Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.
Dengan semakin berkembangnya tenaga uap dan mesin, siapa yang bisa mendekati sosok Master Q? Terselubung dalam kabut dan kegelapan, siapa atau apa kejahatan yang mengintai dan berbisik di telinga kita?
Terbangun dengan serangkaian kebingungan dan misteri, Bagas Pratama mendapati dirinya bereinkarnasi ke tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu di dunia yang dipenuhi oleh lautan dan dikuasai oleh mesin uap, bajak laut, meriam, serta Ramuan, Q, dan Anomali.
Ikuti kisah Rostav Zertu dalam menghadapi bahaya dan misteri yang mengincarnya, saat terlibat dengan organisasi-organisasi rahasia yang ada di dunia.
Ini adalah kisah dari "Kapten Mawar Hitam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Laut Biru Gelap
Saat ikan hitam itu melesat seperti anak panah dan menghantam tepat di dadanya, Rostav terhempas ke belakang dengan brutal. Tubuhnya terangkat sejenak dari dek sebelum akhirnya membentur pagar kayu kapal dengan suara keras yang menggelegar. Benturan itu membuat seluruh tubuhnya bergetar, dan rasa sakit yang tajam langsung menjalar dari tulang rusuknya ke seluruh tubuh. Napasnya terdengar berat, tersengal-sengal, seolah paru-parunya berebut mencari oksigen yang sempat terpental keluar akibat hantaman tadi. Matanya sedikit berkunang-kunang, pandangannya sempat gelap sejenak, sebelum akhirnya dia bisa kembali fokus pada kenyataan di sekitarnya.
Dengan susah payah, dia melirik ke belakang, menatap pagar kayu yang kini menjadi penyelamatnya. Perasaan lega yang amat dalam segera menyusup ke dalam dadanya, bercampur dengan rasa sakit yang masih berdenyut-denyut. Dia merasa benar-benar beruntung, sangat amat beruntung, dirinya ditahan oleh pagar ini. Kalau saja pagar kayu ini tidak ada, atau kalau saja pagar ini sudah lapuk dan rapuh, kemungkinan besar dirinya sudah terjungkal jatuh ke lautan di bawah sana.
Membayangkannya saja sudah cukup untuk membuat bulu kuduknya berdiri. Lautan di sekeliling kapal bukanlah berwarna biru atau hijau seperti lautan normal pada umumnya. Tapi airnya berwarna merah tua yang pekat dan mengilat, seperti genangan darah segar yang membentang hingga ke cakrawala.
Walaupun dia bisa berenang, sebuah keterampilan dasar yang dia kuasai sejak kecil di Bumi, tapi berenang di air laut biasa dengan berenang di air laut berwarna merah darah jelas jauh berbeda, bahkan mungkin tidak bisa dibandingkan sama sekali. Berenang di kolam renang atau pantai berpasir putih adalah kegiatan yang menyenangkan dan menyegarkan. Namun berenang di lautan merah darah? Itu adalah mimpi buruk yang bahkan tidak berani dia bayangkan. Siapa yang tahu apa yang mengintai di bawah permukaan cairan merah itu? Mungkin ada ikan-ikan pemangsa yang haus darah, atau makhluk-makhluk mengerikan yang belum pernah dilihat oleh mata manusia, menunggu dengan sabar di kedalaman untuk menyambut tubuh hangat yang jatuh ke dalam wilayah mereka.
Dan bahkan seandainya tidak ada monster di dalamnya, cairan merah itu sendiri sudah cukup untuk membuat siapa pun merasa ngeri.
Walaupun sejujurnya dia tidak tahu persis apakah laut biasa di dunia ini berbahaya atau tidak, mengingat dirinya kini terdampar di tempat bernama Laut Mayat, kemungkinan besar laut ini memang menyimpan misteri yang besar dan gelap di dalamnya. Nama "Laut Mayat" bukanlah nama yang diberikan untuk tempat yang aman dan damai. Nama itu sendiri sudah seperti peringatan yang diukir dalam bahasa kuno, membisikkan ancaman kepada siapa pun yang berani meremehkannya. Setiap sudut dari dunia ini sepertinya dirancang untuk membunuh mereka yang lengah. Bahkan seekor ikan hitam yang tampaknya biasa saja ternyata mampu melontarkan serangan sekuat itu. Lalu bagaimana dengan isi lautnya sendiri? Kedalaman di bawah kapal ini mungkin menyembunyikan makhluk-makhluk yang jauh lebih besar, jauh lebih buas, dan jauh lebih mengerikan dari apa pun yang bisa dia bayangkan.
Menatap lautan merah darah yang bergolak pelan di bawah sana, Rostav menggenggam pagar kayu dengan erat, buku-buku jarinya memutih.
Tapi, dia tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal itu lebih lanjut, pikirannya segera teralihkan oleh ikan hitam yang masuk ke dada kirinya itu, Rostav dapat merasakan jantungnya berdetak dengan lebih cepat dan seolah-olah ada sesuatu yang sedang hidup di dalam jantungnya.
"Kemana ikan itu? Aku yakin sekali melihatnya masuk ke dadaku," Rostav menundukkan kepala dan mengelus dadanya dengan lembut, sebelum akhirnya mencengkam dada kirinya dengan cukup kuat hingga kulitnya tertarik. "Apa sebenarnya ikan itu? Apa dia benar-benar masuk ke dalam tubuhku? Kenapa aku merasa seolah-olah ada sesuatu yang hidup di dalam jantungku. Jantungku juga, rasanya kini menjadi sedikit aneh, rasanya menjadi sedikit lebih dingin dari biasanya, dan detak jantungnya, terdengar lebih jelas. Sungguh, aku benar-benar tak memahami apa yang terjadi. Terlalu banyak anomali aneh yang ada di dunia ini. Apakah aku akan baik-baik saja?"
Pada momen itu, pandangan Rostav berubah. Pandangannya menjadi kabur dan dunia seolah-olah bergelombang dan terbalik, tiba-tiba saja kesadarannya berpindah ke tempat lain. Tempat itu seperti lautan luas berwarna biru gelap dengan bintang-bintang yang bersinar berwarna perak, kuning, dan hijau di langit luas. Terlihat sangat indah dan mempesona, hanya saja tidak ada bulan yang bersinar di langit.
Rostav perlahan membuka matanya dan melihat tempat ini. Dia berdiri di tengah-tengah laut biru gelap ini. Dia menyatukan kedua alisnya, dahinya mengkerut, terdiam cukup lama memandangi tempat itu. Matanya berkedip beberapa kali, sebelum akhirnya dia menunjukkan reaksi dengan cara memutar tubuhnya. Dia dikelilingi oleh lautan berwarna biru gelap dengan bintang-bintang perak, kuning, dan hijau yang bersinar dengan indah di langit luas, memantul di laut berwarna biru gelap ini.
"T-tempat apa lagi ini?" Rostav tergagap, dia mengusap wajahnya dan mengucek matanya berkali-kali, mengira ini mimpi. Dia kemudian menampar wajahnya sendiri dengan cukup keras.
Plak!
"Aw!"
Dia merasakan rasa sakit! Ini bukan mimpi!
Rostav mengelus pipinya yang berubah menjadi sedikit kemerahan, dan akhirnya menyadari bahwa ini bukanlah mimpi, dia benar-benar terkirim ke lautan biru gelap ini tanpa peringatan.
Dia melangkahkan kakinya, yang mengejutkan dia dapat berjalan di atas air. Setiap kali kakinya melangkah dan menginjak air, gelombang berbentuk lingkaran segera menyebar keluar. Rostav sedikit menikmati pengalaman baru ini. Tapi baru lima langkah dia menghentikan kakinya ketika melihat sesuatu di depannya.
"Ini..." dia memiringkan kepalanya, melihat sesuatu itu. Sesuatu itu adalah ikan hitam dengan lubang dan bola hitam kecil bercahaya yang masuk ke tubuhnya tadi. "Ikan ini ternyata juga berada di sini, apa tempat ini adalah buatanmu?" Rostav menjulurkan jari telunjuknya dan menyentuh tubuh ikan itu. Tapi dia segera teralihkan dengan bola hitam kecil bercahaya di lubang tubuh ikan ini. Jadi, dengan rasa penasaran yang tinggi, dia berniat menyentuhnya. Tapi ketika jaraknya hanya tersisa satu sentimeter, jarinya tiba-tiba terasa menjadi lebih lambat dan berat, seolah-olah ada beban puluhan ton yang menimpa jarinya.
'Agh, jariku terasa seperti mati rasa. Tidak hanya itu, jariku seolah-olah sedang tersedot oleh bola hitam bercahaya ini,' Rostav dengan susah payah berusaha menarik tangannya kembali, tapi berapa pun usaha yang dia keluarkan, hasilnya tetap sia-sia. Saat dia merasa tidak ada harapan, ikan hitam itu tiba-tiba berenang di udara dan masuk ke dalam lautan biru gelap, membuat jari Rostav dapat dia tarik kembali.
"Ah..." Rostav menarik jarinya dan memeriksa kondisinya, untung saja baginya, tidak ada luka serius di jarinya. Hanya saja dia masih bisa merasakan sensasi itu. Dia melihat ikan hitam berdiam diri di dalam lautan, lalu berenang menuju kedalaman.
"Sial, aku bersumpah tidak akan menyentuh ikan jika tidak memiliki informasi apa pun," Rostav menggerutu di dalam hati lalu dia melanjutkan penjelajahannya di tempat ini. Tapi, dua ratus empat puluh langkah kemudian, dia seolah-olah menabrak sebuah dinding tak kasat mata.
"Eh?" Rostav menaikkan sebelah alisnya saat dia menempelkan kedua tangannya di dinding tak kasat mata itu. "Apakah ini adalah batas dari tempat ini? Kalau ditotal, aku sudah melangkah sejauh dua ratus empat puluh lima (245) langkah. Tapi, aku masih bisa melihat laut dari balik dinding tak kasat mata ini. Baiklah, sekarang, karena aku sudah menjelajahi tempat ini, apa aku bisa kembali?" Rostav membayangkan dirinya memancing di dek kapal. Dan tiba-tiba, pandangannya berubah menjadi buram, dunia seolah-olah bergelombang dan mulai terbalik. Kesadaran Rostav kembali ke dunia nyata.
Dia membuka matanya dan melihat bahwa dirinya sedang duduk bersandar di pagar. Dia telah kembali ke kapal, dia telah kembali ke dunia nyata!
"Ini, akhirnya aku kembali..." walaupun Rostav merasa senang, tapi jelas pengalaman yang baru saja dia alami tidak bisa dihilangkan begitu saja dari kepalanya. Pengalaman itu begitu nyata, begitu baru, dan... begitu ajaib. Siapa orang yang bisa melupakan hal tersebut? Tidak ada! Itu adalah impian semua orang, mengalami pengalaman ajaib yang luar biasa.