Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥
Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:
"Zaman dan Era telah berubah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24 — Sekte Taixuan
Selama beberapa hari berada di ibu kota Yan, Li Yao tidak hanya menghabiskan waktu bersama Xiao Nannan. Ia juga menyempatkan diri mencari informasi untuk pergi ke Wilayah Utara.
Pasar kultivator di ibu kota memang kecil, tapi cukup untuk bertemu dengan berbagai macam orang. Di sebuah kedai teh sederhana dekat pasar timur, ia berbincang dengan seorang kultivator bebas paruh baya yang baru kembali dari utara. Wajah pria itu kecokelatan karena angin gurun, jubahnya lusuh, matanya terlihat layu seperti pernah merasakan sebuah trauma yang mendalam.
"Wilayah Utara?" Pria itu mengerutkan alis. "Tempat yang sangat jauh. Dari sini ke utara entah berapa ribu li. Jika kamu terbang sendiri akan memakan berbulan-bulan, belum lagi bahaya di jalan—binatang buas level tinggi, bandit, kadang badai energi spiritual."
"Ada cara lebih cepat?" tanya Li Yao.
Pria itu menyesap tehnya, lalu berkata pelan, "Platform teleportasi. Tapi di kerajaan sekecil Yan, tidak ada. Paling dekat ada di Sekte Taixuan."
"Sekte Taixuan?"
"Pernah dengar? Sekte itu cukup besar, terletak di pegunungan timur laut Kerajaan Yan, sekitar sepuluh ribu li dari sini. Mereka punya platform teleportasi peninggalan zaman kuno. Cukup membayar dengan batu sumber, bisa mengirim orang ke Wilayah Utara dalam sekejap."
Li Yao mengangguk. Ia ingat, dalam cerita asli yang ia baca, Ye Fan kelak juga akan menggunakan platform teleportasi Sekte Taixuan untuk pergi ke utara. Meskipun Ye Fan pergi ke Wilayah Utara dengan cara ilegal.
"Terima kasih," kata Li Yao, meninggalkan beberapa batu sumber untuk teh pria tersebut.
Ia tidak bertanya lebih lanjut. Informasi ini sudah cukup.
Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, Li Yao sudah meninggalkan ibu kota Yan.
Ia terbang rendah di atas pepohonan, mempercepat dengan ledakan spiritual. Tubuh Kekacauan-nya bekerja maksimal. Udara terbelah di depannya, angin berdesing keras di telinga. Pepohonan, bukit, sungai—semua melesat cepat ke belakang, kabur seperti coretan tinta basah.
Sepuluh ribu li. Jarak yang sangat jauh. Bagi kultivator puncak Istana Dao biasa, perjalanan dengan kecepatan penuh bisa ditempuh dalam waktu tiga sampai lima hari, itupun dengan cukup beristirahat. Tapi Li Yao bukan kultivator biasa.
Tubuh Kekacauan-nya memberinya cadangan energi spiritual yang luar biasa besar, bahkan untuk level Istana Dao level satu. Ditambah kemampuannya menyerap energi dari lingkungan secara pasif, ia bisa terbang tanpa henti tanpa merasa kelelahan.
Li Yao tidak menghitung waktu. Yang ia tahu, ketika matahari terbit untuk ketiga kalinya di hadapannya, ia sudah melihat puncak-puncak gunung yang menjulang dengan formasi aneh—pasti wilayah Sekte Taixuan.
Kurang dari tiga hari. Bahkan mungkin tidak sampai dua setengah hari. Dan setelah mendarat, Li Yao masih merasakan cadangan energinya cukup. Hanya sebagian yang terpakai, dan itu pun mulai pulih dengan sangat cepat.
"Seperti biasa, pikirnya. Tubuh Kekacauan adalah fisik tak tertandingi."
Sekte Taixuan berdiri di atas pegunungan timur laut, gerbang utamanya berupa dua pilar batu raksasa yang diukir dengan relief naga dan phoenix. Di antara kedua pilar, menggantung sebuah plakat kayu dengan tulisan "Taixuan" yang terbuat dari emas murni, berkilau di bawah sinar matahari pagi.
Li Yao mendarat tepat di depan gerbang. Dua orang penjaga—murid sekte berjubah biru—langsung menghampiri dengan ekspresi waspada.
"Ada keperluan apa?" salah satu dari mereka bertanya, nada bicaranya sangat sopan.
"Saya ingin menggunakan platform teleportasi ke Wilayah Utara," kata Li Yao.
Penjaga itu mengernyit. "Platform teleportasi biasanya hanya untuk anggota sekte dan tamu undangan. Tapi..." ia berhenti sejenak, menatap Li Yao dari ujung kepala sampai ujung kaki, "...untuk kasus tertentu, dengan membayar batu sumber, tetua kami bisa mengizinkan."
"Berapa?"
"Tergantung jarak yang dituju, Wilayah Utara lumayan jauh. Sepuluh ribu batu sumber dan kami akan mengantarkan anda."
Li Yao mengangguk. Ia mengulurkan tangan, dan dari dalam Lautan Pahit, batu sumber ilahi seukuran kepalan tangan bayi muncul di atas telapak tangannya. Wangi energi spiritual langsung menyebar, membuat kedua penjaga itu sedikit terkejut.
"Sumber ilahi!"
Walaupun sekte Taixuan adalah sekte besar dibawah Tanah Suci, semua murid belum tentu memiliki sumber daya seperti batu sumber ilahi. Batu sumber ilahi yang dikeluarkan Li Yao setidaknya setara dengan dua puluh ribu batu sumber biasa.
"Bisa antar ke platform?" tanya Li Yao.
Penjaga itu saling berpandangan, mengangguk tergesa-gesa"...Ikut saya tuan," kata yang satu, setelah terdiam sejenak.
Mereka berjalan melewati gerbang, menyusuri jalan batu yang diapit deretan pohon pinus. Di kejauhan, terlihat aula-aula sekte dengan atap melengkung. Beberapa murid berlatih di alun-alun, ada yang sedang memegang pedang, ada yang duduk bersila bermeditasi. Tidak ada yang memperhatikan mereka. Sepertinya tamu seperti Li Yao bukan hal langka di sini.
Platform teleportasi berada di bagian belakang sekte, di sebuah area terbuka yang dikelilingi tembok batu setinggi dua meter. Di tengah area itu, berdiri sebuah bangunan melingkar dari batu hitam, dengan diameter sekitar sepuluh meter. Permukaan batu itu dipenuhi ukiran rune yang rumit, berkilau samar dengan cahaya keunguan. Di pusat lingkaran, ada cekungan kecil tempat meletakkan batu sumber.
Li Yao mengamati dengan saksama. Platform teleportasi. Benda langka yang hanya dimiliki oleh keluarga kuno, tanah suci, dan sekte besar seperti Taixuan. Bukan hanya karena biaya pembuatannya yang mahal, tapi karena ilmu untuk membuatnya hampir punah. Rune yang terukir di permukaan batu itu sangat rumit, setiap garis dan lengkungan memiliki fungsi spesifik—ada yang mengatur kestabilan ruang, ada yang mengarahkan tujuan, ada yang melindungi pengguna dari tekanan saat transmisi.
"Sepertinya aku harus segera mempelajari teknik ruang, atau setidaknya rune teleportasi seperti milik anjing hitam besar."
Di dalam novel yang ia baca dulu, platform ini hanya digambarkan sekilas. Tapi melihatnya langsung, ia bisa merasakan betapa beratnya energi yang tersimpan di dalam batu hitam itu.
"Tunggu di sini," kata penjaga itu. "Saya akan panggil tetua yang bertugas."
Tak lama kemudian, seorang pria tua berjubah abu-abu muncul dari balik tembok. Rambutnya putih, wajahnya keriput, langkahnya lambat tapi matanya masih tajam. Ia melirik Li Yao sekilas, lalu menatap batu sumber ilahi di tangan penjaga.
"Aku yang akan mengoperasikan platform," kata pria tua itu. "Masuk ke dalam lingkaran. Jangan ke luar sebelum transmisi selesai."
Li Yao melangkah masuk ke tengah platform. Tapi sebelum ia sempat berdiri di posisi yang tepat, ia melihat sesuatu di belakangnya—antrean yang sangat panjang.
"Apakah ini layanan vip?" Li Yao terkekeh pelan. Setidaknya tidak ada orang bodoh yang berniat buruk seperti merampas barang. Ternyata tidak semua orang bodoh seperti npc lewat yang suka memprovokasi orang lain.
Tidak hanya ia yang ingin pergi ke Wilayah Utara. Puluhan, bahkan mungkin ratusan kultivator sudah berkumpul di area ini, duduk-duduk di tanah atau bersandar di tembok, menunggu giliran. Ada yang berkelompok kecil berbincang, ada yang sendirian dengan wajah datar. Wajah-wajah mereka penuh harapan dan semangat.
Li Yao bisa mendengar potongan percakapan di sekitarnya.
"Konon di utara banyak tambang batu sumber..."
"Kalau beruntung, kita bisa mendapatkan beberapa potong sumber ilahi!"
"Aku sudah bosan dengan kerajaan kecil ini. Aku ingin coba peruntungan di Wilayah Utara, siapa tau kekayaan menungguku disana!"
"Heh...Lao Cai, kalau itu benar-benar terjadi jangan lupakan saudaramu ini."
"Tenang saja, saat itu terjadi aku pasti akan mengundang kalian makan dan minum sepuasnya!"
"Hahaha."
Semua orang yang mendengar itu tertawa, ekspresi mereka penuh dengan harapan dan bayangan masa depan yang cerah.
Li Yao yang mengamati mereka, menggelengkan kepala pelan. Kebanyakan tingkat kultivasi hanya di alam Roda dan Laut, Paling tinggi hanya berada di ranah Pantai Seberang. Beberapa terlihat seperti kultivator bebas, dengan pakaian lusuh dan senjata seadanya.
Ada pula yang membawa rombongan kecil—mungkin saudara atau teman seperguruan. Semua ingin pergi ke utara. Semua ingin mengejar kekayaan. Semua ingin menjadi lebih kuat.
Namun Li Yao tahu apa yang menanti mereka.
Wilayah Utara terkenal dengan tambang mineral seperti batu sumber dan batu sumber ilahi. Tapi di balik kekayaan itu, ada bahaya yang tidak terlihat. Bandit berkeliaran di mana-mana, merampok dan membunuh kultivator lemah.
Kebanyakan pemilik tambang sering menjadikan pekerja sebagai budak, memaksa mereka bekerja sampai mati. Banyak kultivator yang pergi ke utara dengan harapan besar, tapi berakhir sebagai tragis menjadi mayat tak bernama di gurun tandus.
Tapi Li Yao tidak mengatakan apa pun.
Ia tidak terlalu peduli. Lagi pula, mereka tidak akan mendengarkan. Ketika seseorang sudah bermimpi tentang kekayaan dan kekuatan, kata-kata peringatan hanya akan dianggap sebagai rasa iri atau kepengecutan. Semua orang punya jalan masing-masing. Kalau mereka tewas di utara, itu pilihan mereka sendiri.
Li Yao berbalik, fokus ke platform teleportasi.
"Siap?" tanya tetua tua itu.
"Siap," jawab Li Yao.
Pria tua itu mulai menempatkan batu sumber di cekungan pusat, satu per satu. Begitu batu sumber menyentuh cekungan, rune di sekeliling platform menyala perlahan—cahaya keunguan naik dari bawah, membentuk semacam selubung tipis di sekitar Li Yao.
Kemudian, pemandangan di depannya berubah. Bukan menjadi gelap, tapi menjadi kabur. Seperti melihat dunia dari balik air terjun. Ia merasakan tubuhnya ditarik—bukan ke depan atau ke belakang, tapi ke segala arah sekaligus. Telinganya berdenging, kepalanya terasa pusing.
Lalu semuanya berhenti, tubuh Kekacauan-nya segera beradaptasi dengan efek samping perpindahan ruang.
Li Yao membuka mata.
Ia berdiri di platform yang sama—tapi jelas ini bukan Sekte Taixuan. Langit di atasnya kelabu, tidak ada matahari. Angin bertiup kencang, dingin, menusuk hingga ke tulang. Di kejauhan, ia bisa melihat pegunungan hitam dengan puncak tertutup salju. Tanah di bawahnya tandus, bebatuan besar berserakan seperti sisa-sisa kehancuran zaman kuno.
Wilayah Utara.
Li Yao melangkah keluar dari platform. Jauh di depan matanya terlihat sebuah kota yang sangat besar. Kota itu membentang sejauh mata memandang, mungkin ukuran kita itu ratusan kali lipat dari ibu kota kerajaan Yan.
Di belakangnya Li Yao, beberapa kultivator lain baru keluar dari platform. Kebanyakan dari mereka muntah-muntah karena belum terbiasa dengan perpindahan ruang. Namun wajah mereka masih penuh dengan harapan.
Li Yao tidak akan melarang atau memperingatkan mereka. Dia bukan bunda suci yang suka menolong praktisi asing yang mengejar kesuksesan. Setidaknya itulah yang Li Yao pikirkan.
Tapi pada akhirnya Li Yao tiba-tiba berbalik. "Saudara Dao, meskipun wilayah utara kaya akan sumber mineral, ada bahaya besar yang harus diwaspadai. Saya mendengar banyak bandit disini, tidak terhitung pula jumlah kasus perbudakan yang dilakukan pemilik tambang. Jadi saudara dao, berhati-hati lah. Semoga sukses."
Li Yao mengatupkan kedua tangan memberi salam dan hormat. Tanpa menunggu jawaban Li Yao melesat terbang lebih dekat ke pinggiran kota besar di depan.