Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?
Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.
Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.
Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.
Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.
Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?
Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Pembalasan
Di layar televisi raksasa, ballroom dipenuhi tepuk tangan.
Anastasia turun dari panggung utama. Dia berjalan di atas karpet merah, menyapa para tamu undangan penting. Dunia sedang memujanya. Alvian berjalan di sampingnya dengan wajah berseri kemenangan.
Di layar, Anastasia tertawa kecil saat menerima pujian dari istri seorang menteri.
Mata Shanaya melirik jam di sudut layar.
Tiga puluh delapan menit.
Hampir.
Anastasia masih tertawa anggun di depan kamera. Jemarinya menyentuh pinggang gaunnya ringan, sama sekali tidak sadar jahitan di balik lapisan satin itu mulai menegang sedikit demi sedikit.
Sampai saat terdengar bunyi sobekan dari arah belakang gaun Anastasia, yang diikuti suara robekan beruntun pada gaun yang dikenakan oleh tiga model utamanya.
Setelah keheningan yang hanya bertahan beberapa detik, lini masa media sosial meledak.
Video gaun Anastasia yang koyak di bagian pinggang rilis pertama kali lewat akun resmi Kanal Satu. Kualitas videonya jernih. Sudut pandangnya brutal. Kulit punggung dan pakaian dalam pembentuk postur milik Anastasia terekspos jelas selama lima detik sebelum layar beralih.
Lima detik yang cukup untuk menghancurkan citra anggunnya.
"Mbak Naya, trending nomor satu!" Dinda menunjuk layar televisi raksasa yang baru saja membelah siarannya menjadi tiga kolom.
Tiga portal berita independen memampang tangkapan layar dari database internal Kesuma. Sketsa mentah gaun merah itu terpampang di sana. Tanggal unggahannya tercetak jelas. Dua tahun lalu. Nama kreatornya tertera dalam huruf tebal. Shanaya Putri Kesuma.
Teks berjalan di bawah layar televisi menayangkan gelombang cacian netizen yang kini berbalik menyerang idola baru mereka.
Shanaya menyandarkan punggungnya ke sofa. Dia memutar gelas kaca berisi air es pelan-pelan. Pantulan cahaya layar menerangi wajahnya yang datar. Tidak ada senyum lebar. Hanya kepuasan dingin yang merambat dalam nadinya.
Di sudut ruangan, Steven menyentuh earpiece di telinga kanannya. Pria itu berdiri tegak mengawasi kehancuran musuh mereka.
"Tutup jalur tim PR Restu Group," perintah Steven pada tim di seberang telepon. Suaranya rendah. "Jangan biarkan mereka menaikkan tagar pembelaan. Rilis perbandingan sketsa gagal itu dengan foto gaun Anastasia. Naikkan tajuknya sekarang. Peluncuran Merek atau Parade Pencurian?"
Steven memutus panggilan. Matanya beralih menatap Shanaya. "Alvian mencoba membungkam portal berita kecil dengan uang. Semua jalurnya sudah tertutup."
"Bagus." Shanaya meletakkan gelasnya di meja. "Pria itu benci terlihat kotor di depan publik. Dia pasti sedang panik."
Layar televisi terus menyiarkan kekacauan langsung dari Hotel Kempinski. Anastasia berlari terseok ke arah belakang panggung. Wajahnya pucat pasi. Tangan kanannya mencengkeram pinggang gaun yang terbuka paksa.
Wartawan mengejarnya seperti kawanan hiu kelaparan. Kamera berdesakan. Cahaya lampu kilat menyambar membutakan mata.
Anastasia mempercepat langkah. Dia mendekat ke arah Alvian yang baru saja turun dari podium. Tangannya terjulur meminta bantuan dan perlindungan.
Namun, insting bertahan hidup Alvian bekerja lebih cepat.
Alvian mematung. Pria itu menatap tangan Anastasia sedetik, lalu mundur setengah langkah. Dengan gerakan tenang yang memuakkan, Alvian merapikan kerah jasnya sendiri. Dia memutar tubuh, menolak melihat ke arah lensa kamera, dan membiarkan dua petugas keamanan menyeret Anastasia menjauh.
Dinda mendecak jijik melihat adegan itu.
Sensasi dingin menjalar di tengkuk Shanaya. Ingatan masa lalu menghantam masuk tanpa permisi. Saat dia dituduh menjiplak desain bertahun-tahun lalu, Alvian melakukan hal yang persis sama. Pria itu merapikan jasnya dan melenggang pergi. Dia meninggalkan Shanaya sendirian menghadapi caci maki dunia.
Tangan Shanaya meremas pinggiran sofa.
Dulu, dia yang berdiri sendirian di depan kamera sambil dihujani tuduhan.
Hari ini, Anastasia yang gemetar mencari perlindungan. Dan Shanaya duduk nyaman menyaksikannya dari kejauhan.
"Pengecut akan selalu mengorbankan orang lain untuk menyelamatkan dirinya sendiri," ucap Steven. Dia duduk di kursi tunggal berhadapan dengan Shanaya. "Anastasia baru saja menelan pil pahit. Dia bukan prioritas Alvian."
"Pembalasan ini baru pemanasan." Shanaya menatap layar yang kini hanya menampilkan lorong kosong. Gaun robek itu tidak sebanding dengan nyawanya di kehidupan lalu.
“Aku mulai mengerti kenapa mereka takut padamu.”
Steven tidak segera mengalihkan pandangannya. Kilat agresi di mata Shanaya masih tertinggal jelas di sana. Perempuan ini tidak menghancurkan musuhnya dengan amarah membabi buta. Shanaya menghancurkan mereka dengan kesabaran yang dingin dan terukur.
“Publik sudah melihat kebusukan mereka,” lanjut Steven rendah. “Sekarang saatnya mereka melihatmu. Besok pagi, timku akan mengikutimu ke workshop desain. Ini bukan liputan biasa.”
Shanaya menegakkan tubuh. "Aku harus meminta staf membersihkan ruangan malam ini."
"Jangan sentuh apa pun." Tolakan Steven mutlak. "Aku mau publik melihat meja kerjamu yang berantakan. Tumpukan kain sisa di lantai. Cangkir kopimu yang dingin. Aku mau mereka melihat realita."
Dada Shanaya berdesir pelan.
"Orang tidak jatuh cinta pada kesempurnaan palsu, Shanaya." Suara Steven memberat. Tatapannya mengunci pandangan perempuan itu. "Mereka jatuh cinta pada luka dan kerja keras."
Ponsel Shanaya mendadak bergetar hebat di atas meja marmer.
Ruang kerja itu seketika hening. Nama Anastasia Lim berkedip di layar. Panggilan masuk beruntun.
Steven bersandar di kursinya. Dia mengamati ponsel itu, lalu memberi isyarat dengan gerakan dagu. "Jawab."
Jemari Shanaya menekan tombol hijau dan mengaktifkan mode pengeras suara.
Suara napas yang memburu dan panik langsung terdengar memenuhi ruangan.
"Ini kamu, kan?" Suara Anastasia melengking tinggi. Semua keanggunan palsunya terbakar amarah.
Shanaya tersenyum. Senyum tipis yang mematikan.
"Buktimu apa?" balas Shanaya.
Napas Anastasia tercekat di seberang sambungan. Untuk pertama kalinya perempuan itu terdengar takut. Benar-benar takut.
Telepon terputus.