NovelToon NovelToon
Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Penyesalan Berdarah Sang Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:20.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Setelah lima tahun menjadi pelayan tak bergaji bagi suami dan keluarga mertuanya, Rania pergi membawa luka dan kembali sebagai badai yang akan menghancurkan kerajaan mereka."

Selamat membaca...jangan lupa dukung authir yaa...terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saling Cakar di Balik Jeruji

Beberapa hari kemudian...

Aroma ruang sidang pidana selalu terasa berbeda dengan pengadilan agama. Di sini, udara tercium lebih berat, pekat oleh aroma kecemasan dan keputusasaan.

Rania duduk di barisan kursi penonton paling depan, mengenakan kemeja sutra berwarna biru dongker yang dipadukan dengan celana kulot hitam yang jatuh dengan sempurna. Di lengannya melingkar jam tangan Rolex minimalis—sebuah simbol bahwa posisinya kini sudah berada di kelas yang tidak akan pernah bisa digapai lagi oleh orang-orang di depannya.

​Di sampingnya, Elang Danuarta duduk dengan tenang, sesekali memeriksa berkas laporan dari auditor independen yang akan menjadi paku mati bagi kasus ini.

​"Terdakwa Rendra Wijaya dan Terdakwa Gisela Putri, silakan memasuki ruang sidang," seru petugas pengadilan.

​Pintu samping terbuka. Rendra masuk dengan mengenakan rompi tahanan berwarna oranye mencolok di atas kemeja putihnya yang sudah menguning. Wajahnya yang dulu selalu dipenuhi keangkuhan seorang CEO kini tampak layu, dengan lingkaran hitam besar di bawah matanya. Rambutnya acak-acakan, dan langkah kakinya terseret-seret oleh beban mental yang teramat sangat.

​Di belakangnya, Gisela berjalan dengan kondisi yang tidak kalah memprihatinkan. Tidak ada lagi gaun merah ketat atau tas Chanel mewah. Ia mengenakan rompi yang sama, rambutnya yang biasa dicat pirang mahal kini tampak kusut dan kusam, dan wajahnya tanpa riasan terlihat jauh lebih tua dari usia aslinya.

​Begitu kedua mata mereka bertemu di meja terdakwa, atmosfer ruangan langsung memanas. Bukan karena cinta, melainkan karena dendam yang membara di antara sesama pengkhianat.

​"Sidang kasus penggelapan dana dan penadahan aset Wijaya Corp dinyatakan dibuka," ketuk hakim ketua dengan tegas.

​Jaksa Penuntut Umum (JPU) mulai membacakan dakwaan. "Berdasarkan bukti mutasi rekening, audit forensik digital yang diserahkan oleh PT Arania International, Terdakwa Rendra telah mengalirkan dana operasional vendor sebesar 2,4 miliar rupiah ke rekening pribadi Terdakwa Gisela dalam kurun waktu delapan belas bulan terakhir."

​Rendra langsung berdiri dari kursinya, menunjuk ke arah Gisela dengan emosi yang meledak-ledak. "Yang Mulia! Saya melakukan itu karena dia yang meminta! Gisela yang memanipulasi saya! Dia mengancam akan meninggalkan saya jika saya tidak membelikannya apartemen dan barang-barang mewah itu! Saya adalah korban hasutan wanita ini!"

​Gisela tidak tinggal diam. Ia ikut berdiri, matanya melotot tajam ke arah Rendra hingga urat-urat di lehernya terlihat. "Bohong, Yang Mulia! Dia yang datang kepada saya dan pamer kalau dia punya banyak uang! Dia bilang uang itu adalah hasil bonus kerja kerasnya sendiri! Dia tidak pernah bilang kalau itu uang vendor atau uang tabungan anaknya! Pria pecundang ini yang menjerumuskan saya!"

​"Kamu yang gatal, Gisela! Kamu yang merampok sisa hartaku malam itu saat tau rumahku akan disita! Kamu membawa lari perhiasan ibuku!" teriak Rendra, suaranya melengking frustrasi.

​"Itu karena kamu berhutang banyak padaku, Rendra! Kamu berjanji akan menikahiku dan menjadikanku nyonya besar, tapi ternyata kamu cuma pria miskin yang otaknya kosong tanpa istrimu!" balas Gisela tidak kalah lantang.

​Tok! Tok! Tok!

​Hakim ketua mengetuk palu berkali-kali hingga suaranya menggema keras di dalam ruangan. "Harap tenang kedua terdakwa! Menjaga sikap di dalam ruang sidang atau saya akan menambah pasal tindakan penghinaan terhadap pengadilan!"

​Rendra dan Gisela terpaksa duduk kembali, tapi dada mereka masih naik turun karena amarah. Mereka saling membuang muka, saling jijik satu sama lain. Pemandangan itu membuat beberapa orang di ruang sidang berbisik mencibir. Dua orang yang dulu bersatu untuk mengkhianati seorang istri sah, kini saling tikam demi menyelamatkan kulit mereka sendiri.

​Rania yang menyaksikan kejadian itu dari kursi penonton hanya menyunggingkan senyum tipis. Sangat tipis, tapi penuh dengan kepuasan yang dingin. Ia menoleh ke arah Elang yang juga sedang menatapnya.

​"Sesuai dengan yang kamu katakan, El," bisik Rania pelan. "Cinta palsu mereka hanya bertahan selama uangnya masih ada. Begitu uangnya habis, sifat asli mereka sebagai binatang yang terpojok langsung keluar."

​Elang mengangguk, sorot matanya tajam dan bangga. "Manusia yang dipersatukan oleh keserakahan, akan selalu dipisahkan oleh ketakutan, Rania. Mereka tidak butuh bantuanmu untuk hancur. Mereka sangat ahli melakukannya sendiri."

​Sidang dilanjutkan dengan pembacaan kesaksian ahli dari tim auditor Arania International. Setiap data ditampilkan di layar proyektor—mulai dari jam digital transaksi, alamat IP saat transfer dilakukan, hingga rekaman percakapan pesan singkat antara Rendra dan Gisela yang membicarakan cara menyembunyikan uang tersebut. Semua data itu bersih, valid, dan dikunci secara forensik oleh sistem yang dulu dibangun oleh Rania sendiri.

​Rendra menatap layar itu dengan tatapan kosong. Ia baru sadar, setiap detail kecil yang ia lakukan selama dua tahun terakhir ini sebenarnya berada di bawah pengawasan "arsitek" yang tak terlihat. Rania tidak pernah bodoh; Rania hanya sedang mengumpulkan tali yang cukup panjang agar Rendra bisa menjerat lehernya sendiri.

​Di sudut kursi penonton bagian belakang, Ibu Ratna dan Tyas duduk sambil menangis sesenggukan. Mereka mengenakan pakaian yang sangat sederhana, jauh dari kesan glamor yang biasa mereka tunjukkan. Tetangga kompleks dan kerabat yang dulu sering mereka pameri kini tidak ada satu pun yang sudi menjenguk atau memberikan bantuan moral. Mereka benar-benar dikucilkan dari pergaulan sosial.

​Setelah dua jam persidangan yang melelahkan, hakim ketua akhirnya membacakan keputusan sela. "Mengingat bukti-bukti yang diajukan oleh penuntut umum sangat kuat dan tidak terbantahkan, maka masa penahanan Terdakwa Rendra Wijaya dan Terdakwa Gisela Putri secara resmi diperpanjang hingga putusan akhir bulan depan. Terdakwa Rendra terancam hukuman maksimal tujuh tahun penjara, dan Terdakwa Gisela terancam hukuman maksimal empat tahun penjara."

​Gisela langsung lemas dan jatuh pingsan di lantai sidang, membuat petugas wanita harus membopongnya keluar. Sementara Rendra hanya bisa menunduk dalam, air matanya menetes membasahi lantai ubin pengadilan.

​Saat Rendra digiring oleh petugas untuk kembali ke sel tahanan melalui lorong tengah, langkahnya terhenti tepat di samping kursi Rania. Petugas memberinya waktu beberapa detik.

​Rendra mendongak, menatap Rania dengan mata yang bengkak dan penuh penyesalan yang teramat dalam. "Rania... maafkan aku... aku mohon, cabut gugatannya. Aku tidak mau membusuk di penjara, Nia... kasihan Abid kalau punya ayah seorang narapidana..." rintihnya dengan suara yang serak dan bergetar.

​Rania berdiri dengan anggun, merapikan blusnya sedikit. Ia menatap Rendra tanpa ada rasa benci, tanpa ada kemarahan, dan yang paling menyakitkan bagi Rendra—tanpa ada sedikit pun rasa kasihan. Tatapan Rania benar-benar kosong, seolah Rendra hanyalah orang asing yang kebetulan lewat di depannya.

​"Mas Rendra," ucap Rania dengan suara yang sangat tenang namun bertenaga. "Abid tidak akan pernah punya ayah seorang narapidana. Karena di lembar akta yang baru nanti, nama ayahnya akan dikosongkan secara hukum atas dasar penelantaran anak. Kamu bukan lagi siapa-siapa bagi kami."

​"Rania! Aku ini ayah kandungnya! Kamu tidak bisa menghapus darahku dari tubuhnya!" Rendra berteriak putus asa saat petugas mulai menarik lengannya untuk berjalan.

​"Darahmu mungkin ada di tubuhnya, Mas. Tapi nyawanya... nyawanya ada karena Tuhan dan kebaikan orang-orang yang kamu hina," jawab Rania sambil memakai kembali kacamata hitamnya.

"Selamat menikmati sisa tahun-tahunmu di dalam sel. Aku harap jeruji besi itu cukup kokoh untuk menahan penyesalanmu yang akan berdarah-darah setiap harinya."

​Rendra diseret keluar dari ruang sidang sambil terus meneriakkan nama Rania, tapi suaranya perlahan menghilang di balik pintu besi yang tertutup rapat.

​Rania membalikkan badannya, melangkah keluar dari ruang sidang didampingi oleh Elang. Di luar gedung pengadilan, angin siang berembun sejuk menerpa wajahnya. Ia menghirup napas sedalam-dalamnya. Babak penderitaannya telah selesai, dan babak kejayaannya sebagai pemilik tunggal Arania International baru saja dimulai.

​Di dalam hatinya, Rania berjanji: Ia tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi. Pria yang telah menginjak-injak ketulusannya kini telah menerima upah yang setimpal. Dan bagi Rania, langit kini adalah satu-satunya batasan untuk masa depannya bersama Abid.

1
Himna Mohamad
kereeeen 👍👍👍👍👍
Himna Mohamad
👍👍👍👍👍
Anonim
Yah begitu..... BUAT MEREKA MENDERITA
aku
kan bener lagi kata tetanggaku, tidak ada yg lebih mengerikan selain tidak ada uang adalah wanita yg bls dendam krn skt hati 😌😌
aku
lagian lu udh dikasih kesempatan bukannya lnjut hdp lbh baik malah cari mati. hedehh gk pinter 😁
Dwi Setyaningrum
wah wah penyesalannya hanya Krn terpuruk wkt itu setelah ekonominya mulai membaik berbuat ulah lagi..hadehhh..
Dwi Setyaningrum: minta dirujak thor..🤭😂
total 2 replies
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
tanpa rania kamu bukan apa" rendra🤭
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
ternyata gisela itu anak buah perusahaan lain
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
iya tinggalin aja wes Rendra
𝐀⃝🥀Yαͫηᷰυͫαᷰя⒋ⷨ͢⚤ •§͜¢•🦢🍒
suami jahat Rendra
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
hukuman rania belum sbrpa ini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
korupsi demi apa ini baskoro
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
wah nyonya datang
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
tiket exclusive😄😄😄😄
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
ini sih cari mati dia🤣🤣🤣
pst dapat cap pelakor😄🤭
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
badainya terlalu dasyat
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
seorang ibu bisa ngomong kasar begini
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
kena jebakan balik kah
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
menghamliri kalian past
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘмυмυ⁷
enam bulan ga bisa bikin kamu tobat tyas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!