Zora Naladhipa seorang siswa kelas menengah atas yang sering mewakili sekolahnya untuk berbagai perlombaan sejarah.
Suatu hari ia diminta oleh gurunya lagi untuk mengikuti sebuah lomba tentang sejarah. Ayahnya memberikannya sebuah buku kuno yang beliau dapatkan dari pasar loak. Zora selalu membawanya kemanapun karena isi di dalamnya membuatnya tertarik untuk terus membacanya.
Suatu hari saat jam sekolah telah usai, Zora memilih pergi ke toilet tak lupa dengan buku yang berada di genggamannya. Ia mendengar suara dua orang sedang berbicara orang tadi tak lain adalah pacarnya dan seorang wanita. Matanya memanas, ia kemudian pergi dari toilet tadi dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Saat sampai di rumah ia lalu merebahkan dirinya di kasur sambil menggenggam buku kuno itu. Tak terasa air matanya menetes mengenai buku tadi lalu ada sebuah cahaya yang menariknya menuju tempat lain. Ia kemudian bangun dengan kepala yang berdenyut.
"Ahh, dimana aku?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Cerita ini terinspirasi dari serial drama love destiny. Stay tune dan lanjutkan membaca ya:))
ig: @chiccacaaa
tidak update setiap minggu ;))
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiccacaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dutch Ramon- 10
"Nggak ada yang bagus. Udah ayok pulang" ucap Zora yang membuat pangeran Auriga segera meminta kusir untuk menjalankan keretanya kembali menuju istana.
•••
Keesokan harinya kabar tentang putri Zora yang melakukan perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan oleh orang asing sudah menyebar di setiap sudut pasar. Jujur saja semua orang mengagumi keberanian Zora termasuk sahabatnya sendiri, Saka.
Saka Danindra, ia adalah anak dari seorang menteri pembantu yang tugasnya tidak seberat tugas yang diemban oleh menteri utama. Tapi walaupun ia adalah anak dari seorang menteri pembantu ia bisa berteman baik dengan putra mahkota kerajaan Wirastama, pangeran Auriga.
Di hari yang terik pangeran Auriga meminta Saka untuk bertemu di sebuah kedai. Saka menyanggupinya meskipun mereka baru saja bertemu kemarin.
"Putra mahkota" ucap Saka menunduk hormat kepada pangeran Auriga.
"Danindra aku sudah mengatakan jika kau harus memanggil namaku jika kita hanya berdua" ucap pangeran Auriga yang hanya dibalas tawa oleh Saka.
"Ada apa kau mengajakku bertemu? Apakah kau sudah rindu padaku lagi?" goda Saka yang membuat pangeran Auriga memandang jijik padanya.
"Memang kau keberatan jika aku ingin bertemu?" tanya pangeran Auriga dengan ketus yang membuat tawa Saka semakin menggelegar.
"Ah, iya mantan tunanganmu menjadi pembicaraan di sekitar pasar" ucap Saka yang telah menghentikan tawanya.
"Apakah karena ia melakukan sesuatu?" tanya pangeran Auriga.
"Iya" jawab Saka.
"Hah, itu semua kesalahanku karena aku meninggalkannya sendiri bersama pelayan. Seharusnya aku meminta salah satu penjaga bayanganku untuk mengawasinya jadi dia tidak berbuat masalah" ucap pangeran Auriga sambil mengusap wajahnya.
"Apa kau tau? Semenjak dia dinyatakan lupa ingatan tingkahnya menjadi sangat aneh" imbuhnya.
"Aku setuju jika tingkahnya menjadi sangat aneh bahkan ia pernah memanjat pohon mangga dan memakan mangga yang ia petik di dahan pohon itu bahkan ia juga mengajakku berteman" ucap Saka.
"Tapi aku tidak setuju dengan perkataanmu yang menyebutnya membuat masalah"
"Memang apa yang bisa ia lakukan selain membuat masalah?" tanya pangeran Auriga dengan dahi yang mengerut.
"Dia kemarin menolong salah satu penduduk dari amukan Dutch Ramon" ucap Saka.
"Dutch Ramon?" tanya pangeran Auriga memastikan.
"Iya. Dia bahkan membuat Dutch Ramon tidak berkutik setelah apa yang dikatakannya kemarin meskipun yang mengetahui apa yang dibicarakan mereka hanya empat orang" ucap Saka.
"Empat orang? Maksudmu?" tanya pangeran Auriga kepada Saka.
"Dutch Ramon membawa kedua anak buahnya jadi yang mengetahui apa yang Zora ucapkan hanya empat orang itu" ucap Saka sedikit kesal.
"Berarti dia bisa berbicara bahasa asing itu? Darimana ia mempelajarinya?" ucap pangeran Auriga bertanya-tanya.
"Mana aku tau. Kau ini kan mantan tunangannya seharusnya kau yang lebih mengetahuinya" ucap Saka.
"Sudahlah aku ingin kembali. Kau bayar ya pesanannya" ucap pangeran Auriga yang kemudian pergi meninggalkan Saka di kedai yang sudah ia datangi.
"Yang memesan dia yang membayar aku" cibir Saka saat pangeran Auriga telah keluar dari kedai.
Pangeran Auriga memilih kembali ke istana. Ia ingin memastikan secara langsung jika Zora memang melakukan perkelahian dengan Dutch Ramon kemarin.
Sesampainya di istana, pangeran Auriga kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar putri Zora namun saat disana ia tidak mendapati seorang pun bahkan Ambar pelayan setia Zora juga tidak ada disana.
"Dimana mereka" gumam pangeran Auriga lalu menebak-nebak kemana Zora pergi.
Di sisi lain, Zora bersama Ambar sedang berkeliling istana. Langkah Zora terhenti saat melihat dapur yang ada di istana yang ditempatinya. Ayahnya tidak pernah menyinggung apapun tentang dapur maka dari itu Zora merasa sangat penasaran.
"Tradisional sekali" ucap Zora saat memasuki dapur yang berisi orang-orang yang sedang berlalu lalang untuk membuat makanan.
"Ndoro putri tadi bilang apa?" tanya Ambar yang berada di samping Zora.
"Ah, tidak" ucap Zora sambil menggelengkan kepalanya. Ia kemudian masuk lebih dalam ke dapur itu.
Bisik-bisik terjadi. Banyak pelayan yang berusia muda mencibir Zora. Mereka pikir setelah pembatalan pertunangan putri Zora dengan pangeran Auriga, putri Zora ingin kembali mengambil hati pangeran Auriga dengan memasuki dapur yang penuh dengan noda hitam bekas pembakaran arang ini.
"Lihatlah dia padahal sebelumnya ia tidak pernah kemari" bisik salah satu pelayan.
"Benar bukannya dia sangat sombong bahkan kata pelayan yang pernah melayaninya ia sangat sombong dan tidak ingin lagi melayaninya" ucap yang lainnya.
Zora sebenarnya mendengar ucapan para pelayan tadi. Ia hanya bisa menghela nafas atas kelakuan putri Zora yang sebenarnya. Ambar yang juga mendengar itu merasa geram. Ia langsung berbicara kepada dua pelayan yang membicarakan junjungannya tadi.
"Kalian disini ditugaskan untuk bekerja bukan untuk membicarakan anggota kerajaan!" ucap Ambar dengan kesal.
Zora yang mendengarkan hal itu merasa sedikit tersentuh karena Ambar membelanya. Ia hanya akan diam melihat perdebatan yang dilakukan oleh pelayan-pelayan ini.
"Kami hanya membicarakan kenyataan" ucap pelayan tadi membela diri dan mulai berdiri dari posisi awalnya.
"Kalian tidak tau keadaan yang sebenarnya!" ucap Ambar melangkahkan kakinya satu langkah ke depan.
Zora yang merasa situasi mulai tidak terkendali segera menghentikan Ambar.
"Ambar sudahlah" ucap Zora sambil menyentuh lengan Ambar.
"Tapi mereka sudah menjelekkan nama Ndoro Putri" ucap Ambar masih tidak terima.
"Bukankah orang yang membicarakan anggota kerajaan akan dikenai hukuman tersendiri jadi berhentilah membuang waktumu" ucap Zora kemudian beranjak pergi dari dapur tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Kedua pelayan yang mendengarkan ucapan Zora seketika menegang dan wajahnya pucat berbeda dengan Ambar yang wajahnya menunjukkan sebuah kemenangan sedangkan para pelayan lain yang melihat perdebatan tadi hanya bisa merasa kasihan kepada dua pelayan yang membicarakan seorang putri Zora. Ambar lalu bergegas menyusul Zora keluar dari dapur.
"Bagaimana ini?" tanya pelayan tadi kepada temannya sedangkan temannya hanya bisa diam dan menatap lurus ke depan dengan tatapan kosongnya.
Pangeran Auriga masih sibuk mencari Zora tetapi ia belum menemukannya. Ia memilih pergi ke pendopo karena biasanya Ayah dan Ibunya sedang berkumpul disana. Dan benar saja saat ia berada di pendopo sudah ada ayah, ibu dan seorang gadis yang tak lain adalah Zora sedang berbincang-bincang disana.
"Salam kepada Ayahanda Raja dan Ibunda Ratu" ucap pangeran Auriga kepada ayah dan ibunya. Ia kemudian ikut duduk di samping ayahnya.
"Putri Zora apakah benar jika kau kemarin beradu mulut dengan Dutch Ramon?" tanya pangeran Auriga setelah mendudukkan tubuhnya.
Zora yang sedang memakan jeruk sedikit melebarkan matanya mendengar ucapan pangeran Auriga.
"Dutch Ramon?" tanya Zora.
"Tidak aku kemarin hanya berdebat dengan it-u" ucap Zora terputus saat ia membayangkan wajah pria yang kemarin berdebat dengannya.
"Mati aku jadi yang kemarin itu Dutch Ramon yang terkenal kejam? Jika kata ayah dia yang akan menguasai separuh kerajaan Wirastama ini nantinya" batin Zora yang masih memegang sebuah jeruk yang akan dimasukkan ke mulutnya.
"Putri Zora apakah itu benar?" tanya Prabu Adyatama kepada Zora.
"Sa-saya nggak tau siapa namanya" kilah Zora kepada mereka semua.
"Kemarin ada orang yang mau dihajar jadi saya tolongin" imbuhnya.
Jujur saja Zora merasa sedikit gemetar karena ia baru mengetahui yang ia hadapi adalah Dutch Ramon tetapi mau bagaimana lagi tindakannya tetap saja salah karena ingin menghajar penduduk yang tidak bersalah.
Ratu Anindita langsung memeluk Zora dan menenangkannya.
"Sudah, tidak apa-apa Nduk lain kali jangan buat masalah ya sama Dutch Ramon dan anggotanya" ucap Ratu Anindita.
"Kau ini bagaimana bisa ceroboh sekali? Untung saja Dutch Ramon tidak menghajarmu" ucap pangeran Auriga yang mendapat pelototan dari Zora.
"Ini semua karenamu. Jika kau tidak meminta berpisah di tengah jalan maka aku tidak akan bertemu Dutch Ramon" ucap Zora membela diri sedangkan pangeran Auriga menelan salivanya dengan kasar saat mendapat tatapan tajam dari kedua orang tuanya.
"Auriga!" ucap kedua orang tuanya serempak sedangkan yang dipanggil namanya sudah lari entah kemana.
•••
jangan lupa vote komen rate dan like
Mampir yuk di novel pertama ku yang berjudul "KEKUATAN HATI WANITA"
Berkisah wanita yg bangkit dari penghianatan.
Mohon dukungannya, terimakasih🙏🏻🤗🌹
tp ngomong-ngomong,,, ceritanya bagus lho,,, cerita jaman dahulu kala
I love Indonesia😍😍😍😍
I love you thooor 😘😘😘😘