NovelToon NovelToon
Pedang Darah Dan Janji Abadi

Pedang Darah Dan Janji Abadi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ichsan Ramadhan

"Dulu aku hanyalah pemuda biasa tanpa bakat, tanpa kekuatan, dan tanpa tujuan. Dunia terasa abu-abu sampai akhirnya aku bertemu dengannya—cahaya yang menerangi hidupku dan mengajarkanku arti cinta."

Namaku Li Yao. Aku tidak memiliki bakat kultivasi, namun cintaku padanya membuatku rela membelah langit dan bumi demi menjadi kuat. Bersamanya, aku merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan, hingga sebuah malam kelam mengubah segalanya.

Mata keparat merenggut nyawanya di hadapanku. Aku tak berdaya. Aku hanya bisa menangis melihat darahnya menetes. Saat napas terakhirnya berhembus, sebuah sumpah setan terucap:

"Aku akan membasmi mereka semua. Walau harus menjadi iblis, walau harus menyeberangi lautan darah, dendam ini akan kubayar lunas!"

Kini, dunia tidak lagi memiliki Li Yao yang lembut. Yang tersisa hanyalah Pendekar Berhati Es, seorang pembunuh dingin yang pedangnya selalu basah oleh darah musuh. Setiap tebasan adalah doa dendam, setiap nyawa yang melayang adalah persembahan unt

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichsan Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10 Cahaya Kultivasi Pertama, Berkat Doa dan Cintanya

Siang itu, matahari bersinar sangat terik, membakar kulit siapa saja yang berada di bawahnya. Namun di tengah lembah tersembunyi itu, Li Yao tidak peduli pada panasnya udara. Keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya, membasahi pakaiannya hingga menempel di kulit, namun matanya tetap tajam dan fokus.

Di tangannya, sebilah pedang kayu itu bergerak secepat kilat.

Wush! Wush! Wush!

Angin berdesir tajam setiap kali pedang itu membelah udara. Gerakannya tidak lagi kaku atau kikuk seperti dulu. Kini setiap ayunan memiliki ritme, memiliki kekuatan, dan memiliki tujuan. Otot-otot di lengannya dan punggungnya menonjol, membentuk pola yang kokoh dan kuat, hasil dari latihan tanpa henti selama berbulan-bulan.

"Bagus! Pertahankan napasmu! Jangan putus arusnya!" seru Ling Qingyu dari pinggir lapangan. Wajahnya tampak tegang namun penuh harap.

Hari ini adalah hari yang istimewa. Ling Qingyu telah memutuskan bahwa saatnya telah tiba bagi Li Yao untuk mencoba membuka saluran energinya sekali lagi. Bukan dengan batu ujian yang dingin dan kaku, melainkan dengan teknik khusus yang ia ajarkan secara langsung.

"Oke, cukup istirahat sebentar," perintah Ling Qingyu.

Li Yao menghentikan gerakannya, napasnya memburu namun matanya bersinar penuh semangat. Ia berlari kecil mendekati wanita itu.

"Bagaimana, Qingyu? Apakah gerakanku sudah lebih baik? Apakah aku sudah pantas disebut muridmu?" tanyanya penuh harap.

Ling Qingyu tersenyum, menyeka keringat di dahi kekasihnya dengan saputangan sutra miliknya.

"Kau sudah berkembang sangat pesat, Yao. Bahkan aku takjub. Tubuhmu yang dulu dianggap tidak memiliki akar roh, ternyata memiliki ketahanan fisik yang luar biasa. Kau seperti batu kasar yang perlahan dipoles menjadi permata."

"Tapi..." Li Yao menunduk sedikit. "Apakah aku benar-benar bisa merasakan energi itu? Aku takut aku tetap saja bodoh dan tidak bisa merasakan apa-apa."

"Percaya padaku," Ling Qingyu menepuk bahunya lembut. "Kali ini caranya berbeda. Kita tidak akan memaksakan energi masuk. Kita akan membiarkan energi itu mengalir karena resonansi hati. Tutup matamu, dan ingatlah perasaanmu saat bersamaku."

Li Yao mengangguk mantap. Ia duduk bersila sesuai arahan wanita itu, menutup matanya rapat-rapat.

"Tenangkan pikiran. Lupakan rasa lelah, lupakan rasa sakit otot. Fokuskan seluruh keinginanmu pada satu titik di pusarmu. Bayangkan... bayangkan bahwa kau ingin menjadi kuat demi melindungiku. Salurkan seluruh rasa cintamu, seluruh rasa sayangmu, menjadi bahan bakar!" bisik Ling Qingyu lembut di telinganya. Suaranya seolah memiliki kekuatan hipnotis yang menenangkan.

Li Yao mengikuti instruksinya. Di dalam kegelapan kelopak matanya, ia membayangkan wajah Ling Qingyu. Ia membayangkan senyumnya, tawanya, dan janji mereka di bawah pohon tua.

'Aku ingin kuat... Aku ingin melindunginya... Aku tidak mau menjadi beban...'

Pikiran itu berputar kencang, berubah menjadi api yang membara di dadanya.

Perlahan... sangat perlahan, ia merasakan sesuatu yang aneh. Udara di sekitarnya terasa lebih padat. Ia bisa merasakan partikel-partikel tak kasat mata yang berterbangan. Awalnya hanya seperti angin sepoi-sepoi, lalu tiba-tiba...

Buzz!

Seperti ada lonceng yang berdentang di dalam kepalanya!

Tiba-tiba, sebuah aliran hangat yang sangat nyata muncul di dalam tubuhnya. Aliran itu kecil, sangat kecil, seperti aliran sungai sempit, namun rasanya begitu hidup! Energi itu bergerak perlahan mengikuti aliran yang diajarkan Ling Qingyu, merambat dari dadanya, menuju lengan, hingga ke ujung jari-jemarinya!

"Aaaah!" Li Yao mendesah pelan, matanya terbuka lebar.

Dan saat itu terjadi...

Woosh!

Cahaya putih samar tiba-tiba memancar keluar dari tubuh Li Yao! Tidak terang benderang, namun jelas terlihat oleh mata telanjang. Cahaya itu mengelilingi tubuhnya seperti kabut tipis yang bersinar.

Dia... berhasil mengolah Qi!

"Melihatnya! Qingyu! Aku merasakannya! Ada yang bergerak di dalam sana! Hangat dan kuat!" seru Li Yao bersorak seperti anak kecil, wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan yang tak terkira.

Air mata haru tak sengaja menetes. Selama ini ia dianggap sampah, dianggap tidak punya bakat, tapi hari ini... ia membuktikan bahwa ia bisa!

Ling Qingyu juga menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca melihat cahaya itu. Ia tahu betapa sulitnya hal ini bagi Li Yao, namun ia berhasil.

"Ya... ya! Itu dia! Itu adalah energi kultivasi!" jawab Ling Qingyu dengan suara bergetar menahan tangis bahagia. "Lihatlah dirimu, Yao! Kau bukan lagi pemuda biasa! Kau telah melangkah melintasi gerbang pertama!"

Ia memeluk leher kekasihnya erat-erat.

"Aku tahu kau bisa melakukannya! Aku selalu percaya padamu!"

"Ini semua karena kau, Qingyu!" Li Yao memeluk balik wanita itu dengan bahagia. "Jika bukan karena doamu, karena ajaranmu, dan karena cintamu... aku tidak akan pernah bisa sampai di titik ini. Cahaya ini... cahaya ini kuterima berkatmu!"

"Cahaya itu adalah bukti ketulusan hatimu," bisik Ling Qingyu. "Mulai hari ini, jalanmu telah terbuka. Teruslah berjalan, Cintaku. Dunia sedang menunggu kebangkitanmu."

Di bawah langit yang sama, seorang pemuda tanpa bakat telah berhasil memaksakan takdirnya dengan kerja keras dan cinta. Cahaya pertamanya mungkin redup, namun api di dalam hatinya sudah membara tak terpadamkan.

1
T28J
hadiir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!