"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Bulan-bulan berlalu, dan perut Aira kini mulai membuncit dengan nyata. Kediaman Pradipta yang dulu sunyi kini selalu dipenuhi dengan tawa kecil dan persiapan-persiapan yang tak ada habisnya.
Namun, di balik kemewahan itu, dinamika rumah tangga mereka tetaplah seperti pasangan pada umumnya, penuh dengan perdebatan kecil yang manis dan kejutan-kejutan emosional yang tak terduga.
Sore itu, Dewa baru saja pulang dari kantor lebih awal. Ia langsung menuju lantai dua, tempat sebuah ruangan besar sedang direnovasi menjadi kamar bayi. Di sana, ia menemukan Aira sedang berdiri di atas tangga kecil, mencoba menempelkan stiker dinding bermotif bunga matahari.
"Ai! Turun sekarang!" suara bariton Dewa menggelegar di ruangan itu, membuat Aira hampir meloncat kaget.
"Mas! Jangan teriak-teriak, aku cuma mau pasang stiker ini," protes Aira sambil memegang perutnya yang kini sudah memasuki usia tujuh bulan.
Dewa dengan sigap memegang pinggang Aira dan membantunya turun dengan sangat hati-hati, seolah istrinya itu terbuat dari porselen yang bisa retak kapan saja. "Sudah aku bilang, panggil Hans atau pelayan lain. Kenapa kamu hobi sekali melakukan hal berbahaya?"
"Mas, ini cuma stiker, bukan pasang atap gedung!" Aira mengerucutkan bibirnya. "Aku ingin kamar anak kita punya sentuhan tangan ibunya sendiri, bukan hasil kerja orang gaji."
Dewa menghela napas, ia mengambil stiker dari tangan Aira dan menatapnya. "Baiklah, aku yang pasang. Kamu duduk di sofa itu dan beri instruksi. Anggap saja kamu mandornya, oke?"
Aira akhirnya luluh. Ia duduk di sofa empuk sambil memperhatikan Dewa yang kini sibuk menempelkan stiker dengan penuh ketelitian.
Sang CEO yang biasanya menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah itu kini terlihat sangat serius memastikan kelopak bunga matahari di dinding itu tidak miring.
"Mas... kamu tahu tidak?" panggil Aira lirih.
"Hmm?" Dewa menjawab tanpa menoleh.
"Dulu, waktu kita masih di kontrakan, aku pernah membayangkan kalau kita punya anak, aku cuma bisa kasih dia ayunan dari kain sarung yang diikat di pintu. Aku tidak pernah bermimpi dia akan punya kamar seluas ini."
Dewa menghentikan gerakannya. Ia berbalik dan menghampiri Aira, berlutut di depannya sambil menggenggam tangan istrinya.
"Ai, kain sarung atau emas permata, anak kita tetap akan jadi anak yang paling beruntung karena punya ibu sepertimu. Kamar ini cuma bonus. Yang paling penting adalah dia lahir di tengah cinta kita."
Mata Aira berkaca-kaca. Ia mengusap pipi Dewa. "Terima kasih sudah mewujudkan semua mimpiku, bahkan mimpi yang tidak berani aku mimpikan."
Namun, drama rumah tangga tidak selalu semanis madu. Memasuki bulan kedelapan, hormon kehamilan membuat Aira menjadi lebih sensitif.
Suatu malam, Dewa harus menyelesaikan laporan tahunan yang mendesak. Ia duduk di meja kerjanya di sudut kamar, sementara Aira sudah berbaring di tempat tidur.
"Mas, sudah jam sebelas," panggil Aira.
"Sebentar lagi, Sayang. Lima menit lagi," jawab Dewa tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
Sepuluh menit berlalu, Dewa masih asyik mengetik. Aira mulai merasa tidak nyaman. Punggungnya pegal, dan ia ingin Dewa mengusap punggungnya seperti biasanya sebelum tidur.
"Mas Dewa... pilih laptop atau aku?" tanya Aira tiba-tiba dengan suara yang bergetar.
Dewa tertegun. Ia langsung mematikan laptopnya dan menghampiri Aira. "Ai, ada apa? Kamu sakit?"
"Mas lebih peduli sama angka-angka itu daripada aku. Sejak tadi aku panggil, Mas cuma bilang lima menit terus," air mata Aira mulai jatuh. "Apa Mas sudah bosan lihat aku yang makin gendut ini? Apa Mas lebih senang lihat grafik di komputer itu?"
Dewa merasa jantungnya seakan berhenti. Ia sadar, belakangan ini ia memang sangat sibuk memastikan perusahaan dalam kondisi stabil sebelum ia mengambil cuti panjang saat Aira melahirkan nanti.
"Sayang, lihat aku," Dewa duduk di tepi ranjang dan menarik Aira ke dalam pelukannya. "Grafik itu tidak ada artinya dibanding senyum kamu. Aku kerja keras supaya saat anak kita lahir nanti, aku bisa fokus seratus persen buat kalian tanpa diganggu urusan kantor. Maafkan aku kalau aku bikin kamu merasa diabaikan."
Aira sesenggukan di dada Dewa. "Aku cuma takut, Mas... aku takut nanti kalau anak kita lahir, Mas tetap sibuk dan tidak punya waktu buat kami."
Dewa mencium kening Aira lama sekali. "Janji. Mulai besok, tidak ada pekerjaan di dalam kamar. Kamar ini adalah zona bebas kantor. Hanya ada aku, kamu, dan si kecil."
Dewa kemudian membantu Aira berbaring dan mulai mengusap punggung istrinya dengan lembut. Rasa pegal itu perlahan sirna, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Memang benar, kemewahan tidak bisa menggantikan sentuhan tulus seorang suami.
...----------------...
To Be Continue .....
yg di paksa menikah karena adik ny sisia mau menikah duluan. dan melangjahi kakak ny oamali.
tapi sekarang kok siska yg jd kakak.
aneh ny..
di buang klrga, sendiri, tak di skui klrga susmi
dan detik berikut q di bua deg"n oleh othor, apa kebahagiaan mereka akan hancur dengan kedatangan masa lalu Dewa