pingsan di depan koridor cowok lagi," lanjut Vanya lagi saat posisi mereka kini berpapasan pas di depan toilet. "Sengaja banget kayaknya, biar ada alasan buat ditolongin. Mana yang nolongin Evan lagi. Caper-nya dapet banget, kasihan Evannya jadi repot."
Mika yang mendengar itu langsung meradang. Dia melesat turun, berkacak pinggang di antara Vanya dan Sherly dengan wajah merah padam.
"Heh, lambe turah! Mulut kalian dikasih makan apa sih, hah? Pedes banget kayak seblak level tiga puluh! Lylac itu beneran pingsan, tahu! Enak aja dibilang caper!"
Mika kemudian beralih melayang di depan wajah Angel yang masih mempertahankan senyum manisnya. "Terus ini lagi, si Ratu Pencitraan! Sok-sokan diem padahal seneng kan temennya ngomong gitu? Sini, biar aku tiup lehernya biar merinding!"
Mika meniup tengkuk Vanya dengan kencang, membuat cewek itu mendadak bergidik dan mengusap lehernya sendiri dengan bingung. "Ih, kok tiba-tiba merinding ya?" gumam Vanya agak meremang.
Di sisi lain, Lylac tidak peduli. Seolah-olah suara Vanya dan Sherly hanyalah dengungan nyamuk lewat. Riri pun memutuskan untuk ikut diam. Dia menyamakan langkahnya dengan Lylac, menolak memberikan panggung bagi geng Angel untuk memancing keributan.
Riri hanya mengangguk sedikit karena Angel sekretaris OSIS. Dia yang juga anak OSIS tidak mungkin sok cuek berpura-pura tidak kenal.
Vanya dan Sherly melirik sinis pada Lylac.
"Ih, sombong banget sih anak itu. Malah melengos seolah kita nggak ada," gerutu Vanya sambil menghampiri Angel. "Kamu terlalu baik sih, Ngel, makanya dia ngelunjak."
Angel kembali tersenyum, meski kali ini senyumnya tidak sampai ke mata. "Nggak apa-apa, mungkin dia memang masih pusing. Ayo kembali ke kelas." Angel sepertinya menahan diri. Dia masih ingin tahu tentang Lylac lebih banyak.
...****************...
Suasana parkiran belakang sekolah sudah jauh lebih lengang saat Lylac berjalan ke arah deretan motor matik. Kebanyakan siswa sudah pulang begitu bel terakhir berbunyi setengah jam yang lalu, menyisakan anak-anak ekskul yang baru mulai bersiap-siap di lapangan.
"Lylac! Ih, Lylac, lihat deh ke arah jam dua! Cepetan!"
Mika meluncur cepat dari atas pohon peneduh parkiran, lalu melayang mundur di depan Lylac dengan heboh. Tangan transparannya menunjuk-nunjuk ke sudut parkiran.
"Itu Evan! Dia baru mau balik juga! Pas banget, koridor sepi, parkiran sepi... buruan samperin!" cerocos Mika, wajah hantunya tampak luar biasa bersemangat. "Lylac, itu Evan! Bilang makasih gih! Masa ditolongin sampai digendong ke UKS kamunya cuek aja. Nggak tahu terima kasih banget!"
Lylac menghentikan langkahnya sejenak. Matanya melirik ke arah yang ditunjuk Mika.
Di sana, di dekat motornya Evan sedang berdiri dengan gengnya. Sepertinya anak basket tidak ada latihan hari ini.
Lylac menghela napas pendek. Pikirannya menimbang cepat. Meskipun Mika tidak menyuruhnya, ia ingin mengucap terima kasih. Namun dia malas berurusan dengan cowok populer dilingkungan sekolah.
"Ayo samperin, bilang 'makasih ya Evan ganteng', terus beres! Jangan ditunda."
Lylac mengabaikan saran Mika. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, dia sengaja memutar arah langkah, berbelok ke deretan motor matik yang posisinya agak jauh dan terhalang oleh mobil guru yang terparkir.
Rupanya Evan menyadari kemunculan Lylac. Saat yang masih ngobrol, dia menyempatkan untuk menoleh. Memperhatikan Lylac yang terlihat lumayan sehat meksipun masih pucat.
Dia sudah sehat sepertinya, batin Evan.
"Hei, tuh cewek yang dibantu Evan," celetuk Jay tepat ketika Evan sudah beralih dari melihat Lylac. Yang lain menoleh.
"Sudah sehat ya," ujar Niki yang merasa satu grup karena dihukum bareng.
"Enggak disamperin, Van?" tanya Jay iseng.
"Kenapa?" Evan menanggapi dengan datar.
"Dia cuek aja soalnya. Padahal kan sudah kamu gendong ke UKS sampai anak-anak heboh."
Evan hanya mendengus. Jay hanya terkekeh, sementara Niki menggeleng-geleng melihat sikap dingin kapten mereka yang tidak berubah.
Di sudut lain parkiran, Angel berdiri diam di dekat mobil jemputannya. Tangannya yang memegang tali tas kulit kecilnya mengencang.
Tebakannya tidak salah.
Pertanyaannya di kantin tadi siang mungkin dianggap angin lalu oleh Evan, tapi matanya sendiri tidak bisa berbohong. Sepasang mata elang yang biasanya tidak peduli pada sekitar itu baru saja terarah pada satu objek, yaitu Lylac.
Dia benar-benar melihatnya, batin Angel.
Ada riak tidak nyaman yang perlahan naik ke dadanya. Evan tidak pernah memedulikan cewek lain di sekolah, kecuali dirinya. Bahkan hanya untuk sekadar melirik sekilas. Tapi hari ini, cowok itu melanggar polanya sendiri. Dua kali. Pertama saat menggendong Lylac, dan kedua saat matanya diam-diam mencari keberadaan cewek itu di parkiran.