NovelToon NovelToon
Vintage Heartbeats

Vintage Heartbeats

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan / Pernikahan Kilat
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu komentar mengubah hidup Dr. Briella Zamora dalam semalam.

Berniat menghancurkan reputasi mantan kekasihnya, Lexington Valerio—Briella justru terjebak dalam skandal yang mengancam Dirinya Sendiri.

"Kau tahu apa yang paling lucu, Lex? Aku menghabiskan waktu untuk memperbaiki wajah orang lain agar terlihat sempurna, hanya agar aku bisa melupakan betapa hancurnya aku karena pria sepertimu."

"Rupanya waktu belum juga merubah kecerobohanmu, Briella Zamora."—Lexington Valerio.

Happy reading 🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#5

Matahari Los Angeles telah lama tenggelam, digantikan oleh hamparan lampu kota yang berpijar seperti sirkuit elektronik dari ketinggian penthouse Lexington Valerio.

Setelah seharian penuh terjebak dalam hiruk-pikuk teori mesin di universitas dan audit produksi di perusahaan otomotifnya, Lexington merasa otaknya nyaris meledak.

Suara-suara mahasiswa, kilatan lampu kamera dari skandal pagi tadi, dan tuntutan dewan direksi berdengung di telinganya seperti mesin yang mengalami malfungsi.

Ia melangkah masuk ke dalam kamar utamanya yang luas, melempar jas mahalnya ke atas kursi kulit, lalu satu per satu menanggalkan pakaiannya dengan gerakan kasar.

Setiap helai kain yang jatuh ke lantai marmer seolah melepaskan satu beban dari pundaknya, namun ada satu beban yang tidak bisa ia lepaskan: rasa panas yang menjalar di bawah kulitnya.

Lexington melangkah masuk ke kamar mandi berdinding granit hitam. Ia memutar tuas shower pada suhu paling dingin.

Air es itu mengguyur tubuh kekarnya, membasahi otot-otot dada dan perut yang terbentuk sempurna. Ia bersandar pada dinding yang dingin, membiarkan air menyiram wajahnya, berusaha memadamkan gejolak aneh yang membakar dari dalam.

Ia menyeka air dari wajahnya, menatap pantulan dirinya di cermin besar yang berembun. Tangannya yang besar dan berurat merayap turun, melewati pusarnya, dan berhenti tepat di perut bagian bawah. Di sana, di atas garis celana yang sudah ia tanggalkan, terdapat sebuah tato kecil dengan tinta hitam yang kontras dengan kulit putihnya.

Sebuah tulisan kursif yang meliuk indah: "Property of Briella".

Lexington menyentuh tato itu dengan ujung jarinya. Tato itu ia buat saat ia masih berusia 18 tahun, di puncak masa SMA yang penuh pemberontakan dan gairah.

Hanya dengan sentuhan lembut pada tinta yang permanen itu, sebuah sengatan listrik seolah menyambar pusat sarafnya. Hawa panas yang tadi coba ia padamkan dengan air es justru berkobar semakin hebat.

Ingatannya melesat pada kejadian pagi tadi. Wajah Briella Zamora di layar televisi saat konferensi pers. Wajah yang tetap cantik, dengan mata yang menyimpan binar cerdas sekaligus luka yang dalam. Wajah yang sama yang lima tahun lalu selalu ada di bantal di sampingnya.

Tangan Lexington yang tadinya mengusap tato itu kini merayap turun, menggenggam miliknya yang sudah menegang hebat dan terasa berdenyut menuntut pelepasan. Ia memejamkan mata rapat-rapat. Pikirannya menjadi liar.

Di bawah guyuran air dingin, ia justru membayangkan jemari lentik Briella-lah yang sedang menyentuhnya. Ia membayangkan suara napas gadis itu yang terputus-putus di ceruk lehernya.

"Ahhh... Briella..." desahnya lirih, suaranya parau tertelan gemericik air.

Gerakan tangannya menjadi lebih cepat, ritmis, dan penuh tuntutan. Setiap gesekan terasa seperti siksaan sekaligus kenikmatan yang memabukkan.

Di kepalanya, hanya ada satu nama yang berputar. Bukan Flavia, kekasihnya yang elegan. Bukan pula wanita-wanita sosialita yang mencoba menarik perhatiannya. Hanya Briella. Selalu Briella.

Selama lima tahun terakhir, rutinitas ini menjadi cara pahit bagi Lexington untuk bertahan hidup.

Setiap kali ia merasa kesepian atau tertekan, ia berakhir di bawah shower, memuaskan dirinya sendiri sambil membayangkan wanita yang sama yang ia usir dari hidupnya. Sayang sekali, benih-benih unggul keturunan Valerio harus berakhir di saluran pembuangan kamar mandi, terbuang percuma karena pemiliknya tidak mampu menyentuh wanita lain selain bayangan masa lalu.

Ia mengusap tato itu lagi saat mencapai puncaknya, tubuhnya gemetar hebat di bawah guyuran air.

Pikirannya melayang kembali ke hari di mana mereka membuat tato itu bersama-sama.

Briella juga memiliki tato yang sama di bagian tubuh yang tersembunyi. Ia ingat betapa Briella meringis kesakitan saat jarum tato menusuk kulitnya, suara manjanya yang meminta Lexington menggenggam tangannya, dan mata berkaca-kacanya yang menatap Lexington dengan cinta yang murni. Mereka berjanji untuk tetap bersama, apa pun yang terjadi.

Jika ada yang bertanya apakah Lexington masih mencintai Briella? Jawabannya ada pada setiap inci ototnya yang merindukan sentuhan gadis itu.

Hatinya hanya milik Briella. Namun, logika kakunya selalu menghalanginya. Bayangan Briella yang ceroboh—yang sering kali tersandung kakinya sendiri lalu menyalahkan tanah yang tidak rata atau sepatunya yang salah—membuat Lexington ketakutan. Ia terobsesi dengan presisi. Bagaimana ia bisa membangun dinasti Valerio dengan seorang ibu yang bahkan tidak bisa berjalan lurus tanpa menabrak sesuatu?

Ia mematikan shower, mengeringkan tubuhnya dengan handuk hitam, lalu keluar menuju kamar tidur.

Flavia, Kekasihnya saat ini, hanyalah kedok untuk menyembunyikan fakta bahwa ia gagal total untuk move on. Ia pernah mencoba berhubungan intim dengan wanita lain, namun setiap kali ia melihat tato itu di perutnya, ia merasa seolah Briella sedang mengawasinya dari balik celananya, menertawakan kegagalannya.

Lexington membuka salah satu lemari besarnya. Di sana, tersimpan rapi beberapa koleksi lingerie sutra dan renda yang indah.

Barang-barang itu milik Briella yang tertinggal di apartemen lama mereka. Mereka pernah tinggal bersama selama tiga tahun, sejak mereka berusia 18 tahun. Hubungan yang dimulai dari umur 16 tahun itu adalah segalanya bagi Lexington.

Ia menutup kembali lemari itu dengan perasaan sesak. Ia duduk di tepi ranjang, menundukkan kepalanya. "Kapan aku bisa melupakanmu, Briella?" bisiknya lirih pada kesunyian malam.

Di sisi lain Los Angeles, di sebuah penthouse yang tak kalah mewah, suasananya jauh dari kata tenang.

Briella Zamora sedang duduk di lantai karpet bulunya yang mahal, air mata mengalir deras membasahi pipinya yang kemerahan. Di tangannya, ia menggenggam selembar kertas resmi yang baru saja diantarkan oleh kurir.

Surat tuntutan hukum atas nama Lexington Valerio.

"Dia benar-benar melakukannya, Belle," isak Briella saat sahabatnya masuk ke kamar.

"Dia menuntutku atas pencemaran nama baik dan kerugian reputasi perusahaan. Dia ingin menghancurkan klinikku!"

Belle mengambil surat itu dan membacanya dengan wajah tidak percaya. "Lexington tega melakukan ini? Setelah semua yang kalian lalui?"

Briella mengusap air matanya dengan kasar, tatapannya tiba-tiba berubah menjadi tajam dan berapi-api. "Rupanya dia benar-benar tidak kasihan padaku, Belle. Tapi tidak apa-apa. Jika dia ingin perang, dia akan mendapatkannya. Mari kita bertemu di pengadilan. Kita akan mengakhiri semuanya di sana."

Ia berdiri, berdiri dengan tegak meski matanya masih sembab. "Bukankah dia memang belum pernah memutuskanku secara resmi sejak hari itu, Belle? Dia hanya meninggalkanku begitu saja setelah bercinta! Baiklah, sepertinya pernikahan khayalan ini harus berakhir di pengadilan!"

Belle memutar bola matanya, bingung dengan jalan pikiran sahabatnya yang mulai meracau akibat stres.

"Si Brengsek itu... dia pikir aku masih Briella yang ceroboh seperti dulu? Tidak. Aku akan membuktikan bahwa tanganku sebagai dokter bedah lebih presisi daripada mesin-mesin sialannya itu!"

"Ahhh, Briella, tenanglah!" bentak Belle sambil memegang bahu Briella.

"Sejak kapan kalian menikah? Pengadilan itu adalah akhir dari klinismu yang berharga, Bodoh! Bukan akhir dari pernikahan khayalanmu. Kau harus fokus menyelamatkan izin praktikmu, bukan drama asmaramu yang sudah basi itu!"

Briella tidak mendengarkan. Ia menatap ke luar jendela, ke arah gedung perusahaan Valerio yang menjulang di kejauhan.

"Kita lihat saja, Lex. Siapa yang akan benar-benar hancur di depan hakim nanti."

1
Almeera
pengen aku getok, tapi dia ganteng
Ros 🍂: getok cinta aja kak🤭😘
total 1 replies
Binti Rusidah
bagus sekali
Ros 🍂: Ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Almeera
best, konflik orang ketiga tidak berlarut 😍
Ros 🍂: Iya kak🤭
total 1 replies
azzura faradiva
next....☺️
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
azzura faradiva
kayaknya nanti ada sesuatu hal yang menyebabkan zane tdk jadi kembali....🤔
Ros 🍂: kak, silent 🤭😁
total 1 replies
Almeera
Latte kami cocoknya ratu lebah 🐝
Ros 🍂: ide baruuuu🤣 nanti tak jadikan Ratu lebah 🐝✌🏻🤣
total 1 replies
Almeera
enak yaa kalau hidungnya kek perosotan anak tk, kacamata anteng aja gak melorot😍
Almeera
sama sama gak gau diri artinya latte
Ros 🍂: heheh🤭
total 1 replies
azzura faradiva
biasanya tiap hari ngebut up terbaru bisa 3-4x,hari ini tumben enggak up...😔
Ros 🍂: Pengen Rasain dirindukan Reader dulu 🫶🌷🤭
total 1 replies
Almeera
Aku butuh Abang kaya gini, co di keranjang kuning ada gak ya?
Ros 🍂: bentar kak, author siapkan 😭🤭
total 1 replies
Almeera
Pasangan satu frekuensi 😍😍
Ros 🍂: Ma'aciww ya atas Jejak nya kak🫶😘
total 1 replies
Almeera
Kaaaaaa, Demi Tuhan aku kecanduan baca ini 😍😍😍
mana aku bacanya pake nada...
ditambah berada ikut kedalam alurnya
Ros 🍂: Walahhh ma'aciww kak🫶😘
total 1 replies
Almeera
nih coffe latte ginii nih, percaya diri itu perlu tapi Tahu Diri lebih penting
Ros 🍂: coffee latte 😭🤣
total 1 replies
Almeera
Astaga
Almeera
definisi mari bertemu di versi terbaik 🥲🥲🥲
Ros 🍂: Aaakkk😭
total 1 replies
Almeera
jokes orang cerdas selalu tepat 😍😍😍
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Almeera
Diborong semua sih Lex, terus aku harus cari kamu di orang yang mana 🥲🥲
Ros 🍂: semoga bisa dicari di dunia nyata ya kak🤭😘
total 1 replies
Almeera
🌹🌹🌹🌹 mawar terkirim, bentar aku meeting dulu
Ros 🍂: aaa Cemunguttt kak🫶💪🏼
total 1 replies
Almeera
yaa masa nyalahin pak RT
Ros 🍂: pak RT angkat tangan kak 😭
total 1 replies
Almeera
Kaaan kaaann kaaannn apa aku bilang dibahas teros hahahhaa
Ros 🍂: hahah Lexington said : 100 kebaikan tetap kalah dengan 1 perkataan 🤭🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!