Evelyn Shen ditinggalkan Damian Lu di hari pernikahan mereka tanpa pesan, tanpa penjelasan. Sejak itu hidupnya runtuh, dihina, lalu diusir oleh keluarganya sendiri.
Lima tahun kemudian, Evelyn kembali sebagai detektif tangguh. Takdir mempertemukannya lagi dengan Damian, kini jaksa elit yang cerdas dan ahli bela diri, dalam sebuah kasus besar yang memaksa mereka bekerja sama.
Bagi Evelyn, Damian adalah pria yang menghancurkan hidupnya.
Bagi Damian, Evelyn masih wanita yang paling ia cintai.
Dan di antara luka, rahasia, serta kebenaran yang perlahan terungkap… apakah Evelyn akan memaafkan pria yang pernah meninggalkannya? Atau justru kebenaran di balik kepergian Damian akan menghancurkan mereka untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
“Evelyn!” seru Wesley kaget saat melihat rekan kerjanya ditampar.
Refleks ia langsung maju selangkah dengan wajah penuh kecemasan.
Namun Evelyn mengangkat tangannya pelan menghentikannya.
Tatapannya tetap tenang meski bekas tamparan merah masih terlihat samar di pipinya.
Perlahan ia kembali menatap Ronald. “Tuan Shen,” ucap Evelyn dingin..“Apakah anda sudah selesai bicara?”
Kalimat itu langsung membuat Ronald membulatkan mata.
“Tuan Shen?” ulangnya tak percaya.
Evelyn tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. “Baru datang sudah menamparku,” katanya tenang. “Apakah kau merasa dirimu layak?”
“Kurang ajar!” bentak Ronald.“Aku ayahmu!”
Tatapannya penuh emosi. “Jangankan menamparmu, bahkan membunuhmu aku juga berhak!”
Namun Evelyn justru tersenyum tipis dingin.“Tuan Shen,” katanya pelan. “Jangan lupa, aku adalah Detektif Shen dari divisi kriminal.”
Tatapannya menusuk lurus ke arah ayahnya sendiri. “Apa yang anda lakukan tadi bisa dianggap penyerangan. Jadi jangan bertindak sesuka hati pada orang lain.”
Wajah Ronald langsung mengeras.
Sedangkan Lucy buru-buru maju ke tengah mereka dengan panik.
“Evelyn, Ronald…” ucapnya cemas. “Kalian jangan bertengkar lagi. Kalian sudah lama tidak bertemu.”
Namun Ronald justru mendengus kasar. “Ini hasil anak yang terlalu kau manjakan,” katanya tajam pada Lucy.
Lucy langsung terdiam sedih.
Sedangkan Evelyn perlahan tertawa kecil tanpa emosi. “Manjakan?Setidaknya sebagai orang tua, istri anda sudah menjalankan tanggung jawabnya. Tidak seperti anda. Di saat anak anda terluka dan terpuruk. Satu-satunya yang anda lakukan hanyalah datang dan menambah luka.”
Kalimat itu membuat suasana makin sunyi.
Wajah Ronald perlahan berubah.
Sedangkan Evelyn tetap berbicara dengan tenang seolah tidak merasakan apa-apa.
“Apakah orang seperti anda layak disebut orang tua?”
Sementara Wesley berdiri diam di samping Evelyn dengan rahang mengeras.
“Evelyn, sudah lama kau tidak pulang. Malam ini pulanglah dan makan malam bersama kami. Adikmu sudah pulang, kalian sudah lama tidak bertemu,” ucap Lucy dengan suara pelan penuh harap.
Namun Ronald langsung memotong dingin, “Untuk apa memintanya pulang? Kalau dia masih ingat keluarga ini, dia bisa pulang sendiri. Aku hanya punya satu putri, Eve Shen.”
Evelyn tersenyum kecil, tapi dingin. “Siapa yang begitu bodoh ingin pulang ke rumah itu lagi, Tuan Shen? Jangan lupa, Anda sendiri yang mengusirku dan memutus hubungan denganku. Jadi untuk apa aku pulang? Selama lima tahun aku bertahan dengan dukungan orang luar, sementara keluarga sendiri malah menjatuhkanku.”
“Evelyn…” Lucy memanggil lirih, tapi Evelyn menggeleng pelan. “Sudahlah, Ma. Jangan minta aku kembali ke rumah itu lagi. Sejak awal di matanya hanya ada Eve Shen. Aku tidak seperti hatimu, Ma, yang bisa menerima anak selingkuhan itu di rumah yang sama.”
Evelyn lalu berbalik, tapi Ronald langsung menahan emosi. “Kau berani sekali bicara seperti itu tentang adikmu.”
Ia berhenti, menoleh pelan, tatapannya dingin. “Dia anakmu, tapi bukan adikku. Aku tidak pernah menganggap putri dari orang yang menghancurkan mamaku sebagai adik sendiri.”
Evelyn kemudian melangkah pergi menuju ke mobilnya bersama rekannya.
Ronald hanya bisa menahan emosinya yang hampir meledak.
“Lihatlah putrimu seperti apa sekarang… kurang ajar sekali,” ucapnya dingin menahan marah. “Kalau dia bisa sebaik adiknya, alangkah bagusnya.”
Ucapan itu langsung memicu Lucy.
“Cukup, Ronald!” bentaknya tajam. “Kau jangan keterlaluan! Selalu saja Eve, Eve, Eve! Aku sudah menerima Anak itu, tapi kau malah mengabaikan anakku sendiri. Jangan lupa, dia juga darah dagingmu! Kalau dibandingkan mereka berdua, anakmu itu jauh lebih manja dan lebih sulit diatur. Suatu saat kau akan menyesal!”
Lucy langsung berbalik dan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan suasana yang semakin tegang.
Ronald hanya bergumam dingin, “Ibu dan anak sama saja."
***
Departemen Kepolisian
Setelah kembali ke kantor, Evelyn dan Wesley masuk bersama ke dalam gedung divisi.
Begitu mereka muncul, seluruh rekan satu tim langsung berdiri dan memberi tepuk tangan meriah.
“Evelyn! Kali ini kau berhasil!”
“Kau berhasil menahan buronan yang sudah lolos selama dua tahun!"
“Luar biasa!”
Evelyn hanya tersenyum kecil, sedikit mengangkat tangan.
“Jangan berlebihan. Tanpa bantuan kalian, aku juga tidak akan bisa menangkapnya sendiri.”
Namun salah satu rekan langsung menyela, “Tapi yang menahannya sampai akhir tetap kau sendiri.”
Evelyn menggeleng pelan. “Bukan aku saja. Kita semua berhasil. Kita sudah bekerja keras dari pagi sampai tengah malam, dan akhirnya ini hasilnya.”
Suasana ruangan langsung hangat.
“Karena kalian semua sudah bekerja keras,” tiba-tiba suara Kapten Wong terdengar dari pintu kantor atasannya.
Ia melangkah keluar dengan ekspresi santai.
“Malam ini, aku traktir makan. Anggap saja perayaan.”
Sorakan dan tepuk tangan langsung pecah di ruangan.
“Kapten terbaik!"
“Makan malam!”
“Tepuk tangan untuk Tim A!”
Evelyn menatap rekan-rekannya sebentar, lalu tersenyum tipis tanpa banyak bicara.
Gedung kejaksaan.
Damien masih duduk di ruang kerjanya, namun pikirannya sama sekali tidak fokus pada map kasus di tangannya.
Yang terus muncul di kepalanya justru satu hal, Evelyn bergelantungan di kabel, lalu jatuh dari ketinggian.
Ia menarik napas pelan, berusaha menenangkan diri.
Lalu dengan ekspresi dingin seperti biasa, ia menutup salah satu map di meja dan memilih satu kasus.
Setelah beberapa saat membaca, Damien akhirnya berdiri.
Ia merapikan jasnya sebentar, lalu melangkah keluar dari ruangannya menuju lantai atas.
Langkahnya terdengar tegas di koridor sunyi kejaksaan.
Tok tok.
Suara ketukan pintu terdengar jelas.
“Masuk!” sahut Ketua Kejaksaan dari dalam.
Damien membuka pintu dan masuk dengan tenang.
Ketua Kejaksaan mengangkat kepala dari berkas yang sedang ia baca.
“Damien,” ucapnya datar. “Ada apa?”
Damien berdiri tegak di depan meja, ekspresinya masih dingin seperti biasa, namun matanya sedikit lebih berat dari biasanya.
“Saya ingin mengambil alih kasus pembunuhan berantai yang ditangani Tim A,” ucapnya langsung.
“Kau sudah membuat keputusan?” tanya Ketua Kejaksaan sambil menatap Damien dengan serius.
“Benar,” jawab Damien tanpa ragu.
Ketua Kejaksaan terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan. “Baiklah kalau begitu. Aku akan segera menghubungi atasan mereka. Besok kau bisa langsung bertemu dengan Kapten Wong dan timnya.”
Damien mengangguk singkat. “Terima kasih.”
Ia berbalik tanpa banyak kata, namun langkahnya kali ini terasa lebih pasti dari sebelumnya.
Saat keluar dari ruangan, untuk sesaat Damien berhenti di koridor yang sunyi.
“Evelyn…” gumamnya pelan dalam hati. "Kita akan segera bertemu.”