Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari Sebuah Ilusi
Semburat warna merah darah berangsur-angsur menghilang dari langit pelabuhan utara, digantikan oleh kepekatan malam yang dingin dan sunyi. Di dalam kabin mobil baja mewah yang melaju membelah jalanan protokol menuju perbukitan elite, Xavier Arisatya duduk bersandar dengan mata terpejam.
Penampilan pria itu masih sesempurna saat dia berangkat tadi siang—tidak ada satu pun lipatan kusut di jas hitamnya, tidak ada setetes pun noda darah yang mengotori kemeja sutranya. Namun, aura kepuasan yang dingin begitu kental menguar dari tubuh tegapnya.
Di kursi depan, Daniel sesekali melirik spion tengah, memastikan kondisi sang atasan sebelum membuka suara.
"Tuan Xavier," panggil Daniel dengan nada serendah mungkin. "Seluruh aset rahasia, gudang logistik, hingga rekening luar negeri milik sisa-sisa The Black Viper telah dialihkan dan dibekukan sepenuhnya oleh tim legal kita.
Viper Hitam dan tiga orang kepercayaannya saat ini sudah berada di helikopter privat menuju fasilitas interogasi rahasia di pulau terluar. Mereka tidak akan pernah bisa kembali ke kota ini lagi."
Xavier perlahan membuka kelopak matanya. Sepasang mata elang yang biasanya memancarkan kilatan kejam itu kini tampak lebih tenang, seolah sebuah beban besar yang selama enam tahun ini mengganjal di sudut garis takdirnya telah berhasil dikikis habis.
"Bagaimana dengan manifes fiktif yang mereka kirimkan ke dekat mansion?" tanya Xavier datar.
"Hanya berisi dokumen palsu dan alat penyadap usang, Tuan. Tampaknya mereka memang hanya berniat memecah konsentrasi tim keamanan kita untuk melakukan penculikan jika Anda tidak datang hari ini.
Semuanya sudah dimusnahkan oleh tim Alpha," jawab Daniel sigap.
Xavier hanya mengangguk tipis.
Pandangannya beralih menatap keluar jendela, mengamati deretan lampu jalanan yang berkelebat cepat. Pikirannya tidak lagi berada di dermaga berkarat atau pada musuh-musuh yang baru saja dia hancurkan.
Fokusnya kini tertuju sepenuhnya pada sesosok wanita yang beberapa jam lalu melepas keberangkatannya dengan air mata kecemasan.
Eli.
Pria itu meraba saku bagian dalam jasnya, merasakan permukaan dingin dari sebuah benda kecil berbentuk kilasan memori yang dia bawa dari gudang pelabuhan tadi—sebuah rekaman CCTV cadangan enam tahun lalu dari koridor Hotel Grand Astaria yang sempat disimpan oleh Viper Hitam untuk alat pemerasan.
Rekaman yang membuktikan dengan sangat jelas bagaimana Eli diseret dalam kondisi setengah sadar oleh Adrian, sebelum akhirnya wanita itu berhasil melarikan diri dan salah memasuki Kamar 909 miliknya.
Xavier mencengkeram benda itu erat. Ilusi tentang konspirasi besar yang sempat ditiupkan oleh Valencia pagi tadi kini telah runtuh sepenuhnya.
Yang tersisa hanyalah fakta bahwa takdir telah menjebak mereka berdua dalam sebuah malam kelam, namun malam kelam itulah yang kini menuntun mereka menuju pelabuhan terakhir yang sesungguhnya.
Iring-iringan mobil akhirnya melewati gerbang besi raksasa mansion Arisatya yang dijaga ketat oleh lima lapis pengamanan baru.
Begitu mobil berhenti sempurna di lobi utama, Xavier langsung turun tanpa menunggu Daniel membukakan pintu. Langkah kakinya yang lebar dan tegas berdentum pelan di atas lantai marmer lobi, bergerak cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua.
Di depan pintu kamar tidur utama, Bibi Ami berdiri dengan wajah lega begitu melihat kedatangan Tuan Besarnya.
"Nyonya ada di dalam, Tuan? Sejak siang tadi Nyonya tidak mau keluar kamar dan terus memeluk anak-anak.
Nyonya sangat mencemaskan Anda," bisik Bibi Ami takzim sebelum mengundurkan diri ke lantai bawah.
Xavier memutar kenop pintu dengan perlahan, meminimalkan suara agar tidak mengejutkan penghuni di dalamnya. Begitu pintu terbuka, pemandangan di dalam kamar seketika melembutkan seluruh sudut keras di hati sang serigala penguasa.
Di atas ranjang king size ber-kanopi mewah itu, Eli tampak sedang berbaring miring dengan kedua lengan mungilnya memeluk erat Kenji dan Kiana yang telah tertidur pulas di sisi kanan dan kirinya. Eli tidak memejamkan mata; pandangannya lurus menatap ke arah pintu dengan binar mata yang berkaca-kaca dan penuh dengan kecemasan yang mendalam.
Begitu sosok tegap Xavier muncul di ambang pintu, napas Eli seketika tercekat. Dia dengan sangat hati-hati melepaskan pelukannya dari anak-anak, menggeser tubuhnya turun dari ranjang sutra, lalu berlari kecil menghambur ke arah Xavier.
Xavier menangkap tubuh mungil istrinya dengan sigap, merentangkan kedua lengan kekarnya untuk mendekap Eli erat-erat ke dalam dada bidangnya. Eli menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Xavier, menghirup aroma maskulin suaminya yang masih utuh, bercampur dengan hawa dingin angin malam luar rumah.
Tubuh Eli bergetar halus, menumpahkan seluruh rasa takut yang menumpuk di dadanya sejak siang tadi.
"Kamu kembali... kamu tidak apa-apa, Xavier?" bisik Eli dengan suara parau menahan tangis, tangan kecilnya meraba dada dan bahu Xavier seolah ingin memastikan pria itu pulang tanpa luka sedikit pun.
Xavier terkekeh rendah—sebuah suara bariton yang sangat seksi dan menenangkan. Dia menangkup wajah cantik Eli dengan kedua tangan besarnya, memaksa wanita itu untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata elangnya yang kini memancarkan binar kehangatan yang mutlak.
"Aku tidak apa-apa, Eli. Aku selalu menepati janjiku," ujar Xavier lembut, ibu jarinya bergerak mengusap sisa air mata di sudut mata istrinya. "Perburuan sudah selesai. The Black Viper, Adrian, Valencia, ataupun siapa saja yang menjadi bagian dari masa lalu kelam itu... malam ini, aku sudah menghapus keberadaan mereka dari kota ini selamanya."
Xavier menunduk, mendaratkan sebuah kecupan yang sangat dalam, lembut, dan sarat akan rasa kepemilikan di kening Eli, lalu turun ke kedua kelopak matanya yang sembap, sebelum akhirnya mengunci bibir manis istrinya dalam sebuah ciuman yang menuntut kepatuhan mutlak.
Ciuman yang tidak lagi menyisakan ruang bagi keraguan, ketakutan, ataupun bayang-bayang masa lalu.
Eli membalas ciuman itu dengan seluruh keberanian yang dia miliki, mengeratkan pelukannya di leher kokoh Xavier. Di dalam kamar yang temaram ini, di bawah perlindungan mutlak sang serigala penguasa, Eli akhirnya menyadari satu hal: ilusi tentang penjara dan kontrak pernikahan telah runtuh.
Sangkar emas ini bukan lagi tempat dia terjebak, melainkan sebuah pelabuhan terakhir yang akan menjaga seluruh jiwa dan raga miliknya serta anak-anaknya seumur hidup.
Xavier melonggarkan pagutannya perlahan, senyuman tipis penuh kemenangan mutlak terukir di wajah tampannya saat melihat binar kepasrahan yang penuh cinta di mata istrinya.
Pria itu menyapu tubuh mungil Eli ke dalam gendongannya, melangkah menuju sofa besar di sudut balkon kamar yang menghadap ke arah taman mawar yang sunyi—siap menghabiskan sisa malam panjang itu berdua, merayakan kemenangan mereka atas takdir yang kini telah sepenuhnya berada di bawah kendali sang penguasa Arisatya.